TUAN MUDA POSESIF

TUAN MUDA POSESIF
Jangan Suka Ngintip !!!


__ADS_3

Di hari yang sama.


Kebersamaan Azkia dan Erwin membuat suasana hati Deffin benar-benar kacau. Jika seperti ini sudah pasti yang dibuat repot adalah Sekretaris Roy.


Apa gunanya Anda di sini Tuan? Jika semuanya ternyata saya juga yang mengerjakan. Lebih baik anda mengikuti nona saja. Gumam hati Sekretaris Roy kesal.


Sang tuan mudanya memang mengikuti rapat, raganya pun duduk di kursi utama, namun matanya tidak beralih dari ponsel yang menampilkan video live kebersamaan Azkia dan Erwin.


Sang pengawal bayangan suruhannya telah bekerja sangat baik. Selama ini mimik wajah Deffin tetap datar. Dan Deffin masih bisa mendengar pembahasan rapat ini meski hanya sekedar lewat saja di indra pendengarannya.


Segala sesuatu akhirnya Roy yang memutuskan, karena percuma bertanya kepada tuan mudanya yang cuma hanya bisa menjawab heem. Beruntung rapat ini tidak terlalu penting dan hanya melibatkan beberapa Kepala devisi saja.


"Sial," ujar Deffin tiba-tiba, ketika sambungan video itu mati. Yang berada di dalam ruangan hanya menyimak saja tidak berani mengeluarkan suara, hanya Roy yang terlihat membuang napas kesal namun tidak berani melakukan aksinya lebih lanjut.


Tidak lama kemudian terdengar nada dering ponsel Deffin dengan segera dia mengangkatnya.


"Cepat katakan," ujar Deffin tidak sabar.


"Maaf Tuan, ada remaja yang tidak sengaja menabrak saya hingga Hp saya jatuh dan terinjak."


Tanpa mau mendengar informasi lebih lanjut lagi, Deffin sudah mematikan sambungan telepon itu.


"Roy, ayo pergi sekarang." Sambil berlalu dia sama sekali tidak mempedulikan rapat ini.


Dengan terpaksa Roy mengakhiri rapat ini, dan mengikuti Deffin ke mana akan pergi.


Kecerobohan Erwin membuat Deffin yang akhirnya turun tangan sendiri untuk mengawasi mereka.


Namun Erwin tidak akan pernah menyesal karena dia sudah merasakan nyamannya pundak Azkia untuk bersandar.


Erwin sengaja menyuruh anak buahnya yang masih remaja itu untuk merusak ponsel pengawal bayangan itu, dia memberi kode ketika akan menyandarkan kepalanya di pundak Azkia.


Dan keributan perdebatan tiga orang itu tidak bisa dihindari. Itu adalah peluang bagus untuk mengalihkan perhatian kedua Pengawal itu, jadi tidak ada yang tahu momen indah bagi Erwin itu.


Mobil sekretaris Roy melaju dengan cepat membelah jalanan menuju danau. Setelah sampai terlihat dua pengawal suruhan Deffin menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


"Tuan," sapa mereka Kompak sambil menundukkan kepalanya.


"Di mana tempat kalian mengawasi tadi?" tanya Deffin yang ingin mengawasi Azkia di tempat pengawal tadi, karena dari situ bisa mengawasi Azkia dengan jelas.


"Di sana," tunjuk salah satu pengawal dengan sopan. Dia menunjukkan tempat di depan Azkia dan Erwin namun terhalang semak, dan terbentangnya danau dari jarak mereka membuat Azkia tidak menyadari jika sedang diawasi.


Deffin yang akan menuju tempat itu dicegah oleh Roy.


"Tunggu Tuan, jangan kembali ke tempat para pengawal tadi, mereka sudah membuat keributan. Lebih baik di sebelah sana saja tepat di belakang nona dan Erwin, dari sana malah kita bisa mendengarnya dengan jelas pembicaraan mereka."


Deffin sejenak menimbang perkataan Roy, lalu dia menyetujuinya, akhirnya kedua orang itu menuju tempat yang ditentukan, sedangkan kedua Pengawal tadi kembali ke mobil, tugas mereka sudah selesai.


Benar apa yang dikatakan Roy, pembicaraan mereka terdengar lumayan jelas. Pohon besar itu bisa menutupi tubuh mereka berdua, sedangkan Azkia dan Erwin yang asyik saling meledek sama sekali tidak sadar dengan kehadiran dua orang itu.


Deffin sudah ingin keluar dari tempat persembunyian, dia sudah terbakar api cemburu, namun Roy bisa mencegahnya.


"Tuan, lelaki yang dipegang adalah janjinya, saya harap anda tidak terpancing kejahilan Erwin."


"Huh, baiklah aku akan bersabar menghadapi psikopat gila itu."


"Aduh, sialan," pekik Deffin, begitu juga Roy, mereka segera mengucek matanya, dan segera pergi dari tempat itu sambil mulut yang tidak berhenti mengumpat.


Terasa gatal dan juga perih mungkin mata mereka sedikit iritasi, hingga akhirnya mereka memilih pulang.


Sedangkan Azkia juga mengajak Erwin pulang, karena sudah tidak kuat dengan teriknya sinar matahari.


...****************...


Tidak lama setelah mobil Roy sampai di rumah Deffin, mobil milik Azkia juga telah tiba.


Deffin dan Roy sudah duduk di sofa ruang tamu dan melihat bekas gigitan semut tadi lewat kaca.


Ada benjolan kecil di mata bagian bawah milik mereka, jika dilihat seperti mata bintitan.


Azkia yang masuk diikuti Erwin dibelakangnya heran mengapa dua orang itu kompak pegang kaca.

__ADS_1


"Sayang, ada apa?"


Deffin menurunkan kacanya begitu juga dengan Roy. Azkia dan Erwin kaget bukan main melihat mata bintitan kedua orang itu.


"Kenapa dengan mata kalian?" ujar Azkia langsung mendekat ke arah Deffin, sejenak dia melihat benjolan itu. "Aku akan ambilkan salep mata dulu," lanjutnya sambil berlalu.


Sedangkan Erwin yang berdiri tidak jauh dari mereka tidak bisa menahan gelak tawanya lagi, bukannya berempati tapi malah dengan tega dia mengatakan,


"Makanya jangan suka ngintip!! Tau rasa 'kan mata kalian jadi bintitan." Di akhiri dengan terkekeh geli, dia sudah menduga bahwa Deffin tidak akan membiarkan dia dan Azkia pergi berdua dengan tenang.


Kompak mereka melempar bantal sofa yang dengan sigap ditangkap Erwin, tanpa mendengarkan ocehan mereka Erwin langsung pergi setelah mengembalikan bantal sofa itu.


Sedangkan Azkia yang sudah membawa salep langsung menuju arah suaminya dan duduk di sampingnya, dengan telaten Azkia mengoleskan salep itu di mata Deffin.


"Kenapa dengan matamu?" tanyanya heran setengah khawatir.


"Tidak apa, hanya ke gigit semut waktu di kantor," ujar Deffin setengah berbohong.


Azkia percaya saja dengan apa yang dikatakan Deffin, setelah selesai mengobati Deffin, dia beralih ke Roy dan menanyakan,


"Mau aku bantu mengoleskannya juga Sekretaris Roy?" tanya Azkia yang memang tipe orang yang peduli terhadap orang lain.


Roy yang akan menjawab dengan senang hati, sudah dilempari salep yang dipegang Azkia, dan salep itu mendarat tepat di kening Roy.


"Enak saja, kau oleskan sendiri. Sampai Azkia menyentuh kulitmu, aku buat benjol seluruh tubuhmu," ancam Deffin serius.


Roy hanya mengangguk mengerti, dengan jengah dia membatin,


Seharusnya aku berguru pada Erwin, anak kecil itu tidak kusangka bisa mudah membodohi tuan muda.


Sedangkan Azkia tersenyum kikuk, merasa tidak enak pada Roy akibat kecerobohan mulutnya yang memancing kekesalan Deffin.


"Ayo kita ke kamar, kita butuh waktu lama untuk membersihkan diri, aku tidak mau bau parfum Erwin masih tertinggal di badanmu," ujar Deffin yang menarik lembut pergelangan tangan Azkia.


Azkia hanya mengangguk dan tersenyum, tidak ingin menambah raut wajah kekesalan suaminya, dan di dalam hatinya dia lega bisa berbicara dengan Erwin dari hati ke hati, bahwa memang inilah yang terbaik untuk mereka semua.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2