
Sebelum tidur adalah waktu yang tepat untuk bercengkrama, karena merayu Deffin akan lebih mudah saat berada di atas ranjang. Apalagi setelah melakukan adegan panas, segala yang diinginkan lebih mudah untuk didapatkan.
"Sayang.."
Memanggil dengan suara manja dan menggunakan lengan Deffin sebagai bantal, posisi yang menghadap ke arah Deffin, membuat jari telunjuknya bebas bergerak di dada Deffin yang terbuka, terkadang jarinya mulai nakal juga dengan merambat ke bawah membelai perut kotak-kotak itu.
"Kenapa? mau lagi ...." Deffin tidak hanya berkata, namun tubuhnya sudah menindih tubuh Azkia.
"Bu- bukan sayang, ada yang ingin aku katakan," jawabnya dengan panik, karena merasakan sesuatu di bawah sana sudah menegang kembali dan siap untuk mencari mangsanya.
*Ka*u benar-benar bodoh Azkia, bagaimana mungkin kau membangunkan macan yang sudah tidur, tapi kalau aku tidak seperti itu, aku besok tidak akan mudah mendapatkan izin.
"Katakan itu nanti saja, sekarang ada yang lebih penting dari itu," Deffin berbicara dengan menggesekkan miliknya untuk menggoda milik Azkia. "Ayo, sebut namaku dengan merdu lagi," lanjutnya. Suara Deffin terdengar semakin berat tanda dia sudah berada di puncak keinginannya untuk segera di tuntaskan.
"Baik kita lakukan lagi, tapi kamu harus janji untuk mengabulkan permintaanku," ujar Azkia dengan napas terengah-engah karena tangan dan lidah Deffin yang bergerak nakal.
Deffin tidak menjawab, dia masih asyik dengan mainan yang tidak akan pernah membosankan untuknya. Azkia yang kesal tidak mendengar jawaban dari Deffin, dia mendongakkan kepala Deffin dari tempat favorit Deffin, lalu mencekal tangan Deffin yang masih meremas lincah itu.
"CK ...." Deffin berdecak kesal karena Azkia memberhentikannya.
"Jangan marah ... kamu harus janji dulu." Dengan memasang wajah imut yang pasti sangat mudah merubah rasa kesal Deffin.
"Hemm ...." sahut Deffin.
Lalu mereka melakukan apa yang harus dilakukan.
Satu jam kemudian setelah selesai melakukan beberapa sesi olahraga malam, Deffin memeluk erat tubuh Azkia.
"Kau mau apa?!" tanya Deffin setengah malas, Dia sudah bisa menebak keinginan Azkia yang ingin keluar rumah.
"Sayang, aku besok bolehkan membawa semua anak panti bermain di KF land?" tanyanya dengan wajah yang membuat Deffin tidak bisa menolak permintaannya.
"Biarkan Erwin saja yang mengantarkan mereka," sahutnya ketus.
"Sayang, kamu kan tadi sudah janji mau mengabulkan permintaanku, dan aku ingin besok bermain dengan anak panti di KF land." sungut Azkia dengan bibir mengerucut.
Deffin mendesah kesal, namun kemudian menjawab,
__ADS_1
"Baiklah, tapi aku punya syarat yang harus kaulakukan."
"Apa?"
"Tidak boleh memandang, menyentuh dan berbicara dengan laki-laki lain." Menarik napas.
"Kalau kaumelanggar mereka yang akan menanggung akibatnya," lanjutnya dingin.
Azkia mengernyitkan dahi,
Apa maksudnya?
Deffin yang mengerti kebingungan Azkia menjelaskan.
"Kau besok boleh pergi, karena besok ada pekerjaan yang tidak bisa aku dan Erwin tinggalkan, akan ada pengawal yang mengawasimu. Akan kusuruh mereka mencongkel mata lelaki yang menatapmu atau yang kau tatap, merobek mulut lelaki yang berbicara padamu, Dan mematahkan tangan lelaki yang menyentuhmu atau yang kau sentuh. Jadi jika kau tidak ingin merasa bersalah pada orang lain, maka hindari itu semua."
Ancaman Deffin yang menampilkan wajah penuh keseriusan membuat mulut Azkia menganga namun dia mengangguk mengerti meski ragu.
Apa apaan ini, kau semakin hari semakin tidak waras ya, tidak cukup membuat aturan yang meminta laporan kegiatanku setiap satu jam sekali, sekarang kaumenambah larangan aneh ini. Azkia.
"Aku terpaksa memberi ancaman agar kau tidak melanggar larangan ini, aku tidak ingin terus terusan cemburu melihatmu ketika ada lelaki lain yang mendekatimu, Apalagi sampai kau bertemu dengan Arnold mungkin ancaman ini akan jadi kenyataan. Untuk sekarang aku menyuruh para pengawal hanya memberikan peringatan saja." Batin Deffin.
Pagi hari telah tiba, setelah sarapan mereka akan melakukan kegiatan sesuai yang direncanakan.
"Ingat baik-baik perkataanku semalam," peringat Deffin sambil mencium kening Azkia.
"Aku berangkat kerja dulu."
"Iya sayang, hati-hati."
Lalu Deffin masuk mobil yang di depannya sudah ada sopir yang siap mengemudikan.
Setelah kepergian Deffin, Azkia bersiap siap langsung akan pergi menuju KF land, karena rombongan anak dan penjaga panti asuhan sudah sampai di sana.
Azkia tidak tahu tempat itu adalah milik suaminya, KF yang memiliki kepanjangan Kia Fairy Land adalah wahana permainan impian masa kecil Azkia yang diwujudkan Deffin.
Azkia yang dulu sering bermain di panti, namun dia tidak bisa bermain bebas bersama dengan anak panti setelah mengenal Deffin, ada kisah yang belum bisa diingat Azkia mengapa dia dulu ingin mempunyai wahana bermain.
__ADS_1
Azkia memang tidak kehilangan semua ingatannya, dia bisa ingat jelas semua mimpi-mimpinya, Namun Tuhan seperti sedang mempermainkan takdirnya.
Tiga bayangan anak lelaki kecil yang sering mendatangi mimpinya menuntunnya mengingat serpihan kejadian masa lalu yang hilang dari ingatannya, namun di dalam mimpi itu Azkia tidak bisa melihat dengan jelas wajah ketiga anak itu.
Dia hanya bisa mengingat kejadian masa lalu hanya sampai sebelum ibunya meninggal, jadi dia masih bisa mengingat tentang kakak tampannya namun dia tidak ingat wajah yang dimiliki kakak tampan itu.
Masih banyak misteri yang tersimpan, dan dia tidak bisa memaksa mengingatnya karena kepalanya tiba-tiba akan terasa sakit, jadi dia tidak mau mengambil resiko itu.
Kehadiran Deffin dan Erwin seolah-olah memberikan kepingan masa lalu yang tidak diingatnya. Perlahan tapi pasti dia akan mencari tahu tentang masa lalunya.
Mobil yang sampai tujuan membuat Azkia tersadar dari lamunannya. Setelah memasuki tempat itu suara dering ponsel menganggu senyum bahagianya.
Dengan malas dia merogoh ponsel yang dia taruh di dalam tasnya. tertera nama suamiku yang membuatnya bertambah malas untuk mengangkat.
Ada apa lagi, ini orang tidak bisa ya membiarkanku bebas sedetik saja. Keluh hatinya.
"Iya sayang, ada apa?" jawabnya malas namun nadanya terdengar biasa.
"Sudah sampai, lagi apa?" tanya Deffin di seberang sana.
"Aku baru sampai, dan sekarang cuma duduk lihat anak-anak yang sedang bahagia bermain."
"Jangan lama-lama, jangan sampai makan siang di luar, aku kasih waktu dua jam di sana, kalau kaumelebihi waktu yang aku berikan, aku cabut izin keluarmu."
"Iya, aku hanya dua jam disini, jadi aku akan makan siang di rumah."
"Jangan di rumah, langsung datang ke kantor ku, kau temani aku makan siang."
"Baik, A--." Belum selesai menyelesaikan kalimatnya telepon sudah terputus. Azkia hanya mendengus kesal dan membatin,
Kalau sangat sibuk kenapa menelpon, kan bisa kirim pesan saja.
Memang terdengar suara Sekretaris Roy yang memberikan instruksi untuk segera memulai rapat, namun Deffin tidak akan tenang sebelum mendapat kabar Azkia, jadi dia mencuri waktu untuk menelpon.
Sedangkan di tempat yang sama dengan Azkia ada seorang lelaki yang memperhatikan Azkia dari jauh, dia tadi sudah mendapatkan peringatan dari seorang pengawal Azkia, meski sangat penasaran dengan Azkia dia menuruti perintah pengawal itu untuk menjauh karena tidak ingin memancing keributan di arena yang banyak anak kecil di dalamnya.
siapakah dia...
__ADS_1
Bersambung.