
Pagi ini Deffin dan Azkia sarapan seperti biasanya, namun saat ini Azkia sedang mencuri pandang kearah Erwin yang sedang menata makanan, ada rasa yang tidak nyaman setelah semalam dia melihat Erwin terlihat sedang sedih sendirian di taman samping rumah.
Selama ini Erwin sering membantuku, dan beberapa kali menyelamatkan nyawaku. Tapi aku tidak pernah bisa menghiburnya karena keposesifan deffin, mungkin dengan mengucapkan terima kasih bisa menghiburnya.
Sedikit terkekeh dalam hati, tapi ide konyolnya diucapkan saja, karena terkadang ungkapan sederhana dari seseorang yang dicintai bisa mempengaruhi mood.
"Terima kasih Erwin," ujar Azkia dengan senyuman manis, setelah Erwin selesai menghidangkan menu sarapan.
Erwin hanya mengangguk sopan, bibirnya tetap tertutup rapat, namun awan mendung di wajahnya mulai tersibak.
Deffin yang mendengar ucapan terima kasih Azkia tidak terima, entah mengapa rasa kesal ketika Azkia berbicara dengan laki-laki lain semakin bertambah.
"Makan!" ujar Deffin ketus sambil menyodorkan suapan satu sendok penuh nasi goreng di depan mulut Azkia.
"Biar kamu tidak banyak bicara," lanjutnya lagi dengan nada yang masih sama.
Terpaksa Azkia menurut, terlalu takut melihat sorot mata tajam Deffin, Azkia bisa habis di sini jika tidak menuruti perintahnya.
Biasanya Erwin akan mencibir tuan mudanya, namun tidak saat ini dia langsung pergi setelah membungkukkan badan sopan.
Setelah menelan suapan dari Deffin dengan susah payah, Azkia dengan hati-hati mengucapkan kata yang ada di dalam benaknya.
"Sayang, kenapa Erwin berbeda dari biasanya?"
Deffin tidak menjawab dia malah menyodorkan suapan yang besar lagi, dan Azkia dengan terpaksa membuka mulutnya lagi.
"Habiskan dulu makananmu baru bicara."
Azkia mengangguk mengerti, dengan patuh dia menghabiskan makanannya terlebih dahulu.
Setelah mereka berdua menghabiskan
makanan, Azkia yang belum puas mendapatkan jawaban mempertanyakan lagi ketika mengantar Deffin menuju mobil untuk berangkat ke kantor.
"Sayang, kamu tadi belum menjawab pertanyaanku."
Terdengar Deffin mendengus, tapi dia langsung menjawab, "Hari ini hari kematian kedua orang tuanya."
Azkia terkejut lalu mengangguk mengerti.
"Setelah mendengar ini awas jika kamu kasih dia perhatian," ujar Deffin memperingatkan. "Nanti sore kita akan mengunjungi makam paman dan bibi."
__ADS_1
Azkia hanya tersenyum kikuk sambil mengangguk, lalu Deffin mencium keningnya dan segera masuk mobil. Setelah kepergian Deffin Azkia kembali masuk ke rumah, terlihat Erwin seperti mau pergi, karena sudah mengganti seragam pelayannya.
"Kamu mau kemana Erwin?"
"Ingin pulang sebentar, nanti malam aku akan kembali." Jawab Erwin tanpa memandang wajah Azkia, dia sedang menyembunyikan kesedihannya. Erwin mulai melangkahkan kakinya, namun suara Azkia memberhentikan langkahnya.
"Erwin terima kasih untuk semuanya, maaf aku tidak pernah ada saat kamu sedang sedih seperti ini, aku memang bukan sahabat yang baik buatmu, padahal kamu selalu ada untukku," ujar Azkia dengan menundukkan kepalanya, dia malu jika mengingat semua kebaikan Erwin.
"Kamu ini bicara apa, aku suka menolongmu, melihat senyummu saja adalah bayaran yang setimpal, jadi teruslah tersenyum jika ingin melihatku bahagia." Erwin berucap jujur dengan tersenyum tulus.
Azkia malah semakin tidak enak hati mendengar nya, Andaikan saja Deffin tidak terlalu posesif.
"Tuan Putri, sebenarnya sudah lama aku menginginkan ini darimu, tapi aku tahu kalau kau tidak mungkin bisa memenuhinya," ujarnya lemah, padahal keinginannya hanya sederhana saja.
"Apa?" tanya Azkia takut. Jangan aneh-aneh batinnya.
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu sehari bersamamu di tempat biasanya kita bertemu dulu," ujar Erwin dengan menatap lurus iris mata Azkia. Pandangannya menyiratkan bahwa ingin sekali Azkia bisa mengabulkan permintaannya.
"Kamu jangan aneh-aneh Erwin, kamu sendiri tahu bagaimana Deffin, dia tidak mungkin mengijinkan aku pergi denganmu, apalagi tujuannya tempat masa kecil kita dulu."
"Deffin tidak akan bisa melarang kedekatan kita, karena itu sudah menjadi janjinya, dan dia tidak bisa menolak jika ku yang meminta bersama denganku," ujar Erwin egois, dia ingin sekali ini saja egois, dan membalas kelakuan menyebalkan Deffin tentunya.
"Kumohon hanya sekali ini saja, mungkin aku benar-benar bisa melepaskan rasa ini setelahnya."
Azkia melihat keseriusan di sorot mata Erwin, Azkia mengangguk meski ragu, dia nanti akan meminta izin pada Deffin dengan jujur, mungkin dengan ini bisa melepaskan jeratan cinta yang membelenggu Erwin selama ini.
...****************...
Malam hari.
Saat ini Azkia sedang berada di kamar dengan Deffin, Azkia menceritakan semua pembicaraannya dengan Erwin pagi tadi, terlihat Deffin menahan kemarahan namun dia hanya bisa membuang napas kesal.
"Baiklah, aku akan mengizinkan kalian pergi tapi ...." Deffin tersenyum devil membuat Azkia merasa akan ada yang mengerikan di kalimat selanjutnya.
"Kamu harus menciumku setiap menyelesaikan satu kalimat ketika kita bicara dengan Erwin."
Azkia yang akan protes sudah di potong Deffin duluan.
"Tidak ada penolakan jika tidak mau izin yang aku berikan dibatalkan."
Azkia hanya mencebikkan bibirnya, namun mengangguk setuju. Sedangkan Deffin menyeringai dalam hati.
__ADS_1
Kaukira aku tidak tahu kalau kausedang membalas perbuatanku yang selalu pamer kemesraanku dengan Azkia di depanmu, akan kubuat kaukesal juga malam ini, jadi kita impas.
Di ruang kerja.
Deffin yang sedang memangku Azkia dengan tangan Azkia yang sudah bergelayut manja di leher Deffin, posisi ini sudah dimulai dari sebelum Erwin masuk di ruang kerja Deffin.
Erwin yang sudah mulai masuk ke ruangan ini entah mengapa merasa suasananya menjadi panas, padahal suhu ruangan ini sangat sejuk.
Dan melihat pemandangan Azkia dan Deffin bukan hanya membuat matanya panas, tapi hatinya juga terasa terbakar.
Namun demi mendapatkan apa yang dia inginkan dia harus ekstra sabar, atau semua mimpinya akan kacau.
"Kausudah datang Erwin."
Ujar Deffin dengan tersenyum, dia sangat senang melihat Azkia mendekatkan wajahnya, dia sangat siap menerima ciuman dari Azkia.
Dengan perasaan sangat malu bahkan pipinya sudah semerah tomat, namun Azkia tetap harus menjalankan tugasnya, mungkin dia akan lebih baik diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun malam ini, agar hal memalukan ini cepat berakhir.
Sedangkan Erwin sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Azkia, dan itu diketahui oleh Deffin, Deffin semakin tergelak dalam hati ketika melihat Erwin mengepalkan tangannya geram.
Lihat sampai mana kaumampu bertahan agar impianmu bisa terwujud. Deffin.
Anda boleh senang sekarang, besok adalah giliran saya untuk senang seharian. Erwin.
Kenapa mereka seperti memanfaatkan orang tidak tega an sepertiku ini ya, sungguh rumit kisah cinta ini. Ujar Azkia dalam hati.
Azkia kira dengan dia diam membuat hal sangat aneh ini cepat selesai, namun dia salah Deffin dengan liciknya membuat keanehan ini berlangsung lama, setelah menyelesaikan kalimat bahwa dia mengijinkan mereka besok keluar, Deffin tidak membiarkan Azkia menyudahi ciumannya hingga napas Azkia tersengal.
Dengan napas terengah-engah karena gairahnya sudah sampai di ubun-ubun kepalanya, Deffin menyeringai melihat Erwin yang tetap diam karena Erwin mengira masih ada yang ingin dikatakan Deffin sebab Deffin belum menyuruhnya pergi, dengan tega Deffin mengatakan, "Apa kau ingin melihat kami b**c***a juga?!" ujar Deffin dengan seringai menyebalkan.
Dengan hati yang sudah meradang Erwin melangkah keluar ruangan tanpa membungkukkan badan.
Lalu mereka malam itu menyelesaikan urusan masing-masing, dengan suasana hati yang berbeda-beda.
Bersambung.
Ada yang kesal dengan bab ini?
semoga besok tidak lebih mengesalkan.
Terima kasih atas segala dukungan 🙏😘
__ADS_1