
Waktu menunjukkan pukul dua pagi, terlihat seorang wanita cantik tidur nyamannya telah terganggu, dia terlihat gelisah karena mimpinya.
Dia membuka mata dengan deru nafas yang memburu, beruntung pergerakannya tidak membangunkan suami yang tampak nyenyak tidur di sampingnya, bahkan tangan kekar yang melingkar di atas perutnya tidak mau bergeser sedikitpun.
Ternyata bukan hanya kakak tampanku yang memanggilku dengan sebutan peri kecil.
tapi siapa kedua anak lainnya itu. Aaahh ... kepalaku sakit sekali.
Azkia meringis tanpa suara, karena tidak mau
membangunkan Deffin, dengan pelan dia menarik laci tempat menyimpan ponselnya.
Jarinya mengetikkan sesuatu dengan cepat, rencananya besok dia akan menemui dokter pribadinya yang sudah sedari dulu menanganinya, yaitu sejak kejadian yang membuatnya kehilangan ingatan.
Setelah selesai mengetikkan pesan, dia tidak bisa tidur, matanya dengan setia terbuka tanpa bisa terpejam lagi. Pikirannya pun jauh melayang memikirkan mimpi tadi, namun dia tidak mau memaksa otaknya untuk berpikir lebih keras, karena sisa rasa sakit itu masih ada.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, Deffin yang tidur sangat nyenyaknya akhirnya membuka mata, sedikit kaget melihat istri kesayangannya sudah terlebih dulu membuka mata, biasanya dirinya yang lebih cepat bangun namun akan pura-pura memejamkan mata lagi ketika Azkia akan bangun.
Kebiasaan Azkia yang selalu membelai wajahnya dengan lembut setelah istrinya membuka mata, membuatnya bahagia dan ketagihan setiap hari untuk berpura-pura masih tidur.
Namun pagi ini dia tidak bisa merasakan itu semua, bahkan melihat Azkia yang sedang melamun membuatnya khawatir, apa yang di pikirkan istri kesayangannya.
"Kia." Deffin memanggil Azkia dengan lembut.
Azkia yang tersadar menoleh ke arah Deffin tidak lupa memberikan senyuman manisnya.
"Kamu sudah bangun, aku akan siapkan air untukmu mandi." Azkia yang mau bangun ditahan oleh Deffin.
"Hei, ada apa denganmu, kenapa wajahmu pucat, apa kau sakit?" tanyanya dengan penuh rasa khawatir.
Azkia refleks memegang wajah nya. "Tidak sayang, aku tidak sakit."
"Kau jangan bohong," ucap Deffin dengan mendelik kesal.
"A-- aku hanya sedikit pusing, mungkin tekanan darahku sedang menurun," jawab Azkia setengah gugup, dia takut melihat mata tajam milik Deffin.
Namun Azkia merasa tidak asing dengan tatapan mata ini, mata yang memandangnya tajam tapi selalu menyiratkan kekhawatiran.
__ADS_1
"Kalau begitu istirahatlah sekarang, biar aku urus diriku sendiri, akan kusuruh bik Mur mengantar sarapan kita dan obat untukmu ke kamar," kata Deffin tegas, setelah menelpon bik Mur dia langsung menuju kamar mandi.
Cukup lama bersiap diri akhirnya Deffin keluar dari walk in closet, di meja sudah ada sandwich untuknya dan bubur untuk Azkia, tanpa mengulur waktu Deffin segera membawa mangkuk bubur itu mendekat ke arah Azkia yang tertidur.
"Kia sayang bangun, makan dulu dan minum obat, baru kau bisa lanjutkan tidurmu lagi," pintanya dengan lembut.
Azkia menurut, dia bangun lalu membenarkan posisinya untuk duduk. Azkia terkejut melihat Deffin yang akan menyuapinya makan, biasanya dia yang sering disuruh Deffin untuk menyuapi.
"Ayo, cepat buka mulutmu, bisa pegal tanganku nanti." Setengah kesal karena Azkia malah bengong tidak segera membuka mulutnya.
Hap, akhirnya Azkia merasakan suapan pertama kalinya dari Deffin, "Biar aku makan sendiri," ujar Azkia. Entah mengapa dia merasa canggung padahal mereka berdua sudah sering melakukan hal yang lebih dari ini.
Azkia yang akan meraih sendok yang dipegang Deffin tidak melanjutkan aksinya karena suara Deffin,
"Singkirkan tanganmu, mau apa kau. sedang sakit menurut saja, jangan banyak melakukan aktivitas," ucapnya geram.
Azkia hanya bisa menurut namun dia membatin, Tuan aneh, aku hanya pusing bukan sakit berat, dan makan sendiri bukan aktivitas yang bikin aku lelah.
Namun hatinya tidak bisa untuk tidak tersenyum, melihat Deffin yang begitu memperhatikannya.
...****************...
Waktu sudah hampir siang, Azkia yang membuat janji temu dengan dokter pribadinya sedang menuju rumah sakit milik Deffin.
Dia sekarang sedang diantar sopir, di belakang mobilnya tetap ada mobil milik pengawalnya, di dalam mobil dia sedikit ingin tersenyum, karena teringat kejadian tadi, mendengar omelan dari Deffin yang dia telpon untuk meminta izin keluar untuk ke rumah sakit.
"Kenapa tidak bilang dari tadi sebelum aku ke kantor, aku pasti akan mengantarmu dan membatalkan rapat ini, kalau sekarang aku bubarkan aku merasa tidak enak dengan para pemegang saham," ucap Deffin menahan marah.
"Maaf, tapi tiba-tiba aku ingin cek-up kesehatan, jangan marah dan lanjutkan saja rapat kalian, lagi pula rumah sakit yang aku datangi milikmu, jadi aku tidak akan bisa macam-macam."
"Baik, tapi kau harus membayar kesalahanmu ini setelah kau sehat, akan kubuat dirimu tidak bisa pergi sama sekali bahkan turun ranjang sekalipun," ucap Deffin dengan senyum penuh kemenangan.
Sedangkan Azkia merinding mendengar ancaman Deffin, pertemuan dengan dokter pribadinya adalah hal paling penting, jadi dia berusaha mengabaikan ancaman Deffin yang membuat wajahnya memerah seketika.
...****************...
Cukup lama berkonsultasi dengan dokter pribadinya yang berjenis kelamin perempuan, dokter paruh baya itu sangat mengerti apa yang di alami Azkia, dan tanpa Azkia tahu dokter itu juga melaporkan perkembangan kesehatan dirinya saat ini kepada Deffin.
__ADS_1
Susah payah Azkia mencoba menyimpannya dari semua orang, karena tidak ingin merepotkan orang lain, tentang ingatan pengalaman buruk yang pernah terjadi dalam hidupnya, dan kecelakaan itu membuatnya punya kesempatan untuk melupakan semua itu, namun pilihannya berimbas tentang kisah cinta masa kecilnya juga.
Dokter hanya memberikan nasihat dan obat pereda sakit kepala jika Azkia merasa kesakitan karena mengingat sesuatu, Setelah itu dia kembali akan pulang ke rumah.
Namun ketika melewati salah satu ruangan VVIP yang sedikit terbuka pintunya, dia mendengar seorang lelaki berteriak marah pada pegawai rumah sakit. Ada juga suara lain yang sepertinya bawahannya mencoba menenangkan tuannya.
"Sudah ku bilang aku tidak mau di suntik, kalian ini bodoh atau apa, bukan, bukan hanya bodoh tapi juga tuli !!"
"Maaf tuan kami harus menyuntik anda agar cepat sembuh," jawab sang dokter sopan.
"Iya tuan muda, hanya sebentar saja. Biarkan mereka melakukan tugasnya."
"Dasar bodoh, cukup berikan obat saja bisa kan," ucap lelaki itu keras kepala.
Dokter yang akan menjawab perkataan lelaki itu dipotong oleh Azkia yang sudah membuka pintu itu lebar, dan sudah menyaksikan langsung kejadian itu.
"Hei, kau ini sudah besar, hanya mau di suntik saja berteriak seperti itu, kau yang bodoh bukan mereka, dasar kekanakan," cibir Azkia.
Mereka yang di dalam hanya diam dengan pikiran masing-masing.
Ketiga pegawai rumah sakit itu tidak menjawab Azkia atau menegur tidak sopannya tiba-tiba ikut campur masalah ini, mereka tahu Azkia istri pemilik rumah sakit ini, jadi mereka tidak ingin kehilangan pekerjaan.
Sedangkan dua lelaki itu terkejut, namun salah seorang pria itu lebih tepatnya sang pasien matanya kini berkaca kaca melihat wanita cantik yang sedang memarahinya.
Sedangkan Azkia berpikir,
Kenapa aku seperti merasa Dejavu ya...
Bersambung.
Pengetahuan Ria buta tentang dunia medis, karena ini hanya cerita fiksi ku mohon tidak ada yang akan mempermasalahkan tentang sakit apa yang di alami Azkia atau segala hal yang menyinggung dunia kesehatan, jadi maafkan jika tidak sesuai dengan kenyataan, karena ini dunia halu milik Ria, dan terima kasih telah ikut menikmati kehaluan ria. Lama kelamaan kalian akan mengerti maksud dan jalan cerita yang ria buat, karena ria akan membuka misteri nya secara pelan-pelan.🤭🤭
Jadi cukup nikmati saja, jika sudah bosan anda boleh meninggalkan novel ini, ini hanya antisipasi agar tidak ada komentar negatif di kemudian hari.
terima kasih semua nya🙏 🙏
salam sayang ♥️♥️
__ADS_1