TUAN MUDA POSESIF

TUAN MUDA POSESIF
Rasa yang abadi.


__ADS_3

Mengendalikan perasaan adalah termasuk hal yang sulit, kita tidak akan pernah bisa memaksa hati untuk bisa mencintai atau bahkan membenci.


Kita bisa memaksa diri untuk memilih menjalani hidup dengan siapa, tapi tidak dengan hati. Jika hati sudah mempunyai tempat untuk berlabuh, dan kita tidak bisa hidup bersama nya, maka hanya ada satu kata yang menjadi solusinya yaitu ikhlas.


Jika kamu bisa menerima takdir, maka luka mu tidak akan terlalu sakit. Karena mencintai tidak harus memiliki.


Deffin dan Azkia sedang di mabuk cinta, setelah puas merasakan bibir yang manis itu, Deffin menggendong Azkia menuju kamar di salah satu kapal pesiar itu.


Mereka berdua akan membantu ombak menggoyangkan kapal itu🤭🤭.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di bangunan mercusuar itu, ada seorang lelaki yang masih berdiri, padahal dua orang yang dia awasi dengan teropong itu sudah hilang setengah jam yang lalu.


Terdengar langkah kaki mendekat, dan sayup-sayup mendengar seseorang mengusir para pengawal yang berjaga di bawah.


Sebuah tepukan di bahu nya membuat nya menoleh.


"Kenapa kesini kak, mau menertawakan ku." Ucap Erwin dengan senyum yang terlihat menyedihkan.


"Aku seorang kakak yang baik, jadi harus menemani adik yang sedang patah hati."


Sahut Roy dengan santai.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, pemandangan seperti ini sudah biasa bagi ku."


"Sebegitu besar kah perasaanmu pada nona muda, mengapa kau tidak mencoba jatuh cinta dengan wanita lain saja." Bujuk Roy.


"Sudah beberapa kali aku mencoba nya, tapi tetap tidak bisa, apapun usaha ku pasti aku akan kembali ke titik ini lagi." Ucapnya sendu.


"Kalau begitu kenapa kau dulu tidak berusaha mendekati nona ketika tuan muda sedang menjaga jarak, bukan kah itu kesempatan yang baik karena nona juga sedang hilang ingatan. Seharusnya kau melakukan hal yang sama seperti usaha mu dulu ketika nona belum lupa ingatan, kau dan Arnold dulu selalu mencuri waktu menemui nona."


"Bik mur ternyata sudah bercerita banyak dengan mu," Berdecak. "Perasaan kita bertiga sama, kebahagiaan Azkia adalah prioritas kami. aku dan tuan muda tidak ingin memaksa sesuatu hal yang membuat Azkia sakit ketika mengingat nya, mungkin jika Arnold tahu akan melakukan hal yang sama. Apapun akan kita lakukan demi kebaikan untuk Azkia."


Menghela napas.


"Lagipula jika Azkia memang bukan di takdir kan untuk ku, apapun usaha ku dia pasti akan kembali kepada orang yang di takdir kan hidup bersama dengan nya."


Roy tidak bisa membalas perkataan Erwin, apa yang di ucapkan Erwin memang benar. Roy hanya menepuk nepuk pelan bahu Erwin, berharap bisa memberikan ketenangan, bahwa ada dirinya yang akan selalu menemani.


sesuai janji Roy dengan orang tua Erwin sebelum meninggal, dia akan menjaga Erwin seperti adik nya sendiri.


"Aku mau pergi kak." Ujar Erwin yang sudah membalikkan badannya bersiap menuruni tangga.

__ADS_1


"Kemana?"


"Biasa, mencari pelampiasan."


"Heem.."


Setelah itu Erwin pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan Roy kembali ke kapal pesiar, esok dia yang akan mengantarkan tuan dan nona muda nya kembali ke rumah.


...****************...


Di suatu tempat yang sepi di tengah hutan, di sini adalah markas milik Erwin. Semenjak tuan besar atau kakek Deffin meninggal, Deffin melepaskan dunia hitam ini, Deffin hanya mengurusi usaha legal kakek, usaha yang ilegal berniat menyerahkan nya kepada para bawahan kakek yang menjadi ketua mafia.


Namun karena Erwin yang meminta maka semua usaha ilegal akhirnya di serahkan kepada Erwin. Jadi Erwin sekarang menjadi tuan muda nya para mafia, jiwa psikopat nya menjadikan dia semakin ditakuti semua orang yang berada di dalam dunia hitam tersebut.


Braakkk..


Srrreett...


Krreekk...


Sudah beberapa orang tumbang dan bahkan meregang nyawa, mereka semua adalah tawanan. Erwin menyuruh mereka menyerang dirinya.


Namun tuan muda mereka ternyata dengan mudah nya menumbangkan sepuluh orang tersebut. Semua di bekali senjata yang di kuasai masing-masing orang itu, kecuali pistol.


Meja dan kursi panjang di dalam arena itu semua hancur karena tertimpa tubuh gempal para tawanan itu. Mereka yang rata-rata memakai pedang, hanya ada satu orang yang bisa menggores pipi Erwin, sedangkan pisau lipat milik Erwin berhasil mengoyak perut mereka semua tanpa ada satu orang pun yang tertinggal.


Semua tawanan itu akhirnya mati, dan Erwin hanya mendapatkan goresan di pipi, dan sudut bibirnya yang sedikit terluka.


Pertarungan itu tidak hanya selesai dengan sepuluh orang itu, Erwin bertarung mulai dari tengah malam hingga sekarang waktu menunjukkan pukul delapan pagi.


Setelah istirahat sebentar dia akhirnya pulang ke rumah Deffin, kini dia sudah puas melampiaskan semua perasaan sakit hati nya.


...****************...


Sedangkan Azkia yang baru sampai di rumah.


Dia tadi terlebih dahulu ke kantor Deffin, setelah itu Deffin menyuruh nya pulang dengan di antar sopir.


Ketika keluar mobil terlihat bik mur yang sedang memberikan instruksi kepada para tukang kebun untuk menata bunga yang baru datang untuk hiasan taman depan.


"Hai bik mur selamat pagi, sedang sibuk." Sapa Azkia.

__ADS_1


"Pagi nona, hanya sedikit." Jawab nya ramah sambil celingukan mencari sesuatu.


"Nona tidak pulang bersama Erwin?" Tanya bik mur sedikit khawatir, pasti Erwin melakukan kebiasaan nya, pikir bik mur.


"Tidak, memangnya Erwin ikut dengan kami?" Tanya Azkia bingung.


Bik mur yang akan menjawab terhenti melihat mobil sport milik Erwin sudah datang. Tidak lama kemudian Erwin keluar dengan wajah kacau nya, dia tidak sadar sedang di perhatikan dua wanita tersebut.


Azkia yang kaget melihat ada luka di wajah Erwin, dia penasaran dan langsung saja dia melangkahkan kakinya mengikuti Erwin menuju halaman samping, sedangkan bik mur yang memanggil namanya tidak digubris.


"Aduh nona di panggil tidak mau berhenti,"


Lalu bik mur memanggil salah satu penjaga,


"Hei, kamu retas CCTV yang ada di sekitar nona dan Erwin, jangan ada yang lapor kepada tuan muda dan sekertaris Roy jika ingin bumi tetap berputar pada porosnya." Perintah bik mur yang langsung di laksanakan sang penjaga.


Kompak semua seolah menutup mata mereka, demi kedamaian mereka juga begitu pikir mereka bersama.


Sedangkan Azkia yang berada di belakang Erwin sedari tadi memanggil Erwin, namun bukan nya berhenti tapi Erwin semakin cepat melangkah.


"Erwin, Jika kau tidak berhenti, aku akan beneran marah dan tidak mau menyapa mu lagi."


Kata-kata Azkia bagaikan mantra, dan itu berhasil menghentikan langkah Erwin. Setelah sampai di depan Erwin, Azkia bisa melihat jelas luka di wajah Erwin.


"Hei kau kenapa, kenapa wajahmu seperti ini, apa kau semalam di keroyok preman pantai, kata bik mur semalam kau ikut, tapi kenapa aku tidak melihat mu." Azkia berbicara sambil menarik tangan Erwin untuk duduk di kursi yang di sediakan di teras samping.


Dia meminta pelayan mengambilkan kotak obat, Azkia langsung mengobati luka Erwin, sambil terus mengomel karena Erwin tidak mau bercerita bagaimana dia bisa mendapatkan luka itu, Mereka bersepakat menjadi teman sejak pertama kali mengobrol, jadi Azkia tidak merasa canggung berinteraksi seperti ini dengan Erwin.


Para pelayan dan penjaga tidak ada yang mencurigai keakraban mereka, ini sudah biasa sering terlihat dan juga karena ada bik mur yang selalu mengawasi mereka berdua, kebijaksanaan bik mur lah yang membuat tidak pernah ada masalah di rumah ini.


Sedangkan Erwin yang sedang di obati Azkia hanya memandang nya lekat namun dia membatin,


Sampai kapanpun aku tidak akan bisa berhenti mencintaimu, dari dulu kau adalah peri kecil ku, biarkan rasa ini abadi, cukup hanya bisa mencintaimu saja tanpa harus bisa memilikimu.


Bersambung.


Aku lagi pusing 🙃


tapi semoga yang aku tulis bisa tetap menghibur kalian 🤗


salam sayang ♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2