Timer Me

Timer Me
Bab. 43. Timer Me


__ADS_3

Pagi yang indah di susul cuaca yang baik membuat hari anak anak semakin bagus. Acara semalam membuat mereka bahagia hingga pagi hari. Pagi ini mereka akan melakukan kegiatan selanjutnya di Desa X.


Mereka semua di suruh berkumpul di lapangan. Hari ini adalah jadwal mereka untuk berolahraga sambil bermain. Tidak lupa semua murid menggunakan pakaian olahraga. 


“Akhirnya pagi juga. Bisa ketemu sama ayang deh.” Ucap Alfius sambil berdiri di samping Beby.


 “Lebay banget Lo Al. Gue takut banget sama Versi Lo yang sekarang deh. Versi Alfius yang dulu lebih baik menurut gue.”  Ujar Beby menampakkan wajah takutnya. Ia takut saja Alfius bakal lebih rempong dari Aditya dan dirinya. Ketika Alfius ingin membalas Beby, tiba-tiba Guru olahraga mereka datang. Ia pun mengurungkan niatnya.


Pak Guru berdiri di depan dan meniup peluit agar semua murid diam. “Selamat pagi anak-anak. Hari ini pada jam Olahraga kita akan bermain game. Bapak akan membagikan kelompok dengan cara pengundian. Tolong ketua kelas maju ke depan untuk mengambil kotak undian.” 


“Ini maksudnya apa coba pakai acara undi segala. Tiba-tiba gue ga semangat deh buat olahraga.” Omel Rara emosi. Kenapa harus pakai undian coba, kan ribet. Mending langsung saja dipilih gitu. Guru sekarang suka sekali mempersulit hidup yah.


“Ayo sayang harus semangat. Doa yah biar kita bisa sekolah.” Jefran memberikan semangat kepada Sang pacar.


Ketua kelas mulai menjalankan kotak undian tersebut. Semua murid Dena tertib mengambil kertas yang ada dalam kotak itu. Setelah semua selesai, Pak guru menyuruh mereka untuk membuka kertas tersebut. Siapa yang mendapat angka sama berarti mereka satu kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang. 


Permainan pertama yaitu memasukkan bola basket di ring basket bersama pasangan masing-masing. Permainan kedua yaitu bermain tebak kata. Yang terakhir adalah menangkap ikan di sungai. Semua permainan ini akan dilakukan berdua bersama teman kelompok.


Semua orang merasa deg degan dengan nomor undian mereka.


“Li, Lily. Kita setim lagi. Woody senang banget.” Ujar Angga Semangat 


“Lily?.” Tanya Lidya bingung.


“Lily itu nama panggilan Woody ke Lily. Suka ga?”


“Suka banget kok Woody.”


Jorgas yang melihat Angga bucin pun Langsung ngumpat dalam hati.

__ADS_1


“Dasar Angga. Bucin pun tak kenal tempat.”


Jorgas sepertinya tak sadar diri dengan apa yang ia bicarakan. Padahal ia juga suka bucin. Toh sekarang saja ia malah bergandengan tangan dengan Feby karena mereka sekelompok.


Yang lain sudah mendapatkan pasangan dengan senang tetapi ternyata ada yang menderita dengan hasil kelompok. Ada Alfius yang sekelompok dengan Jefran. Rara dan Wardana kali ini sekelompok. Mereka sangat bahagia dengan kelompok itu.


“Udah ga benar deh. Masa gue harus sekelompok sama Lo Jef. Gue takut Lo jatuh cinta sama ketampanan gue.” Alfius terus marah-marah tidak jelas.


“Dih siapa juga yang mau jatuh cinta sama Lo. Gue masih normal yah. Otak Lo yang mikir aneh-aneh. Suka homo yah. Gue jadi takut.” Jawab Jefran takut. Sepertinya Alfius makin gila setelah semalam kerasukan setan. Kemungkinan yang dipikirkan Jefran dari tadi.


“Masih pagi yah. Jangan banyak bacot. Terima aja kenyataan kalau kalian itu sekelompok. Susah benar.” Ucap Beby yang mulai pusing dengan mereka berdua.


Sebelum permainan di mulai. Semua murid melakukan pemanasan yang di pimpin langsung oleh Guru olahraga. Setelah selesai pemanasan mereka akan memulai kegiatan utama mereka yaitu bermain game.


Permainan pertama dimulai dengan sangat meriah dan terdapat banyak drama di dalamnya. 


“Permainan memasukkan bola basket ke dalam ring seperti sudah biasa bagi kalian semua apalagi ketua basket kita, Alfius. Namun kali ini sedikit berbeda karena cara memainkan sedikit di ubah. Teman sekelompok kalian akan naik ke punggung teman yang satu. Kemudian yang berada di atas punggung bertugas untuk memasukkan bola ke dalam ring. Poin akan di hitung dengan berapa bola yang dimasukkan ke dalam ring.” Jelas Guru olahraga.


“Gila sumpah. Ini ga mungkin kan Jef. Pasti gue lagi mimpi deh.” Alfius masih tidak percaya dengan kenyataan ini. Jefran langsung mencubit lengan Alfius.


“Sakit setan. Gila yah Lo.” Ujar Alfius marah.


“Nah kalau sakit berarti Lo ga mimpi Al.” Jawab Jefran Sambil tertawa. Alfius dengan berat hati menerima kenyataan jika sebentar giliran mereka dipanggil. Tak lama nama mereka berdua di Panggil. Sebelum itu mereka berdua sudah berdiskusi siapa yang akan naik di punggung.


“Berat gue lebih ringan lo Jef. Lo ga usah khawatir bakal patah tulang.” Ujar Alfius meyakinkan Jefran yang terlihat khawatir. 


“Ya sudah cepat naik ke punggung gue sebelum gue berubah pikiran.” Jawab Jefran kemudian sedikit jongkok. Mereka berdua seperti tiang listrik hidup. Jefran yang begitu tinggi sekarang di tambah Alfius lagi. Tinggi mereka sekarang melewati tinggi ring basket yang tersedia. Semua orang tertawa melihat kedekatan kedua cowok itu. Tak di sangka mereka berdua berhasil memasukkan semua bola ke dalam ring tanpa ada kesalahan.


“Pak, ini ga adil deh. Mereka berdua kan sama-sama tinggi jadi sudah pasti mereka berhasil.” Protes Beby yang tidak terima. Saat bagian dia dan Satria malah bola nya masuk 2 dari 10 bola. 

__ADS_1


“Jangan marah seperti itu Beby. Memang kamu saja yang tidak baik memasukkan bola ke dalam ring. Jangan salahkan Mereka.” Jawab Pak olahraga. Ia tak menyalah Beby namun menasihati gadis muda itu. Ia capek mendengar gadis itu terus berkomentar. Beby pun pasrah dengan keadaan.


Permainan pun kembali berlanjut. Para peserta lomba bersama pasangan  berusaha melakukan yang terbaik. Ada serius menanggapi lomba seperti Alfius dan Jefran tadi. Ada juga yang bucin seperti Jorgas dan Feby. Sedangkan di sisi lain ada pula sudah pasrah. Mereka ada Beby dan Satria. Mereka lebih mementingkan terhindar dari paparan sinar matahari dibanding dengan game ini. Mereka takut akan hitam jika terus berada di bawah panas matahari.


“Woilah Al, bisa ga sih jangan kuat-kuat lempar bolanya. Tulang rusuk gue udah mau pindah ke lutut.” Omel Jefran yang sedari tadi menahan beban di punggungnya.


“Sabar monyet. Lo kirain mudah apa masukin nih bola.” Jawab Alfius ikutan marah.


“Ya sudah. Ngomong nya juga jangan pakai tenaga dong. Makin berat nih.” 


“Lemah banget Lo Jef.”


“Bacot Lo Al. Lama-lama gue lempar Lo juga kaya tuh bola.” Ancam Jefran.


“Ya maaf. Gue bercanda doang.”


Mereka berdua kembali fokus dengan game itu namun masih bertengkar.


Sedangkan di sisi lain Lidya dan Angga sibuk bermain. Angga terlihat kalem sedangkan Lidya seperti kerasukan setan.


“Ayo Lily, Lo pasti bisa.” Ujar Angga menyemangati Lidya.


“Woody, Lily takut jatuh.” Jawab Lidya sambil menangis. Ia terus bergerak di punggung Angga. Ia ingin turun dan tidak mau mengikuti game ini. Angga yang kasihan pun langsung menurunkan Lidya dari punggungnya. Ia tak tega melihat Lidya yang terus-menerus menangis. Pak olahraga pun mengizinkan mereka berdua tidak ikut dalam game ini. Mau membantah pun Pak Olahraga takut. Toh ini sama anak presiden, mana berani dia.


Pertandingan pun berakhir dan hasil akhir menunjukkan bahwa tim Alfius menjadi juara pertama. Juara kedua tidak akan lari kemana-mana. Juara keduanya tidak lain ada tim Wardana. 


“Gue ga nyangka bakal sehebat ini.” Puji Alfius kepada dirinya sendiri.


“Eleh, kalau ga ada gue Lo ga bakal bisa yah.” Jawab Jefran tidak mau kalah. 

__ADS_1


“Ya maaf. Kalau gitu ga ada gitu pelukan kemenangan?.” Alfius sengaja menggoda Jefran yang kelihatannya sudah capek sekali.


“Noh sama pohon sana. Amit-amit yah gue pelukan sama cowok. Yang ada nanti kita berdua di cap homo. Ga banget deh.” Jawab Jefran kemudian pergi meninggalkan Alfius sendiri. Ia takut lama-laMa bisa gila jika berada terus dekat Alfius.


__ADS_2