
Di ruang kerja itu perbincangan belum selesai, namun Azkia yang sudah pergi ke kamar nya jadi tidak mengetahui jika tiga orang itu memiliki perasaan yang sama bisa di sebut juga sudah cinta mati kepada nya.
"Tapi aku takut kalau Arnold berbuat macam-macam kepada kia."
"Tuan, yang mencintai nona dengan tulus saya rasa bukan hanya anda saja," Balas Roy dengan ekor matanya melirik Erwin.
"Saya rasa Arnold juga akan melakukan hal yang sama seperti Erwin, akan melakukan apapun demi kebahagiaan nona, dan di dalam hidupnya hanya akan takut jika di pisahkan atau di benci oleh nona, jadi saya rasa Arnold tidak mungkin akan melakukan hal bodoh yang membuat nona membencinya."
Roy berkata dengan santai tidak mempedulikan sama sekali sorot mata membunuh milik Erwin.
Sedangkan bik mur hanya menggelengkan kepalanya melihat ketiga anak yang di asuh nya semenjak kecil.
"Baiklah, besok kita berangkat keluar negeri, bik mur suruh pelayan lain menyiapkan keperluan ku, dan tolong jaga kia selama aku pergi, kau juga Erwin, ku percaya dirimu tidak akan mengkhianati ku."
Setelah itu mereka keluar, namun Roy masih ingin mencari tahu tentang apa yang masih mengganjal di pikiran nya, dia menghentikan langkah Deffin yang akan menaiki tangga.
"Tuan.."
Deffin menoleh menanti apa yang ingin di katakan oleh Roy.
"Jika anda merasa cemburu dengan Erwin, mengapa tidak menukar tugas Erwin dengan saya, Erwin juga pandai dengan dunia bisnis jadi tidak sulit jika melakukan perjalanan bisnis dengan anda besok, saya yang jelas tidak mempunyai perasaan pada nona pasti bisa membuat anda tenang karena jelas saya tidak mengambil kesempatan."
Kata pancingan Roy di sambar tepat oleh Deffin.
"Kau ini masih bodoh ternyata, kau kira aku membiarkan Erwin dekat dengan Azkia karena tidak mempunyai alasan, jika aku tetap menomor satukan egoku sudah pasti aku akan mengurung Azkia di dalam kamar, dan aku akan membawanya kemana saja aku pergi, tidak ku perbolehkan kalian menikmati memandang wajah cantik nya."
Maksud perkataan Deffin adalah dia tidak ingin ada orang lain lagi terutama lelaki normal yang bisa dekat di sekitar keberadaan Azkia, meskipun itu Roy yang kesetiaan nya tidak diragukan lagi, bahkan dia selama ini menyeleksi para pengawal Azkia yang berjarak dekat yaitu orang yang sudah mati rasa dengan perempuan.
Dia membiarkan Erwin dekat dengan Azkia, karena pertolongan Erwin lah Azkia masih bisa bernapas hingga sekarang, oleh sebab itu dia tidak bisa melarang Erwin karena itu sudah menjadi kesepakatan mereka dulu, kecuali jika Erwin telah mengkhianati Deffin, ancaman akan menjauhkan nya dengan Azkia akan direalisasikan.
"Kalau bukan karena bantuan dari Erwin mungkin dulu Azkia sudah menyusul ibunya, itu sebab nya aku membiarkan nya meski dia selalu bersikap kurang ajar jika berurusan dengan Azkia, aku tidak bisa menghajar nya jika mengingat ketidak berdayaanku melihat Azkia yang terbaring lemah."
"Memang apa yang sudah di lakukan Erwin?"
Tanya Roy penasaran.
"Kau tidak perlu tahu." Jawab Deffin acuh lalu meninggalkan Roy.
...****************...
__ADS_1
Setelah sampai di dalam kamar, Azkia yang sedari tadi memikirkan rencana nya kini mulai beraksi.
"Sayang.."
Azkia menyapa sambil merentangkan tangan, dia akan jadi mode lebai jika sedang merayu.
"Kau merindukanku," Ucap Deffin yang membalas pelukan Azkia, lalu dia mendorong tubuh Azkia dengan badan nya hingga terjerembab di kasur yang empuk itu, Deffin tidak membiarkan Azkia berbicara karena sudah membungkam mulut manis itu dengan rakus.
Satu jam kemudian.
"Sayang, kenapa di sini tidak pernah menyajikan buah mangga?"
Tanya Azkia yang berada di pelukan Deffin.
"Tidak, karena aku tidak menyukai nya."
Jawab nya dengan menciumi tengkuk Azkia.
Tentu saja karena kau alergi dengan buah mangga, apa kau juga melupakan tentang alergi mu pada buah mangga.
"Tapi entah mengapa aku tiba-tiba ingin memakan nya, bolehkan aku membelinya?"
Lihat saja mau menjawab apa kamu, kenapa kamu masih pura-pura tidak tahu jika aku mengalami lupa ingatan sebagian. Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dengan dokter pribadi ku.
"Baik, aku akan menurut."
Huh, lagipula siapa yang mau gatal-gatal setelah makan mangga. Berarti tinggal Erwin yang coba aku pancing, besok dia mau berkata jujur apa tidak.
Pikiran tentang rencana Azkia langsung buyar ketika Deffin mulai nakal kembali, tangan dan mulut nya semakin tidak bisa di kondisikan.
"Sayang, bukan nya tadi cukup lama." Ujar Azkia dengan napas mulai memburu."
"Besok aku akan keluar negeri, kamu harus kasih tabungan vitamin, karena pasti aku sangat merindukanmu selama berada di sana."
"Kalau kamu pergi bolehkah aku minta ijin keluar, aku ingin ke panti asuhan dan ke dokter pribadi ku."
Perkataan Azkia membuat aktivitas Deffin terhenti, dengan berat hati dia mengatakan,
"Baiklah, asal kau di kawal dengan ketat, jika kau sampai kabur aku akan--"
__ADS_1
Perkataan Deffin dipotong cepat oleh Azkia.
"Aku tidak akan kabur, kau bahkan boleh
menyuruh Erwin dan bik mur sekalipun menempel untuk mengawasi ku." Ucap Azkia sungguh-sungguh membuat Deffin lega dan menggigit hidung Azkia gemas.
"Baiklah, itu biar jadi urusan besok, yang penting kita selesaikan urusan kita sekarang, sebut namaku dengan merdu , aku suka mendengar desahan seksi mu." bisik Deffin di telinga Azkia yang di akhiri dengan jilatan, membuat Azkia menggelinjang kegelian,
Dan malam panas itu di ulangi lagi.
...****************...
Semalam Azkia mendapat petunjuk dari mimpinya, bahwa ketiga anak itu memiliki sebutan nama khusus pemberian dari dirinya.
Kakak tampan, kakak kesayangan dan chubby, tapi siapa yang aku panggil chubby dan mengapa aku memanggil nya chubby, padahal tidak ada yang memiliki pipi chubby di antara mereka. kebodohan ku dulu membuat ku bingung sendiri sekarang.
Deffin sudah berangkat pagi buta tadi,
Setelah sarapan Azkia menyuruh Erwin memetik buah jeruk.
Dia akan memancing Erwin dengan kecerewetan nya.
"Erwin ingat ya, aku maunya jeruk nya masih setengah matang, kamu harus pastikan rasa nya manis namun sedikit asam."
Sudah beberapa kali Azkia mengatakan ini, hingga akhirnya Erwin mendengus kesal karena telinga nya lelah mendengar permintaan Azkia soal jeruk favorit nya.
Huh, tanpa kau katakan berulang kali, aku tetap ingat rasa jeruk kesukaan mu.
"Baik, tuan putri."
Ujar nya sedikit kesal sambil tangannya sudah mulai memilih buah jeruk.
"Hei, kenapa kau suka sekali memanggil ku tuan putri."
"Entahlah, tapi aku lebih suka memanggil mu tuan putri daripada nona."
Azkia yang mendengar jawaban Erwin hanya tersenyum, namun dalam hati nya berkata,
Bukan itu jawaban nya Erwin, kau paling suka memanggil ku peri kecil, tapi karena tidak suka mereka berdua juga memanggil ku peri kecil kau jadi memanggil ku tuan putri.
__ADS_1
Seperti nya aku sudah tahu siapa dirimu Erwin, kau adalah....
Bersambung.