
15 menit lamanya Rara menyusuri jalanan malam itu dan sampai juga di sebuah apartemen yang di mana merupakan tempat tinggal Jefran. Selesai memarkirkan mobilnya, dengan cepat ia langsung menuju ke dalam apartemen itu. Dengan lihai Rara menekan sandi di pintu apartemen tersebut dan ia langsung masuk ke dalam apartemen itu sesaat setelah ia berhasil membuka pintu tersebut.
“Sudah mirip pencuri saja masuk tanpa ketuk pintu.” Ujar Jefran mengagetkan Rara yang baru saja menutup pintu.
“Astaghfirullah.” Kaget Rara melihat Jefran yang sudah di belakangnya menggunakan pakaian rumah.
“Maaf yah. Soalnya gue udah tau sandi lo. Ya sudah gue langsung masuk aja. Terus yah masa modelan kaya gini di bilang mirip pencuri sih.” Jelas Rara.
“Yah emang mirip pencuri.” Jawab Jefran cepat.
“Ih nggak ya.” Bantah Rara.
“Buktinya aja lo dah berhasil nyuri hati gue.” Jawab Jefran kemudian berlari masuk ke kamarnya.
“Dasar Jefran gila. Awas aja yah lo. Kalau keluar gue bakal patahin tulang lo biar tobat gombalin anak orang.” Omel Rara kesal.
“Patahin aja Ra. Gue rela di buat apa aja sama lo. Yang penting selama cantik nya Jefran senang, Jefran juga senang kok.” Terima Jefran dari dalam kamar. Rara hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Jefran.
Rara memutuskan untuk duduk di sofa andalannya. Ia sibuk memainkan ponselnya agar tidak bosan sambil menunggu Jefran yang sedang siap-siap. Terlihat obrolan grup yang begitu ramai. Dengan cepat Rara membukanya.
Isi pesan
Alfius : woi yang lain ke mana sih.
Wardana: betul nih masa gue sama Alfius jadi tamu pertama.
Angga : sabar aja gimana sih kalian berdua. Gue masih setia menunggu bebeb Lidya siap-siap.
Jorgas : nggak ada hari yah tanpa bucin kalian berdua
Angga : dih nggak sadar diri kalau dirinya lebih bucin.
Satria : betul tuh.
Alfius : he jangan banyak ketik Sat. Masa lo terlambat sih ke acara ultahnya pacar sendiri.
Nadial : kalau 10 menit lagi nggak sampai ke sini gue bakal ambil catrin jadi istri gue.
Satria : ya udah ampun. Ini gue lagi di dalam perjalanan. Demi ayang catrin paling mariana pun gue selami.
Catrin : dih lebay banget sumpah.
Rara tertawa membaca isi pesan tersebut. Ia heran kenapa bisa memiliki sahabat seperti orang stres.
“Baik-baik loh bisa gila kalau ketawa terus.” Ujar Jefran tiba-tiba.
“Eh copot copot.” Kaget Rara.
“Jefran mah suka banget kagetin orang.” Omel Rara.
__ADS_1
“Siapa suruh coba sibuk terus sama ponsel sampai lupa gue udah berdiri dari tadi di sini nungguin tuan putri.” Jelas Jefran.
“Eh maaf. Tadi gue masih lihat grup mastiin siapa aja yang udah datang.” Jawab Rara.
“Terus siapa aja yang sudah datang?” Tanya Jefran.
“Baru si Alfius, Wardana, sama Nadial.”
“Eh si Satria kemana. Masa dia terlambat.”
“Tadi katanya masih di jalan.”
“kalau gitu sekarang gimana? Jadi dalam atau nggak sayang?” Tanya Jefran sengaja menggunakan panggilan sayang.
“Sekarang aja sayang biar kita nggak terlambat.” Balas Rara juga sengaja membalas panggilan sayang tersebut.
“Bentar deh, ini jadi kita udah jadi sayang-sayangan apa gimana?” Tanya Jefran sengaja ingin membuat Rara gugup.
“Eum kalau boleh sekarang buat apa nungguin lagi.” Jawab Rara kemudian menggandeng jemari Jefran.
“Jadi sekarang kita?” Tanya Jefran tak percaya.
“Ya itu deh. Sekarang ayok kita jalan, nanti terlambat loh.” Jawab Rara malu-malu. Ia sengaja juga mengalihkan pemain agar dirinya tidak terlihat sedang salah tingkah.
“Ih Jefran nggak mau jalan kalau Rara ngomongnya nggak jelas kaya gini.” Ujar Jefran menahan Rara agar tidak pergi.
Kini mereka sudah berada di parkiran apartemen.
“Mau naik motor atau mobil aja?” Tanya Jefran.
“Motor aja deh. Gue malas naik mobil terus.” Jawab Rara.
“Betul nih? Nggak takut kedinginan?” Tanya Jefran meyakinkan Rara.
“Kalau tinggi kan tinggal peluk Jefran aja.” Jawab Rara membuat Jefran yang kali ini salah tingkah.
“Bisa aja yah kalau ngomong. Belajar dari siapa sih.”
“Dari Jefran lah.” Jawab Rara cepat. Rara mendapatkan hadiah tabokan di lengannya.
“Anak kecil sudah pintar yah nuduh sembarangan orang.” Ujar Jefran.
“Sakit tau.” Marah Rara mengelus lengannya yang di tabok tadi.
“Sudah stop ngomongnya. Ayok jalan.” Ajak Jefran.
Selesai memaksa helm Rara langsung duduk di kursi penumpang.
“Kok nggak jalan? Bensinnya habis yah?” Tanya Rara khawatir. Tanpa basa basi Jefran membuka jas nya dan memberikan kepada Rara.
__ADS_1
“Gue takut lo masuk angin jadi jangan ngelawan. Harus pakai tanpa penolakan.” Perintah Jefran dan di turuti oleh Rara.
“Nggak peluk? Katanya tadi mau peluk.” Goda Jefran kepada Rara. Rara tidak menjawab dan langsung memeluk saja.
“Kita jalan yah.” Ujar Jefran dan di balas iya oleh Rara. Motor berwarna merah itu pun kini berjalan meninggalkan parkiran apartemen.
Udara malam yang terasa sejuk membuat perjalanan mereka makin lengkap. Ternyata alamat rumahnya Catrin tidak begitu jauh. Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai dengan laju motor yang tidak begitu cepat.
“Ra kita udah sampai loh. Masih betah apa pelukan kaya gini?” Ucap Jefran menyadarkan Rara yang masih memeluk dirinya. Rara tidak sadar jika mereka sudah sampai di rumahnya Catrin 3 menit yang lalu.
“Hehehe maaf yah.” Jawab Rara.
Setelah berhasil memarkirkan motor, Rara dan Jefran langsung menuju ke halaman belakang karena acara ulang tahunnya berlangsung di halaman belakang.
Terlihat semua orang sudah berkumpul. Mereka sedang ngobrol sambil sesekali tertawa bahagia.
“Selamat ulang tahun yah Catrin. Panjang umur dan sehat selalu. Semoga hubungannya sama Satria langgeng terus.” Ucap Rara memberikan ucapan selamat ulang tahun.
“Gue juga sama kaya Rara sih. Yang penting yang terbaik lah buat lo.” Ujar Jefran yang berada di samping Rara.
“Makasih yah. Aku juga doain biar kalian juga langgeng terus.” Balas Catrin sambil tersenyum.
“Hampir lupa nih Cat. Ini hadiah dari aku sama Jefran.” Ujar Rara memberikan dua buah paper bag berisikan hadiah.
“Wah makasih banyak yah Rara sama Jefran.” Ucap Catrin berterima kasih.
“Kalau gitu gue sama Jefran ke sana dulu yah. Kita gabung sama yang lain di sana.” Pamit Rara kemudian dirinya pun berjalan meninggalkan Catrin di situ.
“Waduh pasangan terkaporit kita datang juga.” Teriak Aditya.
“Terfavorit Aditya bukan kaporit hey. Lo kirain merasa manusia air apa pakai kaporit segala.” Omel Reva.
Semua yang ada di hanya tersenyum melihat tingkah laku kedua manusia itu.
“Ciee mana warna bajunya sama pula.” Goda Beby.
“Namanya juga pasangan, harus sama dong.” Tambah Feby.
Rara dan Jefran baru sadar kalau warna baju mereka serasi. Mereka berdua menggunakan baju berwarna biru langit.
“Nggak kok, ini cuma kebetulan aja.” Bantah Rara.
“Nggak percaya sih gue. Soalnya kalian tuh bucin banget jadi mana ada kebetulan. Pasti ini kerjaan si Rara kan. Gue tau banget kalau Rara suka banget sama warna biru jadi maksa Jefran buat ngikutin Rara karena Jefran orangnya paling nurut sama perkataan ayang. Iya kan, jangan bohong lagi deh.” Ucap Reva tak mau kalah.
“Hey nggak gitu yah. Ini memang kebetulan. Kalau nggak percaya coba tanya aja sama Jefran. Betul kan Jef?” Jawab Rara.
“Nggak kok, itu ga betul. Tadi gue yang nyuruh Rara buat pakai baju warna senada biar enak di pandang.” Jawab Jefran asal membuat Rara membulatkan matanya lebar-lebar.
“Nih cowok mentang-mentang sudah jadi ayang gue makin ngelunjak yah. Untung aja pacar, kalau nggak sudah gue penggal kepalanya di sini. Jurus bela diri gue yang gue belajar dari Wardana pun masih banyak yang gue ingat.” Batin Rara emosi.
__ADS_1