Timer Me

Timer Me
Bab. 15. Prepare Desa X


__ADS_3

“Angga tunggu!” Teriak Pak Nathan memanggil adiknya yang telah dahulu masuk ke dalam rumah.


“Kenapa Kak? Ada yang kelupaan atau apaan?” Tanya Angga menyahut kakaknya.


“Gue mau ngomong sama lo, tapi lo simpan dulu belanjaan sekalian mandi. Gue tungguin lo di kamar,” seru Pak Nathan kemudian pergi ke kamarnya meninggalkan Angga.


Angga segera ke atas menuju kamarnya. Setelah selesai mandi ia langsung ke kamar Kakaknya. Tanpa mengetuk pintu, Angga langsung masuk begitu saja ke kamar kakaknya. Terlihat kakaknya sedang duduk di atas kasur sambil memangku laptop. Terlihat jelas lagi Pak Nathan sedang sibuk mengerjakan sesuatu, ia juga memakai kacamata. Kacamata itu membuat ia semakin ganteng.


“Woilah, tadi panggil gue mau ngomong sesuatu. Ini malah sibuk sama laptop,” ucap Angga mengagetkan kakaknya.


Pak Nathan yang kaget karena seruan Angga hampir saja membuang laptopnya. Adiknya sudah biasa seperti ini, suka masuk ke kamarnya tanpa terlebih dahulu mengetuk pintu.


“Kebiasaan yah lo, gue kirain setan disamping gue,” keluh Pak Nathan.


“Enak aja, ganteng begini dibilang setan,” gumam Angga sedikit emosi karena dipanggil setan.


“Makanya kalau masuk tuh ketuk pintu dulu, ini malah masuk terus langsung marah-marah. Gak asik banget deh lo dek,” jawab Pak Nathan.


“Ini jadi gak lo ngomong yang tadi, kalau gak gue mau tidur dulu,” ujar Angga yang sudah capek berdebat dengan kakaknya.


Pak Nathan pun menutup laptopnya dan duduk disamping Angga.


“Gue tahu lo risih banget Lidya. Tapi gak gitu juga lo perlakukan dia kayak gitu dek,” tutur Pak Nathan membuat Angga tiba-tiba kaget.


“Lo kenapa sih kak? Gue gak ngerti apa yang lo omongin,” jawab Angga terlihat kebingungan.


“Gue lihat dari cara lo natap dia tuh beda. Bukan kayak biasanya, terus yah sejak kapan coba lo mau lihat mata cewek pas lagi ngomong? Itu kayak bukan cara lo sumpah,” tutur Pak Nathan.


“Asal bicara deh lo kak, gak jelas,” jawab Angga.


“Gak usah bohong deh. Gue ini Kakak lo jadi gue tahu sifat lo kek gimana. Gue cuman mau bilang aja lo jangan terlalu benci sama si Lidya.” Ucap Pak Nathan sambil menatap tajam Angga.

__ADS_1


“Lah gimana gue gak emosi Kak? Masa iya lo ngajak gue jalan-jalan terus lo malah ninggalin gue dan jagain si Lidya? Mana gue gak suka banget sama dia, gue serasa jalan sama kutu buku tahu! Bawaannya pengen hilang dari bumi,” jawab Angga sedikit emosi.


Memang wajar kalau dia emosi, banyak orang juga akan emosi jika diajak jalan-jalan malah sampai ke tujuan di suruh jagain anak orang. Itu adalah hal yang sangat menyebalkan.


“Ya sudah kalau gitu. Yang penting lo jangan terlalu aja sama dia, gue takut aja lo sampai jatuh cinta sama dia kayak tadi kejadian dikasir. Pakai acara megang bahu segala,” ucap Pak Nathan tertawa kemudian langsung lari ke kamar mandi. Ia lari sebelum terkena amukan adiknya.


“Gila yah lo kak. Liat aja besok pas sarapan bakal gue kerjain lo!“ Teriak Angga kemudian pergi meninggalkan kamar Pak Nathan.


Angga sudah sangat capek dan dia pun pergi ke kamarnya untuk tidur. Dia pun sampai ke kamarnya dan langsung membaringkan tubuh di atas kasur. Tiba-tiba senyuman Lidya muncul dipikirannya. Angga pun langsung menggelengkan kepalanya agar bayangan Lidya menghilang dari pikirannya.


“Tuh cewek kenapa sih tiba-tiba muncul di otak gue? Kayaknya sehabis pulang dari desa X gue harus ke dokter deh. Siapa tahu nih otak gue lagi bermasalah,” gumam Angga kemudian tidur.


Matahari pagi baru saja menampakkan dirinya ke bumi. Dua cowok tampan sedang duduk sarapan sambil berbincang.


“Untung aja tadi gue lihat rotinya, kalau gak udah sakit perut pas perjalanan,” ujar Pak Nathan.


“Yah siapa suruh kemarin bilang ke gitu sama gue. Lo kan tahu gue gak suka sama dia terus gue benci sama kutu buku. Sama kaya lo kak, kutu buku juga,” jawab Angga santai.


Jika dia yang sampai dahulu ke meja makan, maka ia akan duduk ditempat duduknya Angga. Mungkin untuk beberapa orang hal ini adalah hal yang biasa tapi tidak untuk Angga. Semua yang dia suka maka tidak boleh disentuh.


Jadi disaat dia turun ke meja makan dan melihat Pak Nathan sudah duduk ditempat duduknya makan ia akan sangat marah. Ia terbiasa mendorong kakaknya dari samping agar langsung beranjak dari tempat duduknya, sesuatu yang sangat aneh tapi mau bagaimana lagi. Ini memang nyata dan terjadi di rumah keluarga Adhitama. Jika sudah seperti ini maka Ibu mereka akan menjadi penengah. Terlepas dari kejadian di atas, mereka berdua saling menyayangi walaupun dengan cara masing-masing.


“Kak, udah belum sih? Lama benar beres-beresnya,” omel Angga yang sudah cape menunggu Pak Nathan di dalam mobil.


“Sabar dikit kenapa dek? Marah-marah mulu dari kemarin, udah kayak cewek aja,” jawab Pak Nathan seraya masuk ke dalam mobil.


Hari ini adalah hari dimana perjalanan ke desa X dilaksanakan. Pak Nathan dan Angga pergi ke sekolah diantar oleh sopir pribadi mereka. Mereka tidak di izinkan membawa mobil ke desa X karena mereka akan menaiki bus. Tak lama kemudian mereka akhirnya sampai di sekolah.


Semua murid yang akan pergi ke desa X sudah berbaris dilapangan. Yang pergi ke desa X adalah kelas 11 IPA 1 dan IPA 3. Tujuan mereka untuk membuat laporan tentang keadaan desa tersebut serta meneliti bunga langkah yang hanya tumbuh di desa X. Ketua OSIS tidak lupa ikut karena perintah dari kepala sekolah.


Angga pun langsung menaruh barang bawaannya serta tas ransel diujung lapangan. Setelah itu ia langsung masuk ke barisan.

__ADS_1


“Selamat pagi kak Angga!” Sapa seorang gadis disamping Angga.


Angga pun menoleh ke arah gadis itu, tak diduga gadis itu adalah Lidya. Lidya langsung memberikan senyuman kepada Angga.


“Ya,” jawab Angga singkat dan langsung berbalik.


Ia sangat membenci Lidya. Hanya dengan melihat senyum gadis tersebut membuat amarahnya muncul, Angga memang tidak suka melihat gadis berkacamata dan memiliki senyum manis.


Karena itu membuat dia mengingat sesuatu dimasa lalu. Lidya yang sedari tadi berdiri disamping Angga masih bingung dengan perubahan sifat Angga yang begitu drastis tidak seperti kemarin. Kemarin sifat Angga kepadanya begitu manis, tetapi tidak dengan hari ini yang begitu dingin. Karena tidak mau menambah beban pikiran, Lidya pun kembali fokus ke depan mendengar instruksi dari guru yang sedang berbicara di depan.


“Baik anak-anak sesuai surat edaran yang di berikan kepada kalian, kegiatan kita di desa X berlangsung selama satu minggu lamanya. Kalian sebagai murid kelas depan yang terpilih ke desa X harus menunjukkan sifat yang baik. Ingat satu hal, jangan membuang waktu percuma karena ini adalah tugas akhir sebagai syarat kalian untuk mengikuti ulangan semester 3.” Ujar seorang Guru.


Di sekolah ini sudah biasa mengadakan kegiatan sebelum ulangan semester diadakan. Mulai dari pergi ke pantai, jalan-jalan ke luar kota sampai pergi desa-desa terpencil seperti yang akan dilaksanakan ini.


Tujuan dari sekolah mengadakan kegiatan ini agar anak-anak tidak stres terus menerus akibat belajar di sekolah.


“Jadi ini saja yang saya sampaikan, tolong sekali lagi saya ingatkan kepada guru dan semua siswa untuk kembali mengecek setiap perlengkapan yang akan dibawa. Jika kelupaan sesuatu bisa meminta orang rumah untuk mengantarkannya ke sekolah karena bus akan datang 1 jam lagi. Terima kasih,” lanjut Guru tadi.


Kemudian barisan pun dibubarkan, setiap siswa sibuk mengecek perlengkapan yang dibawa.


“Kenapa gue bodoh banget sih, masa gue bisa lupa bawa powerbank. Kemarin seingat gue udah gue simpan di dalam tas,” omel Lidya saat melihat bahwa ia lupa membawa powerbank. Angga yang dari tadi mendengar omelan Lidya pun menghampirinya.


“Nih pinjam punya gue dulu, gue tadi gak sengaja dengar lo ngomel-ngomel gegara gak bawa powerbank. Gue tahu handphone lo gak nyala karena baterainya habis kan. Ini terima,” ucap Angga sambil memberikan powerbank ke Lidya.


“Makasih banyak kak Angga. Maaf yah ngerepotin, nanti sampai ke desa X baru aku balikin,” jawab Lidya seraya menerima powerbank tersebut.


Angga langsung berlalu begitu saja meninggalkan Lidya tanpa membalas ucapan Lidya. Sepeninggalnya Angga Lidya pun tersenyum malu.


Sepasang mata dari jauh melihat kedekatan Lidya dan Angga. Orang tersebut tanpa sadar tersenyum kecil.


“Lucu banget mereka, semoga saja Angga bisa membuka hati untuk Lidya. Dia sudah sangat lama tidak membuka hati setelah kematian Nadya.” Kata orang tersebut yang tak lain adalah Pak Nathan.

__ADS_1


Siapa itu Nadya dan apa hubungannya dengan Angga?


__ADS_2