
Ternyata hari ini Jefran bangun lebih awal dari biasanya. Waktu baru saja menunjukkan pukul empat dini hari.
Karena tidak tahu ingin melakukan sesuatu, ia memutuskan untuk memainkan handphone.
Terlihat sebuah pesan dari seseorang di aplikasi hijau bergambar telepon itu. Dengan cepat ia membuka aplikasi itu, melihat siapa yang mengirim pesan. Terpampang nyata nama Rara dengan sebuah tanda hati di belakangnya.
Dengan perasaan senang, ia membuka pesan tersebut. Senyuman yang tadi terlihat tipis menjadi begitu lebar. Melihat isi pesan itu membuat Jefran terlihat sangat bahagia. Ia mengira Rara akan melupakan ulang tahunnya. Melalui pesan singkat itu, Jefran mulai percaya jika Rara memedulikan dirinya.
Jefran terus melihat pesan itu. Sepertinya ia tidak merasa bosan jika terus melihatnya.
Karena waktu sekolah masih lama, Jefran akhirnya pergi ke luar kamar untuk membersihkan apartemen itu. Mulai dari menyapu ruang tamu sampai mengatur isi lemari pendingin. Saat sibuk-sibuknya ia mengacak lemari es, bel apartemen berbunyi. Dengan cepat ia langsung bergegas menuju depan membukakan pintu.
Senyum merekah lebar di wajah cowok tersebut. Tamu yang datang ternyata adalah gadis pujaan hatinya.
“Selamat ulang tahun Jef.” Ujar gadis itu yang tak lain adalah Rara. Rara sudah lengkap dengan seragam sekolah dan sebuah tas besar di tangan nya.
“Makasih yah, ayok masuk.” Jawab Jefran mempersilahkan Rara masuk. Seperti biasa, Rara langsung duduk di sofa depan, ruang tamu
“Tunggu sebentar gue ambil kue dulu.” Ujar Jefran pergi ke dapur mengambil kue yang semalam. Rara duduk diam sambil melihat keadaan apartemen milik Jefran. Suasana dan keadaan yang begitu ia rindukan. Padahal belum juga tiga bulan ia tak datang ke sini. Tak lama kemudian Jefran datang membawa sebuah kue dan dua buah piring.
“Sini biar gue bantu.” Rara berdiri dan mengambil kue dari tangan Jefran kemudian meletakkannya di meja.1
“Mau gue yang potong atau Lo aja Ra?.” Tanya Jefran.
“Gue aja deh. Sekalian tiup lilin yah. Gue juga bawa kue dari rumah buat Lo.” Ujar Rara. Ia mengambil kotak berukuran sedang yang berisikan kue ulang tahun buat Jefran.
“Gue jadi ga enak sama Lo Ra. Buat Lo repot aja bawa ginian.” Ujar Jefran canggung. Ia merasa tidak enak hati dengan kebaikan Rara.
“Astaga Jef, masa Lo ngerasa ga enakkan sama gue sih. Mau gue tabok ha.” Rara emosi dengan keadaan tangan yang sudah melayang di atas.
“Jangan tabok juga hey. Gue Cuma bercanda doang.” Jawab Jefran tertawa.
“Ya udah stop ketawa. Mending kita bakar lilin nya terus jangan lupa buat permohonan.” Ucap Rara. Ia juga membawa sebuah pemantik untuk membakar kue. Selesai membakar lilin, Jefran mulai membuat permohonannya.
__ADS_1
“Gue cuma mau gadis yang berada di samping gue tetap bersama gue hingga kapan pun. Kalau bisa mati pun gue mau bersama-sama dengan dia.” Jefran berteriak sambil menutup matanya. Rara yang berada di samping Jefran langsung memasang wajah malu. Wajah nya terlihat merah akibat salah tingkah. Bisa-bisanya Jefran berteriak seperti itu. Padahal biasanya orang-orang hanya berbicara lewat hati saja. Namun berbeda dengan Jefran yang berteriak. Ada-ada saja kelakuan cowok ini.
“Ra, jadi ga potong kue nya?.” Tanya Jefran namun Rara tidak menjawab. Rara masih malu mengangkat wajahnya melihat ke arah Jefran. Dengan hati-hati Jefran mendekat ke arah Rara. Ia memegang dagu Rara, mengangkat wajah Rara agar melihat ke dirinya.
“Heum, kenapa muka Lo merah gitu.” Jefran menatap Rara namun Rara tetap tidak melihat ke arah Jefran. Ia malah melihat ke arah samping. Karena gemas melihat kelakuan gadis di depannya, Jefran menaruh kedua tangannya di wajah Rara.
“Tatap gue Ra, gue ga bakal makan lo.” Ujar Jefran menatap Rara sedikit tertawa. Dengan sedikit keraguan, Rara memberanikan menatap mata Jefran. Jantung Rara tiba-tiba berdetak tidak karuan.
“Gue dari tadi nungguin lo buat potong nih kue loh. Gue sudah lapar dari tadi pengen makan kue.” Lanjut Jefran kemudian melepaskan kedua tangannya.
“Eh itu anu, maaf yah Jef. Gue tadi itu ih kenapa yah lupa gue mau ngomong apaan.” Ujar Rara gugup. Ia sampai susah berbicara karena ulah Jefran.
Jefran menyodorkan pisau kue kepada Rara. Rara menerimanya dan memotong kue milik Jefran dahulu kemudian baru kue miliknya. Ia menaruh kue tersebut ke piring yang tadi di bawa Jefran dan memberikan kue itu kepada Jefran. Setelah memberikan punya nya Jefran, kini saat nya Rara memotong bagiannya.
“Jef, gue minta maaf yah soal kemarin.” Ujar Rara di sela-sela mereka makan.
“Soal kemarin? Yang mana sih.” Jawab Jefran kebingungan.
“Ga perlu minta maaf Ra. Gue tau lo sibuk banget kemarin dan ga bisa datang. Gue juga ga permasalahkan itu. Ini juga masalah kecil jadi jangan di pikirin.” Jawab Jefran.
“Ga bohong kan Jef. Harus jujur yah. Gue takut aja sebentar lo malah marah-marah sama gue.” Ujar Rara dengan wajah khawatir.
“Lo salah minum obat atau apa sih Ra. Lo tau kan sikap gue kaya gimana. Gue kalau serius yah serius. Jadi lo jangan berpikir aneh-aneh tentang gue. Gue ga bakal marah sama Lo. Ingat ini baik-baik.” Jawab Jefran meyakinkan Rara.
“Jadi sekarang kita harus ngapain?” Tanya Jefran.
“Yah ga tau. Mending sekarang lo siap-siap deh buat ke sekolah. Mumpung masih jam enam pagi.” Perintah Rara sambil makan kue.
“Bentar, jam enam kata lo? Jadi tadi lo datang ke sini jam lima pagi?” Tanya Jefran dengan wajah keheranan.
“Hehehe, iya. Gue memang sengaja pergi sepagi itu buat datang ke rumah lo.” Jelas Rara.
“Terus Ibu lo tau ga kalau lo keluar sepagi ini. Jangan sampai lo kabur yah dari rumah.” Jefran menebak.
__ADS_1
“Kalau ngomong suka benar saja.” Rara tersenyum sambil menggaruk kepalanya. “Tapi gue sudah kirim pesan ke Mama kok. Pasti Mama ga bakal marah.” Lanjutnya.
Jefran menggelengkan kepala tanda heran. “Lain kali jangan begitu yah. Ga baik kalau lo pergi terus ga ngomong langsung sama Mama. Takutnya Mama lo ga percaya.”
“Ya sudah. Janji deh ga bakal ulangi lagi. Ini yang pertama sama yang terakhir.” Ujar Rara mengangkat dua jari.
“Janji yah. Kalau gitu gue siap-siap dulu ke sekolah.” Pamit Jefran kemudian pergi meninggalkan Rara di ruang tamu.
Setelah di tinggal Jefran, Rara kembali sibuk dengan makan kue. Ternyata kue punya Jefran rasanya begitu enak. Rara sampai menghabiskan seperempat bagian dari kue milik Jefran. Saat sedang asik makan, handphone Rara berbunyi. Ada seseorang yang menelpon Rara. Dengan cepat Rara menaruh piring kue di meja dan mengangkat telepon itu.
“Assalamualaikum. Ini dengan Rara. Siapa di sana.”
“Waalaikumsalam. Ra, ini sama Mama.”
“Eh iya, aduh Mah. Kenapa pagi-pagi udah telepon aja.” Jawab Rara gugup.
“Kamu tau kan apa salah kamu. Jangan pura-pura lupa kaya gitu.”
“Kan Rara sudah kirim pesan buat Mama. Masa Mama masih marah sama Rara sih.”
“Mending kamu kembali ke rumah. Hari ini Mama ga izinin kamu ke sekolah. Mama juga sudah bilang ke Pak Nathan kalau kamu ga ke sekolah selama satu minggu karena ada urusan di luar negeri. Cepat pulang sekarang.”
“Mah, Rara mohon jangan begini lah. Rara minta maaf yah Mah. Rara ga bakal ulangi lagi. Rara janji.” Mohon Rara di ujung telepon.
“Sudah terlanjur dan Mama ga bakal tarik kembali kata-kata Mama. Mending kamu pulang sekarang. Mama kasih waktu lima belas menit. Kalau sampai lewat satu menit, Mama ga bakal izinin kamu keluar selama sebulan.” Ancam Mama nya Rara kemudian mematikan sambungan telepon begitu saja.
“Mah Mah Mah. Kenapa sih malah di matiin.” Kesal Rara.
Jefran yang baru keluar dari kamar langsung menghampiri Rara.
“Ra, kok wajah lo kaya ga senang gitu?” Tanya Jefran.
“Jef, gue pulang dulu yah. Seminggu gue ga ke sekolah. Lo hati-hati yah di jalan. Gue pamit pulang dulu.” Ujar Rara kemudian pergi begitu saja tanpa menunggu Jefran menjawab dirinya.
__ADS_1