
Jingga mulai menampakkan keindahannya, Azkia dan Deffin baru selesai mandi, dengan
telaten Deffin memakaikan baju Azkia, sedangkan dirinya masih menggunakan jubah mandi.
"Aku akan mengeringkan rambutmu setelah aku berganti pakaian," ujar Deffin lembut sambil sedikit tergelak melihat wajah cemberut Azkia.
Setelah mengucapkan itu Deffin menggendong Azkia, dengan pelan dia merebahkan tubuh Azkia, membenarkan posisinya agar bisa bersandar di ranjang dengan nyaman.
Huh, badanku benar-benar remuk, bagaimana bisa dia sekuat itu, seolah tenaganya tidak bisa habis, Aaa ... aku ingin pijat ....
Ujar Azkia dalam hati.
Tidak lama kemudian Deffin keluar dari ruangan walk in closet dengan baju santainya, dia tidak bisa berhenti tersenyum melihat wajah kesal Azkia.
Sesuai perkataannya, dia mengeringkan rambut Azkia dengan handuk, dan sesekali memberi pijatan lembut di kepala Azkia berharap perasaan kesal sang istri bisa hilang.
"Sayang, kamu kok masih cemberut sih, maaf ... habisnya aku susah mengendalikan diriku saat bersamamu. Baiklah, sebagai permintaan maafku, besok akan kuturuti apa saja yang kamu inginkan."
Seketika mata Azkia berbinar mendapatkan tawaran dari Deffin, dengan antusias dia memandang wajah Deffin.
"Jangan cuma besok, tapi lusa juga. Kamu tahu gara-gara kamu aku nyaris pingsan. Dan sekarang aku lapar, tega sekali kamu tidak kasih makan siang buat istrimu, kamu benar-benar keterlaluan, sebab untuk turun dari ranjang saja aku kesusahan," omel Azkia panjang kali lebar.
Azkia benar-benar kesal, dari setelah mereka bercerita hingga fajar menyingsing Deffin tidak mau menyudahi aktivitas panas mereka, Deffin hanya memberi waktu sejenak untuk beristirahat, bahkan saking sempitnya waktu yang di berikan membuat mereka melewatkan makan siang.
Azkia nyaris pingsan jika Deffin tidak memberhentikan aksinya, meski dilanda rasa bersalah namun bukan Deffin namanya jika tidak merealisasikan ancaman yang di ucapkan hatinya kemarin.
Melihat wajah takjub Azkia ketika dirinya menceritakan tentang Erwin, membuat darahnya mendidih. Alhasil Azkia benar-benar kelelahan hari ini.
"Baik akan kusuruh Erwin mengantarkan makan malam kita," ujarnya dengan seringai yang disembunyikan dari Azkia.
"heem," jawab Azkia lemah.
Deffin langsung saja menelpon sambungan yang menuju dapur. Lima belas menit kemudian pintu terdengar diketuk, Ada Erwin dan pelayan wanita yang membantunya mengantar makan malam ke kamar.
"Maaf Erwin, aku membuat Azkia kelelahan hingga tidak bisa makan malam di bawah," ujar Deffin setelah pelayan wanita itu pergi.
"Tidak apa tuan, saya cukup mengerti," balas Erwin tenang, namun dalam hatinya dia sedang menyeringai.
Azkia yang mendengar perkataan konyol Deffin, ingin memukul kepala suaminya dengan bantal yang sedang di pegangnya erat.
__ADS_1
Bagaimana bisa Deffin membuatnya malu, tidak habis pikir, apa yang sedang dipikirkan suaminya itu.
"Kamu ini sedang pamer, atau hanya membuatku malu, bisa-bisanya kamu mengucapkan hal konyol seperti itu," ujar Azkia dalam hati.
Sedangkan Deffin yang melihat raut wajah kesal Erwin yang berusaha dia tutupi, Deffin sangat terhibur dan tergelak dalam hati.
Setelah Erwin pamit, Deffin mengambilkan makanan untuk Azkia. Azkia yang tangannya sudah gatal, segera dia mencubit paha Deffin hingga empunya meringis kesakitan, beruntung piring yang di pegang nya tidak jatuh karena terkejut dengan apa yang di lakukan Azkia.
"Kamu ini membuatku malu."
"Maaf, habisnya yang aku ceritakan tadi pagi membuatku kesal sendiri, dan aku tidak akan puas jika belum membalas Erwin."
"Dasar," ujar Azkia jengkel sambil mengepalkan tangan, seolah hendak memukul Deffin.
"Sudah jangan marah lagi, aku akan menyuapimu sambil bercerita tentang asal mula panggilan peri kecil sesuai yang kamu inginkan pada waktu kita mandi tadi."
"Baiklah, cepat ceritakan," ujar Azkia masih setengah kesal.
...****************...
Sudah lebih dari seminggu sejak pertama kali bertemu, Azkia yang waktu itu menyelamatkan Deffin dari pengeroyokan siswa sekolah lain, dan berakhir meninggalkan kesan yang sangat mengesalkan bagi Azkia, karena dia dipanggil pendek dari orang yang sudah ditolongnya.
"Hei, sudah kubilang jangan ngikutin aku terus, kamu kan lelaki main sana sama anak lelaki, dasar nyebelin," ujar Azkia galak.
Sedangkan Deffin tetap cuek, dia tetap membuntuti Azkia di manapun arah kakinya melangkah.
"Hei pendek, sudah kubilang jangan main sama tiga anak itu, mereka bukan anak yang baik," tegur Deffin ketika arah kaki Azkia menuju tiga anak perempuan SD yang nakal itu.
Sontak Azkia berhenti dan menoleh, wajahnya terlihat sangat kesal.
"Jangan panggil aku pendek, namaku Azkia. Aku masih SD tentu saja tinggiku masih segini, Lagi pula anak lainnya sedang tidur siang, hanya mereka yang masih bermain."
Deffin hanya menanggapi perkataan Azkia dengan mengangkat kedua bahunya, dia tidak menjawab langsung memilih duduk di bawah pohon yang juga cukup dekat dengan kolam renang itu.
Deffin hanya akan mengawasi Azkia dari situ, sungguh ada perasaan tidak enak yang menyelingkupi hatinya melihat Azkia akan bermain dengan anak nakal itu.
Tidak lama kemudian akhirnya perasaan tidak enak itu terjawab juga, salah satu dari mereka ada yang sengaja mendorong Azkia hingga jatuh ke kolam renang tersebut.
Dengan segera Deffin berlari dan menyelamatkan Azkia, Azkia yang tidak bisa berenang nyaris tenggelam.
__ADS_1
Ibu panti dan ibu Azkia juga lari dengan tergopoh-gopoh begitu juga dengan anak yang bermain di sekitar mereka.
Beruntung air yang masuk tidak terlalu banyak dan Deffin berhasil mengeluarkannya.
Azkia yang sadar langsung menangis
menghambur memeluk ibunya.
Setelah kejadian itu tiga anak itu langsung dipindahkan ke panti lain bahkan Deffin menyuruh kakeknya agar memindahkan mereka keluar negeri.
Esok harinya Azkia yang sudah tenang sekarang sedang duduk berdua bersama Deffin.
"Makanya jadi anak jangan keras kepala, dasar pendek."
Azkia menatap sebal mendengar panggilan dari Deffin. tapi kemudian bibirnya tersenyum tulus.
"Terima kasih atas pertolongan kakak kemarin. Tapi bisakah jangan memanggilku pendek, itu sungguh sangat menyebalkan," ujarnya dengan mencebikkan bibirnya.
Sedangkan Deffin tersenyum geli, sungguh dia sudah dibuat terpesona saat pertama kali bertemu dengan gadis cilik ini, dan dia senang sekali kemarin karena sang ibu gadis kecil ini menyuruhnya untuk selalu menjaga anak kesayangannya itu.
"Aku akan mengganti nama panggilanmu itu, tapi kamu juga jangan memanggilku dengan sebutan kakak saja."
Terlihat Azkia berpikir sejenak.
"Baiklah, aku akan memanggilmu kakak tampan, bagaimana kamu setuju?" tanyanya polos dia sudah bingung memilih sebutan yang pas untuk lelaki di sampingnya ini, tidak ingin ambil pusing karena Deffin memiliki wajah tampan panggil saja dengan kakak tampan.
Bukan hanya setuju, namun pipi Deffin sudah bersemu merah karena senang.
"Aku setuju, kalau begitu aku akan memanggilmu peri kecil, kamu sangat cocok sekali dengan nama itu,"
Azkia hanya mengangguk setuju dari pada dipanggil pendek pikirnya.
...****************...
Azkia tertawa teringat kejadian dulu, lalu dia segera bertanya karena penasaran kenapa Deffin memanggilnya dengan sebutan itu.
"Mengapa dulu kamu memilih sebutan nama itu?"
"Karena kamu memang ditakdirkan menjadi peri kecilku, kamu bukan hanya penyelamat di waktu awal kita bertemu, tapi kamu juga orang yang membawa warna di dalam hidupku yang kelam dan sangat membosankan itu, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepasmu kia peri kecilku." ujar Deffin dengan mengusap lembut pipi Azkia dan tersenyum sangat manis.
__ADS_1
Bersambung.