
Hari ini adalah hari pertama Azkia akan menjalani pengobatan, di sebuah rumah klinik yang luas yang bukan hanya menjadi tempat pengobatan alternatif, namun juga menyediakan tempat singgah untuk ibu-ibu hamil yang ingin menjalani hidup sehat pada masa kehamilan.
Bukan hanya Deffin dan Azkia saja yang menjadi salah satu pasien yang datang dari luar negeri, banyak pasangan yang bahkan sebelumnya memiliki penyakit yang sama dengan Azkia yang hingga sekarang masih tinggal di sini karena senang menjalani kehamilan dengan aturan yang pastinya membuat ibu dan janinnya selalu sehat.
Setelah disambut dengan ramah oleh pengelola tempat ini, Deffin dan Azkia diantar mengelilingi gedung itu, Azkia dan Deffin mendengarkan dengan seksama penjelasan petugas yang mengantarkan mereka.
Azkia yang tersenyum melihat pasangan manis di depannya membuat Deffin mendengus kesal,
"Jangan lihat mereka! kamu iri dengannya, padahal aku lebih romantis dari dia," ujar Deffin dengan menutup kedua mata Azkia dengan salah satu telapak tangannya, dia tidak rela jika Azkia memandang takjub melihat seorang suami di depannya sedang melakukan hal yang manis kepada istrinya.
Seorang suami yang sedang memijat kaki istrinya setelah menemaninya berjalan-jalan, meski hal sederhana tapi cukup manis bukan?
Di saat sedang menjalani proses kehamilan yang tidak mudah, ada suami yang mendampingi dengan memberikan perhatian lebih.
"Ih, Sayang ... aku tidak terpesona melihat perlakuan suaminya, aku cuma ikut bahagia melihat pasangan itu. Ternyata bukan aku saja yang mendapatkan suami yang pengertian."
"Hei, kamu malah menyamakan aku dengan dia, padahal sudah jelas tentu akulah lebih baik dari dia."
Tidak ingin mendengar Deffin menyombongkan dirinya sendiri lebih lanjut, Azkia segera membungkam mulut Deffin dengan memberikan ciuman di pipi Deffin.
"Maaf ... aku lupa jika hanya kamu suami yang terbaik di dunia ini, dan aku sangat bahagia menjadi istrimu." Melingkarkan tangannya ke lengan Deffin, lalu mereka melanjutkan perjalanan.
Bukan sekedar berjalan-jalan saja, sesekali petugas juga menyuruh Azkia mencoba mengikuti kegiatan kelas hamil yang secara rutin diadakan di klinik itu.
Setelah menjalani pengobatan pertama yang cukup menyita waktu, akhirnya tibalah jam makan siang. Azkia dan Deffin sekarang sedang duduk di tempat yang sudah disediakan, mereka mengobrol sambil menunggu pelayan yang mengantarkan makanan.
"Sayang, aku suka di sini, para ibu hamil di sini dirawat dengan sangat baik." ujar Azkia dengan kepala yang menoleh ke kiri dan ke kanan, dia senang melihat wajah bahagia semua orang yang ada di sini.
" Kalau kamu suka aku akan meminta dua orang perawat yang bekerja di sini untuk bekerja di rumah jika kamu sudah hamil nanti," ujar Deffin enteng.
__ADS_1
"Sayang, yang ku maksud suasana hangat di sini, membuat para ibu hamil sangat nyaman tinggal di sini."
"Jika maksudmu ingin tinggal di sini saat hamil, aku tidak akan pernah mengabulkannya, justru kelak aku akan membuat ruang khusus pemeriksaan saat kamu hamil nanti, aku tidak akan mengizinkanmu datang ke rumah sakit untuk periksa."
"Sayang ... bukankah itu sangat keterlaluan, masa iya ketika hamil aku akan di rumah saja." Azkia cemberut ketika membayangkan dirinya akan terkurung selama masa kehamilan.
"Sesekali kamu boleh keluar, tapi harus denganku," ujar Deffin lembut dengan mengacak rambut Azkia karena gemas melihat bibir yang mengerucut itu.
"Janji ya ...." Deffin mengangguk sebagai jawaban. Lalu tidak lama kemudian pelayan yang bertugas mengantar makanan di klinik itu datang membawa beberapa hidangan.
Setelah para pelayan pergi Azkia yang melihat menu yang pasti membuatnya bosan dengan segera mengeluh, " Sayang, kenapa menu makanan untukku cuma sayuran, kenapa sangat berbeda dengan yang disediakan untukmu." Menunjuk piring yang berisi steak di hadapan Deffin.
"Makanya jangan mempunyai keinginan tinggal di sini lebih lama, lihat mereka semua, makanan yang diberikan kepada mereka juga sama dengan kita, untuk itu kamu sementara ini harus tahan dengan makanan yang disediakan di sini, setelah kamu sembuh kita langsung pulang dan kamu bisa bebas memakan apa yang kamu inginkan."
"Baiklah," ujar Azkia lemah, lalu menyendok kan
"Sayang, ini pahit sekali ... tapi demi aku ingin segera punya anak, aku akan memakan sampai habis sayur obat-obatan ini," ujarnya semangat, meski wajahnya menampakkan ekspresi yang berbeda-beda Azkia tetap menelan sayuran itu.
Deffin yang melihatnya tidak tega, tapi di dalam hatinya masih saja sempat menggerutu dan tersenyum masam. "Huh, kau belum ada saja membuat Kia ku harus berjuang keras seperti itu, awas saja jika kau merebut perhatian Azkia di masa depan, akan ku kirim kau ke sekolah yang sangat jauh," ujar Deffin dalam hati.
...****************...
Malam harinya, setelah kegiatan yang cukup menguras energi, Azkia dan Deffin sedang duduk santai bersandar di ranjang.
"Sayang, ternyata selama ini Elma berada di kota ini, padahal sudah sejak dahulu setelah dirinya tiba-tiba menghilang sebelum pernikahan kita, aku sudah bertanya dia tinggal di mana tapi tidak pernah mau mengaku," ujar Azkia setelah membaca pesan dari Elma.
Deffin yang mendengar cerita Azkia bagaikan disambar petir, dengan segera dia merebut ponsel Azkia, dengan wajah tegang dengan cepat dia menuliskan pesan di ponselnya sendiri.
"Sayang, kamu kenapa? kenapa wajahmu panik seperti itu?"
__ADS_1
"Kia sayang, dengarkan aku. Mulai sekarang jangan berhubungan lagi dengan Elma, ada sesuatu yang tidak beres dengannya, jika sejak dahulu aku tahu Elma ini adalah sahabat lamamu bukan Elma teman kerjamu di hotel, sudah pasti aku melarangmu berhubungan dengannya."
Meski bingung Azkia mengangguk, tapi dia harus bertanya apakah ini ada kaitannya dengan kecemasan Deffin selama ini.
"Sayang, apakah ini yang membuatmu tidak nyaman selama ini?"
Deffin mengangguk, lalu dia memeluk Azkia sangat erat seakan-akan besok Azkia akan pergi jauh.
"Kia, berjanjilah apapun yang terjadi jangan pernah meninggalkanku," ujar Deffin parau menahan Isak tangisnya.
Deffin yang sangat ketakutan membuat tubuhnya sedikit bergetar di pelukan Azkia.
"Sayang ... tenanglah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi," ujar Azkia mantap.
"Sungguh aku sanggup kehilangan semua yang aku milik kecuali kamu, kamu adalah nyawaku. Perginya dirimu sama saja berakhirnya hidupku."
Azkia mengusap punggung Deffin dengan lembut, lalu dengan tenang dia mengatakan,
"Jika memang mengakhiri persahabatan dengan Elma adalah pilihan terbaik untuk hubungan kita, aku akan menurutinya. Kamu boleh membawa HP ku jika kamu khawatir."
Azkia sebenarnya sangat bingung dengan kondisi ini, mungkinkah Elma berkhianat padanya hingga Deffin membuangnya karena takut merusak pernikahannya dengan Deffin.
Tapi seingatnya dia bukan tipe perempuan yang seperti itu, semua yang dilakukannya kepadanya dahulu adalah murni ketulusan dari seorang sahabat.
Sepertinya ada yang disembunyikan Deffin pikir Azkia bermonolog, Azkia hanya berusaha tenang untuk saat ini, dia harus fokus dengan pengobatannya, setelah sembuh dia berencana langsung pulang, dia ingin kehidupan rumah tangganya dengan Deffin selalu tentram.
Sedangkan Deffin yang semakin resah, dalam hatinya berkata, "Sial, aku kira Elma hilang karena masalah pribadi, ternyata lelaki sialan itu yang merencanakannya, dan bodohnya aku selalu tidak mempedulikan orang yang sudah aku buang, padahal cintanya pada Kia tidak pernah main-main. Semoga saja ketiga jomblo itu bisa cepat mengatasi masalah ini."
Bersambung.
__ADS_1