TUAN MUDA POSESIF

TUAN MUDA POSESIF
Kenakalan Deffin.


__ADS_3

Cukup lama menghabiskan waktu di kamar mandi, kini Azkia dan Deffin sudah memakai baju ganti yang sudah disediakan Roy.


Sekarang Deffin sedang mengeringkan rambut panjang Azkia, setelah Deffin menyisirnya rapi, Azkia mengutarakan keinginannya.


"Sayang, suruh mereka masuk ya, aku ingin ngobrol, sudah lama 'kan kita tidak mengobrol bersama."


"Tidak, kamu harus banyak istirahat, setelah kamu diperiksa kita langsung pulang, aku benci berada di rumah sakit karena mengingatkan kamu dulu ketika koma," ujarnya dengan langsung memeluk Azkia.


"Apa dulu kamu juga selalu menemaniku?"


Tanya Azkia antusias.


"Tentu saja Nona, bahkan Tuan Muda selalu ada di samping Nona, dia hanya akan pergi ke kantor jika benar-benar darurat saja."


Deffin tidak menjawab karena sudah dijawab dokter pribadi Azkia yang masuk ruangan itu untuk memeriksa.


Azkia memandang Deffin penuh haru, dia sangat beruntung mengenal Deffin, Deffin selalu ada untuknya, sedangkan mantan keluarganya dulu memang hanya mementingkan harta miliknya saja, kecelakaannya Azkia adalah kesempatan bagus bagi mereka.


"Aku jadi ingat doker, waktu aku koma dulu aku bertemu dengan ibu, aku bahagia bisa bersama dengannya, tapi ada suara orang yang sangat menjengkelkan yang mengganggu obrolan hangat kami, dia selalu bilang Kia, peri kecilku, kumohon jangan tinggalkan aku, ayolah cepat buka matamu," ujar Azkia diakhiri dengan mimik wajah pura-pura kesal.


Dokter hanya menahan senyum ketika melihat mata Deffin melotot, sedangkan Deffin yang tidak terima perkataan Azkia membuka suaranya,


"Hei, kenapa reaksimu seperti itu, kau tidak tahu kalau aku khawatir setengah mati dulu, kalau dulu kamu sampai tidak mau membuka mata, aku sudah memutuskan bahwa aku akan menyusulmu juga."


Kejujuran Deffin membuat Azkia sepontan menempelkan jari telunjuknya di bibir Deffin.


"Hei, kamu ini bicara apa, jangan pernah mempunyai pikiran seperti itu," ujar Azkia.


"Kalau kamu tidak mau aku berkata seperti itu, maka jangan pernah meninggalkanku," ujar Deffin yang setelah itu dia langsung ******* bibir Azkia, Azkia yang kaget dengan apa yang dilakukan Deffin kepadanya apalagi ada dokter yang melihat mereka, segera Azkia mencubit paha Deffin kesal.


Sedangkan Deffin malah mencekal tangan Azkia dia belum mau berhenti menikmati bibir Azkia jika perasaan kesalnya belum hilang.


Sang dokter hanya berpaling namun dalam hati dia membatin,


Untung kamu pemilik rumah sakit ini tuan muda, kalau bukan sudah aku tendang keluar dari sini sedari tadi.


Setelah ciuman itu berakhir, Deffin hanya memberikan wajah datar, sedangkan Azkia jangan di bayangkan lagi semalu apa wajah nya.


Dokter hanya tersenyum canggung, lalu dia segera memeriksa Azkia, dia sudah sangat lelah dan ingin pulang untuk beristirahat, semalam adalah jadwal praktiknya, baru tadi pagi dia sampai rumah dia ditelpon untuk kembali ke rumah sakit lagi karena Azkia pingsan.

__ADS_1


Tadi ketika dia hendak segera memeriksa Azkia setelah sadar, namun dia dilarang oleh para pengawal dan akhirnya baru sekarang ini dia bisa memeriksa Azkia.


Setelah kepergian sang dokter Azkia yang sudah diperbolehkan pulang dengan segera Deffin menggendong Azkia untuk didudukkan di kursi roda, Azkia sudah menolak namun apa daya jika Deffin sudah memberi ancaman.


Ketika keluar ruangan tidak nampak ketiga orang yang sedang dicari Azkia, hanya ada para pengawal yang menunggu mereka.


Ternyata Erwin dan Roy sudah menunggu di depan mobil, Azkia yang mendapat kesempatan bertanya kepada Erwin karena Deffin sedang berbicara dengan Roy di luar mobil, segera dia membuka suaranya.


"Erwin, bagaimana keadaan Arnold, kau tidak apa-apakan dia 'kan?"


Terdengar Erwin mendengus, lalu dia berkata,


"Kami bisa apa jika Tuan Putri sudah memberikan ancaman, lebih baik menahan kemarahan kami, daripada melihat kemarahan Tuan Putri."


Azkia yang ingin membalas perkataan Erwin diurungkan ketika Deffin dan Roy membuka pintu mobil.


Di dalam mobil tidak ada yang bersuara, hanya Deffin yang sedari tadi tidak bisa diam, bibir dan tangannya tidak bisa berhenti menjahili Azkia meski sudah mendapat cubitan dari Azkia, karena Deffin terlalu senang kini Azkia sudah bisa kembali mengingatnya.


"Sayang, sepertinya aku tahu kenapa aku hanya mengingat memori kebersamaan kita, tapi tidak ingat dengan wajahmu," perkataan Azkia berhasil membuat Deffin berhenti dari aktivitasnya.


"Memang apa?!" tanya Deffin acuh.


Deffin menangkap jari Azkia lalu menggenggam telunjuk Azkia, dan menggigit pelan jari itu.


"Kamu tahu semua sifat menyebalkanku itu


adalah bukti cintaku untukmu, karena aku tidak ingin ada yang merebutmu dariku," ujar Deffin sambil melirik Erwin yang sedang mengemudikan mobil, perkataan ini adalah sindiran untuk Erwin di masa lalu.


Setelah Deffin mengucapkan itu suasana tiba-tiba berubah menjadi canggung. Azkia jadi merasa tidak enak sendiri.


Wah, aku salah bicara, memang sih berhasil membuat Deffin diam, tapi inginku tidak berakhir seperti ini.


Sedangkan Erwin membatin,


Huh, tuan muda masih dendam rupanya dengan kejadian dulu, baiklah suatu hari aku akan balas sindiran dari anda ini tuan.


Tuan muda, tidak tahukah perkataan anda sangat membahayakan perasaan anda nantinya, saking bahagianya anda lupa dengan sifat jahilnya Erwin. Batin Roy.


Lalu keheningan terjadi sampai mobil tiba di rumah.

__ADS_1


...****************...


Azkia dan Deffin sudah berada di atas ranjang setelah makan malam, mereka berdua sama-sama bersandar di sandaran ranjang, namun posisi kepala Azkia menjadikan lengan Deffin sebagai tumpuan.


"Sayang, ceritakan semua padaku pada waktu aku lupa ingatan, apa saja yang tidak aku ketahui sebelum akhirnya kita bertemu dan lalu menikah."


"Kamu yakin mau mendengarnya, ceritanya sangat panjang."


"Iya," jawab Azkia antusias.


"Akan kuceritakan, tapi kamu harus membayar mahal cerita yang keluar dari mulutku ini."


"Ish, kamu ini sama istri sendiri minta bayaran," ujar Azkia memukul pelan lengan Deffin sambil cemberut. " Lagi pula hanya cerita, apa susahnya sih," lanjutnya.


Deffin terkekeh, lalu menarik tubuh Azkia agar duduk di pangkuannya, Dengan gemas dia menciumi pipi Azkia berulang kali, lalu berakhir menggigit pelan bibir Azkia yang masih cemberut itu.


Sontak Azkia memukul dada Deffin,


"Sakit sayang," cicitnya.


"Aduh, dadaku juga sakit Kia," dusta Deffin.


"Maaf, aku terlalu keras ya memukulmu, habisnya kamu kenapa nakal sekali sekarang,"


heran Azkia karena Deffin menjadi jahil dan mesum.


"Ini akibat sudah terlalu lama menahan rasa karena selalu ingin dekat denganmu, dahulu rencananya setelah aku lulus SMA ingin langsung menikahimu, tapi semua rencana hancur gara-gara Arnold sialan itu."


"Sstt.. itu musibah, tanpa itu terjadi aku tidak akan pernah tahu bahwa aku sangat beruntung dicintai suami sepertimu, yaitu kakak tampan kesayanganku," ujar Azkia lalu mencium kilat bibir Deffin, berharap apa yang dia lakukan bisa menyiram api kemarahan Deffin.


Namun tindakan kecil itu semakin membangunkan apa yang ada di bawah sana ...


Bersambung.


Setelah ini banyak part yang menceritakan masa lalu, kuharap kalian tetap suka.


Jangan lelah memberikan dukungan 😊


salam sayang ♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2