TUAN MUDA POSESIF

TUAN MUDA POSESIF
Cerita Masa Lalu 1.


__ADS_3

Setelah menyelesaikan satu ronde malam panas, mereka berpelukan dengan napas yang masih terengah-engah.


"Ayo ceritakan, aku sudah membayar dengan apa yang kamu mau," ujar Azkia dengan pipi yang masih merona.


"Itu tadi hanya DP saja, hutangmu akan lunas jika kamu mau di atas," balas Deffin dengan seringai menyebalkan.


Azkia yang akan menjawab dipotong cepat oleh Deffin.


"Aku akan menceritakan betapa tersiksanya ketika aku hanya bisa memandangmu dari jauh tanpa bisa mendekat bahkan menyentuhmu."


Deffin memulai pembicaraannya dengan mengecup puncak kepala Azkia, ada setitik air yang jatuh dari matanya, teringat siksaan rindu yang menggunung itu akan sampai kapan bisa berakhir.


"Aku dahulu selalu menempatkan pengawal bayangan untuk mengawasimu, tapi jika ada waktu luang aku yang akan mengawasimu sendiri. Kamu tidak tahu dulu betapa hancurnya hatiku saat kamu tidak mengingatku waktu pertama kali kamu membuka mata, tapi kamu bisa mengingat ibu pengasuh panti dan dokter pribadimu,"


Mendengar perkataan Deffin, Azkia menerawang kejadian beberapa tahun lalu.


...****************...


Pada waktu itu Deffin yang melihat jemari Azkia yang bergerak sangat girang bukan main.


"Dok, dokter ... Jemari Azkia bergerak," teriaknya.


Saking senangnya dia lupa ada tombol darurat yang bisa memanggil perawat. Beruntung sang dokter mendengar teriakkan Deffin, Ruangan dokter yang memang sengaja dipindahkan di sebelah Azkia, bahkan dia dipaksa juga ikut menginap, beruntung dia seorang janda tanpa anak, jadi tidak ada yang menanti kepulangannya di rumah.


Tapi Deffin membayarnya dengan setimpal, hotel mewah bintang lima, restoran dan juga villa mewah, dan bonus uang yang tidak sedikit diberikannya pada dokter itu sebagai ucapan terima kasih.


Tepat setelah kedatangan sang dokter, Azkia perlahan membuka matanya, sang dokter membantu Azkia yang ingin bangun dan memberikan air putih yang di siapkan oleh perawat di belakangnya.


Semua orang yang ada di sana terlihat senang, ibu panti yang baru datang langsung mendekat diikuti Deffin di belakangnya.


Melihat kedatangan ibu panti Azkia langsung memeluknya,

__ADS_1


"Ibu, ibuku sudah meninggal ... hiks ...." tangisnya.


Ibu panti hanya mengusap lembut punggung Azkia, mungkin Azkia waktu koma mimpi ibunya yang sudah meninggal pikir mereka.


Setelah puas menangis di pelukan ibu panti, Azkia menyapa sang dokter, dia sangat hafal wajah orang yang juga menjadi dokter pribadi ibunya.


Lalu pandangannya beralih pada lelaki asing yang usianya terpaut lima tahun di atasnya.


"Kamu siapa?" tanya Azkia dengan wajah bingung.


"Peri kecil, bercandamu sungguh tidak lucu," ujar Deffin dengan ketus namun hatinya sudah tidak karuan.


"Aku benar-benar tidak mengenalmu, dia siapa, Bu?" tanyanya kepada Bu panti.


"Dia Tuan Deffin, yang selama ini selalu menemanimu bermain, apa kamu melupakannya."


Azkia mengangguk, setelah itu emosi Deffin tidak bisa di kontrol lagi. Dia keluar dari ruangan itu, perintah untuk membunuh Arnold sudah keluar dari mulutnya, namun sang kakek melarang orang suruhan Deffin, karena tidak ingin masalah ini berbuntut panjang.


Berbagai usaha para bawahan sang kakek untuk meredam emosi sang tuan muda sudah dilakukan, banyak pengawal yang terkapar karena dihajar Deffin.


Kemarahan Deffin berhenti setelah sang dokter menceritakan kondisi Azkia, dan Deffin juga mau mengikuti semua nasehat dokter termasuk menjaga jarak dengan Azkia hingga psikologisnya stabil, karena perbuatan keluarga Azkia adalah penyebab terbesar yang membuat Azkia memilih kehilangan separuh ingatannya.


Hari demi hari berlalu tidak terasa Azkia sudah duduk di bangku kuliah, bahkan Azkia sudah memiliki pacar bernama Mark, selama ini kemajuan Azkia hanya bisa mengingat memori tentang kakak tampannya.


Karena tidak ada yang mengarahkan dirinya mengingat masa lalu, jadi dia tidak pernah penasaran dengan masa lalunya, hingga waktu itu terjadi...


Deffin yang sedang rindu dengan Azkia hanya mengawasi Azkia di dalam mobil tepat di depan kampus Azkia.


Deffin sudah tahu tentang Mark, dia selama ini bisa bersabar karena meski Azkia berpacaran dengan Mark mereka tidak mudah melakukan kontak fisik, karena Azkia yang membuat larangan.


Beruntung Deffin hari itu yang mengawasi Azkia, karena irinya Bella melihat Azkia bisa mendapatkan pacar seperti Mark, membuatnya gelap mata hingga hari itu dia berniat mencelakai Azkia dengan menabraknya.

__ADS_1


Deffin yang melihat Azkia yang sedang menyebrang, menyadari ada mobil yang sengaja ingin menabrak wanitanya segera ia keluar, berlari dan berteriak, "Kia, Peri Kecil, awas ...."


Deffin segera mendorong Azkia, Azkia hanya jatuh terduduk, sedangkan Deffin yang hanya bisa menghindar sedikit terpaksa terserempet mobil milik Bella.


Bella berhasil kabur dari kejadian itu karena kencangnya laju kendaraannya, sedangkan Deffin langsung di kerubuti mahasiswa lain karena dia tidak sadarkan diri.


Azkia yang shock mendengar teriakkan Deffin langsung ikut pingsan, dan akhirnya terungkap memang benar analisa yang di kemukakan dokter pribadi Azkia selama ini.


...****************...


"Sayang, tapi kenapa tiba-tiba kamu menikahiku, kalau selama ini kamu bisa menahan diri untuk tidak mendekatiku?" tanya Azkia bingung.


Karena dokter menyuruh agar Azkia ingat dengan sendirinya, dan kedekatan mereka karena pernikahan mereka memang sedikit demi sedikit membuat Azkia teringat masa lalunya dan akhirnya sedikit memaksa mengingatnya hingga dia sakit kepala.


"Kamu lupa dulu kita pernah tabrakan waktu di mall, itu yang membuatku tidak bisa menahan lagi untuk terus jauh darimu, harum tubuhmu, dan mata sembabmu menghancurkan ketangguhanku," ujar Deffin sambil menciumi leher dan pundak Azkia.


"Apakah kamu waktu itu adalah orang yang aku tabrak, hehe ... waktu itu saking kesalnya dengan ibunya Mark membuatku tidak sadar menabrak siapa."


Perkataan Azkia membuat Deffin juga ikut tersenyum, beruntung ada kejadian itu, dan pintarnya sang pengawal bayangan yang selalu cepat dan akurat ketika memberikan informasi, hingga Deffin juga berhasil membodohi Roy waktu itu.


"Sayang, aku selama ini penasaran dengan sikapmu ke Erwin, kamu sebenarnya marah jika aku dekat dengannya, tapi kenapa kamu membiarkannya, apa karena dia chubbyku atau empphh ...."


Azkia tidak bisa melanjutkan perkataannya karena mulutnya dibungkam langsung mulut Deffin, setelah merasa Azkia akan kehabisan napas Deffin baru melepaskannya.


"Jangan memanggilnya dengan sebutan itu di depanku, karena perjanjian bodoh dia boleh berdekatan denganmu kamu bahkan boleh memanggilnya seperti itu, tapi tidak di hadapanku."


"Perjanjian apa maksudmu, ayo ceritakan padaku."


"Aku akan ceritakan besok, kita harus tidur sekarang, kalau tidak ingin kubuat kelelahan hingga pagi," ujar Deffin sambil berbisik di telinga Azkia.


Sontak Azkia langsung menutup matanya, Deffin yang melihatnya tersenyum.

__ADS_1


Huh, awas jika kamu sampai tersanjung apa yang telah diperbuat Erwin padamu, akan kubuat kamu tidak bisa turun dari ranjang. Kamu hanya boleh tersanjung karena perbuatanku..


Bersambung.


__ADS_2