
Lidya dan Angga sampai juga di kamar tempat Wardana dibaringkan.
“Al, ini kotak P3K nya.” Ujar Angga menyodorkan kotak tersebut. Ia dan Lidya baru bisa mengambil nafas panjang setelah berlari agak jauh dari gedung laki-laki ke gedung perempuan. Di ingat-ingat ternyata mereka lupa pamit serta terima kasih kepada Pak Nathan.
“Woody, kita berdua tadi lupa pamit sama terima kasih ke Pak Nathan.” Bisik Lidya.
“Pantas aja Woody kaya lupa sesuatu. Untung aja Lily kasih tahu.” Jawab Angga berbisik. Mereka berdua takut mengganggu Alfius yang sedang fokus membangunkan Wardana dari Pingsan.
“Sebentar baru Lily minta maaf ke Pak Nathan. Woody juga yah.” Pinta Lidya masih dalam keadaan berbisik. Angga hanya mengangkat jempol tangan nya tanda ia menyetujui permintaan Lidya.
“War, ayo jangan pingsan terus. Gue minta maaf yah, Lo jangan bikin gue khawatir kaya gini dong.” Gumam Alfius sedih tapi air matanya tidak kunjung Keluar.
Hanya suara sedih saja yang dan mimik wajah yang terlihat sedih. Dari wajah Wardana tidak ada pertanda jika ia akan sadar. Luka akibat terkena bola basket sudah Alfius obati dan di tutup menggunakan plester luka.
Alfius, Feby, Lidya, dan Angga masih setia duduk di samping Kasur Wardana menunggu sang gadis sadar. Tak lama kemudian teman-teman yang lain datang membawakan sarapan.
“Al, belum sadar juga yah cewek lo.” Tanya Reva.
“Punya mata kan Rev. Cobalah di lihat sendiri.” Jawab Alfius sedikit emosi. Reva yang tak mau memperpanjang masalah langsung melihat keadaan Wardana yang masih menutup mata.
“Al, boleh ga geser dikit. Gue punya ide biar si Wardana cepat bangun.” Pinta Reva. Alfius pasrah dan bergeser sedikit memberi Reva jalan mendekat Wardana. Ia mengambil kotak sarapan dan mengeluarkan sepotong kaki ayam. Ia kemudian menaruhnya dekat hidung Wardana.
Tak disangka, Wardana langsung sadar dari pingsan. Semua orang yang berada di kamar itu kaget termasuk Alfius. Minyak kayu putih ternyata tidak mempan bagi si Wardana.
Penglihatan Wardana belum sepenuhnya terkumpul, masih terlihat buram. Kepalanya juga masih terasa pusing akibat benturan keras bola basket tadi.
“Gue ada di mana. Mana ayam gue.” Kalimat pertama yang keluar dari mulut Wardana saat tersadar dari pingsannya. Semua orang di sana tertawa mendengar ucapan Wardana.
__ADS_1
“Tadi Lo pingsan kena bola basket dan gue bawa Lo ke kamar ini.” Jelas Alfius. Ia membantu Wardana bangun untuk duduk.
“Maaf yah, tadi gue ga sengaja lempar bola ke arah lo.” Ucap Alfius meminta maaf.
“Ga apa kok. Itu bukan salah Lo jadi jangan salahkan diri Lo sendiri.” Jawab Wardana.
“Kan Lo udah sadar. Nih tiga kotak sarapan buat Lo. Pasti Lo lapar banget kan.” Reva menyodorkan tiga kotak sarapan.
“Makasih yah Rev. Kalau gitu kalian boleh ga keluar ninggalin gue sendiri di sini. Gue malu makan sebanyak ini di depan Kalian.” Ujar Wardana memohon.
“Kita semua bakal di sini jagain Lo makan Sampai habis. Lo ga usah malu sama kita-kita. Anggap aja udah kita itu udah keluarga semua jadi jangan malu-malu. Kita semua juga dah biasa lihat Lo makan sebanyak ini.” Ucap Satria meyakinkan Wardana. Wardana pun percaya dan mereka semua makan bersama di kamar milik para gadis.
*****
Satu minggu sudah mereka berada di Desa X. Pagi ini merupakan jadwal kepulangan mereka kembali ke Kota A, tempat mereka tinggal. Begitu banyak kenangan nan indah yang terjadi di Desa tersebut.
Kenangan di tembak oleh pria yang baru di kenal, Nadial dan Catrin. Kenangan tentang first kiss, Lidya dan Angga. Serta kenangan pingsan karena terkena bola basket, Wardana. Walaupun hanya satu Minggu menetap, terasa seperti satu bulan lamanya mereka menetap.
“Adit ga tega ninggalin Desa ini Pak.” Ujar Aditya sambil menangis. Ia belum sanggup meninggal Desa X. Baginya begitu cepat mereka harus pulang kembali ke Kota A.
“Betul Pak, Wardana juga belum puas tinggal di sini. Masakan mereka tuh enak-enak semua. Mana kue Y yang mereka buat rasanya begitu lezat. Wardana ga bisa ninggalin.” Tambah Wardana yang tak kalah menangis seperti Aditya.
“Sudah, cukup menangisnya. Pak memang juga ingin sekali rasanya tinggal lebih lama di Desa X, namun peraturan dari pihak sekolah tidak mengizinkan. Bagi Wardana cukuplah menangis, tadi sudah di kasih oleh-oleh kue Y dari Desa X. Jadi stop untuk menangis.” Tegas Pak Nathan.
Setelah berpamitan kepada Warga serta kepala Desa X, rombongan langsung masuk ke dalam bus. Kali ini semua duduk bersama pasangan mereka.
Hanya Aditya yang duduk sendiri karena tidak mempunyai pasangan. Reva duduk bersama Nadial jadi Aditiya memutuskan duduk sendiri.
__ADS_1
Ia tahu kedekatan antara kedua orang tersebut karena Reva telah menceritakannya. Bus yang mereka tumpangi kini mulai perlahan berjalan meninggalkan Desa penuh kenangan, Desa X. Dalam perjalanan semua orang lebih memilih tidur. Sehari sebelum pulang mereka melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan Desa X.
Jadi waktu dalam bus mereka gunakan untuk tidur saja. Perjalanan pulang Kali ini ternyata lebih cepat satu jam dari perjalanan mereka datang. Semua orang bangun dari tidurnya dan turun dari bus.
“Sebelum kita semua kembali ke rumah kita masing-masing, Saya sebagai Guru pembimbing kalian akan berdoa. Berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing. Berdoa mulai.”
Selesai berdoa semua murid langsung bubar. Beberapa jemputan telah stay menunggu sang pemilik. Kebetulan ada banyak taksi yang lewat, jadi Jefran bisa menggunakan jasa taksi tersebut untuk pulang. Semua orang kini sudah pulang meninggalkan sekolah.
Tinggal Rara sendiri menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Kata sang Ibu, Rara di suruh menunggu karena sopir akan menjemput. Tak lama, sebuah mobil berwarna hitam mendekat dan berhenti tepat di depan Rara. Rara dengan cepat masuk ke dalam mobil tersebut.
“Maaf Nona, tadi di jalan macet. Ini kan jam pulang kantor.” Maaf sang Sopir.
“Aman aja Pak. Rara juga ga bakal marah kok. Yok langsung aja tancap gas. Rara udah rindu banget sama Mama dan Papa.”
Sang sopir langsung menginjak gas dan mobil melaju menuju rumah Rara. Sepuluh menit lamanya mereka Rara dan Pak sopir dalam mobil. Akhirnya mereka sampai juga.
“Ma, Rara balik.” Teraik Rara memasuki pintu masuk. Mama yang tadinya sibuk di dapur langsung menghampiri sang anak dan memeluknya. Ia sangat merindukan sang anak.
Karena Rara adalah anak tunggal jadi sudah sewajarnya sang Mama begitu rindu kepada dirinya.
“Gimana rasanya di sana Ra. Enak ga?.” Tanya Mama mengajak Rara duduk.
“Enak banget Mah. Rara betah tinggal di sana. Di sana pemandangan bagus banget. Terus suasana di sana tenang banget, ga kaya di sini banyak bunyi kendaraan bermotor.” Jawa Rara antusias.
“Kalau begitu kapan-kapan kita libur sama Ayah ke sana yah. Siapa tahu Ayah bakal suka sama tempat nya.” Ujar Mama.
“Tunggu Mah. Ini ada oleh-oleh khas dari Desa X. Kue ekstrak dari bunga Y. Rara jamin Mama bakal suka sama kue itu.” Ujar Rara menyakinkan sang Mama.
__ADS_1
“Makasih sayang. Mama simpan dulu di kulkas. Sekarang Ra, kamu langsung istirahat aja yah. Kasihan anak mama satu-satunya ini.” Ujar Mama Rara Sambil mengelus kepala sang anak.
Rara yang begitu capek kemudian menuruti perkataan Sang Mama. Ia naik ke tangga menuju kamarnya. Sebelum tidur, ia pergi berendam air hangat agar tubuhnya yang terasa lelah menjadi sedikit membaik. Sehabis berendam, Rara langsung menuju ke kasur dan tertidur lelap.