Timer Me

Timer Me
Bab. 20. Kekhawatiran Angga


__ADS_3

Sesampai di rumah, Angga dan Pak Nathan langsung menuju ke kamar mereka masing-masing. Selesai membersihkan badan mereka berdua menuju meja makan dan makan bersama kedua orang tua mereka yang sudah terlebih dahulu dimeja makan.


Ibu serta Ayah yang melihat wajah muram kedua anak mereka langsung menyimpan tanda tanya dikepala mereka. Tidak seperti biasanya kalau dimeja makan, Angga bersama kakaknya sering sekali ribut. Ibu mereka pun kemudian membuka mulut untuk bertanya.


"Angga, kenapa muka kamu dilipat kayak gitu? Ada masalah di sekolah?" tanya ibu dengan suara lembut.


Ibunya memang seorang yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, Angga menoleh kearah Ibunya.


"Angga lagi malas bicara Bu, tanya aja sama kak Nathan. Angga mau tidur duluan," jawab Angga langsung meninggalkan meja makan.


Tiba-tiba nafsu makannya hilang padahal makanan dipiringnya masih sangat banyak makanan, ia pergi keatas untuk segera tidur. Ibu dan Ayah mereka makin bingung dengan keadaan tersebut, mereka tidak akan marah terhadap sikap anak mereka sekarang. Menurut mereka, jika seseorang punya masalah, biarkan mereka menenangkan diri dulu.


"Kak, cepat cerita kenapa adik kamu kaya begitu? Ayah udah penasaran sama adik kamu itu," tuntut Ayah sambil menaruh sendok makan dipiring.


Dirinya dan sang Istri sudah siap mendengar penjelasan atas sikap anak bungsu mereka. Pak Nathan akhirnya menceritakan kejadian tadi sore dari lari sore sampai di rumah sakit. Ia tidak lupa memberitahu jika penyakit Nadya adalah penyakit turun-temurun dari keluarga Nadya. Mendengar penjelasan itu membuat Ayah serta Ibu langsung kalang kabut ingin segera pergi ke rumah sakit dan melihat keadaan Nadya.


Saat ingin bangun dari tempat duduk, Pak Nathan langsung menahan mereka.


"Ibu dan Ayah mau kemana?" tanya Pak Nathan.


"Mau ke rumah sakit lah, mau lihat keadaan Nadya," jawab Ayah sambil merapikan piring makan.


"Coba lihat jam di dinding deh, kalau Ayah sama Ibu diizinkim masuk yah bersyukur. Nathan mau tidut dulu, malam semua semoga mimpi indah!" pamit Pak Nathan menunjuk kearah jam dinding dan pergi tidur.


Saat dilihat ternyata waktu telah menunjukkan pukul 10 malam yang berarti waktu kunjungan sudah berakhir.


"Bu, besok saja yah. Betul kata Nathan kita gak bisa masuk ke rumah sakit," saran Ayah.


"Yaudah besok saja, nanti kita pergi sama Angga. Pulang sekolah kamu langsung jemput dia biar nanti Ibu dianter sama sopir," jawab Ibu.

__ADS_1


Ayah dan Ibu berjalan meninggalkan meja makan kemudian menuju ke kamar. Di kamar atas Nathan sedang duduk termenung dimeja belajarnya. Ia mencari kesibukan dengan belajar agar ingatannya tentang Nadya bisa memudar, namun hal itu percuma saja, disaat ia ingin melupakan Nadya maka gambaran wajah Nadya akan terus muncul.


Wajah yang terlihat pucat dan sedang menahan sakit, memikirkan hal itu membuat kristal bening dari mata Angga jatuh tanpa diminta. Hal itu mengalir seperti air terjun. Angga tidak bisa membayangkan jika suatu saat penyakit itu akan membawa Nadya pergi untuk selama-lamanya.


Pikiran kotor itu terus berputar-putar dikepala Angga. Ia tahu yang dia pikirkan salah, seharusnya ia berdoa pada Tuhan agar segera mengambil penyakit itu dari gadis yang sangat ia sayangi setelah Ibunya.


Menangis tidak akan membuat Nadya sembuh, ia langsung bangkit dari kursi dan pergi membersihkan diri sebelum berdoa dan tidur. Selesai melakukan ritual mandi yang lebih lama dari biasanya, ia bergegas berdoa. Ia meminta agar Tuhan dengan segera mengambil dan menghilangkan penyakit dari gadis yang bernama Nadya secepatnya.


Ia berpikir bahwa ia terlihat sangat egois dimata Tuhan, kenapa disaat seperti ini barulah ia pergi pada Tuhan. Sehabis berdoa dan meminta pertolongan serta pengampunan, Angga langsung pergi tidur. Walaupun matanya sulit untuk tertutup ia tetap memaksakannya.


Pikiran yang masih sama tentang Nadya masih membekas penuh diotaknya. Setelah berusaha melewati malam panjang, akhirnya ia pun tertidur.


Tidak terasa matahari pagi mulai menampakkan dirinya. Cahayanya masuk ke celah-celah jendela dan langsung menuju ke wajah Angga.


Angga langsung bangun dan kepalanya terasa sakit akibat semalam menangis, dengan kekuatan yang ada Angga bangun dan menuju ke kamar mandi.


Hari ini bukan hari libur jadi mau tidak mau ia harus ke sekolah, walaupun dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Sehabis siap-siap ia langsung menunjuk ke bawah. Terlihat Ayah, Ibu, dan Pak Nathan sedang sarapan.


Namun dengan keadaan hati yang tidak bersahabat, Angga pun tidak sarapan.


"Angga masih kenyang Bu, semalam Angga ngemil di kamar sambil belajar," bohong Angga.


Ia kemudian berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa menunggu sang Ayah yang masih sarapan. 5 menit berlalu dan sang Ayah sudah selesai makan.


"Angga, ayok kita berangkat!" ajak Ayah ke Angga.


Angga yang dari tadi sibuk dengan handphone langsung mematikan handphone tersebut dan memasukkannya ke dalam saku. Ia berjalan mengikuti Ayah dari belakang menuju ke mobil.


Perjalanan hari ini terasa sangat lama karena macet, tidak lama kemudian mereka sudah sampai di depan sekolah.

__ADS_1


"Angga masuk dulu yah Ayah," pamit Angga sambil menyalami tangan Ayahnya.


"Sebentar pulang sekolah langsung telepon Ayah yah biar nanti Ayah jemput, kita pergi ke rumah sakit jenguk Nadya," kata Ayah.


Mendengar Ayahnya mengucapkan nama Nadya, Angga pun terdiam. Ia membalas ucapan Ayahnya dengan sebuah anggukan kemudian turun dari mobil dan masuk ke sekolah. Saat masuk ke kelas Angga langsung duduk dan menaruh kepalanya dimeja.


Ia malas sekali dengan keadaan kelas hari ini, menurutnya tidak ada yang asik selain kelas itu terdapat Nadya. Jorgas dan Satria yang juga sekelas dengan Angga langsung menghampiri Angga.


Mereka merasa aneh akan sikap Angga yang tidak seperti biasanya, biasanya Angga saat memasuki kelas langsung pergi mencari mereka berdua dan menuju ke kantin.


"Angga tumben banget lo aneh hari ini," ucap Satria membuka pembicaraan.


"Lo sakit Angga? Kalau sakit mending pulang aja. Gue hari ini bawa mobil jadi bisa anterin lo pulang," tawar Jorgas.


Walaupun masih SMP, orang tua Jorgas tidak melarang anaknya membawakan kendaraan ke sekolah. Dengan postur tubuh yang tinggi juga Jorgas sudah pandai membawa mobil, jadi tidak heran jika ia diizinkan membawakan mobil.


Angga pun mengangkat kepala malas dan mulai angkat bicara, "Nadya kena hipotensi dan sekarang dia lagi dirawat di rumah sakit. Kemarin gue ajak dia lari sore eh pas istirahat sambil makan es krim dia tiba-tiba pingsan," ungkap Angga terus terang.


Ia tidak pernah tertutup menceritakan semua masalahnya kepada dua sahabatnya itu, mereka sudah bersahabat dari SD jadi tidak ada kata rahasia diantara mereka. Mendengar penuturan Angga barusan, Jorgas dan Satria menjadi kaget. Sama seperti Angga yang mendengar kenyataan ini pertama kali, mereka tidak percaya jika Nadya terkena hipotensi. Kelihatan dari keadaan Nadya, ia seperti layaknya seorang gadis SMP yang sehat seperti mereka. Tapi keadaan berkata lain dan kenyataannya Nadya memang sakit.


"Jadi sebentar lagi lo mau jenguk dia?" tanya Satria.


"Ia, gue bareng Ayah gue. Pulang sekolah bapak gue langsung jemput dan ajak gue ke rumah sakit," jawab Angga lesu.


"Kalau gitu gue sama Satria ikut. Nanti kita beli buah dulu buat Nadya. Lo jangan lupa buat kirim nama ruangannya Si Nadya ok?" ucap Jorgas.


Dia dan Satria juga setia menemani Nadya kemana saja jika Angga sedang sibuk. Sepertinya bulan lalu ketika Nadya lupa membawa baju olahraga, Jorgas langsung bergegas ke rumah Nadya menggunakan mobil. Saat itu Angga sedang mengikuti olimpiade jadi ia tidak bisa mengantar Nadya. Jangan berprasangka buruk dulu ke Satria, walaupun ia jomblo tapi ia tidak akan merebut Nadya dari Angga.


Ia tidak mau hubungan pertemanan mereka rusak hanya karena berebut seorang wanita. Kembali lagi ke keadaan sebelumnya, Angga mengiyakan permintaan dari Satria.

__ADS_1


Sehabis pelajaran mereka langsung bergegas ke toko buah dan membeli buah, sedangkan Angga sudah dahulu pergi bersama Ayahnya ke rumah sakit.


__ADS_2