
Pagi ini setelah sarapan Deffin dan Azkia kembali ke kamar, hari ini dan beberapa hari selanjutnya Deffin mengambil cuti, dia sedang ingin mengganti beberapa tahun penderitaannya dengan mengurung Azkia seharian di kamar.
"Sayang, tapi besok kita keluar ya, aku ingin jalan-jalan seharian sama kamu," ujar Azkia manja.
Kini mereka berdua sedang duduk di sofa.
Masa iya selama kamu libur, aku terkurung di dalam kamar, bisa rontok semua tulangku nanti.
Terdengar Deffin mendengus, tapi melihat wajah Azkia yang menggemaskan membuatnya tidak bisa menolak keinginan istri kesayangannya itu.
"Baiklah," ujarnya dengan malas.
Azkia tersenyum senang, lalu mencubit kedua pipi Deffin,
"Ayo sekarang ceritakan tentang Erwin, aku penasaran kenapa kamu bisa menahan diri untuk tidak memarahinya."
Deffin menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, lalu tangannya menarik kepala Azkia agar bersandar di badannya, mata Deffin menerawang langit-langit kamar dia bercerita sambil membayangkan reka adegan masa lalu.
...****************...
Setelah membuat Arnold babak belur, Deffin segera menyusul Erwin yang sudah dia perintahkan lebih dulu untuk mengantar Azkia ke rumah sakit.
Deffin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, setelah sampai dia langsung berlari menuju ruang operasi.
Sampai di depan ruang operasi terlihat Erwin sedang berdiri dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Bagaimana?" tanya Deffin cemas.
Erwin yang akan menjawab pertanyaan Deffin diurungkan karena melihat dokter yang menangani Azkia keluar dari ruang operasi dengan wajah panik.
"Maaf Tuan Muda kami kehabisan stok darah yang sama dengan nona Azkia," ucapnya bergetar lalu memberanikan diri melirik wajah Deffin. "Kami juga sudah mencari di seluruh rumah sakit di kota ini, dan semua juga kosong. Jenis golongan darah nona sangat sulit dicari, saya takut-"
Dokter belum menyelesaikan kalimatnya, sudah dipotong duluan oleh Deffin,
"Erwin, anak buahmu sudah mendapatkannya bukan," ujar Deffin dingin namun menyiratkan makna penuh luka.
"Maaf Tuan Muda, dokter bilang tidak ada waktu lagi jika menunggu kiriman darah dari luar kota, tapi sebenarnya ...."
__ADS_1
Erwin terlihat ragu akan menyampaikan kalimat selanjutnya,
"Tapi apa!!! cepat katakan!!!" teriak Deffin dengan mencengkeram kerah baju Erwin.
Tidak tahukah nyawa Azkia sedang di ujung tanduk, dan Erwin masih bertele-tele.
"Saya memiliki golongan darah yang sama dengan Azkia, saya bisa mendonorkan darah saya, jika Tuan Muda mengizinkan," ujarnya dengan menunduk sedang menyembunyikan senyuman tipis miliknya.
Deffin meninju dinding rumah sakit, Erwin menyadari sepertinya Deffin sudah bisa merasakan rencana licik miliknya.
"Kau gila, aku tidak mau darah psikopatmu mengalir ke tubuh Azkia," Geram nya. "Aku sudah puas memukuli Arnold, jadi jangan pancing lagi kemarahanku, cepat suruh anak buahmu mengantar darahnya sekarang juga!"
"Maaf tuan muda sudah tidak ada waktu lagi," ujar sang dokter menyela.
Erwin menyeringai, namun dalam hatinya berkata,
Tuan muda Anda jangan serakah, dan maaf jika aku mengambil kesempatan atas kejadian ini,
aku terpaksa melakukannya karena aku sadar sampai kapan pun tidak bisa merebut Azkia dari sisi Anda, dan biarkan cukup hanya darahku saja yang bisa menyatu dengan Azkia.
"Tuan muda, saya tidak pernah meminum darah mereka hanya me*****inya saja, anda jangan khawatir saya juga sudah melakukan check-up, bahwa tidak ada penyakit dalam diri saya."
"Apa yang kau mau," ujar Deffin tanpa basa-basi.
"Sederhana saja Tuan, Anda jangan pernah melarang kedekatan kami layaknya seorang teman, meski Azkia kelak nantinya menjadi istri anda, jangan melarang apapun yang sudah menjadi keinginan Azkia jika ingin bersama dengan saya, dan jangan melarang saya untuk tetap mencintai Azkia," ujar Erwin dengan senyum menyebalkan.
Deffin yang sudah tidak memiliki pilihan dengan berat hati mengucapkan,
"Baik, tapi kalau sampai kamu melebihi batas aku akan menjauhkan kalian, tidak bahkan aku 'tak segan untuk membunuhmu."
"Anda bisa mempercayai saya Tuan Muda, segila apa saya mencintai Azkia, tidak mungkin saya akan mengkhianati Anda."
Setelah kesepakatan itu, akhirnya Erwin mendonorkan darahnya untuk Azkia. Namun Erwin sampai sekarang sangatlah sadar jika tuan mudanya tidak akan pernah rela dia dekat dengan Azkia, buktinya ada saja cara agar mereka berdua tidak dekat.
...****************...
"Sayang, berarti dua kali Erwin menyelamatkan hidupku," ujar Azkia tersanjung.
__ADS_1
Deffin yang mendengar dan melihat wajah takjub Azkia berdecak kesal.
"Hei, pertemuan pertama kalian tidak termasuk, dia menolongmu dari preman itu karena sedang membantu aku tuannya," ujar Deffin kesal.
"Sampai sekarang aku masih kesal dengan sikapnya, kurang ajar sekali dia membuntutiku karena penasaran dengan gadis yang aku sukai, padahal aku bisa mengelabuhi Roy agar tidak bisa kenal denganmu, cukup Arnold sialan itu saja sudah membuatku cemburu setengah mati, dan lebih kurang ajarnya Erwin ketagihan kau obati, sehingga selama seminggu dia sengaja membuat luka dengan berlatih bertarung dengan para anak buah kakek."
"Jadi kamu mengetahui semua kelicikan Erwin," ujar Azkia dengan tertawa, dia juga ingat dulu alasan Erwin yang diberikan sama dengan apa yang dikatakan Deffin.
Deffin menarik gemas hidung mancung Azkia, sontak membuat Azkia berhenti tertawa dan berganti mengaduh kesakitan, lalu dengan kesalnya Azkia akan memukul lengan Deffin namun kalah cepat karena Deffin mencekal tangannya.
Dengan lembut Deffin menggenggam tangan Azkia manaruhnya di atas paha Deffin, kemudian tangan Deffin satunya yang bebas memegang pipi Azkia,
"Aku akan selalu peka jika itu menyangkut semua tentang dirimu, untuk itu tidak akan ada yang bisa merebutmu dariku, atau pun kamu ingin lari dariku. Aku akan selalu menjauhkan rencana buruk itu, namun jika memang takdir yang membuat perpisahan, maka aku akan memilih hilang dari dunia ini untuk selamanya, karena aku tidak akan pernah sanggup melihatmu jauh dariku," ujar Deffin sangat serius, membuat Azkia menitikkan air mata bahagia, dengan haru Azkia berkata,
"Dari dulu sampai sekarang aku tidak bisa membenci ataupun muak dengan sikap posesifmu, entah mengapa aku malah merasa nyaman, aku bahagia menjadi istrimu, bisakah kamu tetap mencintaiku seperti ini, tapi aku minta hanya sedikit saja sikap posesifmu itu di kurangi," ujar Azkia dengan memberikan contoh ukuran yang harus di kurangi dengan kedua jarinya.
Deffin tergelak lalu memeluk Azkia dengan erat, "Kamu jangan bermimpi untuk aku bisa mengurangi sikap posesifku padamu, mungkin malah akan bertambah nantinya," ujar Deffin dengan tawa yang membuat Azkia memanyunkan bibirnya.
"Dasar Tuan Muda menyebalkan," umpat Azkia yang terdengar sangat jelas di telinga Deffin.
Dengan segera Deffin menggelitiki pinggang Azkia,
"Kau bilang apa, berani-beraninya mengumpatiku secara langsung di hadapanku," ujarnya dengan tawa, tidak memberhentikan aksinya meski Azkia berteriak minta ampun.
"Ampun sayang, ampun ...."
Azkia langsung memilih lari ke arah ranjang karena sudah tidak kuat menahan geli.
Deffin yang melihat arah Azkia lari segera menyusul, tidak lupa dengan bibir yang menyeringai.
"Pilihan yang bagus, ranjang adalah tempat yang baik untuk menghukummu."
Azkia yang sadar hendak berdiri namun terlambat karena Deffin sudah menubruknya lalu menindihnya, dan setelah itu terjadi lah apa yang harus terjadi...
Bersambung.
Bab ini cukup panjang sebagai ganti kemarin tidak up karena ria tidak enak badan dan gak mood untuk nulis 🙏🙏
__ADS_1
selalu tinggalkan jejak agar ria tetap bisa semangat.
salam sayang ♥️♥️