TUAN MUDA POSESIF

TUAN MUDA POSESIF
Posesifnya Deffin.


__ADS_3

Setelah mengucapkan terima kasih kepada orang yang mambantunya, Azkia bergegas pergi karena Erwin tidak berhenti menelponnya sedari tadi ketika antri membayar belanjaan.


Sedangkan orang itu hanya menatap kepergian Azkia dengan tatapan yang susah diartikan.


Setengah berlari karena suara klakson mobil terus berbunyi menandakan orang yang ada di dalamnya tidak sabaran menunggu. Setelah menyerahkan kantong kresek kepada pengawal yang mengikuti di mobil belakang, Azkia masuk kembali di mobil yang di kemudikan Erwin.


Setelah mendudukkan dirinya di kursi penumpang bagian belakang.


"Kau ini kenapa tidak sabaran sekali sih," gerutunya pada Erwin yang mulai menjalankan mobilnya.


"Kau ingin telingaku cepat tuli karena tuan muda berteriak terus dari tadi."


"Hah! memangnya kenapa?" Azkia bingung, apalagi ini pikirnya.


"Tuan muda menelpon tidak berhenti mengomel sambil berteriak, sudah setengah jam lalu dia menunggumu di sana."


Erwin juga tidak kalah kesal semakin hari sifat posesif tuan mudanya sepertinya akan semakin bertambah.


apalagi setelah mendengar kembalinya Arnold.


Tadi pagi ketika baru sampai di rumah, dia harus melaporkan kegiatan Azkia setiap satu jam sekali.


"Kenapa dia menungguku, bukannya dia sedang bekerja."


"Mana aku tahu, tuan muda kan memang suka bertindak semaunya sendiri," jawab Erwin acuh.


"Tentu saja karena sifat posesifnya, dari dulu mana rela dia membiarkanmu bersama orang lain. Rasa gengsinya yang besar membuat orang tidak tahu posesifnya dia padamu. bahkan mungkin kau tidak sadar dia membuat banyak aturan karena bucin padamu," lanjut Erwin dalam hati.


Mobil akhirnya sampai di rumah lama Azkia.


Terlihat Deffin yang sudah menunggu, dia sedang duduk di kursi yang tersedia di teras, sedangkan Roy berdiri di belakangnya.


"Sayang," sapa Azkia dengan tersenyum manis, berharap bisa mengganti suasana hati Deffin yang terlihat kesal.


"Kenapa kaulama sekali," ketusnya.

__ADS_1


"Sayang aku kan masih mampir membelikan camilan untuk anak-anak, kalo cuma hadiah kan rasanya tidak lengkap."


Tunjuknya pada para pengawal yang membawa kantong kresek belanjaan Azkia tadi, di belakangnya juga ada beberapa pengawal yang membawa macam-macam box berisi hadiah yang sudah di persiapkannya terlebih dahulu.


"Kau kan bisa menyuruh mereka, tidak perlu kau yang repot," ucapnya sambil memencet hidung mancung Azkia karena gemas.


"Auw.. sakit sayang." Sambil mengusap pelan hidungnya, "Aku kan nggak repot jika cuma membelikan mereka camilan."


"Kau lupa aturanku, jangan memberikan perhatian berlebihan pada orang lain meskipun anak kecil sekalipun, kau lupa kau ini milik siapa, kau hanya boleh kasih perhatian padaku." saking kesalnya Deffin berbicara sambil menyentil kening Azkia pelan.


"Maaf ...."


"Mulai sekarang urusan hadiah atau apapun itu untuk anak-anak biar Erwin yang mengurusnya, dia sudah pasti tahu apa yang mau kauberikan." perintah Deffin tanpa ada penolakan.


"Baik," jawab Azkia, lalu dia digandeng Deffin masuk ke dalam rumah untuk melihat aktivitas di dalam rumah yayasan tersebut.


Sedangkan Erwin melotot tidak percaya dengan tugas barunya.


Apa apaan tuan muda ini, aku kan terbiasa menyiksa orang bukan tukang belanja, mana aku tahu selera anak-anak, kalau selera Azkia sudah pasti aku sangat tahu.


Erwin yang mendengar Roy menahan tawa melirik sebal,


Roy memang pernah iri dengan posisi Erwin, tidak ada laki-laki yang tidak terpesona dengan segala yang ada pada nona mudanya, pasti akan sangat menyenangkan bisa dekat dengannya, beruntung Roy bisa menahan perasaannya hingga tidak menambah kerumitan cinta yang terjadi di antara mereka.


...****************...


Sore kini telah berganti malam.


Di sebuah apartemen mewah, ada seorang lelaki yang berdiri di balkon, menikmati rokok yang dihisapnya, langit gelap bertabur bintang yang menemaninya dalam kesendiriannya.


Teringat kejadian siang tadi ketika membantu mengambil belanjaan yang terjatuh milik wanita cantik tadi.


Bukan tipe dia suka membantu orang, namun entah mengapa hatinya menuntunnya tadi. Dia


terpaku ketika menatap wajah cantik milik wanita tersebut, Entah mengapa jantungnya berdetak lebih kencang.

__ADS_1


Reaksi debaran di dadanya membuatnya lupa pada sorot mata yang tidak asing di penglihatannya.


Secepat kilat dia menggeleng.


"Apa yang aku pikirkan. Huh, jangan sampai kau melupakan apa yang membuatmu ingin kembali ke negara ini. Awas kau Deffin, jika aku sudah mengenali wajah peri kecilku yang sekarang, aku tidak akan segan merebutnya darimu. Persetan dengan rasa bersalahku dulu, memang aku masih sangat menyesalinya namun apa yang kauperbuat selama beberapa tahun ini cukup untuk menghukum kebodohanku," gumamnya.


Lalu dia masuk ke dalam kamar merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran besar itu.


pikirannya menerawang beberapa tahun apa yang di alaminya dulu.


Sebuah insiden membuatnya harus melakukan operasi plastik di bagian wajahnya, dia dulu memiliki wajah khas bule sesuai negaranya, namun kini wajah pria Asia yang tidak kalah tampan menjadi wajah barunya.


Dan ini ternyata menguntungkannya, Deffin tidak mudah mengenalinya, beruntung dulu hanya wajahnya yang rusak parah, organ tubuh lainnya hanya mendapati luka luar yang pasti segera sembuh.


Deffin sendiri orang yang membuatnya seperti itu, karena kebodohannya dia membuat kesalahan fatal, mungkin dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Karena dia penyebab Azkia hampir kehilangan nyawa.


Waktu dihajar habis-habisan oleh Deffin dia sama sekali tidak menghindar, dia menerima semua perlakuan dari Deffin. Ayahnya yang seorang bos mafia akhirnya membawanya keluar negeri untuk berobat.


Masalah ini tidak berbuntut panjang karena Arnold mengakui kebodohannya, sebagai permintaan maaf kepada deffin ayahnya tidak akan membolehkannya pergi ke negeri ini lagi. Sedangkan Deffin puas melampiaskan segala kemarahannya dengan merusak wajah Arnold.


Arnold tidak berdiam diri, dia menyuruh orang untuk memantau kondisi Azkia, Deffin yang mengetahui hal ini membuat alibi dan berita meninggalnya Azkia akhirnya terdengar di telinga Arnold.


Bertahun tahun Arnold terpuruk dalam rasa bersalah, dan semakin tidak berdaya karena sang ayah selalu bisa mencegahnya kabur meski niatnya hanya untuk melihat tempat peristirahatan terakhir Azkia.


Beberapa bulan lalu dia akhirnya bisa kembali ke negara ini, tepat setelah ayahnya meninggal.


Dia ingin mendatangi makam Azkia untuk langsung meminta maaf.


Arnold mendatangi panti yang dulu sering menjadi tempat bermain mereka, namun terkejutnya dia mendengar kenyataan bahwa Azkia belum meninggal, dan malah sekarang sudah menjadi istri Deffin. Ketika meminta foto sebagai bukti berita yang di dengar benar, ternyata Deffin terlebih dahulu menghapus semua yang berkaitan dengan Azkia.


Ibu panti yang tidak mengenali wajah asing Arnold, dan kepintaran Arnold yang membuatnya tidak curiga membuat Deffin tidak mengetahui tentang hal ini.


Setelah hari itu dia menyusun rencana, di mulai dari mengirimkan Ellena, meski Ellena berada dekat dengan Azkia dia tidak mengirimkan apapun informasi tentang Azkia untuk Arnold karena rasa cintanya membuatnya tidak menjalankan tugas dari Arnold dengan benar.


"Deffin kalau bukan karena sifat posesifmu dulu terhadap Azkia, semua ini tidak mungkin terjadi. Mungkin kita sekarang akan tetap menjadi sahabat, dan Azkia bisa memilih ingin menikah dengan siapa di antara kita bertiga, tidak seperti sekarang kau memanfaatkan amnesia Azkia akibat kecelakaan itu untuk mengikatnya. Ngomong-ngomong apakah Erwin masih mencintai Azkia juga, semoga saja sudah tidak,karena repot juga berurusan dengan psikopat, dan Deffin semoga sifat posesifmu itu sudah berkurang, agar aku lebih mudah mendapatkan Azkia sang peri kecilku,"

__ADS_1


ucap Arnold sebelum jatuh ke alam mimpi.


Bersambung.


__ADS_2