TUAN MUDA POSESIF

TUAN MUDA POSESIF
Hukuman Part 1.


__ADS_3

Azkia yang melangkahkan kakinya cepat hingga hampir menuju pintu utama untuk keluar dari rumah Erwin, harus gagal karena tangannya ditarik Deffin.


"Sayang, jangan marah. Dengarkan penjelasan kita terlebih dahulu," ujar Deffin memelas.


Azkia tidak menjawab, hanya memberikan pandangan tajamnya. Lalu dia beralih ke arah tiga lelaki yang berada di belakangnya, mereka juga menampakkan raut wajah yang sama dengan Deffin.


Dalam hati Azkia terpingkal, melihat wajah penuh rasa bersalah dan juga ketakutan milik mereka, ekspresi mereka sama persis seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya.


Tapi karena begitu baiknya Azkia mengekpresikan wajahnya, membuat mereka tidak sadar bahwa Azkia bukannya marah beneran, Azkia sangat bisa memahami tentang kejadian ini. Ketiga lelaki yang mencintainya secara berlebihan membuatnya memaklumi tindakan brutal mereka. Tapi... tunggu! kok Sekretaris Roy juga memberikan ekspresi yang sama.


"Baik, cepat bicarakan saja apa yang mau kalian jelaskan," ujar Azkia yang sambil melangkahkan kakinya menuju sofa.


Kompak diikuti keempat lelaki itu, dan Deffin tentu saja memilih duduk di samping Azkia.


"Maafkan tindakan bodoh kami Nona, karena kami terlambat menerima informasi tentang wanita itu," ujar Roy yang terlihat lebih antusias meminta maaf daripada mereka bertiga.


Erwin dan Arnold masih belum sadar refleksnya Roy, padahal Roy biasanya paling cuek dalam masalah apapun. Sedangkan Deffin entah mengapa ada sinyal waspada mulai berkelip di hatinya ketika melihat keanehan Roy.


"Iya Azkia, maafkan aku. Aku hanya memukulinya ketika di hotel saja, darahku seketika mendidih melihat dia merendahkanmu," ujar Arnold.


Sebenarnya mulut Arnold gatal ingin memanggil peri kecil, namun dia harus menahannya karena tidak ingin menambah masalah hingga Deffin bertambah murka kepadanya.


"Iya Tuan Putri, maafkan aku juga. Kamu tahu sedari dulu aku adalah orang yang paling tidak bisa melihatmu disakiti."


Perkataan Erwin selalu memancing emosi Deffin. "Hei, ka--" ucapan Deffin terpotong ketika melihat Azkia melotot padanya, sorot mata Azkia yang mengatakan jangan menambah masalah, membuat Deffin menutup rapat mulutnya untuk tidak melanjutkan aksi protesnya.


Sedangkan Erwin sudah pasti tersenyum senang di dalam hatinya. "Sayang, sepertinya ada orang yang ingin mengganggu kebersamaan kita lagi, jadi jangan marah tentang masalah ini, wanita itu diperdaya oleh kekasihnya Arnold," ujar Deffin mencoba memberi penjelasan, namun diakhir kalimatnya dia menekankan perkataannya dan melirik sinis orang yang disebutkan namanya.


"Tapi tetap saja kalian keterlaluan, kalian lebih mendahulukan otot daripada otak dan hati kalian, dan perbuatan kalian ini harus dihukum!" tegas Azkia.


"Kamu benar sayang, mereka harus dihukum," sahut Deffin senang, Deffin pikir dia bisa cuci tangan dengan masalah ini. Namun...


"Kamu juga ikut dihukum sayang, karena kamu sudah memiliki niat buruk untuk wanita itu."

__ADS_1


Deffin yang akan membela diri, perkataannya didahului perkataan Roy yang akhirnya membuat Deffin, Erwin, dan Arnold memicingkan matanya curiga.


"Baik kami terima hukuman dari Anda Nona, Anda boleh memukuli saya sepuas Anda."


Sinyal kecurigaan Deffin semakin bertambah kuat. Ada yang aneh dengan Roy, kenapa aku berpikir dia seperti menarik simpati Kia, awas saja kalau dia memiliki rasa untuk Kia ku.


Begitu juga dengan Arnold dan Erwin yang memiliki pemikiran yang sama dengan Deffin, mereka berdua juga memandang Roy dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Tidak, aku tidak akan menggunakan kekerasan fisik untuk menghukum kalian, tapi aku siapkan hukuman yang pas buat kalian beserta tempatnya," ujar Azkia dengan tersenyum simpul.


"Tapi sayang, aku sudah menyuruh anak- buahku membawa wanita itu ke rumah sakit, dan memberikan pelayanan terbaik hingga dia sembuh, seharusnya itu sudah cukup untuk menebus niat jahatku," ujar Deffin memelas.


Entah mengapa ada firasat tidak enak untuk hari ini.


"Itu memang sudah menjadi tugasmu sayang, tapi kamu juga harus tetap menjalani hukuman agar kedepannya tidak mempunyai niat buruk untuk orang yang tidak sepenuhnya bersalah," ujar Azkia sambil mengusap pipi Deffin, yang pasti sangat jelas akan membuat Deffin tidak bisa membantah kata-katanya.


...****************...


Awalnya Azkia ingin menyuruh mereka mengasuh anak kecil saja di panti, namun dia teringat perangai buruk keempat pria itu, mereka yang memiliki hati dingin untuk orang lain dan tanpa pandang bulu entah dari segi umur atau apapun, mereka hanya memiliki hati yang hangat untuk orang yang dipilihnya.


Dari pada jiwa polos anak-anak terkontaminasi dengan sikap kalian, jadi lebih baik kalian membantu mengurus para kakek dan nenek yang ada di sini saja, dan membiarkan para perawat liburan hari ini.


Azkia yang dahulu sudah terbiasa sering kesini, apalagi dia sekarang menjadi penyumbang dana paling besar di sini, membuat para pengasuh panti tidak bisa menolak keinginannya.


Sekarang Azkia sedang tertawa senang melihat kelucuan keempat pria yang sedang kerepotan menuruti semua keinginan para penghuni panti jompo ini.


"Dia memang lelaki yang menggemaskan bukan? para nenek-nenek hari ini diperbolehkan dengan bebas mencubiti pipi Erwin," ujar Azkia diakhiri kekehan geli, saat dia melewati Erwin yang menjadi rebutan para nenek centil.


"Nak Azkia, apakah kami boleh mencium pipinya juga?" tanya salah satu nenek yang memakai lipstik merah menyala.


Sang nenek tidak bertanya pada Erwin malah memilih bertanya kepada Azkia, jelas saja dengan teganya Azkia mengatakan, "Tentu saja, itu adalah sebuah ungkapan sayang yang jelas membuat Erwin bahagia Nek," ujarnya tersenyum jahil pada Erwin dan langsung memilih berlalu karena melihat wajah kesal milik Erwin.


Lalu langkah Azkia berhenti ketika melihat Roy yang sedang berdebat dengan seorang kakek yang mempunyai badan cukup berisi.

__ADS_1


"Kau ini masih muda, masa hanya menggendongku saja sampai lantai atas tidak kuat, apalagi badanmu tidak hanya tinggi besar, lihat saja otot kekarmu itu, hanya menggendongku saja tidaklah sulit bagimu," ujar kakek yang paling malas gerak di sini.


Roy yang sudah capek berdebat dan ingin meninggalkan sang kakek, langkahnya terhenti ketika mendengar suara Azkia.


"Sekretaris Roy, apakah Anda tidak mau membantu Kakek? padahal Anda memiliki fisik yang sangat kuat, aku yakin Anda bisa menuruti keinginan Kakek," ujar Azkia sambil menepuk bahu Roy memberikan semangat.


Roy yang merasa seperti tersetrum dengan tepukan dari Azkia dengan cepat dia menjawab, " Baik Nona, saya akan menggendong beliau sampai lantai atas."


Azkia tersenyum lalu kembali melanjutkan langkahnya, sedangkan Roy memegang dadanya. Aduh jantungku... gumamnya.


Azkia yang melihat Arnold yang juga menghibur nenek-nenek yang lain tidak berani mendekat, Azkia masih merasa canggung. Entah mengapa penjelasan tentang Jessie yang hanya menjadi kekasih pura-puranya membuat Azkia ragu, takut jika Arnold masih memiliki pemikiran nekat jika diberikan lampu hijau untuk mengikis tembok kecanggungan itu.


Dan tujuan Azkia sebenarnya adalah mencari suami kesayangannya, terlihat Deffin yang sedang di suruh dua orang kakek untuk memanjat pohon mangga, sayup terdengar suara mereka berdebat.


"Sudah kubilang aku tidak pernah memanjat," ketus Deffin yang kesal karena dipaksa memanjat.


"Ayolah anak muda, kami beneran ingin makan buah mangga yang langsung dipetik dari pohonnya, lagi pula Nak Azkia juga memerintahkan kalian menuruti keinginan kami. Betul 'kan, Nak? tanya salah satu kakek kepada Azkia yang sudah berada di belakangnya.


Azkia tersenyum kikuk dan mengangguk, lalu memberi sorotan mata memohon kepada Deffin agar dia mau memanjat.


"Tapi kalau aku sampai jatuh bagaimana?" tanya Deffin yang mengerti arti pandangan Azkia. Meski pohonnya tidak terlalu tinggi namun akan terasa cukup sakit jika sampai terjatuh.


"Aku akan bertanggung jawab," ujar Azkia yang langsung dituruti oleh Deffin.


Ketika masih berada di cabang pohon bagian bawah, tiba-tiba saja Deffin tergelincir lalu dia berteriak, "Aaaa ...."


Sedangkan Azkia yang mendengar teriakkan Deffin dan melihat Deffin yang siap jatuh dari pohon, Azkia refleks ikut berteriak, "Sayang, awas ...."


Buugh....


Bersambung.


Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya ya...🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2