
Udara pagi yang sejuk membuat wanita berkacamata ini semangat untuk mengawali hari. Ia sangat suka menghirup udara segar di pagi hari karena membuat dirinya menjadi segar.
Walaupun ia mengidap sebuah penyakit tapi saat menghirup udara pagi seakan tubuhnya menjadi segar dan penyakit tersebut sekilas menghilangkan dimana udara yang masuk.
Dilihat teman-teman yang masih tidur ia langsung keluar untuk melihat pemandangan matahari pagi terbit. Sebelum ia melihat matahari pagi, ia menyempatkan diri untuk pergi membersihkan badan agar sebentar ia tak terlambat mengikuti kegiatan pagi ini. Waktu baru menunjukkan pukul 4 pagi.
Ia tak segan-segan untuk mandi di jam segitu karena ia sudah terbiasa bangun pagi dan membersihkan badan jam segitu. Sehabis keramas dan mengganti pakaian ia langsung keluar dan pergi ke taman. Ia berdiri dekat pohon yang ada di taman dan menikmati pemandangan Desa X yang begitu indah.
Wanita yang dari tadi dibicarakan adalah Lidya. Walaupun anak seorang presiden ia tak mau bermalas-malasan. Ia berjanji pada dirinya untuk tidak bermalas-malasan dan terus bergerak agar tubuhnya sehat.
Saat sedang asik menikmati indahnya Desa X sebuah tangan tiba-tiba memeluknya dari belakang.
Ia kaget dan ingin berbalik ke belakang namun orang tersebut malah menahannya untuk tidak menoleh ke belakang.
“Jangan berbalik, tolong diam saja seperti ini.” Ujar pria yang memeluk Lidya. Suaranya seperti tidak asing bagi Lidya. Dengan keraguan Lidya memanggil nama pria itu.
“Angga?” Tanya Lidya. Ternyata benar itu adalah Angga. Mengapa sikapnya berubah tidak seperti tadi malam?.
“Gue lagi pengen peluk orang. Gue rindu sama seseorang yang mirip banget sama lu Lid. Gue ga tau kenapa semua tentang dia tuh ada semua di lu. Lu jangan nolak yah pelukan gue, gue rindu dia karena dia udah di surga. Gue rindu banget sama dia” ujar Angga tulus dari dalam hati. Lidya memang tidak akan menolak setiap perlakuan Angga kepadanya.
Tidak tau apa yang membuat Lidya tertarik dengan Angga ,tapi ketika bersama Angga seperti ada yang berbeda. Rasa ingin selalu bersama walaupun kadang Angga selalu membencinya.
Angga kali ini malah mempererat pelukannya. Ia masih memeluk Lidya dari belakang. Menurutnya memeluknya dari belakang akan lebih nyaman dibanding memeluk dari belakang.
“Gue bingung kenapa lu bangun jam segini. Ini sepertinya baru jam setengah lima pagi deh.” Tanya Lidya. Angga langsung menurunkan kepalanya sedikit karena tingginya dan Lidya Yang yang berbeda sedikit. Ia kemudian berbisik di telinga Lidya.
“Gue juga ga tau. Sepertinya alam dan semesta sudah bekerjasama agar gue sama lu bangun pagi dan bertemu di sini.” Jawab Angga kemudian menaruh kepalanya disela-sela leher Lidya.
Dia sangat menyukai aroma harus tubuh dan rambut Lidya yang baru selesai dikeramas. Lidya sendiri mulai senyum malu-malu dengan perkataan Angga. Belum lagi Angga yang Sedang mencium lehernya membuat Lidya merasa geli.
“ Lid, ini kan masih pagi jadi lu jangan khawatir. Mereka semua masih tidur jadi kita kaya gini dulu yah. Tiba-tiba gue suka aja gitu peluk lu” ujar Angga sekali lagi.
Mereka berdua menghabiskan waktu dengan Angga yang setia memeluk Lidya dari belakang, sedangkan Lidya memegang tangan Angga. Bumi seakan milik berdua, sisanya hanya mengontrak di bumi. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
Semua orang sudah bangun dan bersiap-siap untuk kegiatan pagi ini. Di kamar cewek mereka sibuk mencari dimana keberadaan Lidya. Begitu juga dengan kamar cowok yang sibuk mencari dimana Angga berada. Dua orang tersebut sedang menghabiskan waktu berdua sambil duduk dibangku taman.
__ADS_1
Angga kelihatan sangat manja saat berada didekat Lidya pagi ini. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Lidya sambil sesekali memainkan rambut Lidya.
Lidya juga sibuk menatap wajah Angga, sesekali ia memakai rambut Angga yang tidak diberi minyak rambut. Rambutnya begitu halus seperti punya wanita.
“Angga, gue takut temen sekamar gue nyariin. Ini juga udah jam enam lewat 10. Pasti mereka semua udah bangun” ucap Lidya menyadarkan Angga. Angga yang mendengar tidak menghiraukan perkataan Lidya.
Ia masih sibuk memainkan rambut Lidya sambil menyenderkan kepalanya. Tiba-tiba seseorang datang dan mengagetkan mereka.
“ Masih pagi buta loh udah bucin saja. Si Lidya ga bakal hilang juga Angga” ujar orang tersebut. Orang tersebut tak lain adalah Pak Nathan.
Melihat Pak Nathan yang datang Secara tiba-tiba langsung membuat Angga terkejut.
Ia langsung memperbaiki duduknya dari yang tadi berdekatan dengan Lidya ke menjauh Lidya. Lidya pun sama seperti Angga, ia malu dengan Pak Nathan yang melihat mereka sedekat itu.
“Apaan sih Kak, orang gue lagi nyari udara segar terus ketemu nih bocil. Tadi gue juga mau duduk di bangku paling ujung Cuma karena takut kemasukan makhluk halus jadi gue duduk di sini. Itu pun terpaksa jadi gue duduk disini” bohong Angga.
Ia tidak mau kakaknya mengganggu dia jika ia sudah jatuh cinta dengan Lidya. Tapi betul adanya sih kalau si Angga jatuh cinta betul dengan Lidya.
“Kakak ga bakal percaya sama adek kayak lu. Mau alasan apapun tetap aja pasti ga percaya. Mending lu ke gedung cowok deh, si Satria sama di Jorgas udah kaya orang gila ga lihat lu pagi ini. Si Satria kirain lu udah dibawa setan” Ujar Pak Nathan kemudian meninggalkan Angga dan Lidya.
Wajahnya terlihat tegang saat keadaan di mana Pak Nathan datang secara tiba-tiba seperti setan saja. Angga mendekati Lidya dan merangkulnya.
“Ini kan udah jam 6 jadi gue harus kembali ke gedung cowok. Lu dengar kan tadi kata Kak Nathan, Jorgas sama Satria sibuk nyariin gue. Doa aja yah sebentar kita berdua dapat nomor sama biar sekelompok. Sampai jumpa” pamit Angga. Sebelum ia bangun dari duduknya ia menyempatkan diri untuk mencium pipi Lidya sekilas.
Ia langsung bangun dan berlari menuju gedung cowok. Senyum tipis di wajah Angga menggambarkan sebuah kemenangan karena ia berhasil mencium Lidya pagi ini.
Lidya sendiri masih terpaku dengan apa yang dilakukan Angga. Ini baru pertama kali untuknya dicium seorang lelaki.
Begitu juga Angga, ia juga baru pertama kali mencium seorang wanita. Wajah Lidya kini menjadi merah dan panas karena ulah Angga. Ia memegang pipinya bekas ciuman Angga.
Sebuah senyuman terukir di wajah cantiknya. Kedua lesung yang tadi bersembunyi kini terlihat begitu jelas. Walaupun Lesung pipinya tidak sedalam banyak orang, namun masih terkesan manis jika melihatnya secara langsung.
Lidya bangun dari duduknya dan pergi ke gedung wanita. Ia berpikir sudah pasti kalau kelima wanita yang sekamar dengannya sedang sibuk mencari dirinya.
“Buset, lu kagetin gue aja. Gue sama Jorgas sibuk nyariin lu kemana-mana. Kirain lu udah dibawa lari sama kuyang desa.” Omel Satria saat Angga datang mengagetkan mereka dari belakang.
__ADS_1
“Nah ini, malah senyum-senyum pula. Lu ga kerasukan kuyang betul kan Angga. Sumpah gue takut betul” ujar Jorgas sambil mundur kebelakang. Ia takut melihat Angga yang mulai senyum-senyum sendiri.
“Gue ga dibawa sama kuyang terus gue senyum karena baru ketemu sama si cantik” ujar Angga membuat Satria dan Jorgas bingung.
Si cantik itu siapa, setelah kepergian Nadya 3 tahun lalu Angga tidak pernah memanggil seseorang dengan sebutan cantik.
“Lu pasti kesambet betul deh. Masa iya lu ngomong cantik cantik segala. Emak lu aja ga pernah tuh lu ngomong cantik” jelas Jorgas.
“Itu tadi anu, kupu-kupu di taman sama bunga taman. Cantik tau coba sebentar kita lihat” ujar Angga panik. Ia hampir mati berdiri dengan pernyataan Jorgas.
Untung saja ia punya alasan yang sedikit masuk diakal. Beruntungnya lagi kedua sahabatnya itu selalu percaya dengan apa yang dikatakan Angga jadi ia selamat.
“Oh , yaudah sebentar sebelum kegiatan kita mampir di taman sekalian lihat bunga. Nanti gue ajak anak sekamar kita deh. Pasti mereka suka.” ajak Jorgas.
Mereka pun menyetujuinya dan pergi memberitahu kepada ketiga teman sekamar mereka agar ikut juga melihat si cantik.
Di gedung sebelah wanita yah baru mendapatkan ciuman pertamanya itu terus tersenyum. Wardana yang baru keluar dari kamar kaget melihat Lidya yang berjalan menuju kamar sambil tersenyum.
Wardana langsung menghampirinya dan memeluk Lidya.
“kamu kemana aja sih, kita semua sibuk nyariin kamu tau. Kirain kamu hilang toh” ujar Wardana khawatir.
“Aku tadi dari taman, cari udara segar sekalian lihat pemandangan Desa X, bagus banget.” Jawab Lidya. Ia tidak mau menceritakan tentang dirinya dan Angga tadi saat di taman.
Biar saja ia sendiri dan Angga Yang tau akan kejadian pagi ini.
“Lid, bentar deh. Ini hidung Wardana yang salah atau kenapa sih, kamu bau parfum Cowok Lid. Atau jangan-jangan kamu tadi ketemuan sama cowok. Hayok jujur” tuduh Wardana. Hidungnya tidak pernah salah jika mencium sebuah bau.
“Pasti hidung kamu yang salah deh War. Aku tadi ke taman sendiri ga sama siapa-siapa kok.“ bohong Lidya.
“ Yaudah deh aku percaya. Kalau gitu ke kamar yuk semua nyariin kamu. Kasian si Feby sama Beby hampir nangis lihat kamu ga ada di kasur” ajak Wardana kemudian berjalan mengikuti Lidya dari belakang.
Ia tau jika Lidya sedang berbohong tapi ia tidak mau membuat Lidya berkata jujur.
Dilihat dari senyum Lidya pagi ini sepertinya ia sangat bahagia bertemu cowok yang menggunakan parfum tersebut.
__ADS_1
Tunggu saja sampai Lidya sendiri yang akan memberitahu teman-teman kalau dia sudah memiliki kekasih.