TUAN MUDA POSESIF

TUAN MUDA POSESIF
Tidak Tahu Tempat.


__ADS_3

Hari ini Azkia tampak ceria, karena hari ini dia akan jalan-jalan bersama Deffin, ini bukan kali pertamanya tapi entah mengapa dia merasa seperti baru pertama kali kencan dengan pasangannya.


Rasa pegal di badannya telah hilang, karena semalam dia dipijat sama lelaki tampan, siapa lagi kalau bukan Deffin. Azkia merasa sangat beruntung mempunyai suami seperti Deffin, dia hanya harus bersabar menghadapi sifat menjengkelkan suaminya.


Kini Azkia dan Deffin sedang menuruni tangga untuk sarapan, senyum Azkia semakin lebar ketika melihat Erwin dan Roy, sepertinya Azkia harus mulai menjalankan misinya untuk memperbaiki hubungannya mereka dengan Arnold.


"Kia sayang, aku tinggal ambil dompet dulu di kamar," ujar Deffin sambil mengusap pipi Azkia lalu melenggang pergi, Azkia hanya mengangguk karena mulutnya masih penuh makanan.


Setelah Azkia menghabiskan sarapannya, dia langsung mencari Roy.


Langkah kakinya membawanya menuju teras depan, terlihat Roy sedang duduk di kursi, dengan segera dia mendekat.


"Sekretaris Roy, tolong bantu aku mengatur pertemuan untuk Deffin, Erwin dan juga Arnold," ujar Azkia dengan pelan.


"Nona, Anda jangan meminta hal yang aneh, Arnold bisa bernapas sampai sekarang sudah suatu keberuntungan."


"Aku tahu, tapi kalian dulu cukup dekat, aku akan merasa sangat bersalah jika kalian tidak bisa kembali akur," ujar Azkia dengan wajah dibuat sesedih mungkin, dan itu berhasil membuat Roy luluh.


Sial, ternyata memang berbahaya sekali bila dekat dengan Anda nona, sebenarnya berapa banyak mantra yang anda gunakan untuk memikat orang.


Pikiran konyol Roy dibuyarkan dengan rengekan Azkia lagi, hingga Roy terpaksa menyetujui permintaan Azkia, dia segera akan mengatur pertemuan mereka.


Tidak lama kemudian Deffin keluar, setelah memberikan tugas perusahaan pada Roy, Deffin dan Azkia pergi menaiki mobil tujuan awal mereka adalah mall, Azkia ingin menikmati waktu berdua layaknya pasangan normal lainnya.


...****************...


Mobil sampai di tempat tujuan.


Azkia langsung menarik Deffin belanja kebutuhan pokok, bukan untuk di konsumsi mereka, namun untuk anak yayasan, belanjaan mereka nanti akan dikirim oleh para pengawal yang sedari tadi setia mengikuti mereka dari belakang namun dengan jarak cukup jauh.


Ketika akan mengambil troli Deffin langsung mencegah tangan Azkia yang hampir menyentuh kereta belanja itu.


"Biar aku saja, kamu cukup yang memilih belanjaannya saja," ujar Deffin lembut.


Azkia mengangguk dan tersenyum manis mendengar perkataan Deffin, saat mereka berjalan bersandingan untuk memilih barang yang dibeli, Azkia yang terkadang lupa ikut memegang troli, dengan gemas Deffin mengarahkan tangan Azkia agar memegang lengannya saja.


"Kamu ini keras kepala sekali, dibilangin ini kotor bekas banyak orang, pegang lenganku saja kalau tanganmu gatal ingin ikut mendorong."


Azkia tergelak tapi meminta maaf, Suamiku jadi tuan lebay pikirnya. Saat di deretan rak yang memajang shampo.

__ADS_1


"Sayang ambilkan yang itu, tanganku tidak sampai," ujar Azkia yang sedang berjinjit mencoba mengambil shampo yang berada di rak bagian atas sendiri.


Deffin menggelengkan kepalanya sambil tergelak.


"Di panggil pendek tidak terima, padahal ini buktinya, hanya segini saja tidak bisa menggapainya," cibir Deffin.


Azkia yang kesal langsung mencubit pinggang Deffin dengan bibir yang manyun,


"Sudah kubilang jangan pernah bilang pendek, aku itu hanya cuma kurang tinggi sedikit saja," ujar Azkia.


"Sama saja sayang." Kekeh Deffin dengan mencubit gemas kedua pipi Azkia.


Azkia menampik kedua tangan Deffin, lalu melengos pergi. Deffin hanya tersenyum saja dan tetap mengikuti Azkia sambil mendorong kereta belanjaannya.


Setelah dirasa belanjaannya sudah cukup, Deffin yang mengantri sedangkan Azkia yang berada di sampingnya hanya sibuk dengan ponselnya saja.


Kedua penjaga kasir terlihat terpesona dengan wajah tampan Deffin, apalagi dengan sikapnya yang manis, membuat kedua orang itu tidak melewatkan kesempatan untuk mencuri pandang, Azkia yang mengetahui mendadak merasa kesal, hingga dia membisikkan sesuatu di telinga Deffin.


"Ternyata ini rencanamu, awas saja nanti malam-."


Cup


Deffin segera mengecup sekilas bibir Azkia, Azkia yang mendapat serangan mendadak langsung melotot, apa suaminya tidak sadar sekarang lagi di tempat umum pikirnya.


Orang lain yang melihat langsung menundukkan kepalanya, tidak berani memprotes meski anaknya yang di bawah umur menonton adegan delapan belas plus itu.


Sedangkan Azkia langsung menyembunyikan wajahnya di punggung Deffin, terlalu malu.


...****************...


Sekarang mereka berdua melanjutkan jalan-jalannya di lantai atas, iseng Azkia masuk di outlet penjual alat make-up.


"Ngapain pegang-pegang itu," ujar Deffin sambil mau merampas lipstick dengan warna yang pastinya akan membuat Azkia lebih cantik.


"Aku ingin membelinya sayang, kamu tidak menyediakan lipstick yang seperti ini, hanya ada pelembap bibir saja di meja riasku," ujar Azkia dengan mencebikkan bibirnya.


"Kamu tetap cantik meski cuma pakai pelembap, jadi tidak butuh ini, lagian barang ini jelek," ujar Deffin sambil mengembalikan sampel itu ketempatnya.


Bisa gila aku jika banyak orang yang melihatmu lebih cantik dengan menggunakan lipstik itu.

__ADS_1


Sedangkan sang ibu penjual yang tidak terima barang dagangan yang berkualitas paling bagus dan mahal itu dikatai jelek oleh Deffin, segera dia membela dagangannya, tidak peduli meski dia sedang berhadapan dengan pemilik gedung mall ini.


"Maaf Tuan Muda, ini koleksi lipstik terbaik disini, Nona ini waterproof dan meski anda hanya mengoleskan sedikit saja warnanya akan tetap awet meski seharian. Anda boleh mencobanya," ujar ibu itu ramah.


Azkia berbinar dengan segera mengambil lipstik itu dari tangan sang ibu penjual.


"Saya akan membelinya, tidak perlu dicoba, saya percaya dengan Anda."


Deffin yang kesal karena Azkia tidak menuruti kemauannya menyeringai dalam hatinya.


"Kamu boleh membelinya, asal kamu mencobanya sekarang, aku tidak percaya dengan kualitas lipstik ini."


Azkia hendak protes, tapi segera dipotong oleh Deffin.


"Coba sekarang, atau tidak boleh beli."


Terpaksa Azkia menuruti Deffin, dia akan tetap kalah, karena sampai kapanpun suaminya ini adalah orang yang menyebalkan.


Setelah mengoleskan sedikit lipstik itu,


"Coba kulihat," ujar Deffin dengan mengapit dagu Azkia dengan jarinya.


Awalnya Deffin terlihat seperti cuma sekedar meneliti, namun tiba-tiba dia menempelkan bibirnya ke bibir Azkia, tidak hanya sampai disitu dia m****** bibir Azkia meski hanya sebentar, namun dia sudah merasa puas bisa melampiaskan rasa kesalnya kepada istrinya yang keras kepala itu.


Azkia melotot dan memasang wajah garang, sangat kesal sekali dengan kelakuan suaminya.


Tanpa merasa bersalah Deffin menanggapi tatapan horor Azkia cuma dengan berkata,


"Nah, sekarang aku baru percaya dengan kualitasnya, kamu boleh membelinya," ujar Deffin enteng.


Sedangkan sang penjual yang tersenyum kikuk melihat kelakuan tuan muda ini hanya bisa berkata,


"Cara pengujian yang bagus Tuan, terima kasih sudah percaya dengan kualitas produk kami," ujarnya dengan ramah.


Azkia hanya tersenyum canggung, setelah melihat sang penjual pergi dengan membawa dagangan yang akan dia bungkus di kasir, segera Azkia mencubit pinggang Deffin.


"Kamu ini benar-benar tidak tahu tempat," ujar Azkia setengah berbisik.


"Kamu yang tidak tahu tempat, sejak tadi memancingku untuk ingin segera memakanmu."

__ADS_1


Hah, jawaban apa itu, dasar tuan aneh nyebelin.


Bersambung.


__ADS_2