
Perjalanan kali adalah perjalanan yang membuat semua penumpang bus merasa sangat cafe. Pinggang mereka yang awalnya baik-baik saja tiba-tiba menjadi sakit akibat terlalu lama duduk. Sudah pasti sakit pinggang akan mereka alami karena perjalanan ini memakan waktu 6 jam lamanya.
Semua penumpang pun turun bersama dengan barang bawaan mereka masing-masing. Setelah turun, semuanya langsung berbaris rapi.
“Baik, terima kasih atas partisipasinya. Sebenarnya sebentar lagi akan diadakan acara penyambutan oleh warga desa X tapi setelah melihat keadaan kita yang sekarang, acaranya ditunda dulu. Jujur saya juga merasakan sakit pinggang karena perjalanan yang begitu lama. Tidak mau membuang waktu lama lagi saya persilahkan untuk semuanya pergi beristirahat ditempat yang telah disediakan. Saya mohon kesediaan Pak Nathan untuk menginformasikan tempat istirahat tersebut,” komando seorang guru yang berperan sebagai ketua panitia pelaksana kegiatan tersebut. Pak Nathan maju dan mulai berbicara.
“Baik tanpa membuang waktu lagi saya akan menunjukkan arahan bagi kita semua menuju tempat istirahat masing-masing. Bagi yang perempuan tempatnya berada disamping kanan saya, di gedung besar itu. Dan untuk yang laki-laki berada dibelakang gedung milim perempuan. Sudah disediakan kasur dan juga selimut disana jadi tidak usah khawatir jika tidak membawa selimut, setiap kamar bisa menampung 6 orang. Terima kasih,” ujar Pak Nathan kemudian berjalan menuju gedung peristirahatan diikuti oleh murid laki-laki dibelakangnya.
Sedangkan yang wanita mengikuti guru wanita yang memandu mereka.
Setelah mendengar semua panduan dan letak setiap sudut ruangan, akhirnya semua masuk ke kamar masing-masing. Lidya, Beby, Feby, Wardana, Rara dan Reva mendapat kamar yang sama. Karena Lidya tadi melihat Wardana akhirnya ia memanggil Wardana untuk bergabung, mereka langsung memilih kasur masing-masing.
“Kita bersih-bersih dulu yah sekalian atur barang masing-masing biar sebentar kalau cari barang gak susah,” kata Lidya memberikan instruksi kepada teman-temannya.
“Siap Lidya.” Jawab Rara.
Ia sudah bisa berbaur dengan lingkungan barunya bersama teman barunya. Lidya, Feby, dan Beby belum tahu kalau Rara itu dekat dengan Jefran. Bahkan bisa di katakan dekat sekali. Disaat Rara sedang sibuk menyapu tak sengaja seekor kecoak terbang dan hinggap ditangan Feby yang juga sibuk merapikan barang bawaannya ke dalam lemari.
“Aaak ada kecoak!” Teriak Feby membuat semua orang di dalam kamar tersebut ikut berteriak kecuali Wardana yang malah suka kepada kecoak, mereka sibuk berlari dan berteriak.
“Woi diam bisa gak sih!” Teriak Wardana keras membuat semua orang di dalam kamar diam tidak berbicara.
Wardana langsung menuju kecoak yang tadi terbang, ia mengambil kecoak tersebut dan membuangnya. Setelah membuangnya ia terlebih dahulu mencuci tangan dan kembali masuk ke dalam kamar. Keadaan kamar saat ini seperti kapal pecah padahal tadi sudah hampir bersih, gegara tragedi kecoak maka kamar mereka kembali kotor.
Malahan lebih kotor dan berantakan melebihi awal masuk ke kamar itu.
“Maaf yah udah bentak kalian tadi,” ucap Wardana meminta maaf.
Tanpa disadari Feby langsung berlari memeluk Wardana. Ia menangis dipelukan akhirnya Wardana. Wardana terlihat bingung dengan perlakuan Feby.
__ADS_1
“War, untung ada kamu kalah gak aku udah mati digigit monster,” ucap Feby masih menangis, malah sekarang tangisannya makin menjadi.
“Eh monster dimana Feb?” Tanya Wardana makin bingung.
“Itu loh tadi kecoak, dia tuh kayak monster tahu,” jawab Feby seraya melepaskan pelukannya ke Wardana.
Wardana hanya tertawa mendengar ucapan Feby.
“Yaudah jangan nangis lagi, mending bersih-bersih deh terus mandi dan tidur. Biar pas bangun kita langsung pergi makan malam,” perintah Wardana.
Mereka semua akhirnya kembali melakukan bersih-bersih. Wardana kali ini yang bertugas untuk menyapu. Takut saja kejadian tadi muncul dan memporak-porandakan kembali kamar itu.
Selesai bersih-bersih mereka pergi mandi untuk mandi. Sehabis mandi, mereka semua memutuskan untuk tidur. Di gedung sebelah tidak kalah hebohnya. Ya, gedung untuk laki-laki. Angga masih Bingung dengan kehadiran Jorgas dan Satria yang ikut ke desa X. Padahal kegiatan ini hanya diikuti oleh anak Kelas 11 dan ketua OSIS.
“Kalian mending pulang deh, gue mau muntah liat muka kalian,” ujar Angga emosi.
“Santai bro santai. Kita kesini karena dapat persetujuan dari kepala sekolah dan bantuan Pak Nathan.” Jelas Satria.
“Gue gak mau tahu kalian berdua gak boleh sekamar sama gue. Gue gak sudi sekamar sama kalian, gue takut ga bisa tidur,” ujar Angga.
“Gak mau ah. Lihat adik kelas kita aja santai kalau kita disini,” jawab Jorgas.
Angga sekamar dengan Aditya, Alfius dan Jefran. Ini sudah pasti akan terjadi karena yang Angga kenal cuma mereka saja.
“Yaudah kalian disini saja. Tapi gue gak mau tidur sebelahan sama kalian,” ujar Angga emosi.
“Oke, yang penting kita disini,” jawab Jorgas kemudian langsung pergi ke kasur paling ujung karena kasur itu paling jauh dengan kasurnya Angga.
Mereka berenam akhirnya tidur, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore dan semua orang sudah berada di gedung besar untuk makan. Tak heran jika disana banyak gedung-gedung karena hampir setiap tahun ada saja pengunjung yang datang. Pemerintah yang melihat potensi besar akan keadaan itu pun mulai membangun gedung-gedung kecil sebagai tempat penginapan.
__ADS_1
“Selamat malam semua, tolong berbaris rapi dan tidak saling berdesakan. Persediaan makanan disini banyak jadi jangan berebutan. Terima kasih,” perintah salah satu warga di desa itu.
Semua orang berjalan rapi dalam barisan dan teratur mengikuti instruksi tersebut. Wardana bersama lima temannya pergi mengambil kotak makanan yang telah disediakan. Wardana sengaja mengambil 2 kotak karena memang porsi makannya yang begitu banyak.
“War, betul lo ambil 2 kotak? Ini sekotak aja udah banyak banget loh,” tanya Beby heran melihat kelakuan Wardana.
Rara terkekeh melihat Beby yang terlihat kebingungan dengan kelakuan Wardana.
“Kamu kan baru kenal sama Wardana jadi gak apa deh kamu heran begitu. Dia memang makannya banyak begitu, kadang kalau aku atau Reva membawa bekal maka dia yang akan memakannya," Rara menjelaskan.
Hal ini membuat Beby membuka mulutnya tanda tidak percaya, begitu juga dengan Lidya dan Feby yang mendengar kenyataan itu.
“Pantas tadi aku lihat tas Wardana isinya cuma makanan semua,“ ujar Lidya.
Setelah mengambil makanan, mereka langsung menuju ke bangku taman dan makan di situ. Saat asik makan beberapa cowok lewat dan duduk disitu menemani mereka.
“Sayang, itu kamu kan?” Sapa seorang laki-laki di antara mereka.
Feby yang mendengar suara itu merasa tidak asing. Ia berbalik dan melihat ke arah belakang. Ternyata dugaannya benar, lelaki itu adalah Jorgas.
“Aaa, Feby kira Jorgas gak bakal datang,” kata Feby yang langsung berdiri dan memeluk Jorgas. Jorgas langsung membalas pelukan Feby.
“Kita pindah aja yuk Lid! Capek aku lihat orang pacaran terus,” ajak Reva kepada Lidya.
Lidya dan Reva pun berjalan agak jauh dari hadapan Jorgas dan Feby yang sedang melepas rindu. Wardana yang sedari tadi sibuk makan tidak tahu kalau Alfius sudah disampingnya. Ia sudah habis 1 kotak makanan dan sekarang sedang melanjutkan kotak yang kedua. Ketika mendengar suara Alfius, Wardana langsung tersedak.
“Ini minum dulu,” kata Alfius sambil menyodorkan air ke Wardana.
“Makasih yah!” Balas Wardana setelah meneguk air.
__ADS_1
“Yaudah kamu makan dulu. Sebentar baru bicara yah, aku takut kamu tersedak kaya tadi,” ucap Alfius ke Wardana. Ia duduk disamping Wardana sambil menikmati makanan bersama Wardana.