TUAN MUDA POSESIF

TUAN MUDA POSESIF
Kabar Bahagia (END)


__ADS_3

Di tengah kekacauan suasana hati Deffin karena tidak bisa berdekatan dengan Azkia, ada seorang pelayan yang mendekati mereka bertiga dengan membawa tamu tidak diundang.


"Tuan, ada Tuan Arnold datang kemari ...."


Ketiga orang itu menoleh ke arah orang yang dimaksud, ketiganya kompak terkejut bukan karena kehadiran Arnold yang secara tiba-tiba, namun siapa yang dibawa Arnold datang ke rumah ini.


Semua memberikan sorot mata tajam, dan kompak membatin, "Kebodohan apalagi ini, kenapa si bodoh itu membawa wanita itu."


Jessie yang berjalan di samping Arnold tampak tenang, begitu juga dengan Arnold yang malah menggandeng tangan Jessie dengan lembut, mereka berdua tidak mempedulikan tatapan yang diberikan ketiga manusia itu.


"Hei, sudah cukup kalian melihat kami seperti itu, seharusnya kalian memberikan selamat pada kami karena status baru kami," ujar Arnold riang.


Kebahagiaan Arnold jelas bukan hanya pura-pura, semalam dia dan Jessie sepakat menjadi pasangan kekasih yang nyata. Arnold lebih bisa cepat move on daripada Erwin, dan entah bagaimana ceritanya mereka berdua bisa memutuskan untuk menjadi pasangan kekasih.


"Kekacauan apalagi yang ingin kau buat," sarkas Deffin yang jelas tidak suka berbasa-basi.

__ADS_1


"Hei, jangan mempunyai pikiran buruk. Status hubungan kami sekarang nyata, Jessie tidak seburuk yang kita kira selama ini," ungkap Arnold jujur.


Ketiga orang itu hanya melengos, mereka tidak percaya dengan perkataan Arnold, namun Deffin tidak gegabah memberikan perintah mengambil tindakan untuk Jessie, Deffin masih sangat penasaran dengan motif Jessie yang membuat dia berusaha masuk dalam kehidupan mereka.


"Kudengar Azkia mengalami sakit aneh, sepertinya aku tahu apa yang terjadi dengan Azkia," ujar Jessie yang tidak menanggapi ucapan Deffin yang sedang menyudutkannya.


"Huh, jangan sok tahu," ujar Erwin.


"Hei, aku seorang wanita, aku jelas mengerti apa yang dialami Azkia, dan jangan lupakan karena aku pernah mengenyam pendidikan ilmu kedokteran, lagipula aku sudah sering menemui wanita yang bertingkah laku seperti Azkia."


Mereka bertiga masih memberikan sorot mata tidak percaya, namun tidak ada yang membantah karena ucapan Jessie memang benar.


Keempat lelaki yang mendengar perkataan Jessie terkejut bagai tersambar petir, semua jelas bahagia mendengar kabar bahagia itu, namun ada sedikit luka yang menggores hati Erwin, sedangkan Deffin pikirannya mulai berkecamuk memikirkan posisinya yang siap direbut anaknya di dalam hati Azkia.


Di saat mereka sedang sibuk memikirkan kebenaran berita bahagia ini, suara Jessie menyadarkan lamunan mereka.

__ADS_1


"Kedatanganku hanya untuk itu, aku tidak ingin banyak mendengar keluhan teman-temanku para dokter yang takut karena kau marahi, Deffin." Lalu pandangan Jessie beralih ke Deffin. "Sayang, ayo kita pergi sekarang." Jessie menarik tangan Arnold untuk berdiri, lalu mereka pergi meninggalkan ketiga lelaki itu.


Meski tetap diam, namun semuanya kini tampak bisa bernapas lega, semoga kabar ini memang benar adanya.


"Tuan, meski belum pasti, tapi saya rasa masalah tentang sakitnya nona sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi, kalau begitu saya undur diri untuk berangkat ke kantor, jika terjadi apa-apa Tuan Muda bisa menghubungi saya," pamit Roy sopan.


Erwin juga ikut meninggalkan Deffin untuk kembali ke pekerjaannya. Setelah kedua orang itu meninggalkan Deffin, seulas senyum tercetak di bibir Deffin, lalu dengan segera dia mengendus aroma tubuhnya, setelah dirasa tidak menemukan aroma sabun, dengan semangat dia berjalan menuju kamarnya.


Deffin berjalan pelan-pelan menuju ranjang, tidak ingin mengganggu tidur Azkia, Deffin menaiki ranjang dengan hati-hati setelah menaruh alat tes kehamilan di atas nakas, lalu dengan pelan dia memeluk dan mencium kening Azkia.


"Selamat Sayang, semoga keinginanmu segera ingin punya anak benar-benar terwujud, meski aku sedikit tidak rela karena cintamu nanti akan terbagi, tapi bagaimanapun juga dia hadir sebagai bukti cinta kita," ucap Deffin lirih sambil mengusap dan mencium perut Azkia yang masih rata.


Lalu Deffin kembali mensejajarkan dirinya di samping Azkia, dengan lembut dia membelai kepala Azkia. "Kalau memang karena sedang mengandung buah cinta kita kamu harus tersiksa karena merasa mual setiap mencium aroma, dan kamu juga susah untuk makan, aku suami kesayanganmu Deffin Wirata rela menggantikan semua penderitaan yang kamu alami," ucap Deffin tulus, lalu mencium kening Azkia lama, sebelum dia menyusul Azkia ke alam mimpi.


Tamat

__ADS_1


Maaf ya baru bisa up, sebenarnya aku masih lelah karena acara silaturahmi yang baru usai, jadi hanya bisa up dikit untuk mengobati rasa rindu kalian ke TMP, tapi yang jelas cerita ini sudah berakhir dengan bahagia.


Mohon maaf jika cerita ini tidak bisa bikin kalian puas membacanya, dan karena ini juga hari raya, Ria dan sekeluarga mengucapkan selamat hari raya idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin 🙏😘


__ADS_2