
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, tetapi Azkia masih setia bergelung dengan selimutnya.
Deffin yang sedari tadi sudah bangun, hanya asyik tersenyum memandang wajah cantik istri kesayangannya. Dia sama sekali tidak berniat membangunkan Azkia, semakin lama Azkia tidur, semakin sedikit waktu Azkia untuk pergi berdua dengan Erwin.
Ide yang sangat bagus bukan?
Rencana liciknya membuat Azkia kecapekan akibat malam panas mereka telah berhasil, Deffin baru membiarkan Azkia tidur hampir pagi.
Suara nada dering ponsel membuat Deffin mengumpat, dia sudah mematikan ponsel miliknya, namun lupa dengan ponsel milik istrinya.
Siapa yang berani menelpon istrinya di waktu senangnya sekarang. Dengan kesal dia mengambil ponsel Azkia, membatin jika sampai Erwin yang menelpon, dia berjanji akan membuat Erwin lebih kesal dari semalam.
Dahi Deffin mengernyit melihat nama Sekretaris Roy yang terpampang di layar kaca ponsel Azkia.
Mau apa dia menelpon **K**iaku.
Pikiran buruknya untuk sang sekretaris sedang melalang buana di otaknya. Padahal Roy menghubungi Azkia agar segera memberi tahu Deffin bahwa untuk segera berangkat ke kantor karena ada jadwal rapat hari ini, lebih tepatnya setengah jam lagi rapat akan dimulai.
Ketika Deffin hendak menggeser tombol merah, dia kalah cepat dengan Azkia yang sudah lebih dulu merebut ponselnya, Azkia juga ikut mengernyitkan dahi melihat Sekretaris Roy yang menghubunginya.
"Ada apa Sekretaris Roy?" tanya Azkia setelah telepon itu tersambung.
"Apakah tuan muda juga belum bangun?"
Roy malah balik tanya ke Azkia, karena mendengar suara khas bangun tidur orang yang sedang di telponnya.
"Sudah."
"Tolong segera Nona menyuruh tuan muda untuk berangkat ke kantor, karena rapat akan diadakan setengah jam lagi."
"Baik," jawab Azkia yang masih bingung.
Setelah itu sambungan telepon terputus, Deffin yang sudah mendengar sama sekali tidak ingin bangun, dia malah menjatuhkan dirinya di ranjang lagi, dan semakin merasa tidak bersalah karena dia malah menarik Azkia dan memeluknya erat.
"Sayang, memang ini sudah jam berapa. Tadi Roy juga suaranya sudah sedikit kesal, tapi kenapa kamu tidak bergegas bersiap-siap, malah menarikku tidur lagi."
"Sekarang sudah jam sembilan, biarkan saja Roy, orang jomblo tidak akan pernah mengerti. Aku hanya ingin memelukmu seharian."
"Apa! Sudah jam sembilan, kamu sudah terlambat satu jam. Ayo segera bangun, rapatnya segera dimulai setengah jam lagi."
__ADS_1
Ujar Azkia langsung duduk dan menarik tangan Deffin agar bangun.
Azkia bukannya membangunkan Deffin, malah dia terjerembab di pelukan Deffin, dengan cepat dia membalikkan tubuh Azkia dan mengungkungnya.
"Sayang," panggil Azkia gugup.
"Satu kali lagi, agar aku semangat," ujar Deffin yang langsung membungkam mulut Azkia yang hendak protes. Dan kegiatan rapat ini akhirnya mundur satu jam.
...****************...
Setelah selesai sarapan, Azkia mengantar Deffin ke depan, terlihat di teras depan Erwin sudah memasang wajah masamnya.
Terdengar Erwin berdecak, namun Deffin mengacuhkannya sedangkan Azkia tersenyum kikuk. Setelah sampai di samping mobil, Azkia mendapat peringatan panjang kali lebar dari Deffin, dengan tersenyum Azkia hanya bilang, "Iya sayang."
Nasihat itu berakhir dengan ciuman panjang yang membuat Erwin semakin jengah.
Huh, sekarang Anda boleh membuat hati saya panas, tapi nanti saya juga akan mudah mendapatkan obatnya.
Akhirnya mobil Deffin melenggang pergi.
Dengan canggung Azkia mendekat ke arah Erwin, sungguh hatinya merasa tidak nyaman. Sekarang Azkia sudah mengingat semuanya, dia seperti benar-benar akan berselingkuh saja.
Erwin mencibir dengan diakhiri senyuman getir.
"Maaf," cicit Azkia pelan.
"Aku terima permintaan maafmu, mobilku sedang di bengkel, tidak masalah bukan kalau kita naik motor?" tanya Erwin sambil berjalan di depan Azkia.
"Maaf Erwin, kita naik mobil saja. Aku malas kepanasan," elaknya.
"Baiklah," ujar Erwin sedikit kecewa. Padahal jika Azkia mau, jarak diantara mereka hanya sedikit.
Akhirnya Erwin yang mengemudi mobil, sedangkan Azkia duduk di kursi belakang, Azkia merasa sangat canggung dengan situasi sekarang, sebelum ingatannya kembali dia merasa biasa saja dekat berdua sebagai teman dengan Erwin.
Namun rasanya sekarang berbeda, dia akan lebih nyaman bila ada Deffin di antara mereka.
Meski Azkia tahu kalau sorot mata Deffin tidak pernah rela jika dia dekat dengan Erwin, namun ini semua harus terjadi karena sebuah perjanjian waktu dahulu yang sudah disepakati.
Akhirnya mobil sampai di parkiran sebuah danau yang indah, Azkia bisa menghela napas lega karena melihat danau ini sekarang ramai pengunjung tidak seperti dahulu.
__ADS_1
Mereka berdua keluar dari mobil, Erwin yang melihat Azkia hanya diam sedari tadi hatinya merasa sedikit sesak.
Dia memang sadar seharusnya dia tidak pernah memimpikan hari ini, namun hari ini dia lebih memilih egonya.
"Mau duduk di sana?"tunjuknya di sebuah kursi di bawah pohon yang rindang, dari situ mereka akan lebih leluasa menikmati keindahan danau ini.
"Boleh, ayo," ujar Azkia dengan berjalan terlebih dahulu.
Erwin yang berada di belakang Azkia tersenyum tipis, dia akan menyimpan kenangan indah ini di sudut hatinya yang paling dalam.
"Danau ini semakin indah ya Erwin," ujar Azkia yang sedang mencoba menghilangkan kecanggungan ini, Azkia merasa jika Erwin menyadari perubahan sikapnya.
"Iya, tapi aku lebih suka kesunyiannya yang dahulu, meski dahulu sangat sepi tapi tidak pernah membuat bosan jika lama-lama berada di sini."
"Kau benar, tapi kalau aku lebih suka yang sekarang, lihat banyak anak kecil yang tertawa bahagia, dan itu adalah pemandangan yang paling indah," tunjuk Azkia dengan senyum bahagia.
Sedari dulu melihat kebahagian anak-anak adalah hal yang paling menyenangkan di dunia ini.
"Mulai dahulu sampai sekarang kau tidak pernah berubah, untuk bisa membuatmu senang cukup hanya melihat orang lain bahagia."
Perkataan Erwin yang menyinggung masa lalu membuat Azkia kembali merasa tidak nyaman.
Namun dia harus cepat bisa membujuk Erwin untuk mengakhiri perasaannya.
"Erwin, bisakah mulai sekarang kamu mencari kebahagiaanmu sendiri, bagaimanapun juga kamu harus terus maju ke depan bukan tetap berpijak pada masa lalu."
"Tuan Putri, kebahagiaanku adalah mencintaimu. Apa sekarang karena kau sudah tahu kalau tuan Deffin begitu mencintaimu, kau sudah tidak sudi dicintai oleh orang sepertiku."
"Bukan itu maksudku Erwin, kau tau dari dulu aku sudah mengetahui siapa dirimu sebenarnya, sampai sekarang aku juga tidak pernah mempermasalahkan tentangmu, aku senang mempunyai sahabat sepertimu, terima kasih atas semua pengorbananmu, terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus. Tapi kumohon bukalah pintu hatimu untuk wanita lain, aku akan sangat bahagia bila kamu mendapatkan kebahagiaanmu sendiri."
Erwin sejenak menatap Azkia yang menitikkan air mata tulus bahwa perkataan Azkia sangat serius dari hatinya. Lalu dia melengos menarik napas dalam, dan tiba-tiba saja dia menyandarkan kepalanya di pundak Azkia.
Azkia yang kaget hendak bergeser namun tertahan karena suara sendu milik Erwin yang mengatakan, "Biarkan sebentar saja, beri waktu lima menit saja untuk rasa lelahku memikul beban berat ini selama beberapa tahun, dan ke depannya agar aku bisa lebih kuat lagi menghadapi masa depan milikku sendiri. Jika memang itu yang membuatmu bahagia aku akan menuruti keinginanmu, aku akan mencoba membuka hati ini untuk wanita lain, tapi entah kapan aku tidak bisa menjanjikannya padamu," ujar Erwin sendu.
"Terima kasih, terima kasih banyak Erwin. Sejak dahulu kamu memang sahabat terbaikku, tidak pernah salah aku lebih memilih lebih sering curhat padamu daripada kakak tampanku, kamu lebih dewasa dari mereka berdua, kamu memang chubbyku dan si psikopat menggemaskan."
Perkataan Azkia membuat Erwin duduk tegak kembali, lalu mereka melanjutkan obrolan itu dengan canda tawa. Kecanggungan itu kini hilang kembali, hingga mereka tidak sadar bahwa di sisi lain ada beberapa orang yang sedang ribut dengan urusannya sendiri.
Bersambung.
__ADS_1
Yang sabar dulu ya Erwin, tunggu anak Azkia dan Deffin lahir, karena hadirnya anak mereka yang nantinya akan menuntunmu menemukan takdir cintamu.ðŸ¤