
Makan siang pun sudah selesai, Jefran dan Rara kembali ke mobil, “Jef, tadi kata kamu mau ajak aku kemana?” Tanya Rara.
“Oh iya sampai lupa akunya, keasikan makan hehe. Jadi aku mau ajak kamu ke taman waktu kecil aku suka main kesana. Kamu mau gak? Ada danau buatan juga. Dijamin kamu suka deh,” jawab Jefran.
“Waduh ini mah boleh banget. Aku juga udah lama gak ke taman. Dulu waktu kecil aku suka banget ke taman yang ada danaunya juga, aku bareng teman cowok aku. Itu pun masih kecil banget,” ucap Rara dengan wajah dibuat sedih.
“Ra kok kita samaan yah, aku juga terakhir kali pas kecil terus sama teman cewek aku,” jawab Jefran.
Dalam hati Rara merutuki dirinya yang kadang memanggil lo gue, sekarang aku kamu. Maafkan dirinya yang labil, terpenting Jefran tidak ilfeel.
“Jangan sampai teman kecilku itu kamu Jef?” Ujar Rara sambil tertawa.
Jefran pun ikutan tertawa.
Akhirnya mereka berdua pergi ke taman tersebut. Dan ternyata dugaan Rara benar, taman itu adalah taman dia bermain waktu kecil disana. Mereka pun mencari tempat parkir dan memarkirkan mobil disekitar tempat tersebut.
“Ra kita ke tukang es krim dulu yuk! Udah lama aku gaK makan es krim,” kata Jefran mengajak Rara pergi membeli es krim.
Jefran menarik tangan Rara dan berlari kecil menuju pedagang es krim, “Mas, rasa cokelat 2 yah!” Pesan Jefran didepan menu es krim.
“Haduhh, Jef.. Mas es krimnya gak lari ke mana-mana kok. Jadi kamu jangan lari yah. Mana tadi aku belum siap buat lari kamu malah langsung tancap gas aja,” ucap Rara sambil sesekali mengambil nafas.
Ia sangat capek walaupun larinya tidak terlalu jauh, “Udah udah jangan ngomel terus. Nih es krimnya, takut cair nungguin kamu ngomel-ngomel gak jelas,” jawab Jefran seraya menyodorkan es krim yang tadi dia beli.
“Kita duduk disana yah, disana tempat kesukaan aku sama temen masa kecil aku dulu,” usul Rara sambil menunjuk bangku taman yang berhadapan langsung dengan danau buatan. Mereka berdua makan es krim ditempat tersebut sambil bercanda ria.
“Jef coba lihat ke sini deh, filter instragramnya lucukan?” Tanya Rara sambil memegang handphone.
“Eh kok berubah jadi anjing sih?” Heran Jefran kaget melihat wajah terdapat stiker anjing beserta telinga khasnya.
“Astaga Jef, memangnya kamu belum pernah pakai filter anjing kaya gini? Lucu tahu ih, katro kamu,” kikik Rara sambil sesekali mengatur gaya yang pas untuk foto.
“Yah mana aku tahu Ra, aku pakai instragram buat kirim pesan aja,” jelas Jefran sesekali menjilat eskrimnya yang mulai mencair kepanasan.
“Jef coba balik ke sini,” ujar Rara dan..
Cekrek!
__ADS_1
Rara pun berhasil mengambil foto bersama Jefran. Untungnya muka Jefran ganteng jadi diambil tiba-tiba pun tidak terlihat jelek.
“Akhirnya bisa foto sama kamu deh,” senang Rara sambil tertawa.
“Tuh lihat kamu ganteng banget kan? Walaupun gak senyum tetap aja ganteng,” lanjut Rara sambil terheran melihat foto dia dan Jefran.
“Matamu buta Ra? Mau besok aku bawa ke dokter mata biar diperiksa dulu gitu. Itu mukaku jelek banget malah dibilang ganteng, freak emang,” sahut Jefran yang tidak percaya diri.
“Ga yah, kamu memang ganteng. Ini aku mau cuci fotonya terus ku pajang diapartemen. Lucu tahu fotonya,” ujar Rara tersenyum, pada akhirnya mereka menghabiskan waktu tanpa melihat denting waktu melaju semakin tipis.
**
Lidya hari ini diajak Beby untuk berbelanja keperluan ke Desa X. Kebanyakan anak IPA 1 hari ini baru membeli perlengkapan untuk ke Desa X.
Beby sudah stay diruang tamunya, menunggu Lidya yang masih siap-siap. Beby sedang berbincang-bincang dengan Mamanya Lidya.
“Tante tambah cantik aja deh, udah lama gak lihat Tante nih,” ucap Beby basa basi.
“Kamu bisa aja deh Beby. Kamu juga tambah cantik kok, Tante biasa lihat kamu dimajalah, baru hari ini lagi tante lihat kamu secara langsung. Ternyata cantiknya nambah yah kalau dilihat secara langsung gini,” jawab Mamanya Lidya.
Mereka pun berbincang-bincang sampai akhirnya Lidya turun dengan pakaian yang sudah rapi dan rambut yang digerai. Hari ini ia tak menggunakan kaca mata karena mau jalan-jalan, kalau belajar mungkin baru dia akan menggunakan kacamata.
“Aduh Tante kita langsung jalan yah. Nanti kapan-kapan lagi deh kalau ada waktu aku datang kesini buat temenin Tante sambil cerita,” pamit Beby yang tadi masih asik berbincang dengan Mamanya Lidya.
“Iya Tante bakal tagih janjinya, bawa mobilnya hati-hati yah Beby.” Ujar Mamanya Lidya dan mempersilahkan mereka untuk jalan.
Singkat waktu, didalam mobil..
“Lid udah gue kasih tahu kemarin kan kalau kita belanja bareng Pak Nathan?” Ujar Beby membuka percakapan dalam mobil.
“Udah kok, gak apa gue jadi nyamuk. Toh kan tujuan utama gue belanja perlengkapan bukan kayak lo yang jalan sekalian bucin,” jawab Lidya.
Kasihan hanya Lidya sendiri yang di gengnya jomblo. Ditambah Aditya yang jomblo juga. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai disebuah tempat perbelanjaan terbesar di kota tersebut.
“Lid, kita langsung ke kafe Mola aja yah. Pak Nathan udah nungguin disana.”
“Oke.”
__ADS_1
Mereka berduapun berjalan menuju kafe Mola menjemput Pak Nathan. Sesampainya didepan pintu masuk, terlihat Pak Nathan dengan setelan yang membuat dia seperti anak SMA.
“Sore Pak!” Salam Lidya sedikit membungkuk.
“Sore juga Lid. Ngomong-ngomong kalau diluar sekolah jangan panggil Pak yah, Nathan saja. Saya kan pacar teman kamu, jadi bisa dikatakan masih seumuran,” canda Pak Nathan.
“Itu Lid, udah aku bilang kan panggil aja Nathan.” Ujar Beby menyalahkan Lidya.
“Udah sayang jangan gitu,” sahut Pak Nathan memenangkan Beby. Jikalau Beby sudah berbicara maka tidak akan ada titik komanya.
“Kalah begitu kalian tunggu sebentar yah, saya panggil adik saya dulu didalam,”lLanjut Pak Nathan seraya pergi ke dalam memanggil adiknya.
“Eh Beb, adiknya Pak Nathan tuh kan ketua OSIS kita bukan?“ Tanya Lidya.
“Hooh, yang ganteng banget tuh. Kalau gak salah namanya Angga.” Jawab Beby.
Pak Nathan akhirnya keluar bersama lelaki bertubuh tinggi beroutfit hoodie hitam. Ya, itu Angga ketua OSIS sekaligus adiknya Pak Nathan.
Lidya terpaku melihat kegantengan Angga. “Lid lo kenapa? Kemasukan setan atau apa sih kok diam terus gak kedip,” ujar Beby sambil melambaikan tangan ke depan wajah.
Lidya masih terpaku melihat Angga. Angga dari tadi hanya tertunduk tidak melihat ke atas, rambutnya yang tebal jatuh ke bawah menutup sebagian matanya.
“Lid Lid Lid, jangan becanda deh. Mama lo tadi nyuruh gue buat jagain lo, masa iya lo harus kerasukan gini,” ujar Beby sambil menepuk pundak Lidya. Ia bermaksud menyadarkan Lidya. Gadis itu pun sontak tersadar.
“Eh maaf Beb. Itu anu ini siapa kok gue serasa lihat malaikat?” Ujar Lidya saat dia sadar.
“Hahaha lucu sekali kamu Lidya. Ini adik saya namanya Angga. Dia ketua OSIS di SMA kita,” jawab Pak Nathan kepada Lidya.
“Angga cepat salam kenalin diri kamu Ke Lidya.” Pak Nathan menyenggol Angga dengan bahu.
“Angga.” Salam Angga menyodorkan tangannya. Dia masih menunduk dan tidak melihat wajah Lidya.
“Lidya.” Lidya membalas jabat tangan Angga.
“Angga saya titip Lidya sama kamu yah, saya sama Beby mau cari baju dulu. Nanti saya telepon kalau sudah selesai. Kamu temenin Lidya nyari barang buat ke desa X. Kamu kan belum siapin barang ke desa X, jadi sekalian bareng Lidya.” Ucap Pak Nathan kepada Angga dan langsung pergi begitu saja bersama Beby.
Angga belum juga menyetujui permintaan dari kakaknya tadi, kakaknya sudah jalan dahulu.
__ADS_1
“Sial!” Batin Angga bergejolak.