Timer Me

Timer Me
Bab. 38. Timer Me


__ADS_3

Takdir setiap orang tidak bisa diubah. Jika takdir sudah berbicara kita hanya bisa menerimanya. Pastinya setiap orang menginginkan takdir memihak kepada mereka.


Ekspetasi yang terlalu tinggi kadang membuat kita menginginkan takdir yang baik juga. Berusaha menjalani  setiap perjalanan kehidupan agar lebih baik adalah salah satunya.


Banyak sekali masalah yang datang bertubi-tubi menimpa. Sakit kepala jadinya ketika masalah tersebut tidak kunjung membaik.


Kita butuh seseorang yang selalu mengerti akan keadaan kita. Saat ada masalah misalnya, ia akan sedia mendengarkan. Ingin sekali dalam hati terdalam mengenal orang seperti itu. Apa lagi ia adalah lawan jenis.


Bisa saja aku dan dia menjadi kita. Sekarang aku sangat bahagia karena orang tersebut sudah aku temukan. Ia menerima semua kekurangan. Ia tak memperdulikan semua kekurangan itu, ia selalu memberi jalan keluar atas masalah-masalah yang aku alami.


Angga Adhitama. Remaja dengan kenangan masa lalu yang suram. Masa lalu yang tak ingin ia ulangi. Ia ingin mengubah masa depannya menjadi lebih baik bersama wanita Yang baru ia kenal beberapa hari lalu, Lidya  Margareth. Kesamaan Lidya dan masa lalu Angga si Nadya membuat dirinya tertarik.


Walaupun disini kehidupan Lidya lebih menyedihkan dibandingkan Almarhumah Nadya. 


Memiliki senyuman nan manis dan paras yang hampir mirip Nadya seakan menghipnotis Angga. Senyuman itu yang ia cari selama ini setelah 3 tahun tidak melihatnya. Senyuman penuh kebahagiaan yang menutupi kesakitan teramat.


Lidya adalah wanita kedua yang bisa masuk ke hatinya. Bukannya Angga pemilih dalam mencari pasangan. Ia tidak mau jika mendapat pasangan yang tak sepemikiran dengan dirinya. Lidya termasuk orang tercepat yang masuk ke hati Angga. Dengan Nadya saja , Angga masih butuh waktu berbulan-bulan untuk menaruh hati tapi tidak dengan  Lidya.


Mungkin takdir yang telah mempertemukan mereka berdua. Takdir baik yang berkata. Lidya dan Angga sudah selesai beristirahat. Mereka berdua memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Yang tadinya saling diam dan tak ada pembicaraan.


Sekarang malah banyak bicara dan suasana seperti dunia milik berdua ditambah mereka bergandengan tangan. Hati yang terluka akan kepergian seseorang bergabung dengan hati yang hancur akan kenyataan hidup menjadi sandaran kuat hubungan mereka.


Mereka saling melengkapi satu sama lain. Hubungan ini sepertinya akan langgeng hingga ke jenjang yang lebih serius. Namun semua ini belum tentulah pasti. Hipotensi yang diidap Lidya belum tentu dapat sembuh seperti sepupunya Nadya. Semoga saja penyakit itu bisa cepat sembuh dan Angga tidak akan kembali menjadi sad boy.


“Baik anak-anak karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh maka kita mulai saja penelitiannya. Sebelum memulai Saya absen satu persatu.” Ujar Pak Nathan kemudian berlalu pergi ke tas yang berada sepeda. Ia mengambil sebuah buku yang  dan beberapa kertas yang adalah lembar kerja siswa. 


Ia kembali dan langsung mengabsen semua murid.

__ADS_1


“Aditya Chandrawinata.”


“ Hadir Pak.”


“Alletha Beby Permata.”


“Hadir Pak.”


“Danendra Alfius putra.“


“ Hadir Pak.”


Ia terus mengabsen setiap siswa dan saat bagian Lidya tidak ada jawaban.


“Lidya Gabriela Margareth. Tolong Yang bernama Lidya  Margareth menjawab panggilan saya.” Ujar Pak Nathan sedikit berteriak agar Lidya menjawab. Semua murid termaksud Aditya dan teman-teman ikut mencari keberadaan Lidya.


“Maaf Pak, Lidya belum sampai ke sini. Sepertinya ia masih dalam perjalanan bersama teman kelompoknya.” Ujar Aditya memberitahu Pak Nathan.


“Kalau tidak salah tadi dia bersama Kak Angga. Sebelum masuk ke dalam hutan saya melihat mereka berdua jalan bersama.” Jelas Aditya.


“Oke terima kasih. Jadi sekarang kita mulai saja penelitiannya. Untuk Lidya dan Angga sebentar akan saya tangani. Saya bagikan kertas lembar kerja dan tolong diisi sesuai petunjuk. Jangan lupa untuk memotret setiap kegiatan saat melakukan penelitian. Tabel kegiatan observasi dan hasil penelitian langsung dicatat di kertas tersebut. Saat kembali ke Desa X baru ambil kertas yang baru untuk menulis kembali hasilnya Terima kasih.” Jelas Pak Nathan dan pergi  murid-muridnya bekerja.


Di bawah pohon Pak Nathan memegang keningnya yang terasa sakit. Ia sedang memikirkan bagaimana keadaan Lidya dan adiknya Angga. Ia takut Angga berjalan meninggalkan Lidya sendiri di hutan. Ia tau persis bagaimana sifat adiknya.


Tadi Pak Nathan melihat jelas raut wajah Angga yang tidak suka sekelompok dengan Lidya. Padahal pagi tadi mereka masih berpelukan. Ia Sengaja menayangkan kepada Aditya tentang teman sekelompok Lidya sebagai bentuk basa basi.


5 menit sudah Pak Nathan memikirkan kedua anak itu. Tiba-tiba dari jalur sebelah kanan Pak Nathan muncul Lidya dan Angga yang jalan sambil bergandengan tangan.

__ADS_1


Pak Nathan langsung berdiri dan menghampiri Mereka berdua. Pikiran buruk tentang adiknya ternyata salah. Pak Nathan heran kenapa sekarang wajah mereka bahagia dan mereka berpegang tangan.


Tidak tau apa yang terjadi tadi di hutan sehingga mereka berdua kembali berbaikan. Jangan pikirkan itu dulu, yang sekarang lebih penting adalah tugas mereka karena tujuan utama kesini adalah mengerjakan l tugas.


“Lama benar kalian berdua. Yang lain aja udah dari tadi sampai. Sekarang malah lagi pergi meneliti. Oh pantas saja jalannya pakai gandeng tangan.” Ujar Pak Nathan saat menghampiri mereka berdua.


Lidya dan Angga yang sadar belum melepaskan tangan langsung melepaskan. Mereka terlalu asik bergandengan hingga lupa lepas.


“Apaan sih Kak. Di jalan tadi kita ketemu sama ular jadinya lama. Mana ularnya susah di usir pula.” Bohong Angga. Masa ia mau mengatakan yang sebenarnya kepada Pak Nathan kalau tadi ia lama karena masih mencium Lidya, kan tidak mungkin.


Kalau dikasih tau bisa-bisa Angga akan gila karena si kakak terus menerus menggoda si Adek. 


“Terus gimana? Lidya ga luka kan.” Ujar Panik Pak Nathan sambil mengitari tubuh Lidya memastikan keadaannya. Ia khawatir jika Lidya kenapa-kenapa. Ibunya Lidya sudah berpesan kepada Pak Nathan agar menjaga Lidya tetap baik-baik saja.


“Kak tolong yah. Kita tuh ga kenapa-kenapa karena si ular ga gigit dan ga menyerang. Terus kakak ga khawatir sama aku gitu?  Aku kan tadi sama Lidya ketemu ular. Masa iya aku di biar in gitu aja.” Ucap Angga merajuk. 


“Kamu kan Cowok pasti kuat. Beda sama Lidya yang seorang cewek. Dia kalau kenapa-kenapa kan besar masalahnya.” Jawab Pak Nathan santai.


“Ya sudah kamu sama Lidya langsung gabung sama  teman-teman. Ini kertas buat isi penelitian yah. Dicoret-coret dulu sebagai cakaran. Sebentar pulang ke Desa X baru ambil lembar baru untuk disalin. Kakak pergi dulu.” Ujar Pak Nathan pergi meninggalkan mereka.


“Hahaha, muka lo kalo cemberut begitu imut banget deh Angga.“ Ucap Lidya sambil tertawa melihat wajah Angga yang tidak bersahabat. Ia masih sebal dengan perkataan Kakaknya tadi.


“Ini gue lagi marah masa imut sih. Mau gue makan lu hah.” Jawab Angga makin emosi dengan kelakuan Lidya.


“Coba kalau berani sini makan gue. Gue ga bakal lari kok.” Lidya menantang Angga yang sedang tersulut emosi. Ia tertawa melihat wajah Angga yang marah tapi kelihatan imut.


Angga langsung berlari menghampiri Lidya dan mengejarnya. Mereka berdua saling kejar-kejaran.

__ADS_1


Tugas yang dikasih di singkirkan dulu. Mereka berdua sibuk sendiri dengan bercanda. Dari kejauhan Pak Nathan tersenyum bahagia melihat interaksi mereka. Ia senang karena angga sudah bisa tertawa sebahagia itu saat mengajar Lidya. 


“Akhirnya senyuman itu muncul kembali lagi Angga. Selamat yah kamu Sudah menemukan pujaan hati.”


__ADS_2