TUAN MUDA POSESIF

TUAN MUDA POSESIF
Kenangan Arnold.


__ADS_3

Suasana ruang rawat inap VVIP itu menjadi hening seketika, lalu suara sang pasien itu memecah keheningan tersebut.


"Cepat suntik aku." Perintah nya kepada para ahli kesehatan dengan nada datar.


Namun mata nya masih lekat memandang wajah cantik Azkia.


Hingga jarum suntik yang terlihat menakutkan bagi nya itu tidak terasa ketika menusuk kulit lengan nya.


Azkia juga memasang wajah datar namun dalam hati dia merasa kikuk, tingkah konyolnya yang tiba-tiba masuk di ruang rawat seorang pasien asing membuat nya menahan rasa malu.


"Lain kali jangan bikin drama, anda mengganggu ketenangan pasien yang lain, permisi."


ucap nya datar, untuk menutupi perasaan malu nya. Azkia lalu melangkah keluar dari ruangan itu dan tidak lupa menutup pintu tersebut.


Setelah lelaki itu mengusir dokter dan para perawat, lalu dia berbicara kepada tangan kanan nya.


""Evan,"


"Iya tuan muda, apakah anda mau saya membalas tingkah kurang ajar wanita tadi."


Tangan kanan nya mencoba menebak keinginan tuan muda nya.


"Tidak!! kau jangan sok tahu apa yang aku pikirkan." Ucap nya marah sambil melempar buah jeruk yang berada di atas nakas sebelah ranjang nya, yang dengan sigap di tangkap Evan.


"Maaf tuan muda." Sahut Evan dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kau cari informasi tentang dia, seperti nya dia bukan wanita sembarangan, dan kejadian tadi mengingatkan ku pada pertemuan pertama ku dengan peri kecil ku." Setelah mengucapkan kata itu, mata Arnold menerawang jauh di langit langit kamar rawat VVIP tersebut.


Setelah sang tangan kanan pamit, dia mengingat kenangan yang bagi nya sangat indah, yaitu pertemuan awal dengan peri kecil nya.


...****************...


Beberapa tahun yang lalu.


Seseorang anak laki-laki yang masih belajar di bangku SMA kelas satu itu sedang berada di rumah sakit, sudah dua hari dia sakit dan di rawat di sini, dia paling susah untuk di suntik, entah mengapa bagi nya jarum kecil itu sangat menakutkan dari pada pisau.


Hari ini sudah siang, empat perawat dan satu dokter sudah kewalahan membujuk anak tersebut untuk mau di suntik.


"Hei bodoh, lepaskan aku, kalian ini benar-benar bodoh ya, cepat lepas kan aku !!" Teriak nya sambil meronta-ronta mencoba membebaskan diri dari cekalan tangan para perawat yang sedang memegangi masing-masing tangan dan kaki nya.


"Maaf tuan Arnold kami terpaksa melakukan ini." jawab sang dokter dengan sopan, mereka tahu yang sedang mereka rawat adalah sahabat dari cucu pemilik rumah sakit ini, dan ayah anak ini adalah ketua mafia yang jelas membuat nyali mereka menciut.


Tapi kemudian tiba-tiba,

__ADS_1


Braakkk..


Suara pintu di tendang dengan keras,


menampilkan seorang gadis kecil yang menggunakan seragam SMP.


Baju yang dia pakai terlihat kotor seperti habis jatuh, ada luka yang sudah di obati di kening, tangan dan dua lutut nya, wajah nya juga terlihat sembab habis menangis. Namun penampilan yang kacau itu tidak bisa sedikit pun menutupi wajah imut nya.


"Hei, kau ini sudah besar, hanya mau di suntik saja berteriak seperti itu, kau yang bodoh bukan mereka, dasar kekanakan." Cibir gadis kecil itu.


Tidak ada yang menjawab, dan Arnold hanya memandang tajam gadis kecil itu.


"Kau kira hanya kau yang sedang sakit, jangan bikin drama, kau sangat mengganggu ketenangan pasien lain." ujar nya lalu berlalu tanpa permisi.


Tanpa ada drama lagi Arnold hanya meringis saat di suntik, dia sebenarnya sangat kesal karena ada gadis kecil yang berani kurang ajar memalukan nya di depan para petugas medis ini.


Namun melihat penampilan kacau gadis itu, dan sorot mata yang tersirat penuh luka yang sedang di alami membuat Arnold merasa prihatin.


Terbesit rasa penasaran tentang apa yang sedang di alami gadis itu, tapi buru-buru dia menepis rasa itu.


Efek obat yang di berikan membuat nya akhirnya jatuh ke alam mimpi.


Keesokan harinya Arnold sudah merasa baikan, dia sekarang sedang berjalan jalan di taman rumah sakit, hanya untuk mengusir rasa bosan nya, karena baru besok pagi dia di ijinkan pulang.


Gadis itu sedang menunduk seperti nya sedang menangis.


Kesempatan bagus gumam Arnold melangkah mendekati gadis itu, dia akan membalas ejekan yang membuat nya malu kemarin.


"Huh, ku kira kemarin kau orang yang kuat, ternyata sama saja, Tukang nangis." cibir nya.


"Aku memang kuat, tapi hati ku tidak sekeras batu jika mengetahui ibu ku sedang kritis, bahkan dokter sudah menyerah, hati anak mana yang tidak sakit mendengar berita buruk itu." Sarkas nya.


Arnold yang mendengar merasa bersalah,


"Maaf.." Cicitnya. "Memang apa yang sedang terjadi?" Tanya nya dengan duduk di samping Gadis itu.


"Kemarin kami mengalami kecelakaan, rem mobil kami blong, kemarin ibu menjemput ku pulang sekolah, rencana nya kami akan makan siang bersama di restoran langganan kami, tapi tiba-tiba...hiks..hiks.."


Gadis kecil itu tidak dapat meneruskan ceritanya, bayangan kemarin melintas di ingatan nya.


Sang ibu yang mengetahui rem mobil nya blong panik, beruntung dia memacu dengan kecepatan sedang, hanya ada satu cara yang bisa di lakukan nya, yaitu menyelamatkan sang putri semata wayangnya agar selamat dari kecelakaan ini.


Dengan segera menepikan mobilnya, membuka pintu di samping tempat duduk anaknya, dan menyuruh sang anak meloncat, dia yang merasa lega sudah mengeluarkan sang anak yang akhirnya meski mengalami luka lecet, terkejut ada truk besar yang berada di depan nya, tanpa pikir panjang dia membanting setir ke kiri, dan kecelakaan itu tidak bisa di hindari, naas mobil itu menghantam tiang listrik. Dan Tuhan membuat nyawa beliau sekarang berada di ujung tanduk.

__ADS_1


"Hei, sudah jangan menangis, semua akan baik-baik saja, kau memang gadis yang kuat, jadi jangan menangis lagi, pipi mu makin tembem kalau sedang menangis." Ucap Arnold mencoba menghibur.


"Menyebalkan." Ucap sang gadis sambil memukul lengan Arnold, namun kata-kata Arnold memang ampuh membuat dia berhenti menangis, dengan sedikit senyum dia menghapus air mata nya.


"Siapa nama mu?" Tanya Arnold.


"Panggil saja aku peri kecil." Ucap nya dengan senyuman manis yang membuat Arnold terpana melihatnya.


"Peri kecil." Ucap Arnold memastikan.


"Iya, peri kecil. Kakak tampan ku yang memberikan panggilan itu, dan aku suka dengan panggilan itu." Ucap nya riang dengan membayangkan wajah kakak tampan nya.


Tiba-tiba dari arah belakang ada seorang laki-laki yang memanggil,


"Peri kecil." Teriak laki-laki dari arah belakang.


Kompak Arnold dan sang gadis menoleh.


"Dia kakak tampan ku, tampan sekali bukan."


Puji sang gadis.


...****************...


Drrrtt... drrtt....


Dering ponsel milik Arnold membuyarkan kenangan masa lalu nya.


"Hallo Van, ada apa?" Tanya nya setelah mengangkat telepon dari Evan.


"Maaf tuan muda kami kesulitan mencari informasi wanita tadi." ucap Evan.


"Aku tidak mau tahu kalian harus mendapatkan informasi nya, meski nyawa kalian taruhan nya."


Ucap Arnold keras kepala.


"Baik tuan muda."


Setelah itu telepon itu berakhir.


Arnold yang masih menggenggam ponsel nya bergumam,


Mungkin kah kamu peri kecil ku....

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2