Timer Me

Timer Me
Bab. 53. Timer Me


__ADS_3

“Ternyata dia toh yang Lo ceritain selama ini. Gue dengar-dengar nih katanya si Rara sudah punya pacar. Lo ga kenapa-kenapa kan?.” Ujar Pak Nathan kepada Kiel. Tiba-tiba dada Kiel terasa sakit begitu mendengar ucapan Pak Nathan. 


“Gue ga kenapa-kenapa kok.  Namanya juga anak SMA pasti butuh banget pacar.” Jawab Kiel  dengan suara melemah.


“Jangan galau dulu. Kan Lo dijodohin sama dia. Dia pasti bakal pilih Lo karena Lo itu pilihan Ayahnya dia.” Ucap Pak Nathan memberi kata penguatan bagi Kiel.


“Makasih yah. Gue ga bisa lama-lama di sini. Dikit lagi kantor buka dan gue ga boleh terlambat. Lo tau kan gimana Ayah gue kalau tahu gue membuat kesalahan. Bye.” Pamit Kiel meninggalkan Pak Nathan. Pak Nathan sedang memikirkan kembali waktu di saat Kiel di hukum Ayahnya. Kiel pernah di larang keluar selama seminggu oleh Ayahnya. Alasannya hanya karena Kiel membuat kesalahan kecil yaitu masuk ke kantor telat lima menit. Ayahnya Kiel begitu mencintai waktu sehingga ia selalu mendisiplinkan sang Anak untuk menghargai waktu. Mau terlambat lima menit pun sang Ayah akan marah besar. 


Kiel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar sampai di kantor telat waktu. Saat sampai di kantor ternyata waktu masih tersisa sepuluh menit. 


“Huh, untung belum terlambat.” Ujar Kiel mengelus dadanya. Ia masuk ke dalam kantor tersebut dan beberapa karyawan menunduk hormat. Ia naik ke lantai atas menggunakan lift.  Sesampainya di lantai atas, dengan segera ia masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan tersebut ternyata ruang rapat. Belum banyak orang di sana jadi Kiel masih bisa bersantai sambil menaikkan ponsel miliknya. 


*****


Rara, Wardana, dan Reva sedang makan di kantin sekolah ditraktir oleh Rara. Semalam Rara mendapatkan uang jajan lebih dari sang Ayah karena ia sudah menjemput Kiel. 


“Ra, gue kepo deh sama orang yang tadi maksud Kak Ezrakiel.” Ucap Reva. Ia belum menerima kenyataan tadi pagi sebelum tau siapa orang yang sudah dijodohkan dengan Kiel.


“Walaupun gue tinggal serumah sama Kak Kiel, Gue ga tau tuh siapa calon istrinya.” Jawab Rara santai.


“He setan. Barusan Lo ngomong apaan? Serumah sama Ezrakiel. Ok bentar.” Ujar Reva kaget. Dengan cepat Reva mengambil handphone nya dan menelepon seseorang.


“Halo Reva. Gimana? Kok telepon Tante.” Tanya orang di dalam telepon. Rara sepertinya tidak asing mendengar suara itu. Orang tersebut ternyata Mamanya Rara 

__ADS_1


“Gini Tante. Kata Rara kak Ezrakiel tinggal bareng Tante yah.” Tanya Reva. Mata Rara langsung melotot. Berani sekali Reva menanyakan hal tersebut. Bagaimana dengan Wardana?. Ia masih sibuk dengan makanan di depannya, tapi telinga juga fokus mendengar percakapan kedua sahabatnya itu. 


“Oh, betul itu Rev. Baru juga kemarin Ezrakiel tinggal bareng kami. Memangnya Kenapa?.”


“Oh ga kok Tante, nanya doang. Kalau gitu Makasih yah Tante.” Reva menutup telepon. 


Sekarang Reva dan Wardana terlihat seperti polisi yang ingin menginterogasi Rara. Tatapan kedua gadis tersebut tidak seperti biasanya. 


“Ra, gue butuh penjelasan sekarang. Gue rela ninggalin makanan gue demi dengar penjelasan dari Lo.” Ucap Wardana sambil menyimpangkan kedua tangan nya di depan dada.


“Betul tuh, cepat jelasin. Gue sama Wardana sebagai penggemar berat kak Ezrakiel harus tahu semua.” Reva tidak mau kalah. Dengan berat hari Rara menceritakan semua dari awal saat ia mendapat dress sampai di bandara. Ia juga menjelaskan tujuan utama Kiel datang ke Indonesia.


“Boleh ga kita tukeran sehari aja. Gue pengen serumah sama Kak Ezrakiel.” Mohon Wardana. Tumben sekali Wardana bersikap seperti itu. Melihat itu Reva langsung menaruh tangannya di kening Wardana.


“Sembarangan aja kalau ngomong. Gue nih fans berat kak Ezrakiel yah.” Jawab Wardana santai.


“Stop deh. Kalian jangan berlebih kaya gini. Hari minggu ke rumah gue aja biar bisa main sama Kak Ezrakiel. Nanti jangan lupa ngajak teman-teman kita dari kelas IPA 1.” Ujar Rara. Ia hanya asal bicara agar kedua temannya itu diam. Dia sudah malas melihat kedua temannya terus berbicara dan bertengkar karena Kiel. 


“Aaa Lo terbaik deh Ra. Gue janji setelah main dari rumah Lo, gue bakal beli hadiah.” Ujar Reva.


Selesai makan mereka kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran berikutnya.


Saat pelajaran berlangsung, Rara terlihat tidak fokus. Di otaknya, ia masih memikirkan kejadian kemarin siang saat melihat perut Kiel yang berotot. Terlihat senyum tipis menghiasi wajah cantik Rara. Dua Jam berlalu dan pelajaran hari ini telah selesai. Semua murid keluar dari kelas menuju gerbang keluar. Ponsel Rara tiba-tiba berbunyi menandakan ada seseorang yang menelepon. Ternyata Jefran yang menelepon.

__ADS_1


“Halo Ra, Lo di mana?. Pulang bareng yok. Hari ini gue bawa motor.” 


“Maaf Jef gue ga bisa pulang bareng Lo hari ini. Gue di jemput karena ada urusan penting.” Bohong Rara.


“Ya sudah. Hati-hati yah di jalan.” Ujar Jefran kemudian menutup telepon.


Wajah Jefran terlihat lesu. Padahal hari ini ia mau mengajak Rara jalan-jalan menggunakan motor barunya. Motor tersebut ia dapat dari saudara Ayahnya yang berada di Jepang. Motor itu adalah hadiah ulang tahun Jefran. Selama ini saudara semua keperluan serta uang jajan Jefran berasal dari saudara Ayahnya.


***


Siang kini berganti dengan malam. Sebuah kue ulang tahun lengkap dengan lilin tujuh belas tahun menghiasi kue tersebut. Hari ini adalah ulang tahunnya Jefran. Ia merayakan hari ulang tahunnya sendiri di apartemen tanpa ada seseorang di sana. Hal ini sudah menjadi kebiasaan Jefran setiap tahunnya. Kue itu juga bukan dirinya yang memesan. Kue itu spesial di pesan oleh saudara Ayahnya. Sebelum ia meniup lilin, ia sempat membuat permohonan.


“Semoga tahun ini menjadi tahun terbaik di hidup ku.”


Begitulah isi dari permohonan Jefran. Ia memang tidak suka meminta aneh-aneh. Setiap tahun juga pasti permohonan selalu itu-itu saja. Ia mengambil handphone dan memotret kue itu. Kemudian ia memposting foto tersebut di sebuah aplikasi yang sering ia gunakan dengan caption emotikon kue ulang tahun. Ia kembali menaruh handphonenya dan pergi tidur. Tidak lupa ia menyimpan terlebih dahulu kue di dalam kulkas.


Di tempat berbeda terlihat Rara yang sibuk mencari handphone yang dari pagi ia tinggalkan. Saking sibuknya ia mengetik novel di laptop, ia sampai lupa di mana terakhir kali ia menaruh handphone. Tak lama mencari, ia menemukan handphone nya berada di dalam laci. Ia dengan segera menyalakan handphone itu. Baru melihat layar depan ternyata ada pemberitahuan dari kalender di handphone nya. Rara langsung kaget melihat pemberitahuan itu.


“Kenapa gue bisa lupa sama hari ulang tahunnya Jefran coba. Pasti dia marah banget sama gue.” Rara terlihat khawatir. Ia dengan cepat menelepon Jefran namun tak kunjung di angkat. Terlintas di otak Rara agar langsung pergi ke apartemennya Jefran saja. Saat melihat jam di handphone membuat Rara mengurungkan niatnya. Sudah jam satu dini hari dan tak mungkin juga ia keluar semalam itu. Mamanya pasti tidak mengizinkan dirinya keluar. Mana keluarnya ke rumah cowok, bisa-bisa Mamanya mengadu ke sang Ayah. Karena semua cara sudah Rara lakukan dan tak berhasil, Rara berniat untuk menuliskan sebuah pesan.


Isi pesan


Selamat ulang tahunnya yah Jefran. Maaf jika gue ngasih selamat nya terlambat. Maaf juga gue ga bisa datang ke apartemen Lo dan ngerayain ultah Lo sama-sama. Padahal hari itu gue udah janji bakal rayain ultah Lo sama-sama. Gue janji besok bakal ke apartemen Lo bawa kue biar kita rayain ultah Lo bareng-bareng. Gue doain yang terbaik buat kesehatan lo dan biar Lo makin pintar matematika. Kan kalaiu Lo makin pintar bisa dong gue minta ajarin. Hehehe. Yang terakhir, gue berharap semoga Lo bisa resmikan hubungan kita berdua secepatnya. Lov you Jef.

__ADS_1


Setelah mengirim pesan itu, Rara memutuskan untuk tidur karena dia sudah mengantuk berat.


__ADS_2