
Setelah ritual mandi yang sangat panjang, Azkia dan Deffin sedang duduk santai di sofa sambil menonton TV.
"Sayang, besok ulang tahun Arnold kita datang ya?!" pinta Azkia.
"Ck, malas," jawab Deffin.
"Sayang ... jangan begitu, kita semua sudah berbaikan, kita awali lagi ya dimulai dari kita menghadiri undangan Arnold," ujar Azkia dengan menampilkan wajah yang pasti susah untuk menolak permintaannya.
"Baiklah, aku mana bisa menolak permintaan Kiaku ini ...." Mencubit gemas hidung Azkia. "Tapi jangan pernah buat aku kesal besok."
"Iya, mana mungkin aku membuat kesal Suami tampanku ini," ujar Azkia dengan membalas mencubit kedua pipi Deffin.
"Justru aku yang sepertinya harus menyiapkan hatiku agar tidak cemburu besok, karena pastinya Arnold akan mengundang teman-teman sekolah kalian dulu." Mengerucutkan bibir kesal karena teringat dulu banyak yang menyukai suaminya.
"Haha ... kau ini ada-ada saja, meski dari dulu banyak yang menyukaiku mana ada yang berani mendekat, kecuali kalau tidak ingin tangannya patah."
"Ish, kau ini tidak tahu bahayanya wanita perebut suami orang di zaman sekarang, mereka lebih mengerikan daripada pembunuhan," sungut Azkia.
"Yang ada perebut istri orang yang bikin kesal. Kamu tidak usah khawatir, bagaimanapun usaha orang yang ingin memisahkan kita, aku tidak akan membiarkan itu terjadi, meskipun jika kamu melakukan kesalahan sebesar apapun aku tetap tidak akan pernah melepasmu, sudah kubilang berulang kali hanya maut yang bisa memisahkan kita," ujar Deffin serius.
"Terima kasih," balas Azkia yang langsung menyambar bibir Deffin, dia menumpahkan semua rasa bahagia karena memiliki suami seperti Deffin dengan ciuman panjang ini.
"Kamu tau, aku akan terus berusaha membuatmu tetap mencintaiku, aku akan melakukan apapun untukmu," ujar Deffin setelah melepas ciuman mereka, lalu dia mengulangi ciuman itu lagi.
Ciuman itu semakin panas, tangan nakal Deffin juga tidak bisa diam, namun saat Deffin mencoba melepaskan kancing depan baju Azkia, Azkia menahannya.
"Sayang nanti malam aja ya, lelahku belum hilang akibat mandi terlalu lama tadi," sindir Azkia, mencoba mengingatkan jika mereka sudah melakukan kegiatan panas cukup lama di kamar mandi.
Terdengar Deffin mendesah, "Baiklah, maaf ... salah sendiri membuatku ketagihan," ujar Deffin yang duduk tegak lagi setelah mengecup bibir Azkia.
Azkia tidak menjawab dia hanya tersenyum, lalu memilih berbaring dengan menggunakan kedua paha Deffin sebagai bantal.
"Sayang aku mau tanya, setelah kita menikah kamu sudah tau kalau aku Kia peri kecilmu, tapi kenapa dulu kau membuat aturan mengesalkan dan aneh seperti waktu itu, apa kamu sengaja mau mengerjaiku?"
"Tidak," jawaban singkat Deffin membuat mata Azkia memicing curiga.
__ADS_1
"Tidak salah, haha ...." Deffin mengaduh kesakitan saat Azkia mencubit pahanya.
"Sakit sayang ... karena itu adalah pembalasan karena kamu membuatku lama menahan rasa rindu, cemburu, dan masih banyak lagi. Tapi aku bahagia bahwa pengorbananku ternyata tidak sia-sia, bukan itu saja aku juga puas ngasih pekerjaan tambahan untuk Roy dengan menyuruhnya mencari tau informasi tentangmu," ujar Deffin dengan tawa yang masih menyertai bibirnya.
Deffin teringat bayangan waktu itu Sekretaris Roy yang sedang sangat sibuknya dengan urusan pekerjaan kantor, malah dengan jahilnya memerintah Roy agar mencari tahu semua tentang Azkia, padahal Deffin sudah mengetahui semuanya.
Lagipula bukan tanpa alasan Deffin melakukan semua ini, agar semuanya berjalan sesuai rencananya.
"Dasar, dari dulu kamu memang sangat menyebalkan."
"Tapi orang yang menyebalkan inilah yang bisa membuatmu jatuh cinta," ujar Deffin bangga.
Obrolan mereka terus berlanjut, hingga malam telah tiba.
...****************...
Setelah makan malam selesai, Deffin masuk ke ruang kerjanya, sedangkan Azkia ikut menemaninya dengan duduk di sofa sambil membaca buku.
Terdengar suara ketukan pintu, yang disusul Erwin membuka ruangan itu sambil membawa nampan berisi minuman.
"Tidak Nona, saya tidak menyukai acara pesta seperti itu."
"Kauharus ikut, kaubisa jadi pasangannya Roy, sesama jomblo harus saling melengkapi," sahut Deffin yang tidak memiliki perasaan itu.
"Baiklah jika Tuan muda sudah memberi perintah, dengan senang hati saya akan melakukannya," ujar Erwin mengalah, Erwin menyeringai melihat Azkia tersenyum senang mendengar perkataannya.
"Apalagi apa yang saya lakukan membuat Tuan Putri tersenyum, jelas pasti saya sama sekali tidak keberatan. Permisi ...." Erwin langsung mengambil langkah kaki seribu untuk kabur sebelum pulpen yang siap diluncurkan itu akan mendarat ke kepalanya.
Sedangkan Azkia terkekeh geli melihat kejahilan Erwin.
"Sudah sayang ... jangan marah, Erwin hanya bercanda," ujar Azkia dengan kekehan yang belum hilang.
"Bagian mana yang bercanda! sungguh selera humornya sangat buruk sekali," ujar Deffin kesal.
Azkia yang melihat kekesalan Deffin segera menghampirinya, masih terkekeh geli namun dia segera mengambil inisiatif duduk di pangkuan Deffin agar bisa membantu mengurangi rasa kesal Deffin.
__ADS_1
"Sayang jangan marah, ini minum jus dulu," ujar Azkia dengan mencium bibir Deffin sekilas, lalu menyodorkan jus yang diambilnya.
Deffin menggeleng,
"Aku tidak mau jika pakai tanganmu, pakai mulutmu langsung baru rasa kesalku hilang," ujar Deffin serius membuat Azkia tidak bisa mengelak.
"Dasar Tuan mesum," ujar Azkia namun dia menuruti kemauan Deffin.
Setelah memberikan apa yang Deffin inginkan, Azkia mengingatkan Deffin lagi.
"Sayang, jangan marah beneran ya jika Erwin atau Arnold jahil seperti itu, karena aku yakin mereka masih tau batasan. Aku juga selalu berdoa agar mereka bisa menemukan takdir cintanya masing-masing," ujar Azkia sambil mengusap pelan dada Deffin hingga menghilangkan rasa cemas Deffin.
Sampai saat ini Deffin tetap merasa cemas, takut jika Kia peri kecilnya akan berpaling ke lain hati, mungkin rasa khawatir itu tidak akan pernah hilang, mungkin akan semakin bertambah beriringan dengan cinta tulusnya kepada Azkia.
Sedangkan Azkia sudah tidak bisa berkata-kata lagi untuk mengungkapkan rasa bahagia menjadi wanita yang di cintai Deffin, Dia hanya bisa berjanji akan selalu setia mendampingi Deffin dan membalas dengan rasa cinta yang sama dengan Deffin.
Kedua pasang mata itu saling menatap dalam dengan cinta yang sudah tidak bisa diukur lagi dengan alat pengukur di dunia ini.
Dengan lembut Deffin mengatakan,
"Aku sangat mencintaimu, aku akan selalu mempertahankanmu untuk selalu berada di sampingku, aku akan melakukan apapun untukmu."
Azkia tidak bisa menutupi rasa harunya, dengan erat dia memeluk Deffin.
"Terima kasih untuk semuanya, terima kasih sudah memberiku cinta yang sangat berlimpah. Aku juga sangat mencintaimu suamiku."
...****************...
Tinggalkan kedua orang yang sedang berbahagia karena saling mencintai itu.
Di tempat lain tiga lelaki jomblo itu sedang merenungi kapan kisah cintanya masing-masing akan dimulai.
Kapankah mereka akan bertemu dengan takdirnya?
Bersambung.
__ADS_1