
Lelah mulai dirasakan Angga dan Lidya. Karena sudah tidak kuat berjalan, Lidya angkat bicara.
“Angga, maaf. Berhenti dulu yah di pondok depan, gue udah cape banget” ucap Lidya. Tanpa menjawab Angga langsung berjalan dahulu dan duduk dipojok.
“Gue kirain lu kuat jalan. Ternyata baru segini doang udah Cape. Jadi cewek kok lemah banget” ujar Angga saat Lidya baru saja duduk di sampingnya. Lidya yang sangat Cape mendengar kata-kata itu langsung tersulut emosi.
Ia tidak menyangka Angga bisa berkata seperti itu kepada. Kata-kata Yang diucapkan Angga sama persis dengan kata-kata yang diucapkan Ayah Lidya ketika Lidya terbaring di rumah sakit.
Hampir setiap 3 bulan Hipertensi Lidya Kambuh dan harus dirawat Selama beberapa hari.
“Angga, gue tau lu benci banget sama gue dan gue tau itu. Tapi lu jangan bicara ke gue dengan kata-kata itu. Gue benci banget sama kata-kata itu.” Ujar Lidya Sambil emosi.
Angga yang juga cape tidak mau kalah dengan wanita didepannya. Satu-satunya wanita yang membuat Angga menaruh perhatian lebih setelah kepergian Nadya untuk selamanya.
“Mulut mulut gue kok lu yang sok ngatur. Kan emang betul lu tuh lemah. Suka pingsan juga di sekolah. Hahahaha” jawab Angga diiringi tawa.
“Angga, lu ga punya hati yah. Hati lu terbuat dari apa sih. Batu?” ucap Lidya makin emosi. Ia mengambil batu dekat kakinya dan berjalan mendekati Angga.
Ia tidak lupa membawa sebuah ranting pohon kecil, tidak tau itu untuk apa. Kini Lidya memberanikan diri duduk di atas paha Angga.
Angga dari tadi marah dengan keadaan kaki yang ia luruskan dan badan yang bersandar pada dinding pondok. Angga sontak kaget saat mendapat Lidya yang sudah di pangkuannya.
“Lu mau ngapain ha, Jangan aneh-aneh. Gue cowok normal dan jangan lu umpan kaya gini” ujar Angga panik. Lidya semakin mendekat dan wajahnya tepat berada di depan wajah Angga.
“Gue ga sama kaya cewek lain. Diam lu Angga gue mau ngomong” jawab Lidya menyuruh Angga diam.
__ADS_1
“Di tangan gue ada batu dan sama ranting“ lanjutan Lidya dengan menunjukkan kedua benda itu.
“Gue bukan anak TK dan gue malas lu basa-basi ga jelas gini” ujar Angga mau bangun tapi terhenti karena Lidya yang masih berada di pangkuannya.
“Gue belum selesai ngomong. Batu ini seperti hati lu dan ranting kecil ini adalah hati gue. Nih hari lu mukul make tangan kosong susah untuk hancur.”
“Coba dengan ranting ini, sekali lu mukul Langsung patah kan. Ranting menggambarkan hati gue. Lu baik dapat orang tua yang sayang banget sama lu dan kakak yang juga baik. Punya tubuh yang sehat dan semua yang lu mau pasti ada. Setiap lu ngomong pasti semua orang pada tunduk ke lu karena lu yang berkuasa.”
“Setiap omongan yang keluar dari mulut lu juga ga make filter dulu dari otak. Lu ga pernah mikir Gimana perasaan orang yang lu katain. Mereka takut membalas lu karena kekuasaan lu. Lu rasa hidup lu tuh udah sempurna banget dan ga mikirin hati orang lain.“
“Gue sekarang di sini mau ngomong kalau gue ga suka sama kata-kata lu. Omongan lu sama kaya bajingan yang jadi Ayah gue. Dia ga mau gue lahir ke bumi karena dia pengen anak cowok. Gue tau gue ini lemah banget. Gue ga bisa kecapean karena gue anak penyakitan. Gue makin ga disukai sama ayah gue karena itu. Lu tau gue kena Hipotensi akibat penyakit keturunan Angga.”
“Gue Cape begini terus, gue selalu dianggap sebelah mata sama ayah gue karena gue ga bisa apa-apa selain sakit doang. Gue pengen hilang aja dari bumi. Kata-kata lu tadi bikin gue ingat sama kata bajingan itu. Angga cukup gue ga sanggup” Ujar Lidya sambil menangis tak henti.
Tidak tau kenapa tiba-tiba ia begitu lepas menceritakan semua masalahnya kepada Angga yang baru saja membuat dirinya kembali sakit hati.
Angga terdiam seribu kata mendengar penjelasan Lidya. Ia tidak mengira kalau kata-kata bakal membuat wanita yang ada dipangkuannya menangis. Ia juga tidak menyangka kalau Lidya memiliki keadaan keluarga seperti itu.
Yang ia tau kalau presiden mereka adalah orang yang sayang akan keluarganya. Belum lagi kenyataan tadi terdengar bahwa Lidya mengidap hipotesis. Penyakit yang sama persis dengan mendiang Nadya.
Sama persis juga karena penyakit itu penyakit keturunan. Tawa dan senyum yang selalu menghiasi wajah Lidya ternyata Cuma topeng belaka. Ia pintar sekali menyembunyikan semua masalah itu sendiri tanpa menceritakan kepada siapapun.
Angga salah mengatakan wanita itu lemah, wanita ini sekarang adalah wanita terkuat yang pernah ia kenal. Dibanding dengan Nadya, keluarga mereka masih terlihat harmonis tapi tidak dengan Lidya.
“Lid” panggil Angga lembut. Lidya mengangkat kepalanya dan menatap Angga sambil terus menangis.
__ADS_1
“Kenapa, lu mau ngejek gue gitu ha? Gue kan emang lemah banget Dimata lu” jawab Lidya sambil terus menangis.
Tanpa aba-aba Angga langsung memegang leher Lidya dan mencium bibir Lidya. Ciuman ini adalah ciuman pertama kedua orang tersebut.
Air mata Angga mengalir begitu saja saat mencium Lidya. Ia tak menyangka kalau wanita tersebut sangat kuat menanggung semua beban itu sendiri. Ia sekarang tak memikirkan lagi tentang first kiss yang telah ia berikan kepada Lidya.
Angga mulai memainkan bibirnya agar membuat Lidya tenang dan menikmati ciuman pertama itu.
Lidya memejamkan mata sambil menangis. Ia ingin sekali menolak ciuman itu tapi tubuhnya berkata lain. 1 menit lamanya mereka seperti itu. Setelah itu Angga melepaskan ciumannya.
“Maaf, aku hanya ingin memberi first kiss ku kepada orang yang tepat namun di waktu yang salah” ujar Angga. Lidya tidak menyangka kalau ini First kiss nya Angga dan juga dirinya. Lidya langsung menghamburkan pelukan ke Angga.
“Makasih karena first kiss gue udah lu ambil. Gue ga butuh kata maaf dari Lu Angga. Dengan lu nangis buat gue aja itu udah lebih dari cukup” ujar Lidya disela-sela memeluk Angga.
“Gue seharusnya minta maaf banget sama lu. Gue udah salah menilai wanita kuat seperti lu. Gue ga tau kalau lu punya masalah kaya gitu Lid. Gue Janji sekarang bakal jadi tameng buat lu. Gue bakal jagain lu dimana pun lu berada. Jujur sejak pertemuan pertama di mall gue udah suka sama lu. Tapi ga tau Kenapa setiap lihat senyum lu gue bakal benci banget karena sama persis dengan almarhum Cewek Gue, Nadya. Namanya cantik banget kaya orangnya. Lidya juga ga kalah cantik. Nadya dan Lidya punya kesamaan yah. Ga tau kenapa kalian sama-sama mengidap hipotesis.” Ucap Angga sambil memegang tangan Lidya.
“Almarhum orang mirip banget sama lu Lid. Maka dari itu gue suka sama lu. Gue benci karena lu bisa balikin senyuman yang gue Rindu banget. Gue ga suka ada orang yang sama senyumnya kaya Almarhum.“ lanjut Angga.
Lidya mengambil ponselnya dan mencari sebuah foto. Ia kemudian menunjukkan foto dua anak wanita SMP yang sedang berpose tersenyum.
“Yang lu maksud ini kan Angga. Dia sepupu gue yang meninggal karena hipotensi. Dia juga suka cerita ke gue tentang lu. Gue udah tau semua. Sebelum dia pergi, dia nitip pesan biar gue jagain lu. Dan sekarang bukan gue yang jagain lu malah lu yang jagain gue. Lucu yah” Ujar Lidya sambil tersenyum paksa. Kebetulan atau takdir Tuhan, Angga mendapatkan sisi lain dari Nadya yang muncul di Lidya.
“Lid, gue Janji bakal jagain lu. Lu janji Juga bakal ga ninggalin gue kan. Lu kan kuat” ujar Angga memberi semangat kepada Lidya. Rasa benci yang dari tadi menumpuk di hatinya kini menghilang.
Lidya hanya terdiam Sambil tersenyum mendengar perkataan Angga. Akhirnya lelaki tersebut bisa menerima dirinya. Mereka berdua masih di pondok dengan suasana hati yang damai. Kedua orang tersebut terlihat bahagia dengan keadaan sekarang.
__ADS_1