
Terkadang cinta membuat kita tidak bisa berpikir.
Begitu juga dengan Azkia, melihat Deffin yang terjatuh dari pohon entah mengapa otaknya hanya terisi kepanikan dan rasa khawatir yang berlebihan.
Segera Azkia berlari menghampiri Deffin yang terlihat sangat kesakitan, dia langsung duduk bersimpuh sejajar dengan Deffin.
Ada air mata yang menetes di pipi Azkia, seperti melihat Deffin terluka dengan darah yang membanjiri tubuhnya. Dengan sedikit terisak dia berkata, "Kamu tidak apa-apa? maaf karena memintamu untuk menuruti keinginan kakek ...." ujarnya lirih dengan rasa bersalah.
Deffin sebenarnya tidak tega, namun dia hanya bisa berkata, "Jangan menangis aku tidak apa-apa." Dengan lembut dia mengusap air mata istrinya.
Kedua kakek itu saling pandang dan merasa semakin geli melihat adegan selanjutnya ketika salah satunya berbicara untuk menyadarkan Azkia dari rasa khawatir berlebih.
"Nak, suamimu hanya terjatuh dari ketinggian kurang dari satu setengah meter, mungkin pantatnya hanya sedikit sakit, tapi kamu menangisinya seperti dia sedang sekarat saja," heran sang kakek.
Bukan hanya jalan pikiran Azkia yang tertutup namun telinganya saat ini juga mendadak tuli hingga dia sama sekali tidak mendengar perkataan sang kakek.
Sedangkan Deffin yang mendengar, karena takut kelicikannya terbongkar segera mendramatisir dengan mengaduh kesakitan,
"Auw ... auw ... auw, aduh pinggangku rasanya mau copot."
Azkia malah semakin panik, bahkan air matanya jatuh semakin deras.
"Apa perlu kita ke rumah sakit, ayo kita ke rumah sakit. Bisa 'kan kamu untuk bangun, ayo aku bantu berdiri." Azkia sudah siap dalam posisinya untuk membantu memapah Deffin.
"Tidak perlu ke rumah sakit, kita pulang saja sekarang, biar Roy yang mengurus semuanya di sini," ujar Deffin sambil mencoba berdiri dengan dibantu Azkia.
Ketiga cowok bar-bar yang melihat kejadian itu datang mendekat, meski dalam hati mereka masing-masing mencibir kelakuan Deffin, namun mereka tetap berniat membantu Deffin.
Deffin yang berhasil berdiri dibantu Azkia meski tidak bisa berdiri dengan tegak, dia merasa terganggu dengan kehadiran tiga orang itu.
"Biar kami saja Nona," ujar Roy yang sudah berdiri siap menggantikan posisi Azkia, sedangkan Erwin juga siap di posisi yang lain.
Azkia sudah mengangguk dan bersiap bergeser, namun gerakannya tertahan karena mendengar Deffin mengatakan, "Bukannya tadi kamu bilang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padaku, dan sekarang kamu mencoba mengingkarinya dengan membiarkan mereka yang membantuku," ujar Deffin dibuat sesedih mungkin, bahkan wajah melasnya membuat Azkia semakin tidak tega.
"Maaf, akulah yang akan merawatmu sepenuhnya, ayo kita pergi sekarang."
...****************...
__ADS_1
Setelah kepergian Deffin, Roy memanggil para bawahannya yang sebagian besar berkelamin wanita yang dia panggil untuk menggantikan tugas mereka, sesuai dengan para perawat yang bekerja di sini.
Jadi para perawat tetap bisa melanjutkan liburannya tanpa terganggu insiden karena kelicikan Deffin, namun tiga cowok bar-bar itu belum beranjak pulang, mereka merebahkan tubuh lelah mereka di atas rerumputan di bawah pohon yang rindang, pohon itulah yang telah menghalau panasnya sinar matahari.
Roy tiba-tiba saja menyodorkan HP ke wajah Erwin yang berada di sampingnya.
"Lihat, bagaimana bisa tuan muda bisa-bisanya mengetikkan pesan ancaman di tengah-tengah actingnya menipu nona."
Sontak Arnold yang berada di sisi lain Erwin melongokkan kepalanya untuk ikut membaca pesan dari Deffin.
Sepertinya kaumulai berulah, awas saja kalau kauterbukti mempunyai perasaan untuk Kia ku, akan kubuat kautidak bisa meninggalkan kantor selangkah pun.
Kedua orang yang membaca pesan itu awalnya tertawa, namun kemudian satu persatu dari mereka mengatakan sesuatu dengan nada suara sedingin kutub selatan.
"Aku memang menganggapmu seperti kakakku sendiri, namun hubungan kita akan berubah menjadi rival jika kecurigaan tuan Deffin memang benar, aku tidak akan peduli meski kita masih tetap satu pengabdian," ujar Erwin.
" Roy, meski tingkat kepintaranmu di atas rata-rata, itu tidak akan ada gunanya lagi jika aku meledakkan kepalamu jika sampai memang benar kamu menaruh hati kepada peri kecil," ujar Erwin.
" Kalian ini terlalu berpikir berlebihan," cibir Roy.
Semoga saja aku cepat-cepat mendapatkan orang yang bisa membuatku berpaling dari rasa kagumku kepada nona, bisa mati sia-sia aku di tangan mereka bertiga.
...****************...
Malam harinya di rumah utama.
"Hati-hati Sayang," ujar Azkia yang membantu Deffin berbaring dengan nyaman di tempat tidur.
Mereka baru saja beristirahat sejenak setelah makan malam. Semenjak sampai rumah Azkia mengurus Deffin bagaikan orang yang sakit parah, semua dilakukannya dengan penuh kelembutan, Azkia merawat Deffin dengan sangat telaten mulai dari puncak kepala hingga ujung kaki Deffin.
Kelakuan konyol Deffin yang mengorbankan b*k*ngnya ternyata tidak sia-sia, jika dia mendapat perawatan penuh kasih sayang dari Azkia, dia tidak akan pernah menyesal, mungkin suatu hari nanti dia akan melakukan hal konyol lagi.
"Sayang, maaf jika hukuman dariku berakibat membuatmu sakit."
"Tidak apa, sudah jangan dipikirkan," balas Deffin lembut, namun tiba-tiba saja dia mendapat ide bagus seperti ada bola lampu menyala terang di atas kepalanya.
"Ngomong-ngomong soal hukuman, kamu juga tidak bisa lolos dari hukumanmu Kia ku sayang," ujar Deffin dengan menaikturunkan alisnya.
__ADS_1
"Apa? memang aku melakukan kesalahan apa?" ujar Azkia bingung.
"Kamu lupa sebelum berangkat ke rumah Erwin kamu dilarang berbicara dan memandang mereka, jadi sekarang jalani hukumanmu." Deffin membisikkan sesuatu di telinga Azkia dia berkata, "Kamu pimpin percintaan kita malam ini, kamu harus membuat juniorku puas." Deffin tersenyum senang melihat pipi Azkia memerah.
"Sayang, tapi kamu lagi sakit," ujar Azkia mengelak dia terlalu malu jika di atas.
"Aku tidak apa, kan kamu yang berada di atas, kamu jangan cari alasan untuk lari dari hukumanmu, padahal aku saja rela menjalani hukumanmu hingga aku sakit karena jatuh."
Azkia yang melihat wajah melas Deffin dengan segera dia berkata, "Maaf, iya aku akan menjalani hukumanku," ujar Azkia lirih karena malu.
Dengan kaku Azkia memulainya, Azkia masih belum sadar jika dia dibohongi Deffin, padahal Deffin sangatlah sanggup untuk membuat Azkia pingsan di atas ranjang karena kelelahan untuk melayani hasratnya.
Setelah sesuatu yang hangat keluar dari dalam tubuh Azkia, Azkia ambruk di atas tubuh Deffin dengan napas terengah-engah, Deffin yang belum mendapatkan pelepasannya protes, "Sayang, ayo lanjutkan aku masih belum sampai."
"Besok lagi saja ya, aku lelah," ujarnya tanpa kebohongan.
Lalu tiba-tiba saja Deffin membalikkan tubuh Azkia dengan cepat.
"Baiklah kalau begitu biar aku yang melanjutkannya, kamu sangat beruntung bukan, memiliki seorang suami seperti aku yang rela menggantikan hukumanmu," ujar Deffin dengan seringai di bibirnya.
Azkia yang bingung kenapa tiba-tiba Deffin tidak seperti orang yang kesakitan seperti tadi, lalu Azkia berkata, " Sayang, tapi kan kamu lagi sakit?"
"Kia ku sayang, kamu lupa aku tadi mengatakan kalau sentuhan cinta ketika kamu memijatku itulah obat paling mujarab untuk menghilangkan rasa sakitku."
Azkia bingung dia merasa ada yang aneh, namun pikirannya langsung dibuyarkan dengan sentuhan tangan dan bibir Deffin yang nakal.
Sehingga yang keluar dari mulut Azkia bukan penolakan, namun desahan seksi yang sesekali menyebut nama Deffin dengan indah, begitu juga dengan Deffin bukan hanya menyebutkan nama Azkia saja dia juga membisikkan kata-kata yang membuat Azkia semakin terbang di atas awang-awang.
Hukuman ini akan selalu berakhir indah di antara mereka berdua, tidak untuk orang yang berusaha memisahkan cinta mereka berdua.
Bersambung.
Terima kasih yang selalu setia memberikan dukungan 🙏🙏🙏
kuharap kalian tidak pernah lelah🤭
salam sayang ♥️♥️
__ADS_1