Timer Me

Timer Me
Bab. 27. Timer Me


__ADS_3

Melihat pintu ruangan itu saja membuat jantung Angga berdetak kencang. Akibat berpikir aneh-aneh Semalam membuatnya takut melihat Nadya. Ia tidak siap melihat orang yang sangat ia cintai tertidur lemah. 


“Angga, Ayah tau kamu semalam susah tidur karena memikirkan Nadya. Sekarang kita sudah di depan pintu kamarnya. Kamu ga rindu gitu sama dia?” ucap Ayah membuat Angga kembali berpikir. Benar kata sang Ayah, di balik rasa takut melihat keadaan Nadya terdapat rasa rindu yang begitu besar.


Ayah menggenggam tangan kecil Angga, menguatkan anaknya itu agar kuat melihat keadaan Nadya. Ayah mengetuk pintu dan masuk ke dalam. Terlihat Nadya yang terbaring lemah tak berdaya.


Banyak sekali alat rumah sakit dan selang infus yang memenuhi tubuh kecil itu. Penampakan ini membuat Angga semakin takut, benar apa yang dipikirkannya Semalam. Kakinya tiba-tiba lemas dan susah untuk berdiri seimbang.


Ayah yang melihat keadaan Angga langsung menggendong nya dan duduk di kursi. Kedua orang tua Nadya juga berada di situ dan kaget melihat Angga yang kelihatannya melemah. Mereka tau pasti jika Angga sedang tidak baik-baik saja. Mereka berdua mendekat dan duduk di samping Angga. 


“Tante tau gimana perasaanmu sekarang nak, tante juga rasain. Kalau mau nangis Tante persilahkan, kamu berhak menangis Angga” ujar Ibunya Nadya sambil mengelus pundak Angga.


Angga yang dari tadi menahan air matanya agar tidak jatuh akhirnya jatuh begitu saja ketika mendengar perkataan Ibunya Nadya.


“Tante sama Om ga bisa berbuat apa-apa kecuali membawa Nadya ke rumah sakit dan berdoa untuk kesembuhannya. Jika penyakit Nadya bisa ditransfer saja, maka Om sudah siap menerima penyakit tersebut” ucap Ayahnya Nadya tulus. Ia sangat menyayangi anak semata wayangnya itu.


Dari semalam ia terus memegang tangan anaknya sambil tidak berhenti mengucap doa kepada Tuhan agar anaknya cepat sembuh. Ia tak menyangka jika penyakit tersebut akan begitu menyiksa anaknya.


“Apakah ada perkembangan dari Nadya?” tanya ayahnya Angga.


“Dari kemarin Sampai saat ini Nadya belum sadarkan diri. Kata dokter kalau penyakit Nadya kali ini lebih parah dari keadaan sebelumnya saat saya dan Ibu Nadya berobat. Tapi Nadya masih bisa selamat karena penyakit ini belum terlalu memberi efek yang kuat. Kata Dokter penyakitnya Nadya bisa sembuh total dalam beberapa Minggu kemudian” jelas Ayah  Nadya.


Ada sebuah harapan besar terbentuk di hati kecil Angga. Ia bangun dari duduknya dan mendekati Nadya. Hatinya kini lebih tenang ketika melihat wajah Nadya.


Semua pemikiran buruk akan kehilangan Nadya tiba-tiba lepas begitu saja. Rasa ingin menjaga Nadya hingga menghabiskan waktu berdua bersama muncul.


Dia memberikan diri memegang tangan cantik yang terikat selang infus, besar harapan agar wanita di depannya sembuh. Sepenggal doa ia ucapan untuk kesembuhan Nadya. Jorgas, Satria, dan Ibu Angga tiba-tiba masuk ke dalam.


Tadi mereka sempat bertemu saat ingin ke ruangannya Nadya. Ibunya Angga sudah kenal baik Satria dan Jorgas jadi mereka berjalan bersama dengan tujuan Yang sama pula.

__ADS_1


“ Tante ini buat buat Nadya. Sekalian kita mau lihat gimana keadaan Nadya sekarang.” Ujar Jorgas sambil menaruh buat di meja.


Ia dan  kemudian pergi  melihat keadaan Nadya yang tertidur lemah di ranjang rumah sakit. Tawa manis yang biasa mereka lihat di wajah nadya kini berubah menjadi wajah darat sedang menahan sakit.


Mendengar kabar tadi saja masih membuat mereka shock, ini lagi saat melihat langsung keadaan Nadya. Tidak dapat di pungkiri betapa kosong hari ini tanpa Nadya. Semenjak bersama Angga, Nadya membuat hari Angga beserta kedua sahabatnya menjadi berwarna.


Biasanya ketika kumpul mereka suka melakukan hal-hal baru yang belum Pernah mereka lakukan sebelumnya. Seperti bermain di sungai dekat sekolah. Biasanya sore saat jam pulang Kantor banyak orang yang menyempatkan diri untuk melihat matahari terbenam.


Angga, Nadya, Jorgas, dan Satria suka sekali pergi ke sana sambil membawa cemilan dan duduk bercanda ria. Namun sekarang keadaan tidak memungkinkan. 


“Angga, gue tau lu kuat kok. Gue dan Satria bakal doain Nadya biar cepat sembuh yah. Sebentar sebelum pulang kita sholat bersama yah.” Ujar Satria. 


Setelah beberapa lama menghabiskan waktu menjenguk Nadya, mereka semua pulang meninggalkan Ayah dan Ibu Nadya. Angga meminta izin kepada Ayah dan Ibu untuk pergi sholat bersama Satria dan Jorgas.


Mereka pun mengizinkannya. Untuk masalah pulang sebentar Ada Jorgas yang membawa mobil. Mereka bertiga pun melaju dengan mobil menuju Masjid terdekat. 


Semua permohonan mereka katakan sambil memohon kesembuhan dari Nadya.


“Betul kata Satria, lu kan dari Minggu lalu sibuk olimpiade. Terus si Nadya juga bilang katanya ga bisa kumpul karna ga ada lu. Ayoklah hari ini aja, mumpung juga tadi lu di izinin sama Ayah Ibu” ujar Jorgas meyakinkan Angga.


Angga juga berpikir ada benarnya juga.


Pergi bersenang-senang sedikit akan membuat beban di otaknya berkurang.


“Yaudah gue ikut deh, sekalian gue mau lepasin semua yang masalah berat di kepala gue.” Jawab Angga setuju dan kemudian mereka langsung pergi menuju sungai dekat sekolah.


Saat sampai tidak banyak orang di sana. Waktu yang masih menunjukkan pukul 4 sore membuat pengunjung masih sedikit. Kebanyakan dari mereka hanya lewat atau berkeliaran sambil lari sore. Ada juga yang duduk bersama kekasih mereka menghabiskan waktu.


Melihat pemandangan itu tiba-tiba membuat Angga mengingat waktu nya bersama  Nadya jika berada di sungai ini. Jorgas yang melihat Angga langsung mengagetkannya dari belakang.

__ADS_1


“Katanya mau lupain dulu , masa liatin mulu orang pacaran. Tunggu aja pasti seminggu kemudian kita bakal nongkrong di sini bareng Nadya. Mending ke sana aja liat Si Satria udah dahulu main air “  ujar Jorgas sambil menunjuk ke arah Satria Yang sedang main air. 


Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama hingga tak terasa matahari akan menghilang sempurna di ganti dengan bulan. Mereka bertiga bersiap dan kembali ke rumah masing-masing.


Saat perjalanan mereka lebih memilih diam dengan pikiran masing-masing kecuali Jorgas yang fokus menyetir.


Seminggu telah berlalu. Doa dari hati paling tulus membuahkan hasil yang baik. Nadya akhirnya sembuh dari penyakit tersebut. Tapi tidak janji jika ia akan kembali sakit. 


Bersyukur saja jika ia sekarang bisa berjalan dan beraktifitas layaknya orang sehat. Hari ini Pak Nathan yang mengantar Angga ke sekolah.


Sesuai permintaan Semalam mereka singgah menjemput Nadya. Betapa bahagianya Angga saat perjalanan menuju rumah Nadya. Saat sampai, Nadya sudah berdiri menunggu Angga dan Pak Nathan.


“Ayok NAD” panggil Angga. Nadya segera naik ke mobil dan mobil pun melaju ke sekolah. Saat di sekolah tidak ada yang aneh dengan keadaan Nadya.


Hari ini ternyata banyak kegiatan yang harus mereka ikuti jadi mau tidak mau mereka harus mengikutinya agar nilai mereka tidak berkurang.


Jam pulang sekolah Yang biasanya sekitar  jam 2 siang sekarang bertambah panjang hingga tak terasa sudah jam 5 sore. 


Angga dari tadi sangat khawatir melihat keadaan Nadya yang baru sembuh dari sakit. Ia terus menanyakan bertanya ke Nadya apakah ia baik-baik saja.


Nadya hanya mengangguk Yang berarti bahwa ia baik-baik saja.  Akhirnya setelah semua praktek berakhir mereka pulang.


Angga hari ini mau pulang bersama Nadya jadi ia terus berada disampingnya. Sebenarnya Nadya sudah merasa bahwa badannya tidak kuat lagi. Keringat dingin terus menerus Keluar dari tubuhnya. 


Ia terus menutupi hal itu agar Angga tidak terlalu khawatir dengannya. Tiba-tiba penglihatannya berkurang dan 


Bruk..


Nadya terjauh pingsan dan tidak sadarkan diri di samping Angga. Wajahnya terlihat sangat puncat dan suhu badannya yang begitu dingin. Angga segera menelpon Pak Nathan agar cepat melajukan mobilnya ke sekolah Angga.

__ADS_1


“Nadya, Angga mohon bangun. Kamu jangan bikin Angga khawatir dong” ucap Angga sambil menepuk-nepuk pelan pipi Nadya agar Nadya sadar. Tapi hal itu tidak berguna.


__ADS_2