
Obrolan panjang yang membahas tentang negeri Z akhirnya telah berakhir, Arnold pamit pergi terlebih dahulu karena asistennya menelpon untuk urusan pekerjaan.
Sedangkan Erwin lebih memilih pergi ke markas, ada sedikit masalah dengan dunia gelapnya. Tinggal Elma dan Roy yang masih berada di rumah Deffin.
Deffin sedang menyuruh Roy mengerjakan pekerjaan kantor di ruang kerjanya, sedangkan Elma kembali ke kamar tamu untuk membersihkan diri, rencananya setelah mandi dia akan segera pergi untuk mencari tempat tinggalnya yang baru.
Jika kedua orang itu sedang disibukkan dengan urusannya masing-masing, maka Deffin dan Azkia juga tidak kalah sibuk melakukan ritual mandi bersama.
"Sayang, bagian itu sudah lima kali kamu gosok, ayo! pindahkan tangan nakalmu ke bagian yang lain." ujar Azkia kesal.
Deffin selalu seperti ini jika mandi bersama, dia akan menghabiskan setengah botol sabun mandi hanya untuk menggosok dua bagian tubuh Azkia yang menjadi area favoritnya.
"Sayang ...." rengek Azkia dengan suara sedikit mendesah.
Deffin menyeringai mendengar suara Azkia, lalu dengan suara berat dia berkata, "Aku tidak akan berhenti sampai kamu meminta lebih dari ini."
Lalu bibirnya yang nakal mulai menciumi pundak Azkia.
"Sayang, tapi tadi pagi 'kan sudah ...." Aku tadi akan beneran pingsan jika sampai tidak berhenti.
"Kia ku sayang ... aku mana bisa puas denganmu, semua yang ada pada dirimu adalah candu bagiku," ungkap Deffin jujur.
"Huh, saat ini kamu bisa bicara seperti itu, tapi jika aku sudah hamil dan melahirkan, lalu tubuhku menjadi gemuk, kamu pasti akan berubah," sungut Azkia.
"Hahaha ... darimana kamu mempunyai pikiran seperti itu, kamu pikir aku jatuh cinta padamu karena tubuhmu, jika sedari dulu aku mengutamakan fisik, sudah pasti aku tidak akan jatuh cinta padamu, apa menariknya dirimu yang kecil dan pendek ini, aku bisa dapatkan seratus model berbadan seksi jika aku menginginkannya."
Azkia yang kesal mendengar perkataan Deffin langsung mencubit perut Deffin hingga mengaduh.
"Auwh, sakit Sayang."
"Huh, awas saja kalau kamu punya keinginan seperti itu, aku akan potong milikmu ini," ujar Azkia kesal, sambil meremas sesuatu yang menegang sejak tadi.
Deffin yang melihat wajah Azkia yang menggemaskan karena kesal, sudah tidak tahan lagi untuk tidak segera menyerang istri cantiknya itu, dan berakhirlah mereka melakukan ritual mandi yang cukup lama. Dan sekali lagi mereka berdua membuat kedua jomblo itu menunggu hingga jenuh.
__ADS_1
...****************...
Kali ini mereka berdua bisa turun tepat jam makan malam, tapi tetap saja urusan pribadi Roy dan Elma harus mundur dari perkiraan.
"Bisa-bisa aku mati kelaparan jika terus begini," gerutu Elma yang hanya di dengar Roy.
"Dasar gadis rakus," ejek Roy.
"Enak saja kamu bilang aku rakus, ini sudah lewat jam makan malamku," sungut Elma tidak terima.
"Hei, jangan bercanda ini jam makan malam yang normal."
"Hei, jangan pikun. Negara kita tidak sama."
"Apanya yang tidak sama, kamu lahir di negara ini, kamu tinggal di negeri Z hanya beberapa tahun,"
Elma yang ingin mendebat Roy lagi, mengurungkan niatnya ketika mendengar dentingan sendok.
"Kalian sedang membicarakan apa?! kenapa kalian berbisik-bisik, apakah tidak puas aku tadi memberi kalian kesempatan bicara cukup lama saat aku dan Azkia bercinta."
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Deffin khawatir sambil memberikan Azkia minum.
"Sayang, kamu bisa-bisanya berbicara seperti itu di depan mereka," tegur Azkia dengan wajah menahan malu.
"Memang kenapa?! mereka berdua sudah cukup dewasa," sahut Deffin enteng, tanpa rasa bersalah dia melanjutkan makannya lagi.
Memang kami sudah dewasa, tapi perkataan itu tetap saja sudah mengotori otak suci kami. Kata hati Roy.
Suasana ruang makan yang berubah sedikit canggung, membuat Azkia segera mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya Elma, nanti kamu pulang bersama Sekretaris Roy saja, suamiku memberikanmu apartemen di gedung yang sama dengan Sekretaris Roy," ujar Azkia antusias.
"Hah, tapi-,"
__ADS_1
"Tidak ada penolakan Elma, aku akan sedih jika kamu menolaknya," ujar Azkia dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
"Dan aku tidak akan melepaskan orang yang sudah membuat istriku sedih," ujar Deffin dingin, dia tidak akan memberikan ketenangan, kepada orang yang sudah membuat istrinya sedih.
Terpaksa Ellena mengangguk menyetujui.
Elma yang mendengar perkataan Deffin merinding, dia teringat kejadian dulu ketika Deffin melakukan hal mengerikan untuk membalas teman sekolah Azkia yang nakal hingga membuat Azkia menangis, bahkan ada teman Azkia yang hanya membuat mood Azkia buruk saja Deffin langsung turun tangan.
"Bagaimana mungkin aku bisa mengkhianati Anda Tuan Deffin, meskipun aku bekerja pada Daniel. Jika sampai saat ini saja ancaman Anda tetap mengerikan seperti dahulu, dan kamu Azkia entah berada di posisimu itu menyenangkan atau menegangkan," ujar Elma dalam hati sambil mencuri pandang ke arah Deffin dan Azkia bergantian dengan rasa takut.
Roy yang melihat wajah Elma seperti sedang menahan rasa takut, segera mengejek lagi dengan suara setengah berbisik,
"Huh, hanya mendengar ancaman tuan muda saja nyalimu langsung menciut, dimana taring yang kamu tampakkan di depan Arnold tadi, dasar wanita."
Elma yang kesal dengan perkataan Roy melirik tajam, mulutnya siap terbuka untuk memberikan serangan, namun sayangnya Deffin berkata yang membuat jantung kedua orang itu berdebar kencang.
"Aku akan nikahkan kalian berdua sekarang jika masih berbisik-bisik lagi," ujar Deffin kesal seperti merasa sedang menjadi bahan pembicaraan.
"Sayang kamu ini bicara apa, mereka hanya mengobrol, jadi biarkan saja. Jangan ikut campur urusan mereka," ujar Azkia merasa tidak enak.
"Huh, aku paling benci ada orang yang berbisik di hadapanku, jika sedang tidak membicarakan aku, mereka tidak perlu berbisik. Lagi pula pilihan yang bagus menikahkan mereka berdua sekarang, kedepannya kamu tidak perlu berusaha menjodohkan mereka."
Azkia semakin meringis malu, dia ingin sekali memukul kepala suaminya, orang yang tidak suka berbasa-basi ini, bagaimana bisa dia membocorkan rahasia tentang rencana perjodohan ini. Memangnya dia pikir semua orang seperti dia, tanpa basa-basi apa yang di inginkannya harus terpenuhi, pikir Azkia.
"Sayang ... jangan membuat mereka semakin malu, Roy bukan kamu yang bisa berkuasa memaksa orang yang dicintainya menikah di detik yang dia inginkan," ujar Azkia menyindir sambil mencubit paha Deffin kesal.
"Aduh, Kia ... kenapa akhir-akhir ini kamu suka mencubitku, apa salahku coba, aku sedang membantu Roy jika dia tidak punya keberanian untuk mengungkapkan apa yang diinginkannya, lagi pula aku senang dia cepat menikah, agar rasa kagumnya terhadapmu tidak terlalu dalam," ujar Deffin menatap sinis Roy di akhir kalimatnya.
Huh, Anda mulai lagi tuan muda, dan kenapa juga makanan ini jadi susah ditelan... Roy.
Bersambung.
Maafkan aku yang tidak up, aku lagi mikir buat novel baru, aku udah siapin cover nya tinggal dirilis, karena tidak lama lagi novel ini sepertinya akan tamat.
__ADS_1
terima kasih untuk yang setia mendukung novel ini 🙏🙏
salam sayang ♥️♥️