
Hari terus berganti, tidak terasa tiga purnama setelah tragedi negeri Z telah dilewati, akhir-akhir ini entah mengapa nafsu makan Azkia meningkat, terhitung hampir satu bulan ini para koki sering disibukkan memasak hanya selang beberapa jam saja.
Namun keanehan ini tiba-tiba hilang, mendadak hari ini nona muda mereka tidak nafsu makan, Azkia bahkan tidak mau turun dari ranjang, karena mengeluh pusing dan mual.
Deffin bahkan memilih tidak pergi bekerja, dia terlalu panik melihat kondisi Azkia sekarang,
sudah puluhan dokter yang datang ingin memeriksa, namun baru saja mendekat Azkia langsung mengusirnya karena merasa mual mencium aroma parfum para dokter.
Para dokter yang gugup melihat kemarahan Deffin yang ditunjukkan kepada mereka, membuat para dokter melupakan analisis kemungkinan besar sakit yang dialami Azkia.
"Dasar bodoh! seharusnya sebelum datang kemari kamu mandi terlebih dahulu, jangan hanya menyemprotkan parfum yang membuat istriku semakin mual!!!" teriak Deffin kepada dokter wanita yang berusia cukup muda, ini sepertinya akan menjadi dokter terakhir yang dipanggil Deffin.
Seluruh tubuh dokter cantik itu gemetar takut mendengar teriakkan Deffin.
"Maaf, Tuan Muda," cicit dokter itu menundukkan kepalanya, lalu diantar Erwin menuju pintu utama.
Setelah berhasil keluar melewati pintu utama, sang dokter melakukan pembelaan, dia tidak ingin pelayan tampan disampingnya ini mengira dia belum mandi seperti apa kata Deffin.
"Maaf Tuan, saya sebelum datang ke sini sudah mandi terlebih dahulu, bahkan saya menggunakan parfum terbaik, tapi saya juga bingung kenapa nona Azkia langsung mual ketika saya baru saja mendekat, aneh saja seperti nona sedang ...." Dokter itu mendadak ingat sesuatu. "Astaga, apakah nona sedang hamil?!" pekiknya.
Sang dokter berbalik badan berniat mau menemui Deffin untuk menyampaikan analisisnya, namun suara Erwin menghentikan langkahnya.
"Apa kamu bisa menjamin dugaanmu benar?! jika sampai terjadi kesalahan nyawamu yang menjadi gantinya, tuan Deffin tidak bisa melihat nona Azkia sedih, jika sampai nona Azkia kecewa karena tidak mendapat kenyataan berita gembira itu, maka tamatlah riwayatmu."
Wajah dokter cantik itu semakin pucat, ternyata lelaki di depannya meski hanya cuma pelayan tidak kalah menyeramkan dari majikannya.
Dengan segera dokter itu pamit undur diri, semoga ke depannya tidak perlu lagi dipanggil datang ke rumah ini, batinnya.
Erwin kembali menemui Deffin dan Roy ke lantai atas, mereka sekarang duduk saling berhadapan di sofa tepat di depan kamar utama.
__ADS_1
"Tuan, kenapa Anda tadi tidak ikut masuk saat dokter akan memeriksa?" tanya Erwin penasaran. "Mungkin jika Anda ikut masuk nona mau diperiksa," lanjutnya.
Deffin tidak menjawab namun melirik Erwin dengan kesal, Deffin yang kemudian membuang napas kesal membuat Roy juga ikut penasaran.
"Apa Anda menyembunyikan sesuatu Tuan? apa nasib Anda sama seperti para dokter tadi?"
"Sialan kau!" Deffin melemparkan bantal sofa tepat mengenai wajah Roy, namun wajahnya langsung melengos, dalam hatinya membenarkan apa yang diucapkan Roy.
Lalu ingatannya kembali kepada kejadian tadi pagi pada waktu bangun tidur.
...****************...
"Sayang, menyingkirlah! kamu bau," ujar Azkia sambil menendang kaki Deffin dengan kakinya, tangan Azkia sedang sibuk menutupi hidungnya, Deffin yang tidur tengkurap karena kelelahan olahraga semalaman dengan Azkia mulai terusik tidurnya karena tendangan kecil Azkia.
"Apa sih Sayang, jangan bercanda aku masih ngantuk, mau aku terkam lagi," sahut Deffin dengan suara khas bangun tidur.
Azkia yang ingin mendebat mengurungkan niatnya, rasa mualnya semakin bergejolak minta dikeluarkan, ketika Deffin malah mendekat berniat memeluknya.
Bergegas Deffin menyusul Azkia ke toilet, melihat Azkia yang muntah membuat Deffin semakin cemas, tanpa berpikir panjang dia segera mendekat untuk membantu mengurut tengkuk Azkia.
"Berhenti!!! kubilang jangan mendekat, huek ...."
Deffin yang bingung ingin sekali protes, namun melihat istrinya tidak main-main dia terpaksa menurut. Azkia yang mengibaskan tangannya mengusir Deffin membuat Deffin cemberut, namun lagi-lagi dia menuruti Azkia, dengan langkah berat dia keluar dari ruangan itu.
Cukup lama Deffin menunggu, akhirnya Azkia keluar dengan wajah tampak lebih segar, sepertinya habis mandi, pikir Deffin.
"Stop Sayang, kumohon jangan mendekat, entah mengapa aku mual mencium aroma tubuhmu."
"Kia, jangan bercanda. Aroma tubuhku sama seperti biasanya, selalu wangi hingga membuatmu mabuk kepayang," ujar Deffin tidak terima.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu Sayang, apa mungkin karena bekas parfum yang menempel di badanmu. Coba kamu sekarang mandi dulu, tapi jangan pakai sabun dan shampo!" perintah Azkia dengan lemah sambil bersandar di ranjang.
Deffin mengangguk, dengan segera dia menuju kamar mandi, namun dia tidak menuruti perintah Azkia tentang larangan memakai sabun dan shampo.
"Huh, ada-ada saja keinginannya eh bukan, lebih tepatnya aneh, apa gunanya mandi tidak memakai sabun dan shampo, bagaimana bisa menghilangkan bekas parfum ini jika tidak memakai sabun, untung kamu istri kesayanganku," gerutu Deffin sambil menuangkan sabun cair sebanyak mungkin.
Setelah menghabiskan cukup lama untuk mandi dan berganti pakaian, lebih tepatnya memastikan tidak ada bau parfum, yang tercium hanya aroma sabun mandi kesukaan Azkia dan dirinya, dengan penuh senyuman dia keluar dari walk in closet, namun masih beberapa langkah mendekati Azkia, Azkia kembali mengomel.
"Sayang, sudah kubilang jangan pakai sabun, aku saja terpaksa tidak pakai sabun karena mual mencium aroma sabun mandi, sekarang lebih baik kamu keluar, jangan masuk kamar sebelum aroma itu hilang," sungut Azkia sangat kesal.
Deffin menatap nanar Azkia, seperti seorang suami yang sedang diusir keluar kamar karena habis keluyuran hingga malam, dengan lesu Deffin melangkahkan kakinya, namun wajah lesunya langsung berubah ketika Azkia memanggilnya, semoga saja Azkia membatalkan perintahnya, pikirnya.
"Sayang ...." panggil Azkia lembut.
"Iya, Sayang," sahut Deffin antusias, dengan cepat dia membalikkan tubuhnya.
"Maaf, tapi bolehkah aku minta tolong, tolong kasih tahu pelayan suruh mencari sabun dan shampo yang tidak mempunyai aroma wangi yang terlalu menyengat," pinta Azkia tanpa rasa bersalah.
"Hanya itu, tidak ada yang lain?" tanya Deffin kecewa, dia berharap Azkia menyuruhnya duduk di sampingnya.
"Iya, eh ... tunggu dulu, tolong suruh pelayan juga membawa sarapan ke sini, kepalaku juga pusing, aku tidak bisa turun ke bawah, tidak apa-apa 'kan kalau aku tidak menemani kamu sarapan? maaf aku benar-benar mual jika mencium aroma tubuhmu," ujar Azkia pelan, dia merasa kasihan melihat wajah muram Deffin.
Deffin hanya mengangguk lemah, dalam pikirannya dia merutuki kebodohannya yang tidak menuruti permintaan Azkia soal mandi.
Setelah menutup pintu Deffin mengambil napas panjang, mau cari alasan apa agar tidak diledek Erwin jika dia diusir dari kamar, apalagi juga ada Roy yang semalam menginap di sini karena harus lembur karena pekerjaan kantor.
Arrghh ... aku butuh melampiaskan rasa kesalku, tapi mengapa tiba-tiba Kia ku berubah? kenapa Kia jadi aneh? mungkinkah dia sudah bosan padaku?
Pikiran konyol Deffin karena terlalu sedih.
__ADS_1
Bersambung