
Di sinilah dia tumbuh, Rumah mewah di tengah perkebunan buah yang luas, rumah yang seharusnya sepi karena tanah ribuan hektar ini milik kakek Deffin, tapi banyak macam-macam mobil yang melewati kawasan ini, bukan untuk berbisnis tentang buah, namun surga dunia yang dicari.
Rumah mewah berlantai tiga ini memiliki larangan, haram untuk menginjakkan kaki di lantai tiga termasuk kakek Deffin sang pemilik rumah. Yang boleh menaikinya hanya Deffin sang pemilik kamar, bik Mur sang kepala pelayan, dan nenek Deffin ketika dia masih mengasuh Deffin kecil.
Jadi hanya bik Mur yang membersihkan seluruh lantai tiga dan dia juga yang mengantar makanan Deffin karena sekalipun Deffin tidak pernah menginjakkan kaki di bawah terutama lantai dua, hanya ada 2 ruangan dan kolam renang, satu ruangan kamar Deffin, satunya lagi tempat olahraga yang memiliki fasilitas lengkap.
Lantai dua adalah kekuasaan kakek dan wanita penghiburnya, bukan hanya satu atau dua wanita penghibur namun sekitar dua puluhan lebih yang menghuni rumah itu, dan lantai satu adalah tempat untuk memuaskan para mafia yang di bawah kendali kakek Deffin.
Deffin sejak kecil meminta dibuatkan lift, karena tidak mau melihat adegan menjijikkan yang dilakukan kakek dan para mafianya.
Dia waktu kecil sebenarnya dulu lelaki normal, biasa ketika dekat dengan wanita, tidak merasa mual, namun dia sudah jijik melihat para wanita milik kakeknya, maka dari itu jika di rumah dia tidak pernah turun, semua yang di perlukan harus bik mur yang melayani.
Sampai suatu ketika tragedi itu terjadi, ketika dia kelas tiga SMA, hari di mana awal mula dia memiliki rasa mual dekat dengan wanita, bisa dikatakan dia sangat benci hari itu.
Pagi hari.
Pintu lift yang berada di ruang tamu, mengharuskan Deffin melewati ruang itu untuk berangkat sekolah, tidak seperti biasanya sang kakek sudah dihibur dua wanita di sofa di jam Deffin turun. Suara desahan menjijikkan bersautan menggema di seluruh ruang tamu itu mengusik pendengaran Deffin.
Prankk..
Suara vas di atas nakas dibanting di lantai sebelah tiga orang itu. Dengan terpaksa kakek menarik jari yang berada di liang surgawi wanita muda tersebut, dan wanita yang beberapa tahun lebih tua itu menarik wajah dari s******* sang kakek.
"Apakah kau sengaja?! apa ingin aku bakar rumah ini !!!" geram nya.
Sudah pernah ada kesepakatan dengan kakek di jam naik dan turunnya Deffin, tidak akan ada aktivitas menjijikkan di ruang tamu, entah mengapa kakeknya melanggar itu.
Sang kakek menaikkan resleting celana dengan santai.
__ADS_1
"Maaf, kakek sudah tidak kuat lagi menahan ketika melihat bidadari baru ini." Merangkul wanita muda yang usianya sebaya dengan Deffin, mengecup pipinya. "Bos mafia kota xx yang mengantarnya, katanya baru di sentuh 2x jadi agak sempit, dan dia sangat pandai di ranjang jadi kakek uji coba hehe," kekehnya tidak peduli raut wajah cucunya yang marah.
"Persetan," jawabannya lalu melangkah keluar menuju mobil yang sudah terparkir.
Deffin mengendarai mobil mewahnya, memacunya di atas rata-rata. Dia menuju sekolah elit milik kakeknya.
Di sekolah Deffin juga tetap bersikap dingin, tidak ada wanita yang berani mendekat, pernah ada temannya yang centil mencoba merayunya, ketika itu tiba-tiba menggelayut manja di lengan Deffin, dengan cepat dia memelintir tangannya hingga patah, sejak kejadian itu hanya ada dua anak laki-laki yang berani mendekat jadi teman Deffin, yang lainnya memilih menghindar, calon sekretaris Deffin yaitu Roy dan Arnold anak seorang mafia penguasa negeri ini yang setiap hari menempel padanya.
*****
Di rumah.
"Apa yang kau lakukan di sana, bukankah sudah kuberi tahu jika jam pergi dan pulang sekolah Deffin, tidak ada satu pun jalang yang boleh ada di ruang tamu," ucap kakek ketika melihat wanita penghibur muda tadi duduk dengan santainya di sofa ruang tamu.
"Maaf Tuan." Langsung berdiri.
kakek mendekat.
"Dengan senang hati Tuan," ucapnya tersenyum manis lalu menaiki tangga menuju kamar Deffin. Dia sudah siap dengan posisinya hendak menggoda Deffin di atas ranjang.
Tidak lama kemudian terdengar kenop diputar, Deffin pulang dengan tas dan dasi yang langsung di lemparkan ke kursi, belum menyadari ada orang lain di kamar itu yang akan meledakkan amarahnya.
"Hay boy, sudah pulang ..." sapa wanita seumuran Deffin dengan nada menggoda.
Deffin yang mendengar itu langsung mengumpat, dengan cepat memandang tajam wanita itu.
"Apa yang kau lakukan di sini jalang," desisnya.
__ADS_1
"Cepat pergi sebelum aku benar-benar marah."
Wanita itu tidak menggubris peringatan Deffin dengan beraninya dia malah mendekat, sekarang jaraknya tidak kurang dari satu meter.
"Cepat pergi sebelum aku lenyapkan dirimu!!!" teriaknya terdengar sampai ke lantai bawah, karena pintu yang belum sempat tertutup.
Yang di bawah langsung berkumpul dan mendongak ke atas, mendengar tuan muda berteriak marah.
Sang wanita tetap dengan percaya dirinya kalau Deffin tidak akan sampai melakukan hal buruk, mungkin sekarang dia lagi jual mahal karena tadi sudah dipakai kakeknya.
Tangan Deffin sudah mengepal erat sampai baku jarinya memutih. "Sekali lagi mendekat akan kulemparkan kau kebawah!!!".
Sang wanita tetap tak mengindahkannya bahkan jemarinya meraba dada bidang Deffin hingga turun kebawah membelai perut sixpack itu. Tidak cuma itu bibirnya membisikkan "Let's play baby." Di telinga Deffin.
Jiwa iblis yang tertidur lama itu bangkit, mata merah itu menyala bagaikan kobaran api. dengan cepat dia mencekik leher wanita itu, mendorongnya sampai besi pembatas, terlihat orang di bawah menatap ngeri kejadian itu, Deffin langsung mengangkat tubuh itu dan melemparkannya ke bawah begitu saja.
Tanpa menunggu atau menatap ke bawah, Deffin langsung masuk kamar tiba-tiba dia merasakan mual hebat setelah agak lama menahan ketika wanita itu menyentuh tubuhnya tadi, dia memuntahkan semua isi perutnya karena mencium bau wanita itu yang masih tertinggal. Setelah membersihkan diri dia membereskan keperluannya. Lalu turun menggunakan lift, sudah ada kakek menunggu di bawah.
"Masih ingat perjanjiannya kan, Pak tua?! kalau ada orang lain yang menginjakkan kaki di lantai tiga, aku tidak sudi lagi tinggal di sini." Menatap tajam kakek, lalu beralih ke bik Mur yang sudah membawa tas jinjing lumayan besar miliknya.
"Ayo Bik Mur ikut aku, dan kedepannya Bik Mur saja yang sekali kali menengok Pak tua bangka ini, sebagai ucapan terima kasih sudah merawatku sampai saat ini." Lalu dia melenggang pergi yang di ikuti bik Mur di belakangnya.
Sedangkan kakek hanya tersenyum, meskipun Deffin lebih kejam darinya dia tetap mewarisi kebaikan hati ibu dan neneknya, buktinya omongan terakhirnya tadi.
Dan semenjak itulah Deffin terakhir kali tinggal bersama kakeknya, lalu dia membeli rumah yang sampai saat ini di tempati. Setelah meninggalnya kakek rumah kakeknya di ratakan dengan tanah, dan sekarang di tanami buah seperti sekitarnya.
Dan mulai hari itu dia tidak bisa berdekatan dengan wanita, hanya dengan bik Mur dia tidak merasa mual, mungkin karena dia yang merawatnya sejak kecil, rumor yang beredar Deffin membenci wanita karena di anggapnya semua jalang, maka dia tidak terlihat dekat dengan siapapun, paling dekat tubuh mereka harus berjarak satu meter, apalagi sampai berani menyentuh maka para pengawal langsung mematahkan tangannya.
__ADS_1
Sampai akhirnya takdir mempertemukannya lagi dengan gadis itu, harum tubuh gadis itu bagaikan obatnya, pertemuan pertama kali yang bisa menggetarkan dadanya. Dan detik itu juga dia tidak akan pernah melepaskan wanita itu.
Bersambung.