Timer Me

Timer Me
Bab. 11. Coklat Panas


__ADS_3

“War, kamu udah selesai belum? Biar aku ke kasir buat bayar,” ucap Alfius.


“Udah kok,” jawab Wardana.


“Yaudah kalau gitu kamu tunggu disini yah, aku ke kasir dulu,” pamit Alfius menuju ke kasir.


Flashback on.


Pesanan mereka akhirnya tiba, Wardana dan Alfius memesan makanan yang sama yaitu cokelat panas dan roti bakar cokelat. Mereka makan dengan damai sesuai suasana di kafe tersebut.


“Kamu suka gak sama pemandangannya?” Tanya Alfius membuka percakapan.


“Suka kok, malah suka banget. Pemandangan kota ini malam hari cantik banget kalau diliat dari sini,” jelas Wardana. Jujur pemandangan kota tersebut sangat cantik jika dimalam hari.


“Iya, tapi ada yang lebih cantik dari pemandangan kota kok. Kamu mau tahu?” Ucap Alfius.


“Apa Al?”


“Kamu,” jawab Alfius sambil menatap mata Wardana, wanita yang sedang duduk berhadapan dengannya.


Wardana yang kaget pun memalingkan wajahnya. Wajahnya kali ini terlihat memerah akibat salting digoda Alfius.


“Kalau kamu masih malu-malu aku maklumi kok. Kan kita baru kenal juga dan belum mengerti satu sama lain jadi aku maklumi ini, jujur aku baru pertama kali membuka hati untuk seorang gadis dan gadisnya itu adalah kamu War.” Jelas Alfius panjang lebar.


Ia sekarang menjadi sedikit lebih terbuka, namun hanya kepada Wardana saja.


“Aku jujur yah Al, aku juga baru pertama kali dekat sama cowok. Setelah sekian lama aku hidup, baru kamu saja Al yang bisa bikin aku salah tingkah. Makasih yah buat kejujurannya Al.” Balas Wardana juga jujur.


"Wait, kamu jangan gerak dulu," cegah Alfius saat Wardana hendak bergeser tempat.


Alfius pun beranjak dari tempat duduknya menuju ke Wardana. Ia pun menunduk ke wajah Wardana. Wajah mereka pun sangat dekat dan Wardana tiba-tiba menutup kedua matanya. Alfius mengambil tissue yang berada dimeja dan membersihkan bibir Wardana yang belepotan cokelat.

__ADS_1


“Udah bersih deh,” ucap Alfius mengagetkan Wardana. Wardana pun kaget dan membuka matanya.


“Astaghfirullah, istighfar War istighfar. Lo mikir apa coba tadi pakai tutup mata segala. Itu si Al cuma mau bersihin belepotan lo doang ga lebih. Ini sih efek samping nonton drama korea melulu jadi gini kan hasilnya,” omel Wardana dalam hati. Ia mengutuk dirinya sendiri yang sudah berfikir hal-hal yang tidak jelas.


“Makasih yah Al. Maaf ngerepotin, aku memang kalau makan suka belepotan kaya anak kecil,” ujar Wardana jujur. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Iya deh. Nanti kapan-kapan kita jalan lagi yah. Aku beli es krim aja deh, nanti kalau belepotan aku cium deh biar cepat bersih,” ucap Alfius sambil tertawa.


Flashback off.


Wardana yang ditinggal Alfius pergi mulai senyum-senyum, “Ini toh yang dibilang jatuh cinta sama Reva. Enak juga yah gue bisa senyum-senyum kaya orang gila. Kata dia nanti bakal sakit hati Kalau udah kenal cinta. Gue harus kuat, ga bakal sakit hati kok. Orang si Alfius aja baik banget,” ucap Wardana meyakinkan diri kalau dia bisa jalani ini.


Beberapa menit kemudian Alfius sudah datang dengan dia paper bag ditangannya.


“War, ini buat kamu. Aku lihat tadi kamu suka banget makan roti sama minuman nya jadi aku beli deh buat kamu. Jangan lupa yah kalau minumannya udah dingin dipanasin dulu. Tapi kalau dingin juga bisa,“ ujar Alfius sambil menyodok 1 paper bag. 1 paper bag nya lagi untuk dia.


“Al, makasih yah udah baik banget sama aku. Makanannya nanti aku makan kok, kalau bisa aku kirim pap ke kamu biar kamu nya percaya,” jawab Rara sambil tersenyum.


“Ih kok gemes banget sih nih anak satu, mana senyum Mulu kerjanya,” ucap Alfius sambil mencubit gemas pipi Wardana.


“Ah Al sakit tahu. Mana cubitnya gak bilang-bilang lagi,” omel Wardana yang terkesan makin imut.


“Yah kalau aku bilang mau cubit kamu dijamin kamu ngehindar, yaudah aku cubitnya tiba-tiba,” jawab Alfius sambil tertawa.


Setelah selesai perdebatan kecil, mereka pun kembali ke rumah.


Beberapa waktu kemudian mereka sampai di depan rumah Wardana.


“Makasih yah Al buat hari ini. Buat les basket nya sama makan dipuncak,” ucap Wardana sambil melepaskan helm milik Alfius.


Alfius selalu siap sedia jika ingin berjalan dengan Wardana. Ternyata helm itu khusus ia beli untuk di pakai Wardana seorang.

__ADS_1


“Iya sama-sama, jangan lupa yah makan rotinya. Terus jangan lupa juga kirim pap nya,” canda Alfius.


“Yaudah kalau gitu aku jalan dulu yah,” pamit Alfius. Tapi sebelum Alfius jalan ia masih berbincang dengan Wardana.


“War besok kan minggu nih jadi libur, terus Senin kita ke Desa X. Boleh gak temenin aku belanja keperluan di mall? Nanti aku traktir es krim deh,” pinta Alfius ke Wardana.


“Eum boleh juga, sekalian aku juga belum nyiapin perlengkapan buat ke Desa X. Dan satu lagi, aku gak mau ditraktir es krim aja ditambah gitu nonton bioskop sabilah,” jawab Wardana.


“Oke, deal yah besok. Aku jemput jam 4 sore. Nanti tiket buat nonton biar aku yang pesan,” jawab Alfius kemudian jalan meninggal Wardana yang belum menjawab pernyataan itu.


***


Disebuah kamar bernuansa hitam putih, seorang lelaki sedang duduk dan bergelut dengan berbagai berkas yang menumpuk.


“Waduh, jadi ketua kelas gini amat deh. Mau jalan-jalan pun gue harus nge rekap semua data diri, mana ini masih 10 siswa pula,” omel Aditya.


Dia sudah dari jam 7 malam mengerjakan rekapan tersebut tapi tak kunjung selesai perihal salah menaruh tanggal lahir, gelar orang tua murid, sampai marga. Aditya sudah 2 tahun menjabat menjadi ketua kelas namun tidak dengan hasil kerjanya yang meningkat. Ia masih saja bingung merekap data siswa jika ada kegiatan.


“Gue sebenarnya mau mundur aja jadi ketua kelas, cuma gue mikir kalau gue mundur berarti kelas gue bakal hancur deh,” ucap Aditya frustasi.


Ia trauma dengan kejadian kelas 10. Dimana saat itu dia memilih untuk tidak menjadi ketua kelas dan di ganti Beby. Alhasil dalam waktu seminggu kelas mereka seperti pasar yang ributnya minta ampun. Beby yang berprofesi sebagai model tiap hari selalu membuat kehebohan seperti menjadi model dadakan didepan kelas serta tidak lupa fotografer. Ia membawa kamera dari rumahnya dan menyuruh Feby untuk memotret nya. Murid didalam kelas mereka pun berteriak histeris ketika Beby nekat naik ke atas meja guru dan berpose menggunakan high heels yang dia bawa dari rumah.


Setelah itu datang lah wali kelas mereka dan memarahi Beby yang tidak becus menjadi ketua kelas. Kelas bukan menjadi hening malah menjadi pasar. Saat itulah akhirnya Aditya kembali mengambil jabatan sebagai ketua kelas, ia tidak mau kalau kelas nya dicap kelas seperti pasar karena kejadian tersebut.


Alhasil setelah menjabat kembali, kelas mereka menjadi tenang teduh seperti biasa dan malah dicap kelas teladan.


Waktu telah menunjukkan pukul 23.50. Ini sudah sangat larut bagi Aditya yang mempunyai jam tidur tidak lebih dari jam 22.00. Sebagai lelaki ganteng ia harus merawat diri dan tidak boleh sakit. Walaupun tidak punya pacar dia tetap memperhatikan penampilannya agar terlihat cool dan ganteng, tapi terkadang terlihat seperti emak-emak rempong ketika ia sedang gosip. 10 menit berlalu dan akhirnya rekapan pun selesai.


“Akhirnya beban pikiran gue selesai juga. Gue harus cepat tidur sih ini, gue takut banget muka gue bakal keriput dan tiba-tiba berubah jadi Kakek-kakek,” ucap Aditya sambil memikirkan wajahnya jika berubah jadi Kakek-kakek.


Ihh, memikirkannya sudah membuatny bergedik ngeri.

__ADS_1


__ADS_2