Timer Me

Timer Me
Bab. 22. Satu Persen Kesempatan


__ADS_3

Tawa dan gerak geriknya berhasil membuat setiap orang terhipnotis bahwa ia baik-baik saja.


Hari ini seakan membawa gadis itu kembali bahagia dan melupakan penyakitnya. Angga lah satu-satunya sumber kebahagiaan hari ini. Ketika bersama Angga, seketika penyakit tersebut menghilang begitu saja. Rasa sakit yang teramat sangat lenyap begitu saja jika berada di dekat Angga.


Akan tetapi tiba-tiba rasa sakit itu kembali. Sakit menikam dan menusuk kepala hingga tiba-tiba gadis tersebut tumbang. Ternyata Rasa sakit itu tak bertahan lama, ia mengira akan kuat menahannya tapi kenyataan berkata lain. Sekarang tubuh yang berbohong untuk tetap kuat terbaring lagi di ranjang rumah sakit.


Memang ini bukan kemauan gadis itu tapi alur kehidupan membawanya kembali ke tempat di mana ia berada sekarang. Cowoknya selalu setia menunggu diluar bagaimana kabar sang gadis. Ia masih belum percaya sama sekali dengan kejutan yang di berikan Tuhan kepadanya.


Tadi pagi ia masih bisa bercanda dan tertawa bersama Nadya. Sekarang ia malah harus menerima kenyataan jika Nadya kembali masuk ke rumah sakit. Tapi kali ini sedikit berbeda karena penyakit itu mulai mengganas dan Nadya harus segera ditangani.


Angga hanya duduk sambil memegang kepalanya yang terasa mau pecah saja. Mengapa Tuhan memberikan ia cobaan berat seperti ini kepadanya. Ketika hari ini ia baru melihat senyuman itu mengapa Tuhan mengambil kembali senyuman itu di ganti dengan bibir yang terlihat sangat pucat. Wajah penuh kekhawatiran selalu menghias wajah anak cowok itu.


Tak lama dokter keluar dan memberitahu bagaimana keadaan Nadya.


“Untuk saat ini Nadya belum sadarkan diri. Karena terlalu memaksakan diri tekanan darah Nadya menurun dan membuat Nadya Pingsan. Saya sarankan untuk tidak membuat Nadya terlalu melakukan hal-hal yang menguras banyak tenaga.” Jelas dokter kemudian pergi meninggalkan Angga dan Pak Nathan.


Perasaannya masih sama seperti waktu pertama kali melihat Nadya dirawat. Perasaan takut kehilangan sosok Nadya makin besar. Air matanya jatuh begitu saja tanpa diminta. Orang tua Nadya dan Angga tiba-tiba masuk ke ruang itu.


“Nak, Ibu kan tadi sudah bilang jangan ke sekolah dulu. Kamu malah keras kepala dan pergi. Sekarang kamu sudah seperti ini Ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Ini semua salah Ibu.” Sesal Ibunya Nadya menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa tidak becus mengurus anaknya sendiri.


“Sudah Bu, ini bukan salah Ibu. Kita berdoa saja biar Nadya cepat sembuh.” Ujar Ayahnya Nadya menguatkan sang Istri. Didalam lubuk hati sang Ayah ada rasa juga rasa penyesalan. Ia tidak menyangka jika anak semata wayangnya bisa menanggung semua rasa sakit itu sendiri.


Mereka semua duduk di sofa sambil menunggu kapan Nadya akan sadarkan diri. Tiba-tiba badan Nadya gemetar, tak tau apa penyebabnya. Dengan segera Pak Nathan menekan tombol di dekat ranjang Nadya untuk memanggil dokter. Dokter pun langsung datang dan menyuruh mereka semua keluarga.


Wajah mereka semua terlihat sangat panik bercampur khawatir. Ibunya Nadya sudah dari tadi menangis. Ia takut sekali kehilangan sang anak kesayangannya itu. Mereka membawakan Nadya ke ruang operasi. Kata dokter keadaan Nadya semakin memburuk, oleh sebab itu harus segera ditangani.


30 menit lamanya jalannya Operasi.  Dokter keluar dan memberitahu keadaan Nadya.

__ADS_1


“Nadya sulit sekali untuk mendekati kata sembuh. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi penyakitnya tidak menghilang juga Karena faktor keturunan. Untuk beberapa waktu ke depan Nadya hanya diperbolehkan menggunakan kursi roda. Melihat keadaannya seperti itu tidak mungkin untuk berjalan. Saya pamit dulu, untuk keluarga bisa masuk sekarang.” Ujar Dokter dan berlalu meninggalkan mereka.


 


Sebulan lamanya Nadya di rawat di rumah sakit. Jangankan untuk bergerak, makan saja ia dibantu menggunakan selang. Karena masih terlalu muda mengidap penyakit tersebut, tubuh Nadya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa membuat mata sambil berbicara seperlunya saja.


Sebulan lamanya juga Angga selalu menemani Nadya. Waktu pulang sekolah adalah waktu yang sangat ditunggu Angga karena bisa bertemu sang pujaan hati. Terkadang Satria dan Jorgas menyempatkan diri untuk menjenguk Nadya.


Setiap mereka datang pasti akan ada sesuatu yang seru. Mereka suka membuat lawakan agar Nadya tetap bahagia. Walaupun tidak bisa tertawa seperti biasa, senyum tipis masih bisa menghiasi wajah cantik itu.


Lambat laun kesehatan Nadya membaik dan ia sembuh. Ia sangat senang dan kembali bersekolah. Waktu ujian Nasional telah berakhir dan seminggu kemudian mereka akan menerima undangan kelulusan. Karena tidak mau membuang waktu, Angga membuat Janji ke Nadya. Ia akan meresmikan hubungan mereka berdua saat kabar kelulusan di adakan.


Seminggu kemudian...


Semua siswa sudah berkerumun di lapangan. Ternyata mereka lulus 100%. Beberapa siswa berkumpul dengan sahabat mereka sambil berpelukan. Angga, Nadya, Jorgas, dan Satria sudah dari tadi di kafe dekat sekolah. Mereka sudah tau jika mereka lulus jadi mereka tidak mau membuang waktu untuk mendengar hal yang sudah mereka ketahui.


Mereka duduk ngobrol sambil sesekali berfoto. Tidak ada hal yang lebih indah saat kelulusan jika tidak mengabadikan momen penting dengan berfoto.


“Enak aja kata lo Sat, jangan sampai nih lo yah yang mau pergi dulu. Gue mah ikhlas aja sih lo pergi.” Jawab Angga bercanda.


“Gila benar yah lo Angga.“ Balas Satria kemudian melempar Angga dengan bungkusan roti yang sempat mereka makan. Melihat kejadian itu mereka pun tertawa bersama-sama. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore mereka bersepakat untuk pulang kembali ke rumah. Angga yang sudah pandai membawa mobil pun mengantar pulang Nadya ke rumah. Sedangkan Satria dan Jorgas naik motor.


“Nad.” Panggil Angga.


“Iya, kenapa Angga.” Jawab Nadya sambil menaruh handphonenya di saku baju.


“Kita singgah dulu yah di taman dekat rumah. Aku mau tepati janji ku yang waktu itu.”

__ADS_1


“Ah oke. Aku mah mau kemana aja ga apa.” Jawab Nadya menyetujui permintaan Angga.


Sesampainya di taman, Angga langsung menarik Nadya menunju kolam buatan disana. Ia memegang erat tangan Nadya agar tetap bersamanya. Ia tidak tau kenapa saat berada dekat gadis bernama Nadya hatinya terasa tenang. Mereka berdua duduk di bangku dekat kolam itu.


“Nad makasih yah untuk tiga tahun belakangan ini. Kamu gadis pertama yang berhasil membuat Angga jatuh hati. Sesuai janji Angga, Angga bakal meresmikan hubungan kita. Nadya mau kan jadi pacar nya Angga.” Ucap Angga sambil terus memegang tangan Nadya. Nadya langsung menangis mendengar kata-kata itu. Ia pun kemudian memeluk erat tubuh Angga.


Angga merasa heran akan reaksi Nadya yang menangis sejadi-jadinya. Nadya kemudian melepaskan pelukannya dan mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tas. Ia kemudian menyerahkan kertas itu kepada Angga. Angga bingung apa isi kertas itu.


“Angga, kertas ini kamu simpan dulu yah. Nanti kalau sebentar Mama telepon ke Angga baru Angga buka isi kertas itu.” Ucap Nadya terus menangis. Angga pun mengiyakan ucapan Nadya dan kemudian membawa Nadya pulang ke rumah.


Sesampainya di depan rumah kedua orang tua Nadya sudah menunggu Nadya. Angga makin heran dengan kelakuan mereka. Nadya turun dari mobil dan melambaikan tangan ke arah Angga. Angga langsung menancap gas menuju rumah.


Rumah mereka terlihat sangat sepi. Tidak heran dengan keadaan ini karena ia sudah terbiasa. Orang rumah pasti masih sibuk kerja dan belum pulang rumah. Angga bergegas menuju kamar dan mandi. Sehabis mandi ia duduk di atas kasurnya sambil mengingat kejadian di mana Nadya memeluknya. Ia bahagia karena Nadya menerima dia sebagai pacar. Tiba-tiba Ibunya Nadya menelepon Angga.


“Angga sebentar datang ke rumah yah. Kamu jangan lupa baca surat dari Nadya.” Ucap Ibunya Nadya sambil menangis kemudian mematikan telepon. Angga mulai panik dan mengambil kertas yang diberikan Nadya.


Isi surat itu


Hai Angga Adhitama. Surat ini aku tulis sebelum aku pergi untuk selamanya. Terima kasih yah sudah temenin aku sampai di sini. Makasih juga kamu sudah luangkan waktu buat jagain aku. Jujur aku juga sayang sama kamu. Aku ga mau ninggalin kamu tapi takdir berkata lain. Setelah sebulan aku di rawat di rumah sakit, kata dokter aku ga bisa sembuh lagi. Umur ku cuma bisa bertahan sampai sebulan saja. Gegara penyakit itu syaraf-syaraf di otakku ga bisa berfungsi normal. Terkadang jantungku juga sakit tiba-tiba.


Aku sebenarnya mau kasih tau ke kamu soal kabar ini tapi aku takut kamu malah kepikiran. Jadi aku nulis surat ini aja biar kamu ga syok jika aku ga ada lagi. Aku mau bilang sekali lagi terima kasih. Kamu ga boleh sedih terus kalau aku udah ga ada. Kan masih ada Jorgas sama Satria. Aku bersyukur banget bisa kenal kamu. Pasti sekarang aku udah ga bisa lihat kamu lagi, tapi aku bersyukur karena aku ga sakit lagi. Kamu harus senang yah, aku aja senang bisa ketemu sama Tuhan. Ingat yah kamu jangan lupa berdoa. Satu lagi, kalau kamu sebentar lihat aku udah ga nafas lagi jangan nangis yah, senyum aja kaya biasa. Nadya suka banget liat senyumnya Angga. Senyumnya Angga manis kaya madu. I love you Angga Adhitama.


Setelah membaca itu Angga langsung berlari dengan tangisan. Ia tidak menyangka jika hari ini adalah hari bahagia sekaligus hari paling menyedihkan di hidupnya. Kepergian Nadya seakan begitu cepat bagi dirinya.


Ia masuk ke garasi dan mengambil sepeda. Ia melaju cepat dengan sepeda itu pergi ke rumah Nadya. Sampainya di depan gerbang ia langsung membuang sembarang sepeda itu. Memasuki rumah itu membuat kakinya langsung melemas.


Gadis cantik yang tadi memeluknya sudah tertidur pulas untuk selamanya. Ia tak habis pikir akan nasib buruk yang menimpanya. Mengapa Tuhan begitu jahat kepadanya sehingga mengambil gadisnya untuk selamanya. Mau bagaimana lagi, ia juga tidak sanggup melihat Nadya sakit terus menerus. Ia terus menangis dan menangis.

__ADS_1


Setelah kepergian Nadya, Angga lebih banyak diam dan tidak banyak bicara. Seolah separuh nyawanya juga pergi bersama kepergian Nadya yang begitu cepat.


//flashback off//


__ADS_2