
Sinar matahari menembus jendela yang sengaja di buka gordennya oleh Deffin. Namun itu tetap tidak dapat mengusik tidur istri cantiknya agar bangun, akhirnya dia menusuk nusukkan jarinya di pipi mulus itu.
"Hei bangun, kau semalam yang malu untuk menginap di sini, tapi sekarang sepertinya kau sudah betah berada di sini," omel Deffin yang sedari tadi membangunkan Azkia namun tidak ada respon sama sekali.
Azkia yang sayup-sayup mendengar perkataan Deffin segera membuka matanya.
Oh iya, kita kan berada di rumah Erwin, ngomong-ngomong jam berapa sekarang.
Azkia membelalakkan matanya kaget melihat jam yang menggantung di dinding itu, seharusnya Deffin sudah berangkat ke kantor saat ini.
Lalu dia mendesah lega karena Deffin sudah rapi dengan pakaian kantornya.
"Sayang, kenapa tidak membangunkanku?"
tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Kau yang tidur seperti orang mati," ketusnya.
"Cepat bersihkan dirimu," lanjutnya.
"Baik," jawab Azkia sambil mengerucutkan bibirnya lalu berlalu ke kamar mandi.
Memang gara-gara siapa aku bangun kesiangan, kaubaru membiarkan aku tidur jam tiga pagi.
Sedangkan Deffin terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri setelah kepergian Azkia.
Dia sebenarnya hari ini ingin bermalas-malasan karena masih merindukan Azkia, tidak peduli sama sekali di manapun tempatnya berada.
Tapi semuanya sirna ketika melihat pesan yang dikirimkan Erwin, informasi tentang orang yang menyuruh Ellena adalah mantan sahabatnya ketika sekolah dulu, dan informasi kembalinya dia di negeri ini semakin membuatnya gusar.
"Sayang." panggilan dari Azkia membuyarkan lamunannya.
"Ada apa?" Memandang Azkia yang sudah memakai baju gantinya.
"Ayo cepat bersiap, kita harus berangkat sekarang. Aku ada urusan dengan Roy yang harus cepat di bereskan," lanjutnya.
"Aku mau ikut denganmu pulang, tapi ada syaratnya," ucap Azkia dengan berani.
"Kau jangan aneh-aneh, kausudah tahu aku tidak bersalah, tapi masih mencoba cari keuntungan dengan kejadian kemarin."
Sarkas Deffin.
__ADS_1
"Ya sudah kalau kamu tidak mau menuruti, aku akan beneran kabur," ancamnya.
"Baiklah, apa syaratnya," ucapnya dengan malas, Deffin sangat hafal sikap keras kepala Azkia yang berujung kenekatan.
"Kamu tidak boleh membatasi kebebasanku keluar rumah, dulu kamu janji bebasin aku keluar rumah, tapi baru satu jam keluar ada saja alasan untuk menyuruhku datang ke kantor atau pulang, aku kan kurang puas menghirup udara di luar rumah," ucapnya bersungut-sungut.
"Baik, tapi harus dengan pengawalan lebih ketat," ujar Deffin yang tidak bisa di bantah.
Azkia yang akan mengucapkan kata protes sudah di potong duluan oleh Deffin.
"Jangan protes, aku tidak ingin ada celah seperti kejadian wanita bodoh itu yang berusaha memisahkan kita, aku tidak mau memberikan peluang untuk orang yang menginginkan perpisahan kita," ujarnya dengan lembut berharap Azkia mengerti akan rasa takutnya.
Azkia yang mendengar perkataan Deffin membuat bunga bermekaran di dalam hatinya,
Berarti kau ingin selamanya bersamaku, tapi kenapa kau tidak pernah mengatakan cinta padaku, huh dasar tuan aneh.
"Sudah mengerti, ayo pergi sekarang," ucap Deffin sambil mengulurkan tangannya.
Sedangkan Azkia mengangguk dan tersenyum manis, lalu menerima uluran tangan Deffin, mereka berjalan keluar kamar menuruni tangga. Di bawah tangga sudah ada Erwin yang menunggu mereka dengan wajah masam, dan kurang ajarnya kedua orang itu tidak ada yang mempedulikannya.
Di dalam mobil.
"Erwin, mulai sekarang jika kau memiliki waktu luang, kau yang mengawal Azkia ketika keluar rumah."
Sedangkan Azkia sudah tidak mendengar, karena dia sudah berada dalam alam mimpi.
Setelah mobil sampai di depan kantor Deffin membangun kan Azkia.
"Kia sayang bangun," ucap Deffin lembut.
Azkia yang terusik membuka matanya, "Sudah sampai kantormu," ujarnya dengan suara khas bangun tidur.
Deffin mengangguk, lalu mencium kening Azkia lembut, " Kau kuperbolehkan keluar nanti sore, tapi harus jaga diri baik-baik dan harus sudah di rumah ketika aku pulang."
Azkia mengangguk antusias dengan memberikan senyuman manis, lalu memeluk Deffin sambil menciumi seluruh wajah Deffin sebagai ungkapan terima kasih.
...****************...
Di dalam ruangan Deffin.
"Roy sudah kau dapatkan informasinya."
__ADS_1
"Maaf Tuan Muda, untuk wajah Arnold sekarang saya tidak bisa mendapatkan fotonya, bahkan rumah sakit tempatnya melakukan operasi plastik untuk wajahnya telah menutup rapat informasi ini, saya kira dia sudah merencanakan semua ini dengan matang."
Terdengar Deffin mendengus.
"Tuan muda maaf jika saya lancang, tapi apakah benar nona Azkia adalah peri kecil kalian, jika benar Tuan berarti selangkah lebih maju untuk menghalangi Arnold mendapat informasi tentang nona, perintah Anda untuk menghapus semua informasi dan foto tentang nona setelah seminggu mendapatkan hadiahnya sangat berguna sekarang, Arnold sekarang pasti sangat kesulitan mencari informasi."
Deffin mengangguk mengiyakan perkataan Roy,
sudah Deffin duga kepintaran Roy akhirnya bisa mengetahui siapa Azkia sebenarnya dan sepenting apa bagi ketiga orang pria yang sudah sedari dulu berebut mendapatkan cintanya.
Kedua mantan sahabat itu kini sibuk saling mencari informasi yang mereka butuhkan.
Tanpa sadar campur tangan Tuhan membawa takdir mereka untuk bertemu kembali.
...****************...
Jam menunjukkan pukul satu siang, tidak ingin menikmati waktu keluar hanya sebentar, Azkia mengajak Erwin berangkat sekarang juga.
Hari ini rencananya dia akan menjenguk yayasan tempat tinggal para anak jalanan, rumah milik Azkia dulu lebih tepatnya peninggalan ayah kandungnya, kini menjadi rumah singgah bagi anak jalanan.
Bukan hanya menyediakan tempat tinggal, namun dia juga memberikan fasilitas belajar untuk mereka, dia membayar beberapa guru untuk mengajari anak yang mempunyai keinginan sekolah namun sudah malu untuk belajar di sekolahan.
Bagi yang ingin bekerja, Azkia menempatkan mereka sesuai dengan keinginan mereka, namun anak-anak yang sudah memiliki umur cukup untuk bekerja, mereka lebih banyak memilih bekerja di perkebunan buah milik Deffin dan perkebunan sayur milik Azkia.
Mobil sampai di depan supermarket, sesuai keinginan Azkia jika dia ingin membelikan camilan untuk anak-anaknya, dan dia kini melarang Erwin yang sudah ingin mengikutinya.
"Jika kau bersikeras untuk ikut, aku adukan kepada Deffin kalau kau pernah memapahku, bukankah kaumasih ingat Deffin melarangmu untuk menyentuhku." ancamnya, dia terpaksa mengatakannya agar tidak selalu diikuti, bukankah ini tempat umum tidak mungkin ada orang terang-terangan akan berbuat bahaya, dan dia hanya cuma belanja camilan.
Erwin terpaksa menurut, ancaman dari Deffin akan menjauhkannya dari Azkia yang membuatnya takut.
...****************...
cukup lama Azkia belanja, dan selesai membayar belanjaannya, dia sekarang kerepotan membawa empat kantong kresek besar, dan sialnya ada seorang anak kecil yang berlari menabraknya.
Bruukk..
Belanjaan Azkia terjatuh semua beruntung ada orang asing yang membantunya,
namun siapakah orang asing ini....
Bersambung.
__ADS_1
Bonus untuk kalian,
Karena aku lagi gak mood baca, aku buat nulis saja. semoga menghibur 🤗🤗