
Hari ini adalah hari dimana Jefran kembali ke sekolah. Ia sengaja bangun pagi agar bisa membuatkan bekal bagi dirinya dan juga Rara. Kenapa demikian? Semalam Jefran segaja mengirim pesan ke Rara bahwa hari ini ia akan ke sekolah dan respon dari Rara sangat bersemangat untuk menjemput Jefran di apartemennya. Setelah selesai mandi ia pun pergi mengambil pakaiannya yang berada di lemari kamar sebelah. Ketika ia ingin membuka pintu kamar sebelah, bel apartemennya berbunyi.
"Cik.. Siapa coba pagi pagi buta begini namu? Ganggu banget," omel Jefran dan pergi membukakan pintu.
Ia tak sadar kalau ia hanya menggunakan handuk. Disaat pintu terbuka ia melihat kalau Rara yang datang. Rara yang saat itu sedang sibuk bermain handphone pun kaget akan sahutan Jefran memanggil namanya, tapi tak lama kemudian Rara menjadi patung ketika melihat Jefran yang hanya memakai handuk saja. Kalian bisa membayangkan bagaimana perut Jefran yang.. Ah sudahlah.
"Rara Ra Ra, mau tetap diluar apa tunggu didalam?" Tanya Jefran sambil melambaikan tangannya ke muka Rara.
"Eh itu anu, iya iya maaf tadi masih ngelamun lihat itu," ucap Rara tapi tak selesai.
"Eh lihat apa?" Tanya Jefran bingung.
"Itu!" Rara sambil menunjuk ke badan Jefran.
"Waduh astaghfirullah maaf Ra, kamu langsung duduk aja di sofa aku buru-buru ganti baju."
Jefran kaget dan langsung berlari ke ruang ganti dan meninggalkan Rara pergi duduk di sofa. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Jefran sudah rapi dengan pakaian seragam serta sepatu sekolah yang melekat di kaki nya. Rara yang masih sibuk main handphone di sofa, tidak mengetahui kalau Jefran sudah selesai. Jefran pun akhirnya memiliki ide untuk mengagetkan Rara, ia mengendap-endap mendekati Rara dari belakang.
"Dorrr! Main handphone mulu," teriak Jefran dari belakang Rara.
"Eh cocop copot," latah Rara saat dikagetkan Jefran.
"Dih sibuk terus main handphone sampai lupa yah kalau aku udah selesai siap," jawab Jefran.
"Eh ya sudah maaf, kalau gitu kita berangkat sekarang," jawabnya sambil berdiri menggunakan tas.
Jefran masih pergi ke dapur untuk mengambil bekal yang tadi dibuatnya pada pagi hari.
"Ra, ini aku tadi bangun lebih awal jadi aku buatin bekal buat kamu," ucap Jefran sambil menyodorkan kotak bekal ke Rara.
Rara seperti dalam mimpi saja, otak nya sekarang sedang berpikir bahwa sekarang Jefran mulai suka sama dia. Jantungnya seakan ingin meledak saja, Rara menerima kotak itu dengan senyuman.
"Kamu nih perhatian banget deh sama aku Jef." Jawabnya disertai senyum malu-malu.
__ADS_1
"Aku buatin bekal ini sebagai rasa terima kasih aku ke kamu, karena kamu sudah bantuin aku banyak dan hari ini kamu juga mau jemput aku buat ke sekolah bareng," jawab Jefran polos sesuai kenyataan.
Rara yang mengetahui kenyataan ini seakan sudah putus harapan diawal jalannya, ternyata semuanya ini hanya untuk membalas kebaikannya selama ini.
"Astaga, kenapa coba gue bisa se percaya diri ini sih. Gue kita dia udah mulai suka sama gue jadi buatin bekal spesial rasa cinta," omel Rara pelan tapi masih bisa didengar oleh Jefran.
"Ra, kamu gak suka yah sama bekal yang aku kasih?" Tanya Jefran seraya membuka topik.
"Eh gimana Jef, aku suka kok malah suka banget. Kamu sampai repot-repot bangun pagi untuk buatin bekal ini," jawab Rara.
"Oh ku kira kamu ga suka, tadi aku dengar kamu ngomel-ngomel gak jelas," jelas Jefran.
"Ah itu, aku ngomel-ngomel soal nyamuk nih. Tuh noh noh kan terbang," alasan Rara kepada Jefran sambil menunjuk ke sembarang arah.
"Eh apartemen ku gak ada nyamuk, terus yang kamu tunjuk pun gak ada apa-apa," jawab Jefran.
Wajah Rara seketika memerah karena malu, ia tertangkap menipu Jefran.
"Ah udah yah, ini udah telat nih. Masa iya kita terus berdiri disini ngeributin soalnya nyamuk doang," seru Jefran dan kemudian menarik tangan Rara keluar dari apartemennya.
"Jef, sebentar pulang bareng yok! Ayoklah gak boleh nolak yah," seru Rara bersemangat.
"Tapi Ra aku ..." jawab Jefran.
Sebelum Jefran melanjutkan perkataannya, Rara langsung memotong.
"Oke, berarti kamu bisa. Sebentar aku jemput langsung ke kelas kamu," jawab Rara sambil tersenyum.
Jefran pun akhirnya pasrah dan mengiyakan kemauan Rara, mau bagaimana pun Rara satu-satunya orang yang bisa dia andalkan dalam hidupnya. Rara telah menolong kehidupan, Jefran dan Rara bersama-sama menuju kelas. Walaupun kelas mereka tidak berdekatan tapi mereka jalan bersama-sama. Sebelum Jefran pergi ke kelasnya, ia mengantarkan Rara sampai ke depan pintu kelas.
"Jef makasih yah udah anterin aku sampai ke sini, coba tadi kamu langsung masuk kelas aja, ini malah lanjut terus anterin aku," ucap Rara berterima kasih kepada Jefran.
Tadi sebenarnya Jefran ingin langsung masuk ke kelas, tapi karena dia melihat Rara akan berjalan ke kelasnya sendiri maka ia pun mengantar Rara. Yah bisa dikatakan ia melewati kelasnya dulu untuk mengantarkan Rara.
__ADS_1
"Ia, sama-sama," jawaban singkat disertai senyuman tipis.
Sesampai Jefran didalam kelas, ia langsung menaruh kepalanya diatas meja. Badannya masih sakit akibat pukulan balok yang terjadi beberapa hari lalu. Ia juga menyuruh Dokter yang merawatnya untuk berbohong bahwa dirinya sudah sembuh, ia berpura-pura kuat di depan Rara karena tidak mau menyusahkan Rara terlalu banyak.
Rara seperti malaikat yang dikirim Tuhan bagi Jefran untuk selalu menolong nya. Setelah beberapa menit, Lidya datang dan masuk ke kelas. Ia kaget karena tempat duduk di sampingnya sudah ada orang. Dia mengira bahwa dia halusinasi, semalam dia belajar terlalu giat hingga tidak melihat jam telah menunjukkan pukul 4 pagi.
Ia hanya tidur 2 jam dan langsung berangkat sekolah, alasan kenapa dia bisa belajar begitu giat karena bulan depan ia akan mewakili sekolah untuk mengikuti olimpiade sains Nasional. Sesampainya ditempat duduk, ia langsung menaruh tas diatas meja dan duduk. Ia masih tak percaya kalau Jefran sudah datang ke sekolah hari ini, sesuai kata Pak Guru Jefran akan masuk ke sekolah 3 hari lagi. Tapi keajaiban dia datang hari ini, Lidya ingin sekali menyapa Jefran tapi dia takut.
Jam telah menunjukkan pukul 07.15 pagi dan pelajaran pertama dimulai, pelajaran pertama adalah matematika yang paling dibenci oleh semua murid kecuali Lidya si jenius dan penggemar berat matematika si Jefran. Disela-sela mereka mencatat, Jefran mengajak berbicara Lidya.
"Lid!" Panggil Jefran.
"Eh iya, kenapa Jef?" Jawab Lidya sambil menaruh pulpen nya.
"Eh maaf ganggu yah, aku boleh nanya gak?" Lanjutnya.
"Oh apa, tanya aja," jawab Lidya.
"Jadi gini, rencana kita ke desa X kan tinggal 2 hari. Aku masih banyak bolong tugas, boleh gak aku minta tolong ke kamu bagi tugasnya biar aku kerjain," jelas Jefran.
"Aduh Jef ku kira kenapa coba? Kalau soal ini sih aku bisa kok, sekalian ngajarin kamu juga bisa," jawab Lidya dengan semangat.
"Aduh makasih banyak yah, maaf loh repotin kamu," balas Jefran sambil memegang tangan Lidya tanpa sengaja dan langsung dia lepas.
Lidya yang jarang bersalaman dengan cowok, awalnya kaget dan langsung keringat dingin.
"Eh maaf yah, aku tadi terlalu semangat dan kebiasaannya salam ke orang gitu. Maaf yah sekali lagi," ucap Jefran sambil menundukkan kepala.
"Aman mah kalau sama aku. Oh bentar dulu, kamu bisa gak sebentar belajar sama aku pas pulang sekolah? Soalnya hari ini aja aku punya waktu luang," jelas Lidya.
"Oh bisa kok, sebentar pulang sekolah kan," jawab Jefran.
"Iya, nanti kita belajar nya di perpustakaan yah disana gak ribut biar kita bisa fokus. Deal yah," ucap Lidya sambil mengulurkan tangannya ke Jefran untuk salaman.
__ADS_1
"Deal," jawab Jefran sambil membalas Jabat tangan Lidya.
Ia heran kok Lidya kali ini tidak takut lagi berjabat tangan, padahal tadi ia keringat dingin saat Jefran memegang tangannya. Ah sudahlah, tidak usah dipikirkan.