
Percaya tidak dengan kata-kata, manusia hanya bisa berencana, namun hanya Tuhan yang bisa menentukan. Mungkin seperti inilah yang dialami Deffin sekarang, semua terjadi atas kehendak Tuhan, tapi percayalah bahwa akhirnya kebenaranlah yang akan selalu menang.
Waktu masih menunjukkan pukul 04.00 pagi.
Namun Deffin beserta rombongannya sudah membawa Azkia yang masih tertidur pulas pergi menuju bandara, setelah membaca surat dari Elma semalam, yang mengatakan bahwa mereka harus segera pergi dari negeri Z ini secepatnya, sebelum Daniel menjalankan rencanannya.
Azkia yang semalam kembali ke kamar ketika sudah larut malam dan Deffin yang sudah tertidur pulas, membuat hanya dirinya yang tidak mengetahui rencana Deffin yang mengambil keputusan melakukan penerbangan di pagi buta.
Tidak ada yang heran jika Azkia tetap tertidur pulas meski tidurnya sudah berpindah tempat, semua tahu jika keberadaan Deffin lah obat bius yang paling ampuh di dunia.
Setelah perjalanan cukup panjang untuk sampai ke bandara, akhirnya Deffin merasa lega ketika mobil mereka mulai masuk area bandara, namun kejutan pagi dari Daniel sudah menanti mereka.
Tiba-tiba saja mobil mereka dihadang orang-orang Daniel, keempat lelaki itu tentu saja murka dengan apa yang mereka lihat, mereka berempat dan beberapa pengawal langsung turun, hanya Azkia yang masih berada di mobil karena masih menikmati alam mimpinya.
"B******k!!! apa lagi ini," umpat Arnold."
"Maaf, jika kami telah mengganggu aktivitas kalian," ucap salah satu anak buah Daniel.
"Apa yang kalian inginkan?!" tanya Erwin dingin.
"Maaf jika kami memberikan informasi mendadak, tapi hari ini adalah ulang tahun ibukota ini, semua akses keluar masuk ibukota ditutup, entah itu dari jalur darat maupun udara,"
terang orang itu lagi.
"B******k!!! omong kosong apa ini!" Roy berbicara dengan tangan yang sedang mencoba ia tahan agar tidak membuat keributan.
"Anda bisa mengeceknya jika tidak percaya dengan aturan tertulis ibukota ini," ujar yang lainnya dengan menyodorkan berkas yang langsung diambil Deffin secara kasar.
"Sial! kebetulan macam apa ini," ujar Arnold yang juga ikut membaca, kenapa sangat tepat sekali, pikirnya.
__ADS_1
Deffin meremas berkas itu dan menginjaknya karena terlalu kesal, semua aturan tertulis secara jelas, bahkan seluruh dunia bisa mengetahuinya karena di internet pun ada.
Anak buah Daniel yang tidak suka melihat kelakuan Deffin segera memprotes, "Jaga sikap Anda, jangan bertingkah arogan di sini, mungkin Anda seorang penguasa di negeri X, namun di sini Tuan Daniel lah penguasanya."
Deffin tidak membalas perkataan lelaki di hadapannya, otaknya sedang fokus berpikir bagaimana caranya pergi dari negeri ini.
"Cih, kau kira kita takut," tantang Erwin.
Anak buah Daniel hanya menyeringai, lalu detik selanjutnya entah dari mana tiba-tiba saja orang yang berpakaian serba hitam sama seperti para lelaki di hadapannya mengepung rombongan Deffin.
Deffin yang melihatnya geram, namun dia tidak ingin ada keributan karena takut terjadi apa-apa dengan Azkia, dengan dingin dia bertanya, "Apa yang harus kami lakukan agar cepat pergi dari sini?"
"Tidak susah, hanya sekedar datang ke acara jamuan makan ulang tahun ibukota ini, tuan Daniel meminta kalian semua untuk hadir, setelah itu kalian bisa pergi dengan tenang."
Erwin yang paling beringas ingin menyuruh Deffin menolak permintaan mereka, namun baru saja bibirnya akan terbuka sudah dipotong terlebih dahulu oleh Deffin, padahal Erwin lebih ingin memilih bertarung daripada menghadiri acara yang pasti banyak kecurangannya.
Terpaksa semua menurut, rombongan Deffin berbalik menuju mobil mereka sambil menyusun rencana.
Sedangkan Azkia yang di dalam mobil baru saja terbangun, dia terkejut ketika melihat di mana dirinya berada, ketika baru duduk, pintu mobil terbuka menampilkan sosok Deffin yang hanya memasukkan setengah badannya.
"Sayang, aku ada acara dengan yang lain, kepulangan kita diundur sementara, kamu kembalilah ke villa dengan mereka." Deffin melirik dua orang pengawal yang sudah siap di kursi depan, lalu dengan lembut dia mencium kening Azkia, entah mengapa ada perasaan tidak enak menyelimuti hatinya, tapi sepertinya inilah cara terbaik, keamanan Azkia adalah prioritasnya.
"Ada apa? aku ingin ikut saja denganmu ...." rengek Azkia, dia jadi teringat pembicaraannya dengan Elma semalam.
"Jangan membantah, turuti saja perkataanku." Tanpa menunggu jawaban Azkia Deffin menutup pintu mobil itu, dan sang sopir langsung melajukan kendaraannya.
Azkia yang ingin menceritakan pembicaraannya dengan Elma dan segala rencana Daniel jadi gagal karena mobil melaju dengan kencang.
"Hei, putar balik. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada suamiku."
__ADS_1
"Maaf Nona, ini perintah tuan muda, jika kami sampai putar balik, nyawa keluarga kita di negeri X terancam bahaya," ujar sang sopir dengan suara dibuat se-takut mungkin.
Itu adalah kata-kata Deffin yang diajarkannya untuk membungkam keras kepala Azkia, hanya kata ini yang membuat Azkia tidak bisa berbuat nekat, karena membahayakan nyawa orang lain bukanlah tujuan hidupnya.
Azkia yang duduk di kursi belakang sangat gusar, dia tidak bisa membantah lagi, dengan cepat dia mencari ponselnya untuk menghubungi Deffin, namun sialnya ponsel Deffin berada di dalam tas milik Azkia.
Dia mencoba menghubungi yang lain namun semua tidak ada yang mengangkatnya, kini harapannya tinggal satu, yaitu berdoa agar dirinya dan Deffin tidak bisa dipisahkan, mengingat rencana Daniel yang mengerikan, semoga memang hanya maut yang bisa memisahkan mereka.
...****************...
Deffin dan rombongan sudah berada di tempat acara, Daniel menemui mereka dengan sopan, ada sedikit basa-basi seperti tidak terjadi apa-apa di antara mereka, namun di mata Deffin sangatlah jelas bahwa wajah Daniel masam karena Azkia tidak menghadiri acaranya.
Ketika Deffin berpamitan pulang, Daniel mencegahnya dengan seringai yang dia sembunyikan, dengan tenang Daniel mengatakan, "Maaf Tuan Deffin, syarat bisa keluar dari sini adalah setelah sang tamu menyantap hidangan yang sudah disajikan," ujar Daniel serius sambil menunjuk orang yang bisa keluar dari acara setelah menyantap hidangan.
"Maaf, Tapi kami tidak biasa makan makanan berat di pagi hari," tolak Deffin sopan.
"Tidak masalah kalian tidak makan, tapi setidaknya kalian semua bisa minum teh saja."
Deffin tidak bisa menolak, dengan terpaksa mereka menuju meja yang berisi gelas berisi teh dan minuman yang lain. Deffin melirik semua orangnya, tanpa bicara mereka paham jika hanya disuruh pura-pura meminumnya, namun sepertinya mereka lupa sedang berada di negara mana.
Ketika gelas sudah hampir menyentuh bibir, entah mengapa mereka mencium aroma menenangkan dari minuman itu, aroma yang membuat mereka jatuh tidak sadarkan diri.
Mereka lupa negeri ini adalah negeri nomor satu pembuat obat herbal, yang pasti tidak kesulitan hanya membuat ramuan yang membuat orang pingsan tanpa meminumnya, meskipun orang itu hanya sekedar mencium aromanya.
Semua orang di dalam ruangan tertawa, mereka turut berbahagia dengan keberhasilan bos mereka, acara ulang tahun itu memang ada, namun waktunya masih nanti sore, Entah bagaimana nasib Deffin dan yang lainnya, yang jelas Azkia yang sudah berada di villa semakin cemas karena tiba-tiba perasaan tidak enak telah menyelimuti hatinya.
Bersambung.
Rencananya mau jatuhin bom di bab ini, eh ternyata aku bisa mengolahnya menjadi dua bab😅, yasudah selamat menikmati yang adaðŸ¤
__ADS_1