
Kejadian menegangkan itu tidak berakhir sampai di situ, setelah peluru dari pistol Bianca berhasil meluncur, ada bunyi tembakan lagi yang menyusul secara bertubi-tubi.
Ketakutan Azkia semakin menjadi, dia semakin menutup matanya rapat. Lalu kemudian ketakutannya berubah menjadi panik, ketika orang yang sedang memeluknya erat untuk melindungi dirinya tiba-tiba saja menjatuhkan tangannya. Karena tidak bisa menahan berat badan Daniel, akhirnya Azkia ambruk dengan posisi Daniel di atasnya.
Azkia membuka matanya dengan cepat, ketika mendengar Deffin memaki Daniel karena cemburu, bisa-bisanya suaminya memarahi Daniel yang sudah tidak sadarkan diri karena menolongnya.
"Hei, b*******k!!! bangun kamu! jangan pura-pura lemah, enak saja kaubaru saja memeluk Kia ku erat, dan sekarang kamu menindihnya."
Deffin menggoyangkan kakinya dengan kuat, hingga tali yang mengikat kakinya itu bisa merenggang, entah anak buah Daniel yang mengikatnya tidak kuat, atau api cemburu yang bisa menjadi bahan bakar kekuatan Deffin, namun yang pasti dia ingin segera lari dan menghajar habis-habisan Daniel.
Jessie yang melihat kelakuan Deffin berdecak kesal, "Apa-apaan orang ini, di saat seperti ini dia masih menomor satukan rasa cemburunya," batinnya.
Karena Jessie tidak tahan dengan suara Deffin yang terus mengoceh dan berteriak, dia akhirnya melangkahkan kakinya untuk membantu Deffin terlebih dahulu, namun Deffin yang sudah mengerti gelagat Jessie, dengan cepat Deffin berkata, "Hei, mau apa kau! tidak perlu membantuku, aku tidak sudi disentuh wanita lain selain istriku, singkirkan saja tubuh lelaki b******k itu dari tubuh istriku!"
Azkia yang mendengar perkataan Deffin menghela napas lelah, lalu dengan lembut dia berkata, "Sayang ... jangan seperti itu, maksud Jessie baik, lagi pula aku tidak bisa langsung berdiri menolongmu karena kakiku kesemutan kelamaan bersimpuh." Lalu Azkia beralih ke Jessie, "Jessie, tolong aku terlebih dahulu ya ... lalu nanti kamu bisa melepaskan ikatan mereka selanjutnya."
Jessie menurut, setelah membantu menyingkirkan tubuh Daniel, Jessie membantu melepaskan ikatan yang lainnya kecuali Deffin, dia sudah terlalu malas mendekat dengan lelaki posesif seperti itu.
Azkia yang merasa kesemutan di kakinya sudah hilang, segera berdiri untuk membuka ikatan Deffin, setelah berhasil melepaskan diri dari ikatan sialan itu, Deffin langsung menghujani ciuman di seluruh wajah Azkia, ciuman itu tidak bisa dihentikan meski Azkia berusaha menghentikannya karena merasa malu dilihat yang lain.
Ciuman bertubi-tubi itu berakhir dengan ciuman panjang di bibir Azkia, Deffin tidak akan melepaskan Azkia sebelum semua perasaan campur aduk di hatinya menguap, jadi dia hanya memberi jeda untuk Azkia mengambil napas, lalu Deffin akan kembali menyerang bibir mungil yang mempunyai rasa manis itu.
__ADS_1
Sedangkan untuk yang lain jangan ditanya bagaimana mereka sangat merasa jengah melihat kemesraan yang tidak tahu situasi itu, namun dalam hati mereka kompak merasa lega karena pasangan itu sekali lagi bisa selamat dari perpisahan.
Untuk saat ini hubungan kalian bisa selamat, tapi entah bagaimana nasib hubungan kalian kedepannya, jika sepupuku itu sudah tidak bisa lagi mengendalikan dirinya untuk merebut Azkia.
Dalam hati Jessie tersenyum kecut jika teringat sang sepupu yang saat ini sedang menjalani terapi pengobatan akibat terlalu terobsesi dengan Azkia, bahkan kemarin sepupunya habis memesan manusia robot yang dibuat sangat mirip dengan Azkia, setelah ia sudah bosan dengan belasan patung Azkia karena tidak bisa berbicara, akhirnya sepupunya menginginkan robot manusia yang bisa berbicara.
Lamunan Jessie buyar ketika dia sedang ditatap dengan tatapan mengintimidasi dari sisa penghuni ruangan itu, namun dengan santainya dia berkata dengan ekspresi datar, "Sudahlah jangan memandangku seperti itu, aku tahu kalian ingin meminta penjelasan, Elma mungkin bisa memberikan sedikit penjelasan, aku harus pergi, karena belum waktunya di antara kita untuk berperang."
Setelah mengatakan itu, Jessie melompat dari jendela yang ia masuki tadi setelah dia menembak Bianca dan anak buah Daniel.
"Sebaiknya kita pergi dari sini sebelum tempat ini mendadak ramai," ujar Deffin sambil memandang para mayat yang tergeletak itu, lalu pandangannya terpaku melihat wajah Daniel yang sudah meninggal dengan bibir yang tersenyum menghiasi wajah tampannya.
"Sayang ... sudah jangan bicara seperti itu, dia sudah mendapatkan balasannya, emm ... Sayang, bolehkan aku mengajak Elma kembali ke negara X, selama ini dia sama sekali tidak berkhianat, nanti aku akan menjelaskannya semua kepadamu."
"Ya, kalian harus menjelaskan semuanya." Menatap Elma dan Azkia bergantian. "Terutama .... kamu Kiaku sayang, kenapa kamu bisa sampai mau menandatangani surat cerai itu, aku akan menghukummu sangat berat, karena telah membuat jantungku rasanya mau melompat dari tempatnya."
Azkia begidik ngeri, namun dia memang punya alasan, jadi dia berpikir akan dengan mudah lolos dari hukuman Deffin.
Akhirnya mereka semua mulai melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu, mereka akan langsung kembali ke negara X, namun sebelum akan keluar dari pintu, Azkia menoleh ke arah mayat Daniel yang sudah terbujur kaku, dalam hatinya membatin, "Aku memang sangat kecewa padamu Daniel, namun aku tidak bisa membencimu, bagaimanapun juga kamu pernah menempati sudut hatiku, terima kasih telah mengorbankan nyawamu untukku, aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu, semoga kau tenang di alam sana, selamat tinggal ...."
Sedangkan Elma yang keluar paling akhir, menatap mayat Daniel dengan sendu, dia juga tersenyum miris mengingat perkataan Daniel waktu itu. "Ternyata keinginanmu terwujud, mungkin sekarang kamu sangat bahagia di sana, kamu rela mengorbankan nyawamu demi orang yang kamu cintai, maaf jika selama ini aku bukan sahabat dan bawahan yang baik untukmu, selamat tinggal ....
__ADS_1
...****************...
Negeri X.
Pagi menjelang siang Azkia baru bangun dari tidurnya, mereka sampai negeri ini tepat tengah malam, Azkia yang melihat Deffin masih tidur tersenyum lega.
Merasa beruntung dicintai orang seperti Deffin, meski cinta yang diberikan Deffin terlalu berlimpah, Azkia tidak akan pernah keberatan atau bosan.
Saat sedang asyik memandangi dan membelai wajah tampan suaminya, Azkia terkejut ketika tangannya di tangkap oleh Deffin.
"Mau meminta hukumanmu sekarang ya? ayo kita mulai dari kamar mandi," ujar Deffin dengan suara serak khas bangun tidur.
Azkia panik mendengar perkataan Deffin, lalu secepatnya dia memikirkan alasan untuk kabur.
"Sayang ... tapi kan aku belum menjelaskannya, kamu boleh menghukumku setelah aku selesai menjelaskannya."
Deffin tidak ingin mendengar alasan istrinya yang ingin kabur dari hukumannya. Dengan segera dia menggendong Azkia menuju kamar mandi.
Kalau sudah begini Azkia hanya bisa pasrah, daripada hukumannya bertambah berkali-kali lipat jika dia membantah lagi, lebih baik dia menerima hukuman yang selalu membuatnya terasa melayang.
Bersambung.
__ADS_1