Timer Me

Timer Me
Bab. 50. Timer Me


__ADS_3

Alarm terus berbunyi namun gadis itu tak kunjung bangun dari tidurnya. Ia masih bermalas-malasan di tempat tidur karena hari libur.


“Bikin ribut aja Pagi-pagi. Ganggu waktu libur orang.” Kesal Rara. Ia mematikan alarm tersebut dan kembali tidur. Belum lima menit  ia menutup mata, terdengar ketukan pintu dari luar.


Dengan malas Rara bangun dan membukakan pintu. Terlihat Ibunya yang berdiri membawa sebuah paper bag di tangan. 


“Mau ngapain Mama bawa-bawa paper bag segala. Hadiah ulang tahun yah?. Perasaan ulang tahun Rara tuh masih dua bulan lagi.” Heran Rara. 


“Dalam Paper ini ada dress buat kamu. Dress itu Mama pesan khusus dari Belanda.” Jelas Mama.


“Rara ga mimpi kan Ma. Baik banget deh.” Jawab Rara dengan cepat mengambil Paper bag di tangan sang Mama.


“Jangan senang dulu Ra. Dress itu Mama beli karena permintaan Papa. Anak nya rekan kerja Papa mau datang ke Indonesia. Dia jauh-jauh dari Jerman hanya untuk melihat proyek kerja sama Antara Papa sama Ayahnya dia. Intinya sekarang kamu mandi dan pakai dress itu. Kamu jemput dia pakai mobil di bandara X. Sekitar jam sepuluh dia bakal sampai ke Indonesia.” Jelas Mama panjang lebar. 


“Mah, masa harus Rara sih. Hari libur kaya gini susah banget loh Rara dapat. Kan Mama tau sendiri sekolah Rara tuh kalau libur Cuma Pas hari besar aja.” Mohon Rara.


“Dari kamu aja, Mama ga keberatan kalau kamu nolak.  Tapi ingat, uang jajan serta semua fasilitas yang Mama sama Papa berikan ke kamu bakal di sita selama dua bulan.” Ancam Mama. Dengan cepat Rara langsung menutup pintu dan pergi mandi.


Ia takut akan ancaman sang Mama. Mana bisa dia hidup tanpa uang jajan. Uang jajan yang di berikan oleh Ayah sudah biasa dia pakai membeli novel baru. Lima belas menit lamanya Rara melakukan ritual mandi.


Selesai bersiap-siap Rara masih melihat penampakannya di depan kaca. Dress berwarna hijau muda dengan panjang di atas lutut tanpa lengan membuat Rara terlihat cantik. Ia yang biasanya terlihat tomboi sekarang menjadi feminim. Rara tampak tidak nyaman menggunakan dress tersebut, namun ia tetap memakai sesuai kemauan sang Ayah. Rara turun ke bawah untuk sarapan. 


“Mah, Rara sudah selesai nih. Mana sarapannya.” Tanya Rara saat memasuki dapur. Biasanya jam segitu sudah ada susu dan roti untuk sarapan tapi kali ini meja makan terlihat kosong. 


“Kamu sarapan aja sama anaknya teman Papa di bandara. Mama malas masak pagi ini. Bibi juga lagi pulang kampung seminggu Yang lalu pas kamu ke Desa X.” Jelas Mama.


“Masa sarapan bareng sih Mah. Rara malu.” Rara merengek.


“Sudah, jangan merengek begitu. Lagi tiga puluh menit jam Sepuluh. Kamu mending langsung gas sekarang ke bandara. Jangan lupa bawa handphone. Nomor nya kamu sudah Papa kasih ke anaknya teman Papa. Jadi kalau dia sudah sampai, dia bakal telepon kamu. Cepat jalan.” Ujar Mama sambil mendorong Rara menuju garasi.


Dengan cepat Rara masuk ke dalam mobil kesayangannya dan melaju menuju bandara. Karena jarak rumah Rara dengan bandara jauh, ia menghabiskan waktu dua puluh menit.


Kini tertinggal lima menit sebelum anak rekan kerja Papa sampai ke Indonesia. Rara memutuskan untuk menunggunya di sebuah Kafe yang berada di bandara tersebut. Belum lama duduk di sana, teleponnya berbunyi tanda seseorang sedang menelepon.


“Halo, apakah ini betul dengan Rara.” Sapa orang di telepon.


“Iya, betul ini dengan Rara. Maaf sebelumnya, ini dengan siapa.” Tanya Rara.


“Oh saya anak dari Rekan kerjanya Ayah anda. Saya di suruh menelepon nomor  jika sudah sampai ke Indonesia.” Jelas orang di telepon.

__ADS_1


“Oh maaf  saya baru ingat. Kalau begitu anda di mana?. Biar saya jemput.” 


“Saya ada di kafe xxx. Anda boleh datang sekarang.” 


“Tunggu sebentar. Saya juga di kafe xxx, anda sekarang memakai baju warna apa?.” Tanya Rara.


“Saya menggunakan Hoodie berwarna hitam dan duduk di meja nomor 10. Letak mejanya ada di pojok sebelah kanan.” Jelas orang itu.


“Baiklah. Tunggu saya sekarang.” 


Rara mengakhiri panggilan dan pergi mencari meja nomor 10. Ternyata betul, ada seseorang yang duduk di sana menggunakan Hoodie Hitam lengkap dengan kacamata hitam. Ia terlihat sangat misterius. Dengan ragu Rara menghampiri orang itu. 


“Permisi, ini dengan Rara.” Sapa Rara sopan.


Orang tersebut langsung bangun dan membuka penutup kepala dan membuka kacamata yang dari tadi menutup matanya. Rara seketika terpaku melihat wajah serta tinggi badan orang di depannya.


Hidung mancung, mata sayu yang menghanyutkan, serta rambut yang di biarkan berantakan karena topi hoodie. Ia terlihat begitu menawan dan sangat ganteng.


“Oh Rara. Silahkan duduk dulu.” Ajak cowok tersebut menyuruh Rara duduk. Rara pun kemudian duduk.


“Kenalkan nama saya Ezrakiel. Panggil saja saya Kiel. Ternyata anda lebih cantik yah jika di lihat Secara langsung.” Ujar Kiel mengenalkan dirinya sambil menyodorkan tangannya. Rara membalas jabatan tangan itu. Rara tersenyum malu-malu mendengar ucapan Kiel.


“Aduh maaf Kak Kiel.” Maaf Rara. Dalam hati Rara mengutuk dirinya sendiri. Dia terlihat bodoh di depan Kiel. Padahal baru pertama bertemu namun dia sudah malu-maluin saja. 


“Tadi kata Mama kamu, kamu belum sarapan kan. Saya juga belum sarapan jadi boleh lah kita sarapan bersama di sini.” Ajak Kiel tiba-tiba. Dengan malu-malu Rara menyetujui permintaan Kiel. Berhubung perutnya juga sangat lapar.


Kiel segera memanggil seorang pelayan di sana untuk memesan makanan.


“Kamu ingin makan apa Ra biar saya pesan.” Tanya Kiel. 


“Ikut saja dengan punya kamu.” Jawab Rara.


“Baiklah. Kalau begitu saya pesan dua roti lapis dan dua Coklat panas.” Ujar Kiel kepada sang pelayan. Setelah menulis pesanan itu, sang  pelayan pergi. Kiel dan Rara kembali sibuk sendiri dengan handphone mereka sampai makanan datang. Saat makan pun mereka masih sibuk sendiri dengan makanan masing-masing.


Tak ada percakapan antara mereka. Kelihatan sekali dari wajah mereka berdua, mereka terlihat canggung.  Selesai sarapan mereka masih saling diam, sampai Kiel membuka suara.


“Ra, kalau sudah selesai makan ayok jalan.” Ajak Kiel.


“Ah maaf. Ayok pergi dari sini.”

__ADS_1


Mereka berdua bangun dari tempat duduk dan meninggalkan kafe itu. Kiel memilih mengikuti Rara dari belakang. Saat Rara sudah masuk ke dalam mobil, Kiel masih berdiri terpaku di luar mobil.  Rara membuka kaca mobil dan meneriaki Kiel.


“Ayok masuk. Panas loh di luar.” 


Dengan cepat Kiel masuk dan duduk di samping Rara. Dua puluh menit lamanya perjalanan mereka menuju rumah Rara. Suasana dalam mobil sangat sunyi.


Hanya terdengar suara kendaraan yang lalu lalang. Rara fokus menyetir dan Kiel Sibuk dengan handphonenya. Tak lama kemudian mereka berdua sampai di halaman rumahnya Rara. 


“Kak, sudah sampai. Bisa turun Sekarang.” Ujar Rara mengagetkan Kiel. Dengan malu Kiel langsung turun.


“Maaf.” Ujar Kiel meminta maaf  kepada Rara.


“Santai aja kak.” Jawab Rara. Rara kemudian memegang tangan Kiel membawanya masuk ke dalam rumah. Jantung Kiel serasa mau meledak saja.


“Mama, ini Rara bawa Kak Kiel.” Panggil Rara saat masuk ke dalam rumah. Rara masih belum sadar jika dia sedang memegang tangan Kiel.


Rara sudah terbiasa memegang tangan orang jika mau masuk ke dalam rumah. Mama keluar dari kamar dan menghampiri sang anak.


“Waduh, baru kenal udah pegangan tangan aja nih.” Goda Mama. Rara yang sadar langsung melepaskan genggaman itu dan menunduk muka.


Ia sangat malu. Sudah dua kali ia seperti ini kepada Kiel. Kiel hanya tersenyum Sambil menggaruk kepala bagian belakang yang tak gatal.


“Ganteng banget kamu Kiel, udah besar aja. Terakhir Tante lihat tuh kamu masih kecil banget. Ini efek samping kamu tinggal di Jerman yah.” Ujar Mama Rara yang takjub melihat Kiel. Dulu saat kecil, Kiel pernah tinggal di Indonesia.


Ia juga lahir di Indonesia. Namun saat ia berumur lima tahun, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Jerman.


“Makasih banyak Tante.” Ujar Kiel berterima kasih.


“Ya sudah, Kamu langsung istirahat saja yah. Pasti kamu lelah duduk lama di dalam pesawat.”  Pinta Mama Rara. “ Ra kamu antar Kiel ke kamar atas, yang di sebelah kamar kamu.” Lanjutnya. Masih dengan rasa malu, Rara mengajak Kiel pergi ke atas. Di atas ternyata ada satu kamar di samping kamarnya Rara.


Kamar tersebut merupakan kamar tamu. Sebenarnya ada satu kamar tamu di bawah, namun sang Mama menyuruhnya untuk ke kamar di atas saja. Tidak tahu apa yang dipikirkan Mama. Rara hanya mengikuti kemauan Mama.


Rara dan Kiel berjalan menaiki  tangga dan sampai di depan pintu kamar.


“Kamar aku di samping kamarnya kamu. Jadi kalau mau perlu apa-apa tinggal ketuk aja.” Ucap Rara.


“Siap.” Jawab Kiel.


Kemudian mereka berdua masuk ke kamar masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2