TUAN MUDA POSESIF

TUAN MUDA POSESIF
Hancurnya Dunia Deffin Part 2


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan yang cukup bersih, luas dan cukup terbuka, tidak seperti di film-film di mana tempat penculikan yang selalu gelap dan pengap karena tidak adanya ventilasi udara.


Ada empat lelaki dan satu perempuan yang duduk di kursi dengan ikatan kuat yang jelas tidak bisa membuat mereka kabur. Sang perempuan yang disumpal mulutnya membuat dia tidak bisa mengeluarkan suaranya, sekuat tenaga dia mencoba menghentakkan kursi yang dia duduki, agar bisa membangunkan keempat lelaki itu.


Huh, ternyata kalian hanya lelaki lemah, ramuan yang tidak seberapa itu membuat kalian pingsan hampir satu jam.


Setelah beberapa kali usaha, akhirnya keempat lelaki itu mulai mendapatkan kesadarannya, mereka berempat mengamati ruangan itu lalu kompak terkejut ketika pandangan mereka berakhir di sosok perempuan yang mereka kenal.


"Hei, kenapa kamu ada di sini?" tanya Arnold. "Dan mengapa kamu juga diikat seperti kita, dan lebih parahnya mulutmu disumpal," lanjutnya.


"Sepertinya dia berada di pihak kita, Tuan Muda," ujar Roy.


Deffin hanya diam, pikirannya hanya tertuju bagaimana keadaan Azkia sekarang. Terlihat Elma semakin menghentakkan kursinya, dalam batinnya menyuruh para lelaki itu saling membantu berusaha melepaskan diri, namun mereka tidak ada yang mengerti maksudnya.


"Hei, jangan berisik! kamu kira kita juga tidak lelah diikat seperti ini," ujar Arnold yang berpikiran bahwa Elma lelah dengan kondisinya.


Dasar bodoh. Elma


"Erwin, kursimu dengan Arnold cukup dekat, coba kau mendekat dan lepaskan ikatan Arnold," perintah Deffin yang sudah mendapatkan kesadarannya.


Ketika Erwin mulai bergerak, tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka. Keempat lelaki itu menatap sengit lelaki yang sedang berjalan memasuki ruangan itu.


"Hahaha ... akhirnya kalian sudah sadar. Bagaimana kabar kalian?" tanya Daniel dengan senyum mengejek. "Bukankah aku orang yang baik, karena aku menempatkan kalian di tempat yang layak, tentu saja karena Azkia sebentar lagi akan aku jemput untuk datang ke sini."


Keempat lelaki itu memandang tajam Daniel, sedangkan Elma menghela napas panjang, berdoa semoga Deffin mau mengikuti apa yang diperintahkan Daniel nanti, agar masalah ini cepat beres, yang utama adalah mereka bisa bebas dari ikatan ini terlebih dahulu.


"Jaga ucapanmu!!! awas saja kalau kamu berani datang ke villa," ujar Arnold yang selalu gampang terprovokasi.


"Huh, kamu lebih baik diam! Jangan karena Azkia memaafkan kebodohanmu, kamu masih merasa berhak mencintai Azkia."


Arnold ingin membalas kata-kata Daniel, tapi Deffin lebih cepat memotong ucapannya.


"Cukup Arnold. Dan kau, akan kukasih apa yang kamu inginkan, asalkan bebaskan kami, dan biarkan kami dan Azkia pergi, dan jangan ganggu aku dengan Azkia lagi." Deffin berusaha mengajak damai, dia tidak ingin mengambil risiko kehilangan Azkia.


"Tentu saja kamu harus menuruti keinginanku, aku ingin menjadikan Azkia istriku, dan pasti aku akan membiarkan kalian semua pergi dari negara ini."


Deffin meludah. "Langkahi dulu mayatku, baru kamu bisa bermimpi hidup bersama Azkia," ujarnya dingin.

__ADS_1


"Hei, pecundang! hadapi aku dulu baru Tuan Muda," ujar Erwin.


Daniel melihat jam tangan mahalnya. "Ck, meladeni kalian bicara memang menyenangkan, tapi sayang aku tidak memiliki banyak waktu, aku harus menjemput calon istriku, kasihan sudah cukup lama dia cemas memikirkan nasib calon mantan suaminya."


"Hentikan niatanmu b******k! lepaskan aku, akan kubunuh kau jika berani datang ke villa!!!" Deffin meronta ingin dilepaskan.


"Cih, simpan saja emosimu untuk nanti."


Daniel hampir sampai pintu, namun dia berhenti ketika mendengar Deffin berbicara lagi.


"Akan kupotong tanganmu, jika sampai menyentuh istriku meski sehelai rambutnya saja!" teriak Deffin marah.


Daniel mengepalkan tangannya lalu dengan datar dia mengatakan, "Sungguh serakah sekali dirimu. Tapi kamu tenang saja, aku jelas memahami jika Azkia tidak suka disentuh lelaki lain yang bukan orang yang dicintainya, mungkin dia tersenyum menerima, namun tidak dengan hatinya, sedikit demi sedikit dia akan menjauh dan semakin membenci orang itu jika melewati batas, jadi aku tidak akan melakukan hal bodoh.


Erwin dan Arnold tercengang mendengar perkataan Daniel, setelah Azkia mengingat semua, meski fisik mereka dekat namun tidak sama seperti dulu, Azkia memang seperti membangun tembok yang tak kasat mata di antara mereka. Mungkinkah Azkia melakukan apa yang Daniel ucapkan, pikir mereka berdua.


...****************...


Akhirnya Azkia bersedia pergi dengan Daniel, setelah melewati perdebatan panjang yang berakhir Daniel menunjukkan video ketika Deffin dan yang lainnya dipukuli untuk memaksa agar Azkia mau ikut dengannya.


Daniel mengabaikan tatapan penuh kebencian dari Azkia, hari ini apapun caranya Daniel akan menjadikan Azkia miliknya dan untuk itu dia harus mengeraskan hatinya.


"Sayang ... hiks ... maafkan aku ...." Menyentuh luka Deffin yang membuatnya juga ikut terluka.


"Hei ... aku tidak apa-apa, jangan menangis."


Azkia yang geram melihat semua orang yang menyayanginya di perlakukan seperti itu, membuatnya murka.


"Kamu jahat, Daniel!!! bagaimana kamu bisa melakukan ini semua, dan kenapa kamu juga menyakiti Elma yang selama ini selalu ada di sampingmu!"


Daniel menatap Azkia dengan sendu. "Azkia, kamu mengatakan aku jahat, padahal mereka lah yang terlebih dahulu jahat kepadaku. Jika bukan karena kelicikan suamimu kita pasti sudah hidup bahagia sekarang, dan jika Elma tidak mengkhianatiku aku mungkin tidak melakukan hal ini kepadanya."


"Cukup Daniel! bisakah kamu melupakan masa lalu, kita sekarang sudah hidup bahagia dengan pasangan masing-masing, aku dengan Deffin, dan kamu dengan keluarga kecilmu."


"AKU TIDAK BAHAGIA AZKIA!!!" teriaknya marah. "Bagaimana bisa aku bahagia jika tatapan cintamu yang dulu selalu kauberikan padaku, kini digantikan dengan suamimu yang licik itu. Maafkan aku jika dulu aku seorang pengecut ...." Menatap dalam mata Azkia. " Tapi kini aku sudah berkuasa, sekarang waktunya aku merebut hatimu kembali."


"Tidak Daniel, kamu jangan gila! mungkin dulu aku memang pernah menyukaimu, tapi kamu sendiri yang membuat rasa itu hilang secara perlahan, kamu sendiri yang suka mempermainkan perasaanku." Menatap nyalang Daniel. "Dan aku sangat bersyukur mempunyai suami seperti Deffin, orang yang selalu memperjuangkan aku agar tetap di sampingnya dengan cintanya yang tulus, jadi jangan pernah mengatakan suamiku orang yang licik."

__ADS_1


Daniel yang kesal mendengar perkataan Azkia segera memerintahkan anak buahnya untuk menghajar Deffin. Dua pukulan yang dilayangkan ke wajah Deffin membuat Azkia berteriak, "Berhenti Daniel!!!" Lalu Azkia bersimpuh mengatupkan tangannya memohon dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.


"Kumohon berhenti ... tolong lepaskan mereka semua, biarkan kami pergi dari negeri ini," ujar Azkia memelas.


Daniel menyeringai lalu dia menyodorkan berkas perceraian di depan Azkia. "Tanda tangani surat cerai ini, baru aku melepaskan mereka semua, jika kamu tidak mau, mereka mati detik ini juga."


"Jangan tanda tangani surat itu Kia!" teriak Deffin. Namun terlambat Azkia sudah menandatanganinya, Daniel sangat senang melihatnya, "Sekarang giliranmu!" tunjuknya untuk Deffin.


Anak buah Daniel sudah menyodorkan surat itu, dan ikatan tangan Deffin sudah di buka, namun Deffin enggan menandatanganinya.


"Lebih baik aku mati daripada tanda tangan."


"Dengan senang hati, keinginanmu akan kukabulkan." Menatap anak buahnya, "Kauhajar dia sampai mati."


"Jangan Daniel!" teriak Azkia. " Sayang ... kumohon tanda tangani saja, aku tidak ingin melihatmu terluka lebih dari ini ...." pinta Azkia dengan tangisan yang terdengar semakin pilu.


Ketegangan yang belum usai di ruangan itu, tiba-tiba semakin mencekam ketika pintu dibuka dengan kasar oleh Bianca dengan sebuah pistol di tangannya.


"Sudahi drama menjijikkan ini, dan ternyata kaulah wanita yang membuat suamiku hanya tergila-gila padamu." Memandang Azkia remeh, dengan peluru yang siap diluncurkan ke arah Azkia.


"Apa yang kau lakukan!!! cepat pergi dari sini, dasar wanita gila!" teriak Daniel.


Bianca menatap sendu Daniel, lalu dia tersenyum sinis, "Aku menjadi gila karenamu Daniel, karena perlakuanmu selama ini kepadaku, jika perjuanganku selama ini tidak bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, mungkin dengan kematian wanita yang kamu cintai, membuatmu bisa mencintaiku."


Setelah selesai mengucapkan kata itu Bianca semakin siap menarik pelatuknya, laju peluru tidak akan dapat dicegah, peluru itu melaju akan mengarah tepat di kepala Azkia, Azkia yang sudah lelah dengan situasi ini memejamkan matanya pasrah, terdengar teriakan semua orang, "Awas! Azkia ...."


Namun yang terdengar spesial di telinga Azkia adalah " Kia ... menyingkir ...."


Doorr...


Aku akan menunggumu di surga, Deffin.


Aku mencintaimu suamiku. Batin Azkia.


Bersambung.


Tetap jaga hati dan pikiran ya teman²...

__ADS_1


biar tetap bisa memberikan komentar yang bijak, jangan marah terus tidak kasih like😢🤭


__ADS_2