
Sesampai di rumah Angga dan Pak Nathan langsung menuju ke kamar mereka masing-masing. Setelah membersihkan badan mereka berdua menuju meja makan dan makan bersama kedua orangtua.
Ibu serta Ayah yang melihat wajah muram anak mereka langsung menyimpan tanda tanya di otak mereka.
Tidak seperti biasanya kalau di meja makan Angga bersama kakaknya sering ribut. Ibu mereka pun kemudian membuka mulut untuk bertanya.
“Angga , kenapa muka kamu dilipat kaya gitu. Ada masalah yah di sekolah” Tanya ibu dengan suara lembut. Ibunya memang seorang yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Angga menoleh dan arah Ibunya.
“Angga lagi malas bicara Bu, tanya aja Kak Nathan. Angga mau tidur dulu” jawab Angga langsung meninggalkan meja makan. Tiba-tiba nafsu makannya hilang padahal makanan di piringnya masih sangat Banyak. Ia pergi ke atas untuk segera tidur.
Ibu dan Ayah mereka makin bingung dengan keadaan tersebut. Mereka tidak akan marah terhadap sikap anak mereka sekarang. Menurut mereka jika seseorang punya masalah, biarkan mereka menenangkan diri dulu.
“Kakak, cepat Cerita kenapa adek mu kaya begitu. Ayah sudah penasaran apa yang terjadi dengan adekmu” ujar Ayah sambil menaruh sendok makan di piring. Dirinya dan sang Istri sudah siap mendengar penjelasan atas sikap anak bungsu mereka.
Pak Nathan akhirnya menceritakan menceritakan kejadian tadi sore dari lari sore sampai di rumah sakit. Ia tidak lupa memberitahu jika penyakit Nadya adalah penyakit turun-temurun dari keluarga Nadya.
Mendengar penjelasan itu membuat Ayah serta Ibu langsung kalang kabut ingin segera pergi ke rumah sakit dan melihat keadaan Nadya. Saat ingin bangun Pak Nathan langsung menahan mereka.
“Ibu dan Ayah mau kemana?” tanya Pak Nathan.
“Mau ke rumah sakit lah. Mau lihat keadaan Nadya.” Jawab Ayah sambil merapikan piring makan.
“Coba lihat jam di dinding deh. Kalau Ayah sama Ibu di izinkan masuk yah bersyukur. Nathan mau bobo dulu. Malam semua” ujar Pak Nathan menunjuk ke arah jam dinding dan pergi tidur. Saat di lihat ternyata waktu telah menunjukkan pukul 10 malam yang berarti waktu kunjungan sudah berakhir.
“Bu, besok saja yah. Betul kata Nathan kita ga bisa masuk ke rumah sakit” ujar Ayah.
“Yaudah besok saja. Nanti kita pergi sama Angga saja. Pulang sekolah kamu kamu langsung jemput dia biar nanti Ibu di antar sama sopir” jawab Ibu. Ayah dan Ibu berjalan meninggalkan meja makan kemudian menuju ke kamar.
Di kamar atas Nathan sedang duduk termenung di meja belajarnya. Ia mencari kesibukan dengan belajar agar ingatan nya tentang Nadya bisa memudar.
__ADS_1
Namun hal itu percuma saja , di saat ia ingin melupakan Nadya maka gambaran wajah Nadya akan terus muncul. Wajah yang terlihat pucat dan sedang menahan sakit.
Memikirkan hal itu membuat kristal dari mata lelaki itu jatuh tanpa di minta. Ia mengalir seperti air terjun. Ia tidak bisa membayangkan jika suatu saat penyakit itu akan membawa Nadya pergi untuk selama-lamanya. Pikiran kotor itu terus berputar-putar di kepala Angga. Ia tau yang dia pikirkan salah, seharusnya ia berdoa ke Tuhan agar segera mengambil penyakit itu dari wanita yang sangat ia sayangi setelah Ibunya.
Menangis tidak akan membuat Nadya sembuh. Ia langsung bangkit dari kursi dan pergi membersihkan diri sebelum berdoa dan tidur. Selesai melakukan ritual mandi yang lebih lama dari biasanya, ia bergegas berdoa.
Ia meminta agar Tuhan dengan segera mengambil dan menghilang penyakit dari wanita yang bernama Nadya secepatnya. Ia berpikir bahwa ia terlihat sangat egois di mata Tuhan, kenapa disaat seperti ini barulah ia pergi ke Tuhan. Sehabis berdoa dan meminta pertolongan serta pengampunan Angga langsung pergi tidur.
Walaupun matanya sulit untuk tertutup ia tetap memaksa nya. Pikiran yang masih sama seperti tadi tentang Nadya masih membekas penuh di otaknya. Setelah berusaha akhirnya ia pun tertidur.
Tidak terasa matahari pagi mulai menampakkan dirinya. Cahayanya masuk ke celah-celah jendela dan langsung menunju ke wajah Angga. Angga langsung bangun dan kepalanya terasa sakit akibat semalam menangis.
Dengan kekuatan yang ada Angga bangun dan menunju ke kamar mandi. Hari ini bukan hari libur jadi mau tidak mau ia harus ke sekolah walaupun dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Sehabis siap-siap ia langsung menunjuk ke bawah. Terlihat Ayah, Ibu, dan Pak Nathan sedang sarapan.
“Angga, sini ikut sarapan. Ini sudah mau terlambat loh” panggil Ibu. Namun dengan keadaan hati yang tidak bersahabat Angga pun tidak sarapan.
“Angga, ayok kita berangkat.” Panggil Ayah ke Angga.
Angga yang dari tadi sibuk dengan Handphone langsung mematikan handphone tersebut dan memasukannya ke dalam saku.
Ia berjalan mengikuti ayahnya dari belakang menunju ke mobil. Perjalanan hari ini terasa sangat lama karena macet. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di depan sekolah.
“Angga masuk dulu yah Ayah” pamit Angga sambil menyalami tangan Ayahnya.
“Sebentar pulang sekolah langsung telepon Ayah yah biar nanti Ayah jemput. Kita pergi ke rumah sakit jenguk Nadya.“ ujar Ayah.
Mendengar Ayahnya mengucapkan nama Nadya, Angga pun terdiam. Ia membalas ucapan Ayahnya dengan sebuah anggukan kemudian turun dari mobil dan masuk ke sekolah.
Saat masuk ke kelas Angga langsung duduk dan menaruh kepalanya di meja. Ia malas sekali dengan keadaan kelas hari ini. Menurutnya tidak ada yang asik selain kelas itu terdapat Nadya. Jorgas dan Satria yang juga sekelas dengan Angga langsung menghampiri Angga.
__ADS_1
Mereka aneh dengan sikap Angga yang tidak seperti biasanya. Biasanya Angga saat memasuki kelas langsung pergi mencari mereka berdua dan menuju ke kantin.
“ Angga kok aneh sih nih hari“ ucap Satria membuka pembicaraan.
“ Lu sakit yah Angga, kalau sakit mending pulang aja. Gue hari ini bawa mobil jadi bisa anterin lu pulang” ujar Jorgas. Walaupun masih SMP, orang tua Jorgas tidak melarang anaknya membawakan kendaraan ke sekolah.
Dengan postur tubuh yang tinggi juga Jorgas sudah pandai membawa mobil. Jadi tidak heran jika ia di izinkan membawakan mobil.
Angga pun mengangkat kepala malas dan mulai angkat bicara.
“Nadya kena Hipotensi dan sekarang dia lagi di rawat di Rumah Sakit A. Kemarin gue ajak dia lari sore eh pas istirahat sambil makan es krim dia tiba-tiba pingsan” ujar Angga terus terang.
Ia tidak pernah tertutup menceritakan semua masalahnya kepada dua sahabatnya itu. Mereka sudah bersahabat dari SD jadi tidak ada kata rahasia di antara mereka. Mendengar penuturan Angga barusan, Jorgas dan Satria menjadi kaget.
Sama seperti Angga yang mendengar kenyataan ini pertama kali, mereka tidak percaya jika Nadya terkena hipotensi. Kelihatan dari keadaan Nadya, ia seperti layaknya seorang gadis SMP yang sehat seperti mereka. Tapi keadaan berkata lain dan kenyataannya Nadya memang sakit.
“Jadi sebentar lu mau jenguk dia?” tabya Satria.
“Ia, gue bareng Ayah gue. Pulang sekolah beliau langsung jemput dan menuju ke rumah sakit” jawab Angga.
“Kalau gitu gue sama Satria ikut yah. Nanti kita beli buah dulu buat Nadya. Lu jangan lupa buat kirim nama ruangan nya Si Nadya” ujar Jorgas.
Dia dan Satria juga setia menemani Nadya kemana saja jika Angga sedang sibuk. Sepertinya bulan lalu ketika Nadya lupa membawa baju olahraga, Jorgas langsung bergegas ke rumah Nadya menggunakan mobil. Saat itu Angga sedang mengikuti olimpiade jadi ia tidak bisa mengantar Nadya.
Jangan berprasangka buruk dulu ke Satria. Walaupun ia jomblo tapi ia tidak akan merebut Nadya dari Angga.
Ia tidak mau hubungan pertemanan mereka rusak hanya karena berebut seorang wanita. Kembali lagi ke keadaan sebelumnya, Angga mengiyakan permintaan dari Satria.
Sehabis pelajaran mereka langsung bergegas ke toko buah dan membeli buah. Sedangkan Angga sudah dahulu pergi bersama AyahNya ke rumah sakit.
__ADS_1