Timer Me

Timer Me
Bab. 29. Timer Me


__ADS_3

Masih dengan keadaan yang sama. Angga masih duduk menemani Aditya yang makan bersama Reva. Tidak lupa Lidya yang duduk disampingnya.


Angga masih melamun mengingat kenangannya bersama Nadya. Hanya dengan melihat senyum Lidya langsung membuat otaknya berpikir akan Nadya.


Entah suatu kebetulan atau memang sama, yang penting senyum mereka sama. Hal yang membuat Angga benci dengan Lidya karena senyuman itu. Ia tidak mau senyuman itu kembali menghiasi kehidupannya.


Ia sebenarnya sudah berhasil melupakan Nadya, tapi karena kemunculan Lidya membuatnya kembali mengingat semua hal tentang Nadya. Lidya yang dari tadi makan belum sempat menoleh ke arah Angga.


Saat ia ingin minum, ia melihat Angga yang belum juga menyentuh makanannya.


Ia memberanikan diri menepuk pundak Angga agar Angga segera makan. Kasian nanti makanannya di makan setan, itu sih menurut Lidya yah.


“ Angga, Angga jangan melamun terus nanti kemasukan setan loh” ujar Lidya sambil menepuk pelan pundak Angga.


Angga yang kaget langsung menyadarkan diri dari lamunan. Ia tidak sadar jika lamunannya begitu lama. Untung saja ia tidak kemasukan setan. 


“ Ha , kenapa sentuh-sentuh gue. Sana makan gue mau makan jangan gangguin” ujar Angga saat mengetahui jika Lidya yang menyadarkan. Ia sebenarnya mau berterimakasih tapi karena rasa benci yang begitu teramat membuatnya menyimpan kembali rasa terimakasih itu.


“Hiii, udah baik gue sadarin. Kalau ga udah kesambet mampus lu” omel Lidya dalam hati.


Angga sebenarnya tidak mau untuk duduk bersama Lidya. Namun ada sebuah alasan hingga Angga mau duduk di tempat itu. Alasan Angga mau duduk makan bersama di situ karena ajakan Aditya. Mau tidak mau ia pun duduk bersama Lidya agar tidak menyakiti hati Aditya.


Aditya sudah sangat membantu nya dalam kegiatan OSIS jadi ia harus membalas kebaikan itu mengikuti maunya Aditya. Aditya sendiri mau duduk di situ karena melihat Reva yang bersama Lidya.


Ia juga sekarang punya alasan berdekatan dengan Reva sambil ngobrol karena ada Lidya di sampingnya.


Aditya dan Reva dari tadi sibuk ngobrol sambil makan.


Walaupun beresiko besar mereka akan tersedak, mereka tidak peduli karena ngobrol lebih penting.Topik mereka kali ini sedikit  berbeda dengan  topik yang tadi mereka bicarakan di dalam bus.


“Eh Rev kamu tau ga. Tadi kan pas aku ambil makanan tuh yah aku lihat cewek cantik ngambil kotak makanan 2 sekaligus” ujar Aditya serius.


“Bentar,  rambutnya panjang ga? Terus make baju warna hitam celananya warna hitam juga” jawab Reva menebak orang yang di maksud Aditya.

__ADS_1


“Eh kok kamu bisa tau Rev, jangan-jangan kamu dukun yah bisa tau segalanya” tuduh Aditya kepada Reva. Semakin ke sini ia makin kagum kepada Reva karena ia bisa mengetahui semuanya.


“Itu mah sahabat aku Dit,  namanya Wardana. Dia emang kalau makan ga bisa dikit, harus banyak baru kenyang. Coba kamu balik belakang terus lihat cewek yang di sana sama cowok lagi duduk. Ga tau tuh cowok ga jelas dari mana” ucap Reva sambil menunjuk Wardana yang sedang makan sambil di temani Alfius.


“Astaghfirullah “ ujar Aditya kaget. Reva langsung mengambil minum kemudian memberikan nya kepada Aditya.


“Nih minum dulu terus baru ngomong” ucap Reva sambil melihat Aditya yang Sedang kaget. Setelah meneguk air itu ia kemudian mengambil udara segar agar otaknya kembali fresh.


“Rev itu cowok tuh temennya Adit. Beuh ternyata ceweknya tuh temen kamu toh Rev. Si Alfius tuh ga mau banget Deket sama cewek. Nyuruh ngelirik aja ga mau. Sampai-sampai temen sekelas kirain dia tuh suka cowok. Eh ternyata dia malah suka kaya temenmu.” Ucap Adit. Ternyata setelah beberapa lamanya mencari siapa pacarnya Alfius, ternyata dia malah teman dekatnya Reva.


Dunia memang sangat kecil seperti daun kelor, kecil. 


“Yah Reva juga ga tau kalau Wardana Punya cowok. Tapi belakangan ini dia susah banget di ajak buat ngumpul bareng. Bilangnya mau latihan basket” jawab Rara.


Jawabannya ini sontak membuat Aditya semakin kaget.


“Bentar Si Alfius kan juga main basket. Temenmu latihannya di jalan anggrek bukan?” tanya Aditya.


“Lah kok Adit tau, dia bilang kalau dia latihan di sana” jawab Reva.


Alfius pasti selalu punya alasan untuk tidak mengajari Aditya bermain basket. 


“Kalau benar sih yaudah mau gimana lagi. Orang mereka berdua lagi di mabuk asmara kan jadi wajar aja. Itu pun mereka berdua sepertinya baru pertama kali pacaran. Biarin aja mereka sama-sama dulu. Nanti yah sehabis kegiatan di desa ini mau ga Adit Reva ajarin main piano. Sekalian Juga kita gosip gitu loh Dit, gosip sama kamu tuh asik” ujar Reva sambil tertawa. 


“Ha ha ha, boleh lah kalau begitu. Adit juga ga Punya temen buat di ajak gosip.  Semuanya pada sibuk jadi ga ada waktu.” Jawab Aditya menyetujui permintaan Reva.


Menurut Aditya boleh lah, sambil menyelam minum air.


Sambil belajar dan gosip ia juga bisa lebih dekat Reva. Ia malas melihat semua temannya bucin terus dengan pasangan mereka masing-masing tapi dia hanya bersama komputer.


Ia malu dikatakan sebagai planktonnya dunia nyata, karena tiap hari menghabiskan waktu bersama komputer. Reva dan Aditya sibuk mengobrol Sambil sesekali tertawa. 


Berbeda dengan suara antara Lidya yang Angga yang masih diam-diam seperti sedang berada di luar angkasa, sunyi tanpa gangguan.

__ADS_1


Alfius dan Wardana dari Tadi masih sibuk makan. Alfius sengaja memperlambat makannya karena melihat Wardana yang baru selesai makan 1 kotak nasi.


Dia tidak menyangka wanita cantik seperti Wardana bisa makan bergitu Banyak tapi tubuhnya begitu bagus. Tidak kurus dan tidak gemuk. 


“War” panggil Alfius.


“Iya Al” jawab Wardana masih dengan nasi yang penuh di mulut. 


“Kamu ga takut sakit perut yah Sebentar malam. Kamu makan banyak banget tuh belum juga sama sambelnya. Itu pedes loh War aku aja ga kuat” ucap Alfius khawatir akan Wardana.


Bukan melarangnya untuk makan banyak, ia takut saja Wardana akan sakit perut besok saat kegiatan pertama dimulai.


“Aman aja kali Al, Wardana udah biasa makan begini.” jawab Wardana meyakinkan Alfius.Alfius pun percaya kemudian melanjutkan kembali makannya.


selesai makan mereka semua di suruh berkumpul di aula. Ada yang ingin disampaikan panitia pelaksana. Ketika semua sudah berkumpul seorang panitia yaitu guru Bahasa Indonesia Pak Nathan berdiri di depan untuk memberikan instruksi.


“Malam semua, kelihatan sekali dari wajah kalian pasti sudah kenyang semua. Tujuan saya berdiri di sini ingin memberitahu bahwa besok adalah awal kegiatan meneliti dimulai.”


“Diharapkan semua untuk bangun pagi karena kegiatan mulainya jam 7 pagi. Kegiatan dimulai pagi agar sorenya bisa digunakan untuk melakukan acara penerimaan tamu dari Desa X yang ditunda Kemarin.”


“Saat kegiatan penelitian nanti akan dibentuk kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang. Nanti akan dilakukan undian untuk menentukan siapa yang akan menjadi partner kalian.”


“Kak Angga, Kak Satria, dan Kak Jorgas juga ikut meneliti. Jadi berdoa malam ini agar sekelompok dengan kakak-kakak ganteng ini. Saya undur diri dulu. Terimakasih” Jelasnya panjang lebar kemudian turun.


Semua murid kemudian pergi kembali ke gedung masing-masing untuk beristirahat. 


“Semoga aja besok gue sekelompok sama Jorgas.” Ucap Feby saat perjalanan menuju kamar.  Semua orang disana tertawa mendengar apa yang dikatakan Feby.


Namanya juga lagi dimabuk cinta mau diapain juga ga bisa. Mereka semua sudah sampai dikamar dan segera pergi tidur. Lidya sendiri yang masih terduduk sambil melamun.


Ia kemudian memperbaiki duduknya dan berdoa sebelum tidur. Didalam doanya ia sempatkan doa agar besok tidak sekelompok bersama Angga.


Dia tidak mau sekelompok bersama Manusia seperti Angga. Di gedung sebelum Angga juga sedang berdoa. Doanya malah berbanding terbalik dengan Lidya.

__ADS_1


Dalam hati kecilnya yang sangat membenci Lidya, ia mau untuk sekelompok dengan Lidya. Tidak tau setan apa Yang merasukinya. Setelah berdoa mereka berdua langsung tidur agar besok tidak terlambat bangun pagi. 


__ADS_2