
Hari ini sedikit menegangkan buat Azkia, karena nanti malam Azkia berencana mempertemukan Arnold dengan Deffin dan juga Erwin.
Semua sesuai yang sudah diatur Roy, mereka akan dipertemukan di panti asuhan Harapan Kasih. Nanti akan di adakan acara makan malam bersama, dimana semua para donatur juga turut di undang dalam acara tersebut, sebagai ungkapan rasa terima kasih karena panti tidak pernah kekurangan apapun, berkat orang-orang dermawan seperti mereka.
Azkia yang sedang mengantar makan siang Deffin ke kantor, tersenyum ketika berpapasan dengan Roy yang baru saja keluar dari ruangan Deffin.
"Terima kasih untuk semuanya Sekretaris Roy," ujar Azkia tulus sambil memberikan senyuman manis.
Roy hanya memandang Azkia sekilas ketika berbicara, lalu dengan cepat mengalihkan pandangan dengan menganggukkan kepalanya sekali sebagai jawaban. Dalam hati dia membatin,
Tidak tahukah Anda nona jika senyuman Anda bisa menyebabkan malapetaka. Kenapa aku baru tahu kalau kecantikan nona beribu kali lipat terlihat ketika sedang tersenyum.
Tidak ingin menimbulkan rasa cemburu tuan mudanya Roy segera berlalu. Azkia yang baru masuk langsung menutup pintu dengan pelan, terlihat Deffin sedang serius menatap layar datar di depannya, terkadang keningnya sedikit berkerut ketika melihat grafik yang terpampang di depannya.
Deffin tidak menyadari kehadiran Azkia, dan itu membuat Azkia semakin memelankan langkahnya ketika jaraknya sudah dekat dengan Deffin.
Setelah tepat di belakang Deffin, Azkia langsung mengalungkan tangannya ke leher Deffin, dan tidak lupa juga memberikan ciuman di pipi Deffin.
"Segitu sibuknya hingga tidak sadar dengan kehadiranku," ujar Azkia dengan nada dibuat sedang merajuk.
Ini adalah cara agar Deffin bersedia datang ke acara panti nanti malam, biasanya jika Azkia bersikap seperti ini pasti bisa meluluhkan Deffin.
Deffin tersenyum melihat tingkah Azkia lalu secepat kilat dia mengecup bibir Azkia,
"Maaf, aku terlalu fokus dengan laporan ini, tumben datang ke kantor tanpa disuruh, biasanya nunggu sampai ada ancaman dariku baru datang." Deffin curiga pasti ada yang di inginkan istrinya.
"Tidak, hanya sedang ingin makan siang bersama," ujar Azkia sambil menarik tangan Deffin agar mengikutinya pindah ke sofa.
Dengan patuh Deffin mengikuti Azkia, setelah duduk Deffin tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Azkia yang sedang menata makan siang.
Deffin masih belum mau bertanya, dia sedang asyik menikmati perlakuan Azkia kepadanya, setelah selesai menyuapi Deffin dan dirinya sendiri sampai menu makan siang itu habis, Deffin langsung menanyakan keinginan Azkia.
"Sekarang katakan apa yang kamu mau," ujar Deffin sambil mengusap sayang kepala Azkia.
Azkia yang ingin mengelak, diurungkan ketika melihat Deffin yang sepertinya akan sangat mudah menyetujui keinginannya.
"Sayang, nanti kita datang ya ke acara makan malam panti."
Terlihat Deffin berpikir sejenak, kemudian dia mengatakan,
__ADS_1
"Malas," jawabnya acuh.
"Sayang, jangan begitu. Tidak enak dengan ibu panti jika tidak menghadiri undangannya."
"Aku benar-benar malas, pasti nanti si b******k itu juga menghadiri acaranya."
"Sayang ...." ujar Azkia dengan memberikan wajah mematikan yang langsung membuat Deffin hilang akal.
"Baiklah, jangan pasang wajah seperti itu jika tidak ingin kubuat lelah," ujar Deffin yang sudah menahan hasratnya, jika tidak mengingat sebentar lagi akan ada pertemuan penting.
Azkia yang lega karena paham dengan perkataan Deffin tidak berhenti berucap syukur karena saat ini selamat, entah untuk nanti malam.
Dengan semringah dia mencium pipi Deffin,
"Terima kasih."
"Ucapkan saja terima kasihmu untuk nanti malam. Aku ada pertemuan sekarang, kamu langsung pulang jangan keluyuran ke mana-mana," ujar Deffin sambil mencium kening Azkia, lalu mereka keluar ruangan dengan bergandengan tangan.
...****************...
Malam telah tiba, Azkia sudah mengganti bajunya untuk beberapa kali, dan yang terakhir ini Deffin baru menyetujuinya meski masih keberatan karena bagian atas gaun itu model Sabrina, namun hanya gaun ini yang berlengan dan memiliki panjang sampai mata kaki.
"Huh, mulai saat ini aku melarang kamu membuat rancangan busana untuk dirimu sendiri, bagaimana bisa kamu merancang busana seperti itu semua," ujar Deffin kesal karena semua gaun pesta istrinya cukup terbuka meski tidak separah yang dipakai kebanyakan orang lainnya.
Huh, kamu saja yang berlebihan, padahal gaun rancanganku lebih sopan dari yang lain.
Mobil yang sampai di area parkir, dan memberikan pemandangan orang yang berlalu lalang, terlihat para wanita muda memakai gaun yang cukup terbuka, membuat Azkia membandingkan gaun rancangannya dengan gaun yang di pakai mereka.
Negeri ini terkenal dengan menomor satukan penampilan, tidak peduli dengan acara yang diadakan, para wanita hanya saling bersaing dalam penampilan.
Akhirnya mereka berempat masuk, dan langsung diarahkan oleh seorang panitia yang sudah menyiapkan kursi untuk Azkia, Deffin,Roy dan juga Erwin.
Setelah sampai, terlihat Deffin mengeraskan rahangnya melihat Arnold yang sudah sampai lebih dulu dan duduk sesuai dengan nama yang sudah tercantum di meja.
Dan terlihat namanya dan yang lainnya juga, dan sepertinya ini memang sengaja sudah diatur.
Beruntung Erwin dan Roy yang mengapit di sisinya, namun tetap saja hatinya panas karena mereka satu meja, dan dapat di pastikan Arnold bisa leluasa memandang Azkia.
Deffin yang kesal, membuka mulutnya mau protes, namun sudah dipotong duluan oleh ibu panti yang tiba-tiba sudah berada di depan mereka.
__ADS_1
"Maaf Tuan Muda, saya mengatur kursi tamu sesuai dengan orang yang sudah akrab satu sama lain," ujar ibu panti.
Azkia segera memberi kode Deffin agar menerima apa yang sudah diatur ibu panti, dengan berat hati Deffin mau duduk, lalu diikuti yang lainnya.
Kini mereka berlima duduk bersama, hanya ada keheningan di antara mereka, Azkia juga bingung ingin mulai bicara dari mana, hingga mereka makan malam dalam diam, sampai selesai Arnold tidak berani mengangkat wajahnya, Arnold yang sudah siap beranjak dari kursi, mengurungkan niatnya ketika mendengar suara Azkia.
"Tunggu, jangan ada yang pergi sebelum semua masalah ini usai."
Perkataan Azkia membuat keempat pria itu menoleh kearahnya dengan ekspresi berbeda.
"Kia," suara Deffin yang sangat dingin membuat Azkia merinding, namun dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Sayang, kumohon biarkan aku berbicara dulu," ujar Azkia memberikan sorot mata memelas membuat Deffin bungkam.
"Aku ingin kalian berdamai, sudahi perang dingin ini." Lalu Azkia menggenggam kepalan tangan Deffin. " Sayang, tolong maafkan Arnold, kamu juga Erwin," ujarnya beralih menatap Erwin yang tanpa ekspresi itu.
"Aku selamanya akan merasa bersalah jika kalian tidak bisa berbaikan kembali, bagaimanapun perlakuanku dulu lah yang menciptakan kesalah pahaman."
Perkataan Azkia membuat tiga orang itu menoleh kearahnya karena tidak terima dengan perkataan Azkia yang menyalahkan dirinya sendiri, sedangkan Roy hanya menyimak saja sedari tadi.
Arnold yang merasa bersalah langsung saja meminta maaf.
"Bukan kamu yang salah peri kecil, aku lah yang bodoh mengartikan kebaikanmu. Aku minta maaf, kumohon maafkan semua kesalahanku pada kalian, aku juga ingin kita seperti dulu," ujar Arnold dengan memandang wajah mereka satu persatu, dia tulus meminta maaf.
Deffin dan Erwin sebenarnya masih berat untuk memaafkan Arnold, tapi melihat senyum bahagia di wajah Azkia membuat mereka harus mematahkan pendiriannya.
"Baik, aku memaafkanmu kali ini." Ujar Deffin, lalu di susul Erwin dengan kalimat yang sama.
"Aku senang melihat kalian berbaikan, dan sampai kapan pun aku akan tetap menjadi peri kecil kalian," ujarnya dengan bahagia, tapi Deffin yang mendengarnya, darahnya terasa mendidih, Azkia yang menyadari Deffin akan marah langsung saja memperbaiki ucapnya.
"Dan aku hanya akan menjadi Kia peri kecilmu saja, seorang istri yang hanya akan selalu mencintaimu," ujar Azkia sambil mengusap pipi Deffin yang tersipu senang mendengar perkataannya.
Momen syahdu itu dihancurkan oleh Sekretaris Roy.
"Apakah Nona akan menjadi peri kecilku juga?" pertanyaan konyol Roy membuat Azkia tertawa, tapi tidak dengan ketiga orang itu, dengan kesal mereka mengatakan,
"Kau mau mati sekarang!!"
Roy hanya meringis, namun dalam hatinya dia berkata,
__ADS_1
Padahal aku sangat senang jika nona mengiyakan pertanyaanku tadi, haha.. namun aku juga tidak ingin mati di tangan mereka bertiga.
Bersambung.