
Flashback on..
"Jefran Kamu yah," Rara yang kesal karena wajahnya dicoret Jefran akhirnya memukul bahu Jefran.
Karena terlalu semangat, kursi yang diduduki Rara oleng dan Rara jatuh ke arah Jefran. Jefran pun dengan sigap menangkap Rara tapi alhasil mereka berdua jatuh. Posisi jatuhnya mereka Jefran dibawah menahan Rara diatasnya. Mereka berdua pun berteriak dan perjaga sekolah mendengar teriakkan mereka. Penjaga sekolah pun masuk mengecek siapa yang tadi membuat keributan didalam perpustakaan, karena tidak mau mendengar suara teriakan Rara lagi, Jefran pun menutup mulut Rara dengan tangannya dan memeluk Rara agar tidak kemana-mana.
Flashback off.
"Ra, kamu jangan bicara yah. Diam-diam aja takut ketahuan," bisik Jefran menghadapkan wajahnya ke arah Rara.
Rara sadari tadi diam bukan karena dia takut, melainkan karena tangan Jefran masih menutup mulutnya dan memeluk erat dirinya. Perasaan Rara saat ini ingin pingsan akan tetapi diurungkan nya karena mau menikmati wajah tampan Jefran. Jarak wajah Rara dan Jefran sangat dekat bahkan udara panas yang keluar hidung Jefran bisa di rasakan diwajah Rara. Jefran dan Rara dari tadi saling bertatapan dibawah kolong meja perpustakaan, mereka bersembunyi dari penjaga sekolah yang mengelilingi perpustakaan tersebut mencari mereka berdua.
"Waduh gak sia-sia gue mimpi tadi jadi istrinya Jefran, eh bangun-bangun malah dipeluk Jefran. Memang yah anak soleh banyak rejekinya," ucap Rara dalam hati.
Setelah beberapa menit kemudian penjaga sekolah pun keluar dari perpustakaan. Rara yang tadi ingin beranjak dari pelukan Jefran malah ditahan oleh tangan tangan kekar Jefran.
"Boleh aku minta waktunya 10 menit sepertinya ini? Atau kalau boleh kamu balik memelukku?" Tanya Jefran meminta Rara agar kembali memeluk nya dalam keadaan seperti awal.
Rara yang suka dengan permintaan Jefran akhirnya senang hati memeluk Jefran, Rara memeluk Jefran dengan wajah yang menghadap ke arah sebelah.
"Ra, boleh gak kamu menghadap ke wajah ku. Lihat mataku," pinta Jefran.
Rara sudah keringat dingin saat melihat wajah Jefran dari dekat, ia sebenarnya senang saja dengan permintaan Jefran tapi sepertinya ia tidak terlalu lama. Jefran sengaja meminta untuk memeluk Rara seperti itu dan menyuruhnya melihat ke arah Jefran. Jefran teringat akan teman semasa kecilnya yang mirip sekali dengan Rara. Sewaktu kecil ia pernah tidur dan memeluk temannya sama persis seperti apa yang ia lakukan kepada Rara sekarang, warna bola mata Rara seakan membawa kedamaian sendiri bagi Jefran. Tak terasa waktu telah berlalu 15 menit tapi posisi Jefran dan Rara masih seperti semula, masih tetap berpelukan dan bertatapan. Mata indah itu seakan candu bagi seorang Jefran Emelard Delonix.
Rara dari tadi merasa berada di surga saja. Ia tidak bosan-bosannya melihat wajah Jefran. Sama seperti Jefran, sekarang wajah Jefran telah menjadi candu bagi Rara. Karena terlalu lama, akhirnya Rara membuka suara.
"Jef, kalau kamu mau lanjut peluk aku mending Jangan disini deh. Memang badan kamu gak pegel apa muat aku diatas kamu?" Ucap Rara.
"Eh iya maaf yah Ra, maaf kalau aku udah lancang banget meluk kamu," jawab Jefran masih dalam posisi memeluk Rara dan sebaliknya.
"Jef, sumpah aku tanya sekali lagi kamu gak pegel apa? Aku aja udah pegel loh," jawab Rara jujur.
Jefran pun tersadar dari lamunannya dan beranjak dari keadaan sebelumnya. Sebelum ia bangun, ia menurun Rara dulu agar kepala Rara tidak kepentok meja karena mereka berdua berada dibawah meja. Sebelum keluar dari bawah kolong meja, Jefran melihat sekitar apakah penjaga sekolah masih berada di perpustakaan atau tidak.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian setelah melihat sekeliling, akhirnya mereka keluar karena penjaga sekolah sudah tidak ada.
"Ra, kok tiba-tiba bahu aku sakit sih. Coba deh kamu lihat bahu belakang aku," seru Jefran kepada Rara.
Rara pun menyuruh Jefran untuk putar balik dan..
"Aaaaaa Jef, ayok kita Dokter cepat gak boleh lama!" Teriak Rara terkejut.
Rara sudah siap dengan tas dipunggungnya dan dengan memegang tangan Jefran untuk menariknya keluar, namun Jefran yang kebingungan menahan Rara karena tidak tau apa yang terjadi.
"Ra coba jelasin dulu jangan asal narik aja, kan Jefran bingung jadinya," ucap Jefran bingung.
"Coba kamu berdiri didepan kaca disitu, terus balik dan lihat bahu bagian atas. Kalau udah jangan kaget yah," jawab Rara.
Jefranpun akhirnya pergi ke kaca besar yang ada di perpustakaan dan dia kaget melihat bajunya berdarah. Ia termenung sejenak mencari tahu apa yang terjadi sehingga bahu nya bisa terluka. Setelah beberapa saat, akhirnya ia menemukan akibatnya itu.
Bahunya berdarah akibat insiden dibawah kolong tadi, saat Rara terjatuh. Luka dibahu Jefran belum sembuh total dan akhirnya sobek kembali. Jefran pun kembali ke meja dimana Rara duduk menunggunya.
"Ra, kita gak usah ke dokter yah. Ini luka kecil kok nanti sebentar ditaruh obat juga sembuh," seru Jefran kepada Rara.
"Udah gak apa-apa. Aku baik-baik aja kok. Ayok pulang, sampai apartemen aku bisa kok obatin sendiri," jawab Jefran meyakinkan Rara.
Ia tak ingin Rara terlihat begitu khawatir kepada dirinya, Rara yang tadi bersih keras untuk membawa Jefran ke dokter akhirnya menyerah. Tapi bukan Rara namanya kalau tidak memiliki ide yang aneh-aneh.
"Jef, kalau boleh aku bantuin obatin luka mu yah. Memangnya kamu bisa obatin lukamu sendiri? Dibagian belakang pula," ucap Rara meyakinkan Jefran.
"Eh iya juga yah, tapi kamu kagak keberatan kan, aku udah banyak ngerepotin kamu," ucap Jefran hati-hati.
"Ah ga ksama sekali kok. Bantuin kamu tuh sama dengan ngumpulin amal aku buat ke surga, mumpung yah dosa ku banyak banget," jelas Rara.
"Duh duh duh lihat ABS gratis lagi, gak apa waktu gue buat kerjain pr diperpendek dengan obatin Jefran, yang penting gue cuci mata dulu ya kan," kata Rara dalam hati.
Rara dan Jefran pun pergi ke parkiran bersama-sama. Setelah masuk ke mobil, Rara langsung menyetir dan melaju menuju apartemennya Jefran.
__ADS_1
Sesampainya diapartemen, Jefran langsung masuk ke kamar mengambil kotak P3K dan Rara menunggu Jefran diruang depan sambil memainkan handphone.
Jefran keluar dari kamarnya dengan membawa kotak P3K dan memakai kaus oblong putih, Rara masih sibuk dengan handphone ditangannya sampai tidak sadar Jefran sudah berada disampingnya.
"Ra, jadi ga obatin aku? Atau kamu Cape?" Ucap Jefran mengejutkan Rara.
"Eh iya maaf yah Jef, tadi aku lagi balas chat dari Ayah. Ayah mau ke Paris hari ini buat proyek disana," jelas Rara.
"Oh iya, salam yah buat Ayahmu."
"Ah oke."
"Sekarang jadi gak obatin nya?" Tanya Jefran.
"Ya sudah kamu balik badan biar aku obatin," jawab Rara.
Jefran berbalik memunggungi Rara agar Rara bisa mengoleskan obat ke bahunya.
"Jef, ini ceritanya aku olesin Ke bahu kamu atau ke baju kamu?" Tanya Rara bingung karena lukanya masih tertutup kaus Jefran.
Jefran pun bersiap-siap untuk membuka bajunya.
"Tunggu Jef, kamu mau ngapain hah? Jangan aneh-aneh dong tunggu sah dulu," teriak Rara Yang kaget melihat gerak-gerik Jefran.
"Yah mau buka baju lah, tadi kan kamu protes mau olesin obat ke mana. Aku buka baju lah," jelas Jefran menatap Rara.
"Terus kok kamu ngomong sah sah, sah apaan Ra?" Sambung Jefran bingung.
"Ah itu gak usah dipikirin, kalau mau buka ya sudah buka aja," jawab Rara sibuk mengotak-atik kotak obat.
"Betul yah, nanti kamu malah teriak lagi kan jadi budeg telinga ku," seru Jefran.
Tadi disaat Rara berteriak, gendang telinga Jefran seakan ingin robek saja. Suaranya seperti pengeras suara yang biasa dipakai orang untuk demo. Sangat nyaring dan cempreng, untungnya telinga Jefran masih dalam keadaan sehat. Kalau tidak sudah dari tadi ia dan Rara pergi ke Dokter THT memeriksa telinganya, Jefranpun mulai membuka bajunya dan terlihat pundak besar yang bersih. Diatas bagian bahu terdapat luka sobek yang cukup besar. Ya itu luka akibat kejadian kemarin.
__ADS_1
"Awhsss.. Ra sakit Ra!"