Timer Me

Timer Me
Bab. 51. Timer Me


__ADS_3

Waktu begitu cepat berubah dan siang menghampiri. Perut yang tadi pagi penuh sekarang mulai kembali kosong. Dengan malas Rara bangun tempat tidur menuju dapur. Sama seperti tadi pagi, meja makan terlihat bersih tanpa ada makanan. 


Mama dari belakang pergi menghampiri Rara. Mama terlihat rapi, sepertinya akan keluar.


“Kamu sama Kiel pergi makan di luar yah. Mama ga masak karena mau keluar arisan bareng teman-teman. Mama jalan dulu yah.” Pamit Mama kemudian pergi begitu saja meninggalkan Rara yang kelaparan.


Rara kembali naik ke atas dengan langkah tak semangat. Ia berhenti di depan pintu Kiel dan mengetuk nya. Kiel yang tadinya tidur langsung terbangun. Ia segera membukakan pintu. 


“Eh itu anu gimana yah lupa mau ngomong apaan.” Rara gelagapan saat berbicara dengan Kiel.


Kiel hanya menggunakan kaus oblong hitam dengan rambut yang always berantakan akibat baru bangun tidur. Wajah baru bangun Kiel terlihat begitu tampan di banding tadi pagi saat bertemu.


“Heum? Mau ngomong apa tadi. Coba tarik nafas dulu biar ingat.”  Ujar Kiel dengan suara beratnya. Bukannya makin tenang, kini jantung Rara makin berdetak kencang. Kiel sepertinya ingin membunuh Rara dengan sikap manis dan ramah.


“Oh itu baru Ingat. Mama kan lagi keluar terus ga masak. Kata Mama kita makan siang di luar saja. Atau Kakak mau aku pesan makan aja?.” Jelas Rara.


“Pesan saja biar biar lebih praktis. Kalau keluar pun sepertinya tidak bisa. Kamu juga terlihat tidak sehat. Ini tangan kamu dingin dan gemetar.” Ujar Kiel sambil memegang tangan Lidya yang terasa dingin dan sedikit gemetar.


Rara seperti itu karena melihat penampilan Kiel. Jujur, Kharisma dari Kiel lebih kuat dari Jefran. Baru melihat Kiel pakai kaus oblong saja sudah bikin Rara ketar ketir. Kaus yang tipis itu memperlihatkan bentuk tubuh Kiel yang berotot.


Jika saja ada waktu, Rara ingin melihat lebih seperti punya nya Jefran waktu itu di saat Jefran habis mandi dan lupa menggunakan baju. Dalam hati Rara berdoa agar sebentar bisa melihat perut Kiel yang berotot. Otak Rara memang aneh-aneh maunya.


“Ah Oke. Baiklah kalau begitu saya pesan dulu yah.” Pamit Rara. Namun saat Rara ingin pergi ke kamarnya, tangan Kiel menahan dirinya. 


“Maaf, saya hanya ingin memberi tahu saja. Panggil saya Kiel tanpa menggunakan Kakak. Saya juga akan memanggil anda Rara. Saya tidak terbiasa dengan panggilan itu. Terkesan terlalu kaku. Saya juga masih berumur dua puluh tahun. Anggap saja seperti teman kamu di sekolah.” Jelas Kiel dan langsung masuk ke dalam kamar.


Dengan cepat Rara masuk ke dalam kamar dan memeluk bantal nya. Ia di buat terus jantungan oleh Kiel. Kenapa Kiel begitu cepat membuat dirinya seperti ini. Ah lupakan saja. 


Rara mengambil handphone nya dan memesan makan siang mereka. 20 menit lamanya ia menunggu di kamar dan makanan tersebut sudah sampai di depan.


Dengan cepat Rara pergi ke depan mengambil pesanan itu. Selesai membayarnya, ia ke dapur mengatur makan siang itu. Selesai mengatur, ia pergi ke atas memanggil Kiel untuk makan. Seperti tadi, Rara mengutuk pintu memanggil Kiel.

__ADS_1


“Kiel, makanan nya sudah siap. Ayok keluar, biar kita makan bersama.” Teriak Rara di depan pintu.


Lama juga ia menunggu, Kiel membukakan pintu. Mata Rara langsung melotot. Tak dapat di percaya doanya dikabulkan oleh Tuhan. Kiel membuka pintu dengan keadaan baru selesai mandi. Ia hanya menggunakan celana santai tanpa baju. 


“Oh maaf , baru selesai mandi Ra.” Jawab Kiel Sambil tersenyum. Dua lesung pipi terukir manis di wajah Kiel. Melihat pemandangan di depannya serta senyuman itu membuat Rara tiba-tiba pingsan.


Dengan cepat Kiel langsung menggendong tubuh Rara dan membawanya ke kamar miliknya. Kiel menaruh tubuh Rara di kasur dan ia pergi mencari minyak kayu putih. Ia membongkar laci meja dan menemukan kotak P3K.


Ternyata betul, ada sebotol minyak kayu putih di dalam. Ia mengambil minyak itu dan kemudian kembali ke Rara. Ia membuka botol minyak kayu putih tersebut dan mendekatkan botol itu ke hitung Rara.


“Ini si Rara kenapa lagi. Baru pertama ketemu kenapa dia harus seperti ini. Tolonglah hamba Ya Allah. Hamba tidak ingin di marahi oleh Ayah ataupun di hukum.” Ujar Kiel memohon kepada Tuhan. Ia takut terjadi aneh-aneh dengan Rara.


Sambil menunggu Rara sadar, Kiel membuka kopernya mengambil baju untuk di pakai. Selesai memakai nya, ia kembali melihat keadaan Rara.


Ternyata gadis itu belum kunjung bangun. Kiel dengan sabar menunggu hingga akhirnya Rara terbangun. Dengan hati-hati Kiel membantu Rara untuk duduk. 


“Rara, kenapa kamu bisa pingsan.” Tanya Kiel saat Rara baru saja sadar. Rara langsung memasang muka ketakutan. Ia bingung ingin menjawab alasan apa. Tidak mungkin sekali ia menjawab jujur soal pingsannya.


Sekarang Kiel sudah tidak membutuhkan jawaban Rara karena yang dia tau pasti kalau Rara pingsan itu sebab belum makan.


“Ah Ok. Jadi kamu pingsan karena lapar yah. Ayok kita turun ke bawah buat makan. Saya takut kamu pingsan lagi karena kelaparan.” Ajak Kiel.  Rara dengan perlahan turun dari tempat tidur.


“Kamu kuat jalan kan?. Kalau ga kuat biar aku gendong aja.” Tawar Kiel. 


“Makasih, tapi aku bisa sendiri. Ini sudah kuat kok.” Jawab Rara sambil berlari. Sebenarnya, kepala dia masih terasa pusing.


Namun ia tetap berlari agar Kiel percaya. Ia tak mau di gendong Kiel, nanti yang ada malah dia pingsan kembali Akhirnya mereka berdua turun ke bawah dan makan siang bersama. 


Di meja makan, mereka berdua tetap diam sambil fokus ke makanan mereka sendiri. Selesai makan, Rara langsung membersihkan meja dari piring kotor di bantu Kiel. 


Rara sudah melarang Kiel tapi Kiel tetap bersih keras ingin membantunya. Ya sudah, Rara menyerah dan mengizinkan Kiel membantu dirinya. 

__ADS_1


Di sela-sela asik mencuci, tak sengaja tangan Rara terkena pisau.  Dengan cepat Kiel mengambil beberapa tissue di meja makan dan langsung menutup jari Rara yang terluka.


“Lain kali kalau mau nyuci tuh lihat-lihat dulu ada benda tajam atau tidak. Nih lihat hasilnya sekarang. Tangan Rara luka kan.” Marah Kiel. 


“Obat merah di mana Ra, biar aku ambil.” Lanjut Kiel dengan wajah Khawatir. 


“Ada di sudut ruang tamu. Dalam kotak P3K.” Jawab  Rara. Dengan cepat Kiel langsung berlari menuju ruang tamu mengambil kotak yang dimaksud. Tak menunggu lama Kiel kembali membawa kotak itu.


“Ra, duduk di sini cepat.” Panggil Kiel. Rara berjalan menuju dan duduk di samping Kiel.


“Mana jari kamu yang luka. Biar aku obatin. Kalau di tinggal lama-lama takutnya makin parah.” 


Rara mendekatkan jarinya yang terluka. Ternyata lukanya cukup besar. Dengan hati-hati Kiel membersihkan luka itu dan menaruh obat merah ke jari Rara.


“Tahan yah. Ini bakal sakit tapi Cuma sebentar. Kalau ga kuat tahan nya gigi aja tangan aku.” Kiel memberikan tangannya. 


“Ga usah. Takutnya pas gigit kamu malah berubah jadi Zombie.” Jawab Rara tertawa. 


“Sudah deh. Ga sakit kan.” Ujar Kiel. Rara menjadi heran.


“Kok cepat banget sih. Sumpah ini ga sakit.” Jawab Rara heran.


“Pas aku ajak bercanda tuh, aku lagi taruh obat merahnya. Nah pas kamu ketawa, aku lagi perban jadi kamu. Yah bisa di bilang sih ucapan tadi sebagai pengecoh buat kamu biar ga rasa sakit.” Jelas Kiel. Tak lupa ia sertai dengan senyuman manis.


Terlihat juga Rara yang terhipnotis oleh senyuman itu. Lama sekali ia tidak berkedip hingga akhirnya Kiel berbicara.


“Kalau gitu kamu langsung tidur aja yah Ra. Ga baik kalau siang-siang gini anak SMA bolos tidur siang. Mana libur juga. Ayok cepat.” Ucap Kiel. Rara langsung bangun dari kursi dan pergi ke atas untuk tidur siang sesuai perkataan Kiel.


“Ternyata betul kata Papa. Dia lebih cantik dari aslinya. Semoga saja dia menerima tawaran Papa yang sudah Papa dan Om Gunawan bicara sejak kecil.” Ujar Kiel dalam hati. Tidak tahu pasti yang ia bicarakan.


Namun sepertinya ada sesuatu yang sangat penting dan berharga. Dan itu semua berhubungan dengan gadis cantik itu, Rara. Kiel yang juga mengantuk langsung pergi tidur. Perjalanan yang begitu lama dari Jerman ke Indonesia membuat dirinya sangat lelah.

__ADS_1


__ADS_2