TUAN MUDA POSESIF

TUAN MUDA POSESIF
Ketegangan Di Rumah Sakit.


__ADS_3

Berita pingsannya Azkia membuat heboh seluruh kota ini, ralat bahkan mungkin seluruh negeri ini.


Deffin yang mendapat kabar dari pengawal bahwa Azkia pingsan dan di bawa ke rumah sakit miliknya. Tanpa pikir panjang langsung berlari, bahkan dia tidak mempedulikan penampilannya, piyama tidur masih melekat di tubuhnya, bahkan rambutnya acak-acakan.


Baru teringat belum cuci muka dia langsung menuju dapur untuk cuci muka, kebetulan ada Erwin di sana, dia langsung memberikan perintah.


"Telepon Roy untuk datang ke rumah sakit, dan jangan lupa siapkan anak buahmu juga, mungkin kita akan memerlukannya."


"Memangnya ada apa Tuan?"


"Azkia pingsan ketika bertemu si b******k itu," ujarnya dengan penuh kemarahan sambil berlalu.


Sedangkan Erwin yang mendengar pingsannya Azkia langsung lari dan mendahului Deffin, dia membuka pintu belakang untuk mempersilahkan Deffin masuk, sengaja memilih mobilnya sendiri karena di jok belakang ada berbagai senjata yang selalu dia persiapkan.


Sedangkan Deffin berdecak, "Tidak bisakah hanya aku saja yang khawatir, kaujangan ikut-ikutan," gerutu Deffin kesal.


Di saat seperti ini anda masih sempat-sempatnya berbicara seperti itu tuan. Batin Erwin disertai hembusan napas kasar sambil menggelengkan kepala.


Setelah masuk mobil, dan mulai melajukan kendaraannya, Deffin membuka suara lagi,


"Sudah kau hubungi mereka."


"Sudah Tuan."


"Tunggu aku memberi aba-aba baru melakukan penyerangan, tapi kalau mereka menyerang lebih dulu suruh mereka meladeninya, aku tidak peduli reputasiku, yang penting Kia tetap bersamaku."


"Baik tuan."


Akhirnya mobil sampai di rumah sakit, sesuai dugaannya anak buah Arnold sudah siap berbaris di depan pintu rumah sakit.


Namun tepat di belakang mobil Erwin, para anak buahnya pun sudah sampai.


Terlihat Roy juga sudah sampai lebih dulu dia langsung membukakan pintu untuk Deffin.


Meski suasana cukup mencekam tapi semua nampak masih bisa di kendalikan, sepertinya Arnold juga memberi arahan yang sama seperti Deffin.


Langsung saja Deffin, Roy, Erwin dan beberapa pengawal masuk, meninggalkan dua kubu barisan orang-orang berpakaian serba hitam dan bertubuh kekar itu.


Orang-orang yang melihat nampak begidik ngeri, mereka sama sekali tidak berani mengamati ataupun berbisik-bisik, karena tahu sedang terjadi kehebohan apa di rumah sakit ini, meski tidak tahu secara menyeluruh.


Berbeda dengan anak-anak kecil yang melihatnya takjub, bagaikan melihat film laga secara langsung itu pikir mereka kompak.

__ADS_1


Di depan ruangan Azkia tampak hanya ada beberapa anak buah Arnold dan perawat yang berjaga, berarti pengawal Azkia dan Arnold ada di dalam pikir Deffin.


Dua perawat yang memang diutus dokter pribadi Azkia untuk menyambut kehadiran Deffin segera bangkit dan mendekat ke arah Deffin.


"Tuan, dokter menunggu di dalam menemani nona," ujar salah satu perawat dengan grogi, dia ketakutan melihat Erwin yang membawa pedang kesayangannya, sedangkan Roy yang sudah siap dengan pistol di tangannya.


Tanpa menjawab Deffin langsung berlalu diikuti Roy dan Erwin, sedangkan para pengawal hanya berjaga di depan pintu ruangan Azkia.


Setelah pintu terbuka, dokter perempuan paruh baya itu langsung berdiri, dan ingin menjelaskan sesuatu namun kalah cepat dengan perintah Deffin.


"Kalian semua keluar, kecuali kau b******k," ujar dinya dingin sontak ketiga orang itu keluar, lalu Deffin menatap nyalang Arnold.


Tanpa mengulur waktu Deffin langsung menghajar Arnold, dua kali pukulan sudah membuat wajah Arnold lebam, Arnold sama seperti dulu tidak menghindar karena dirinya juga merasa bersalah.


Penjelasan dari dokter pribadi Azkia menimbulkan rasa penyesalan, akibat kebodohannya Azkia terbaring di rumah sakit lagi.


"Habisi dia sekarang Erwin !!" ujar Deffin keras membuat seseorang di atas ranjang itu ingin segera membuka mata.


"Dengan senang hati Tuan," jawab Erwin dengan senyum devilnya, dia mengayunkan pedangnya ke atas siap untuk menebas leher Arnold.


Sedangkan Arnold sudah pasrah, awalnya dia membawa anak buahnya agar bisa melindunginya, namun mendengar kenyataan yang terjadi pada Azkia membuatnya pasrah, ternyata pikiran buruknya pada Deffin selama ini tidaklah benar, justru dia kini makin merasa bersalah.


"Berhenti..!!!"


Kompak ke empat orang itu menoleh, Deffin langsung berlari mendekat ke ranjang Azkia, dia bahkan langsung memeluk dan menciumi seluruh wajah Azkia.


"Kamu sudah bangun sayang," ujar Deffin dengan senyum bahagia yang tercetak jelas di wajahnya.


Azkia mengangguk dengan tersenyum,


namun suara Erwin merusak suasana itu.


"Hidupmu harus tetap berakhir hari ini Arnold," ujar Erwin yang sudah siap mengayunkan pedangnya lagi.


"Kubilang berhenti chubby, atau aku tidak mau mengenalmu lagi," ancaman Azkia berhasil membuat Erwin menjatuhkan pedangnya.


"Kamu sudah mengingat kami kembali sayang," ujar Deffin sangat senang.


Lagi-lagi Azkia hanya mengangguk, Erwin yang masih tidak percaya ingin memastikannya lagi.


"Benar kamu sudah mengingat semuanya Tuan Putri," ucapan Erwin membuat Deffin melotot tidak terima, dia langsung melempar Erwin dengan buah jeruk yang ada di atas nakas.

__ADS_1


"Hei, kurang ajar sekali kau, tidak lihat ada aku di sini, kaumemanggil istriku dengan sebutan menjijikkan itu," ujar Deffin bersungut-sungut.


"Ayolah Tuan Muda, Anda jangan marah-marah di suasana bahagia ini, itu memang panggilan kesayangan dari saya sejak dulu," ujar Erwin santai menyusul Roy yang sudah duduk di sofa.


Roy langsung duduk ketika melihat Azkia bangun, perasaannya lega karena sepertinya konflik ini akan berakhir. Bagaimana pun juga Arnold dulu adalah teman lnya.


"Azkia, maaf ...." ujar Arnold dengan kepala menunduk, dia malu atas semua kelakuannya.


"Sudahlah yang lalu biarlah berlalu, kamu akan tetap jadi kakak kesayanganku," ujar Azkia dengan senyuman yang tulus.


Ucapan Azkia membuat darah Deffin mendidih.


"Hei, mana bisa kamu mengampuninya semudah ini, kesalahannya terlalu banyak, tidak semudah ini dia bisa diampuni," sarkas Deffin.


"Deffin, kakak tampanku, suamiku, kesayanganku, benar kata chubby kamu jangan marah-marah di saat bahagia ini, aku sudah mengingat semuanya, kejadian dulu diakibatkan kesalahpahaman, jadi kumohon lupakan kejadian yang telah berlalu," tutur Azkia lembut.


Panggilan penuh cinta dari Azkia membuat kemarahan Deffin luntur untuk sekarang, mungkin dia mengampuni Arnold hari ini. Namun sifat menyebalkan Deffin tidak akan pernah hilang.


"Hei, kalian kenapa tetap ada disini, cepat pergi ...!!" usir Deffin. "Kalian hanya akan jadi pengganggu disini," lanjutnya.


Mereka hanya mendengus, namun menuruti perintah Deffin. Sedangkan Azkia menatap horor Deffin.


"Sayang, kenapa kamu mengusir mereka?!"


"Aku harus menghukum istri nakalku ini, bisa-bisanya membuat suaminya kalang kabut.


Berani-beraninya meninggalkanku di saat sedang tidur," ujar Deffin yang tangan dan bibirnya sudah bergerilya di mana-mana.


"Sayang, bagaimana nanti kalau ada yang masuk," ujar Azkia mencoba menghentikan keinginan Deffin.


"Tidak akan ada yang berani masuk kesini." Deffin tersenyum ketika mendengar Azkia mendesah.


"Sayang, kamu bau belum mandi." Azkia tetap kekeuh dalam usahanya.


"Kalau begitu kita lakukan sambil mandi," ujar Deffin sambil menggendong Azkia menuju kamar mandi.


Azkia sudah menyerah, dia tidak akan bisa menghalangi niat Deffin untuk yang satu ini,


Kenapa kakak tampanku mesum sekali..


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2