TUAN MUDA POSESIF

TUAN MUDA POSESIF
Hari Yang Tidak Di Inginkan


__ADS_3

Senja telah menyapa, setelah membersihkan diri mereka berlima kini berada di ikon ibukota negeri Z selanjutnya. Sungai yang terbentang luas dengan lampu yang berkelip indah di sekelilingnya, warga setempat juga menyewakan perahu untuk para pengunjung yang sedang menikmati sore yang santai untuk menikmati air sungai Z yang jernih itu.


Rombongan Deffin sedang menikmati malam terakhir di negeri Z ini, sebelum esok siang mereka harus kembali ke negeri mereka tercinta. Saking terpukaunya mereka dengan keramaian warga ibukota yang juga ikut meramaikan tempat ini, hingga tidak ada yang sadar ada seseorang yang memata-matai kegiatan mereka sedari pagi.


Seseorang misterius itu tersenyum bangga dengan hasil kerjanya seharian ini, entah bonus apa yang akan diberikan tuannya kali ini, dengan semangat dia segera pergi menemui penguasa negeri ini yaitu Tuan Daniel.


Daniel yang seperti biasanya duduk melamun di ruang kerjanya berubah antusias ketika mendengar suara pintu diketuk, tanpa dipersilahkan masuk Elma beserta seseorang mata-matanya langsung memasuki ruangan itu.


Setelah mereka berdua menundukkan kepalanya hormat, sang mata-mata langsung melaporkan semua informasi yang dia dapat secara mendetail.


Daniel yang tersenyum senang mendengar laporan anak buahnya langsung menyuruh pergi setelah memberikan bonus besar yang diimpikan orang tersebut.


Dia kemudian tertawa mengejek dan mengatakan, " Kamu bisa lihat sendiri 'kan Elma, bahwa aku sekarang bukanlah Daniel yang dulu, sekarang aku bisa dengan mudah mendapatkan apa yang aku inginkan."


"Iya, Anda benar Tuan. Tapi tetap saja niat Anda merebut Azkia itu tidak dibenarkan," sahut Elma. Daniel yang mendengar jawaban Elma tidak pernah tersinggung, ini bukan kali pertamanya Elma berani menasihatinya.


"Aku tidak peduli, kalau bukan karena kelicikan suaminya itu, aku dan Azkia mungkin kini sudah hidup bahagia bersama dengan anak-anak kita. Bukankah kamu tahu sendiri dahulu ada tatapan cinta dari Azkia untukku."


Daniel sampai sekarang tetap menutup pikiran dan hatinya, yang menjadi pegangan sampai saat ini adalah ingatannya dahulu tentang Azkia yang menatapnya penuh cinta.


"Tapi itu dulu Daniel !!!" teriak Elma frustasi jika Daniel tetap menggunakan alasan yang sama, dia sudah tidak memanggil Daniel dengan sebutan tuan, dia sekarang sedang memposisikan dirinya menjadi sahabat seperti dahulu ketika mereka bersama.


"Bukankah aku juga berulang kali mengingatkanmu, jika Tuan Deffin lah cinta pertama Azkia, dia melakukan kelicikan karena rasa cintanya kepada Azkia yang begitu besar, kalau bukan karena Azkia sedang kehilangan sebagian ingatannya mungkin mereka bisa bersatu bahkan sebelum Azkia bertemu denganmu!" ujar Elma berapi-api.


"Huh, aku tahu jika kamu sampai sekarang masih mendukung Deffin," ujarnya lirih. " Tapi apakah hanya Deffin yang boleh egois mempertahankan Azkia di sisinya, apakah aku sama sekali tidak boleh memperjuangkan rasa cintaku! bahkan kamu juga bisa melihat seberapa menderitanya aku selama ini." Mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


"Aku sangat tahu, oleh karena itu aku tidak ingin kamu melakukan kebodohan lebih dari ini, jika kamu tidak bisa menerima Bianca dan anaknya, kamu kan masih punya kesempatan mencari wanita lain. Kumohon lupakan Azkia, biarkan dia hidup bahagia bersama Deffin," pinta Elma lirih, dia benar-benar tidak ingin ada kekacauan besar yang terjadi diantara sahabatnya.


"Biarkan aku memperjuangkan perasaanku dahulu kepada Azkia, jika akhirnya aku mati di tangan Deffin, aku akan mati tersenyum karena sudah puas menunjukkan semua rasa cintaku kepadanya," ujar Daniel keras kepala.


Elma yang sudah lelah menghadapi keras kepalanya Daniel segera berlalu dari ruangan itu. Pikiran Elma semakin kacau mengingat nomornya di blokir Azkia, bagaimana dia bisa mencegah pertemuan yang akan terjadi sekitar kurang dari dua jam lagi.


Namun dia harus berusaha sekuat tenaga meski dengan waktu yang tidak cukup banyak ini. Dengan tergesa di langsung pergi ke arah mobilnya yang terparkir rapi di garasi rumah Daniel.


Dia harus bertemu dengan Azkia sekarang, meski dia datang dengan mengantarkan nyawanya sendiri. Namun Elma tidak bisa lolos di gerbang depan, penjaga dengan tegas melarang Elma keluar.


"Anda tidak diizinkan keluar sekarang Nona Elma, lebih baik Anda bersiap karena setengah jam lagi Tuan Daniel akan mengajak Anda pergi bersama," ujar pengawal tidak bisa dibantah.


Elma sangat kesal, namun dia harus tetap menggunakan akalnya, terpaksa dia kembali lagi mengembalikan mobilnya ke garasi.


Ketika sedang berjalan memasuki rumah, ternyata rasa kesalnya tidak cukup sampai di situ, karena sekarang sang nyonya rumah berjalan dengan angkuh menghampirinya.


Bianca saat ini sedang merasa di atas angin, dia benar-benar iri dengan Elma. Bagaimana bisa Elma dengan bebas berbicara dengan Daniel, diperbolehkan masuk ruang kerja Daniel yang siapapun dilarang masuk tanpa izinnya, Elma bisa melakukan apapun sesukanya meski tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Daniel.


Bahkan ini pertama kalinya Daniel mengajaknya keluar tanpa ada acara undangan dengan mulutnya sendiri. Biasanya Elma lah yang menjadi juru bicara Daniel, apapun yang ingin dikatakan Daniel, Elma lah yang akan menyampaikan, kecuali jika dihadapan publik Daniel akan bersikap seperti sewajarnya sebagai suami pada umumnya.


Rasa senang Bianca tiba-tiba lenyap ketika mendengar suara Daniel dari arah belakang.


"Hei! jangan banyak bicara, Kamu dan anakmu cepatlah bersiap," ujar Daniel dingin seperti tadi ketika memintanya untuk makan malam bersama di luar.


"Ba- baik," sahut Bianca yang langsung melenggang menuju kamarnya dan anaknya.

__ADS_1


Sedangkan Elma menatap kasihan kepada Bianca, namun dia tidak bisa sepenuhnya berempati kepada Bianca, karena kelicikan dan ambisi Bianca sendirilah yang ingin menjadi istri Daniel membuat dirinya sendiri mengalami kehidupan penuh drama ini.


Lalu Daniel beralih berbicara kepada Elma dengan suara datarnya, "Kamu juga harus bersiap sekarang." Tanpa menunggu jawaban Elma, Daniel segera berlalu ke ruang tamu untuk menunggu mereka semua bersiap.


...****************...


Jam makan malam telah tiba, Daniel dan keluarganya sudah berada di restoran lantai dua, sesuai rencana yang sudah diperkirakannya bahwa Azkia akan memilih lantai dua, mengingat Azkia suka sekali melihat pemandangan. Meski sekarang Daniel terlihat santai namun dalam hatinya sangat gugup, karena ini kali pertama Daniel akan bertemu dengan Azkia setelah sekian lama.


Di meja makan ini suasana hati setiap orang berbeda-beda, jika Daniel sedang gugup, Elma pasti sangatlah cemas, dia berharap rencana yang sudah disusun di otaknya ketika bersiap di rumah tadi berhasil.


Bianca sedari tadi tidak berhenti menatap ponselnya dengan tersenyum, dia fokus memamerkan makan malam bersama ini di akun sosial media miliknya, sudah hal biasa dia tidak menghiraukan putranya yang sedang duduk di sampingnya, sudah ada pengasuhnya itu pikirnya.


Sedangkan sang pengasuh menatap Daniel dan Elma bergantian, tidak ada yang tahu ada rasa yang di pendamnya selama ini kepada Daniel kecuali Elma, seseorang gadis yang memiliki ciri fisik hampir sama dengan Azkia, gadis yang pernah ditolong tuannya sekarang sedang memandang sendu tuannya.


Hingga suasana itu berubah ketika mendengar seorang wanita berbicara dengan suaminya.


"Sayang, kita duduk di sana saja, kita bisa leluasa menikmati keindahan ibukota ini di malam hari," tunjuknya di salah satu sudut ruangan sebelah dinding kaca yang menampilkan keindahan pemandangan malam ibukota.


"Tentu, apapun keinginanmu akan kuturuti Kia ku sayang."


Tiba-tiba senyum kedua pasangan itu memudar, ketika ada seorang lelaki yang memanggil Azkia dengan suara yang tidak asing.


"Azkia ...."


Dan akhirnya hari yang tidak diinginkan itu kini telah terjadi...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2